
Persidangan demi persidangan terus berlanjut tanpa kehadiran Alvian dan Cecilia.
Mereka sudah sepakat tidak akan hadir pada sidang perceraian mereka kecuali saat sidang terakhir.
Dan Bima, terus menagih janji Cecilia yang akan mengatakan alasan sebenarnya dia menggugat cerai Alvian.
"Baiklah, Bim. Satu hari sebelum sidang terakhir. Temui aku di taman dekat rumahku. Aku akan katakan semuanya padamu." ucap Cecilia pada Bima saat memberitahukan perihal hasil sidang hari itu.
Kehidupan Cecilia masih terlihat normal-normal saja. Dikantor, dan dirumah. Meskipun Ibunya tahu, kalau tiap malam Cecilia selalu menangis, namun dia tak berani bertanya apapun.
Maria tahu sifat Cecil. Dia tak bisa dipaksa. Terkadang dia yang tidak tahan dengan penderitaan putrinya, akhirnya sedikit bercerita kepada Ismail, perwira polisi tetangganya.
Kesedihan seorang anak, tentu saja menjadi kesedihan juga untuk seorang Ibu. Permasalahan anak, akan menjadi permasalahan orang tua juga.
...***...
Satu hari menjelang sidang terakhir.
Cecilia menunggu Bima di taman kecil dekat rumahnya. Saat malam hari taman sudah sepi. Dan Cecilia bisa bercerita dengan leluasa tanpa ada kebisingan yang mengganggu.
Cecilia duduk dibangku panjang taman. Udara malam mulai menusuk ke tulangnya. Namun itu tak masalah untuk Cecil. Hatinya lebih dingin dari udara malam ini. Dilihatnya bintang-bintang yang bersinar terang. Sekilas dia mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Saat dia dan Alvian akhirnya bertemu setelah menandatangani surat perpisahan.
Ingatannya kembali ke momen itu.
.
*Flashback*
Aku sudah kembali dari Solo. Mari kita bertemu, Cil.
Itu adalah pesan singkat yang dikirimkan Alvian untuk Cecil. Seperti biasa mereka mensepakati bertemu di taman olahraga.
Cecilia menunggu Alvian dengan gusar. Biasanya untuk urusan begini Alvian tak pernah telat. Namun kali ini dia tak datang tepat waktu.
Cecilia menghilangkan kebosanan dengan memainkan bola basket ditangannya. Bermain sendiri memasukkan bola kedalam ring. Namun tak satupun bola yang berhasil dia masukkan.
"Permainanmu jelek sekali, Cil. Apa kamu sudah lupa cara memasukkan bola kedalam ring?" Suara Alvian membuat Cecil menghentikan permainannya.
Cecilia mengatur nafasnya. Meski tak ada bola yang dia masukkan, tapi sedari tadi dia berlari kesana kemari, ke arah ring dan melompat. Alhasil, keringatpun mengucur deras di pelipisnya.
"Ini minum dulu." Alvian menyodorkan sebotol air mineral.
"Aku sudah bawa minum sendiri." Cecil mengambil botol minum miliknya.
"Ini hanya sebotol air mineral, Cil. Apa kamu sudah tidak mau menerima apapun dariku?"
Cecilia terhenti sejenak. Dan memutuskan untuk mengambil botol air yang disodorkan Alvian. Lalu meneguknya.
"Terima kasih." Ucap Cecilia.
"Sama-sama."
Cecilia duduk dipinggir lapangan diikuti Alvian.
"Bagaimana kabar Mas Arif?" tanya Cecilia.
"Sudah lebih baik. Alhamdulillah"
"Maaf aku tidak sempat menjenguknya."
"Tidak apa-apa. Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu baik-baik saja?"
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja. Apa yang mau kamu katakan padaku?"
"Maafkan aku Cil"
"Aku sudah mendengarnya ribuan kali, Mas. Kenapa terus meminta maaf?"
__ADS_1
"Karena aku memang bersalah. Jadi aku harus meminta maaf. Dan..."
"Kamu belum melakukan talak padaku, Mas."
"Apa? Talak?"
"Iya, bukankah itu sudah seharusnya. Kamu hanya menandatangani surat perpisahan kita, tapi kamu belum pernah mengatakan kalau kamu menceraikanku."
Alvian menatap Cecil. "Baiklah. Jika itu mau kamu. Aku akan melakukan talak padamu."
Saya, Alvian Arifin bin Arifin, melakukan talak pada Cecilia Wijaya binti Petra Wijaya, dengan tingkatan talak satu.
