99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 - Bagian 23


__ADS_3

-Jogjakarta-


Radit sedang menyesap kopinya disebuah kafe usai meeting bersama kliennya. Ia berencana mengembangkan bisnisnya di kota yang penuh kenangan untuknya juga istrinya. Dan juga keluarga istrinya beberapa tinggal di kota pelajar ini.


"Assalamu'alaikum, Pak CEO..." sapa seorang pria dengan menepuk bahu Radit.


Radit sempat terdiam dan memandangi pria yang memakai baju koko lengkap dengan sarung dan pecinya. Radit memicingkan matanya mencoba mengingat siapa pria ini.


"Salamnya tidak dijawab dulu nih, Pak..." ucap pria itu lagi.


"Eh, iya, Wa'alaikumsalam. Maaf, anda siapa ya?" tanya Radit.


"Hei, kawan... Apa kau lupa padaku?"


Radit mencoba mengingat-ingat siapa pria didepannya itu.


"Ya ampun, Archan?" Radit mengenali pria itu setelah pria itu melepas pecinya.


"Archan sang ketua osis!" pekik Radit.


"Hahaha, kau masih ingat saja! Apa kabarmu, bro? Kudengar kau tinggal di Jakarta, kenapa ada disini?"


"Aku sedang ada urusan bisnis disini. Kau sendiri? Kudengar kau tinggal di luar negeri."


"Aku tidak tinggal diluar negeri. Aku menuntut ilmu disana. Ini aku baru kembali setelah menyelesaikan studi S3ku."


"Masha Allah, kau sangat hebat. Sejak dulu memang menomorsatukan pendidikan. Lalu kau kuliah dimana?"


"Aku kuliah di Kairo, Mesir."


"Masha Allah, paket lengkap ya. Sudah tampan, sholeh, pintar, aaah aa lagi yang melekat pada dirimu. Pasti kau dapat istri yang juga sholeha ya?"


"Umm, untuk urusan yang satu itu... Aku malah belum memikirkannya."


"Eh? Kau ini bagaimana? Mana ada wanita yang akan menolakmu."


"Hmm, begitulah." Archan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Lalu apa rencanamu setelah ini? Apa kau akan meneruskan mengurus pondok pesantren milik Abahmu?"


"Hmm, aku belum tahu. Aku ingin bekerja dengan kemampuanku sendiri. Apa Pak CEO sukses ini punya lowongan untukku?"


"Hei, aku bahkan tidak sanggup membayar gaji lulusan S3 sepertimu."


"Hahaha. Aku tidak minta gaji besar. Asalkan bisa mencukupi kebutuhan hidupku itu sudah cukup. Toh, semua kan butuh proses. Tidak mungkin tiba-tiba aku bergaji besar jika pekerjaanku berantakan."

__ADS_1


"Benar juga ya. Aku suka gayamu, ketua osis."


Mereka pun tertawa bersama.


"Oh ya, bagaimana kabar teman-teman? Kudengar kau menikah dengan teman kita juga." tanya Archan.


"Iya, benar. Nadine. Apa kau masih ingat?"


"Iya. Kalian adalah pasangan favorit sekarang. Benar 'kan?"


"Wah, bagaimana kau tahu?"


"Aku pernah membaca berita online tentangmu juga Nadine. Lalu... Bagaimana dengan kabar... Cecilia?"


"Hei, kenapa tiba-tiba menanyakan tentang Cecilia. Jangan macam-macam ya. Dia sekarang istri dari sahabatku."


"Eh?"Archan cukup terkejut.


"Kau pasti mendengar berita perceraian Cecilia. Tapi sekarang dia sudah menikah lagi."


"Ah, begitu ya..." Ada raut kekecewaan di wajah Archan.


"Jadi bagaimana? Kau masih ingin bekerja di perusahaanku? Tapi itu artinya, kau harus pindah ke Jakarta, bro."


"Hmm boleh juga. Aku malah suka melanglang buana sepertimu. Aku sudah bosan di tanya kapan menikah."


.


.


.


-Bandung-


Sudah tiga hari Rangga pergi ke Jogja dengan alasan pekerjaan. Cecilia pun memanfaatkan waktu itu untuk mengunjungi pengobatan alternatif yang di sarankan oleh Alvian.


Dia pergi kesana sendiri dan tidak ditemani siapapun. Ia tak ingin orang-orang tahu tentang apa yang sedang dilakukannya.


Ceu Nanah memberikan terapi pada Cecilia dan juga ramuan obat untuknya. Ceu Nanah bilang jika masih ada kemungkinan Cecilia bisa hamil, meski sedikit.


Tapi Ceu Nanah meyakinkan Cecil untuk tidak mudah menyerah dan selalu berdoa pada Allah. Karena sesungguhnya hanya Allah lah yang bisa memberi keajaiban disetiap kesedihan manusia.


Cecilia mampir ke sebuah tempat makan usai melakukan terapi. Perutnya meminta di isi usai melakukan terapi selama satu jam.


"Cecilia..." Seseorang menyapa Cecilia.

__ADS_1


"Eh? Ismail?" Cecilia membulatkan mata.


"Ternyata memang benar kau. Apa yang sedang kau lakukan di Bandung?"


"Eh? Aku.... Aku hanya.... Sedang berkunjung saja..." Cecilia memaksakan senyumnya.


"Kau sendirian saja?" Ismail menoleh kearah lain dan tak menemukan Rangga atau siapapun disana.


"Iya. Aku sendirian saja. Kau sendiri sedang istirahat ya?"


"Hu'um. Aku sering mampir kesini untuk makan siang. Karena makanannya sangat enak."


"Bagaimana kabar Hana?" tanya Cecil untuk mengurangi kecanggungan diantara mereka.


"Hana baik. Kabar Ibu bagaimana?"


Seketika raut wajah Cecilia berubah ketika mengingat tentang ibunya yang masih marah padanya. Dan juga kalimat ibunya yang mengatakannya jika ia merindukan Ismail.


"Ibu... Merindukanmu, Ismail..." ucap Cecil dengan nada sedih.


"Eh? Ada apa, Cil? Apa terjadi sesuatu antara kau dan ibu?"


Ismail selalu bisa tahu kegelisahan yang dirasakan Cecil. Ismail memang peka. Karena dia seorang polisi.


Entah kenapa buliran bening mengalir tanpa aba-aba dari sudut mata Cecil. Tak bisa dipungkiri ia merindukan sosok Ismail yang selalu memahami dan mengerti akan dirinya.


"Apa aku bisa percaya padamu?"


Seakan mengulang masa lalu, pertanyaan itu kembali Cecil lontarkan pada Ismail.


"Sure. Kau selalu bisa percaya padaku..." jawab Ismail diiringi senyum.


.


.


#bersambung...


.


.


*Mamak tambahin tokohnya di season 3 ini untuk menambah keriuhan cerita ini. Semoga kalian tetap suka ya!


Jangan lupa dukungannya untuk Cecilia.😊😊

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏


__ADS_2