.
.
.
Air mata Cecilia kembali menetes saat mengingat semua itu. Samar-samar dilihatnya Bima datang menghampirinya. Cecilia langsung menyeka airmatanya.
"Sepertinya kamu sering datang kesini, Cil." Bima langsung duduk disamping Cecil tanpa harus disuruh.
"Tidak juga. Hanya kalau butuh tempat untuk merenung saja."
"Kamu kelihatan baik-baik saja. Syukurlah."
"Memangnya aku harus bagaimana? Menangis? Lagi?"
"Tidak. Aku tidak mau melihatmu menangis. Aku hanya mau mendengar ceritamu"
.
.
.
.
Hari itu, adalah hari pernikahan Nayla dan Mas Alvian. Itu sudah setahun lalu. Tapi aku tidak bisa melupakannya.
Bagaimana bisa seorang istri akan menyaksikan pernikahan suaminya sendiri dengan wanita lain?
Tapi itu sudah jadi keputusanku. Aku menyetujui pernikahan itu. Meski hanya menjalankan sebuah wasiat. Tetap saja itu menyakitkan untukku.
Aku wanita yang tegar dan kuat. Itu yang selalu dikatakan keluarga Mas Alvian padaku. Mereka berpikir kalau Nayla adalah wanita yang lemah. Dan aku harus jadi penolong untuknya.
Masih dua jam lagi sebelum ijab qabul diucapkan Mas Alvian. Aku menenangkan diri dengan berkeliling menyusuri jalanan setapak di panti asuhan.
Keluarga Mas Alvian mengelola yayasan panti asuhan ini, tempat dimana Nayla dibesarkan selama ini. Tempat ini adalah saksi bisu dimana bayi-bayi yang tak berdosa dibuang. Meski disini mereka dirawat dengan baik. Tetap saja, orang tua tidak pantas meninggalkan darah dagingnya sendiri di tempat seperti ini.
Semua orang sibuk menyiapkan pernikahan kedua Nayla. Sepertinya Nayla memang primadona dipanti ini. Wajar saja, Nayla gadis yang cantik. Dia baik dan sikapnya sopan. Sungguh menyesal orang tua yang meninggalkannya disini.
Pantas saja Mas Alif jatuh hati padanya, dan mempersuntingnya diusia Nayla yang masih belia, yaitu 17 tahun. Usia dimana gadis belia harusnya masih bersenang-senang dengan teman sebayanya. Aku saja masih kuliah di Amerika saat itu.
Diantara banyak para gadis panti yang mengagumi Nayla, ada juga yang berbisik-bisik membicarakan hal buruk tentang Nayla. Sebenarnya bukan hal buruk. Tapi karena mereka bicara dengan berbisik, membuatku ingin menguping pembicaraan mereka. Aku penasaran. Dan aku mendekati tempat para gadis itu bergosip.
Ada tiga gadis disitu. Mereka duduk berdampingan ditaman panti. Satu gadis sedang bercerita, dan dua lainnya mendengarkan. Si gadis berkata kalau pernikahan hari ini harusnya terjadi 10 tahun lalu. Aku terkejut. Apa maksudnya itu? Kudekatkan lagi telingaku kearah mereka sambil bersembunyi dibalik pohon.
Dia bilang kalau dia jadi teman curhat Nayla sebelum Nayla menikahi Mas Alif. Sebenarnya lelaki yang Nayla suka adalah Mas Alvian, bukan Alif. Namun Nayla tak kuasa menolak Alif saat Alif menyatakan perasaan padanya. Nayla menunggu kepastian dari Alvian namun saat itu Alvian sedang sibuk berkarir didunia hiburan.
Kebaikan Alif dan keluarganya membuat Nayla tak tega menolak pernikahan itu. Ditambah lagi, Nayla tahu kalau Alif sebenarnya sakit parah, maka saat itu yang terpikir olehnya adalah membahagiakan Alif dan merawatnya, sebagai ganti keluarga Alif sudah merawatnya sedari kecil.
Alvian yang mendengar kabar kalau kakaknya akan menikahi Nayla, memberikan selamat dan restunya. Namun dia tak kuasa untuk menyaksikan pernikahan itu, dan memutuskan untuk meninggalkan dunia hiburan lalu bertolak ke Amerika untuk melanjutkan studi S2.
.
.
__ADS_1
"Aku sangat terkejut Bim, mengetahui semua itu. Aku tidak pernah berpikir kalau Mas Alvian dan Nayla... Mereka pernah saling mencintai. Nayla... Adalah cinta pertama Mas Alvian"
"Maafkan aku, Cil... "
"Kamu sudah tahu semuanya bukan?"
"Memang benar Alvian pergi ke Amerika karena dia patah hati. Tapi, sekarang dia sudah melupakan Nayla. Dia hanya mencintai kamu, Cil"
"Tapi sekarang Nayla hamil, Bim. Dan itu anak Mas Alvian. Itu berarti mereka masih saling cinta, Bim"
"Maafkan aku, Cil"
"Stop bilang maaf ke aku, Bim. Sudah cukup aku mendengar kata maaf. Aku tidak mau mendengarnya lagi"
"I-iya, Cil. Baiklah." Bima sedikit takut dengan kemarahan Cecilia.
"Semua yang aku ceritakan tadi, kamu sudah tahu semuanya bukan?"
"I-iya..."
"Tapi kenapa kalian tidak jujur? Kenapa tak ada yang bicara jujur padaku? Mau sampai kapan kalian menutupi semua ini dariku?"
"Bukan begitu, Cil. Alvian tidak bermaksud menyembunyikannya. Dia hanya tidak ingin kamu lebih terluka. Nayla adalah masa lalunya. Dan dia menikahi Nayla karena wasiat kakaknya. Bukan karena cinta. Itu yang Alvian katakan padaku saat dia akan menikahi Nayla."
"Sudah cukup! Sudah terlambat sekarang, Bim. Jadi, tidak perlu membahasnya lagi. Tidak ada lagi yang mau aku katakan padamu. Sebaiknya kamu pergi dari sini"
"Cil... Tolong... "
"Tinggalkan aku sendiri, Bim!!"
"Ba-baiklah. Kamu istirahatlah, Cil. Aku pergi ya. Sampai jumpa besok dipersidangan." Bima berlalu dari hadapan Cecil.
Cecil mengepalkan tangannya. Air matanya sudah tak keluar. Dia hanya marah. Kecewa. Lelah. Hatinya sudah lelah.
Berkali kali dia meyakinkan dirinya sendiri, kalau ini adalah yang terbaik. Keputusannya untuk melepas Alvian, adalah yang terbaik. Untuknya, Alvian dan juga Nayla.
Ini yang terbaik. Ini adalah yang terbaik. Ini yang terbaik. Gumam Cecilia berkali-kali.
Dari kejauhan Ismail yang baru pulang bekerja melihat Cecilia masih duduk sendiri ditaman. Ismail memutuskan untuk menghampiri Cecil.
"Hai... " sapa Ismail.
"Hai juga. Kamu baru pulang kerja?"
"Iya. Kamu? Apa yang sedang kamu lakukan disini?"
"Hanya mencari udara segar saja. Ada apa?" Cecilia melihat ada ekspresi tak biasa yang diperlihatkan Ismail kali ini.
"Boleh aku duduk?"
"Iya, tentu saja."
Ismail turun dari sepeda motornya dan duduk di sebelah Cecil.
"Ummm, bukannya aku mau ikut campur urusan pribadi kamu. Tapi... Ibu kamu sudah bercerita sedikit padaku. Dia sangat mengkhawatirkan kamu, Cil. Tolong jangan membuatnya bersedih."
"Aku tahu, ibu pasti cerita ke kamu. Sejak ayah meninggal, ibu jadi orang yang tertutup. Dia, jarang bercerita tentang masalahnya pada orang lain. Dia selalu menyimpannya sendiri. Tapi, sejak ada kamu, ibu jadi lebih terbuka. Ibu sudah sedikit berbeda dengan yang dulu. Terima kasih ya."
"Mungkin ibu merasa kalau dia menemukan anak laki-lakinya yang telah lama hilang. Memiliki anak perempuan sepertimu hanya membuatnya sakit kepala, hahaha"
"Sialan kau!!" Cecilia memukul pundak Ismail. "Aduh!!! Badanmu keras sekali! Tanganku jadi sakit."
"Aku ini punya badan yang kuat, kamu jangan berani-berani melawanku yah."
"Wah!!! Otot-ototmu sangat keras! Pasti butuh bertahun-tahun untuk melatihnya." Cecilia memegang lengan besar Ismail.
"Tidak bertahun-tahun, Cil. Hanya butuh niat saja. Hahaha."
__ADS_1
Dan Ceciliapun akhirnya tertawa lepas setelah Ismail mengeluarkan candaan garingnya.
...💟💟💟...