
Cahaya bulan malam ini tak seterang seperti biasanya. Mungkin karena hatiku juga sedang redup. Makin lama kupandangi, makin redup pula sinarnya. Kutarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Kejadian hari ini, membuatku sangat sesak. Semua kata-kata Nadine masih terngiang di benakku. Hidupku, tidak akan tenang lagi setelah ini. Dan aku harus siap menghadapinya. Menghadapi dunia dan juga Nadine.
Kulihat motor Ismail memasuki halaman rumah. Ini sudah larut malam, dan ia baru pulang. Pasti melelahkan jadi abdi negara seperti dia.
"Kau baru pulang?" tanyaku saat Ismail turun dari motornya.
"He'em. Kau sendiri? Kenapa belum tidur?"
"Aku sedang melihat bulan."
"Boleh bergabung?"
"Boleh, duduklah disini!"
"Kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Sedikit."
"Oh ya, aku mau minta maaf, karena akhir-akhir ini pekerjaanku sedang banyak, jadi... Aku tidak bisa ikut makan malam bersama kalian."
"Kenapa minta maaf padaku?"
"Bisakah kau sampaikan pada Ibu? Dan sebagai permintaan maaf, ini kubawakan pizza."
"Pizza? Kau bercanda? Ibu tidak suka makanan semacam ini."
"Kalau begitu ini untukmu."
"Kau mau menyuapku?" aku tersenyum menyeringai.
"Tidak! Bukan begitu---"
"Ya sudah, kemarikan pizzanya. Akan kumakan dengan lahap. Dan ini, sebagai ucapan terimakasihku, aku buatkan coklat hangat untukmu."
"Wah! Kau sudah menyiapkannya untukku? Apa kau sengaja menungguku pulang?"
Aku terdiam. Memang benar aku menunggumu, Ismail. Tapi tidak mungkin kukatakan begitu padamu.
"Hanya kebetulan saja!" Aku berbohong. "Ayo makan!" Aku mengambil satu potong pizza dan kumakan dengan lahap.
Kami banyak bercerita tentang pekerjaan masing-masing. Walaupun lebih banyak aku yang bertanya tentang pekerjaan Ismail.
Seperti apa rasanya jadi polisi? Setiap hari harus berurusan dengan orang-orang yang melakukan tindak kejahatan. Menurutku itu bentuk pengabdian. Untuk negara, dan bangsa kita. Aku suka itu.
Tak kusangka hidupku sekarang... Banyak di isi oleh Ismail. Akan terasa aneh jika dia tiba-tiba tidak ada. Dia lelaki yang baik. Teman yang baik. Dan tetangga yang baik.
"Kau melihat bulan karena ingin menenangkan diri. Benar kan? Apa ada yang ingin kau ceritakan padaku?"
Aku memandang Ismail. "Apa aku bisa percaya padamu?"
Ismail menghela nafas. "Sure. Kamu bisa percaya padaku."
"Mmm, jadi begini..." lalu kumulai ceritaku.
"Saat aku berusia 16 tahun, ayahku dipindahkan ke cabang AJ Foods di Jogjakarta. Aku bersekolah SMA saat itu. Disitulah aku mengenalnya. Namanya Nadine. Dia putri tunggal sebuah perusahaan ternama di Jogja. Orang tuanya memperlakukan dia seperti seorang putri raja. Itu sebabnya dia tak punya teman. Seakan-akan, tidak ada anak yang pantas berteman dengannya.
Kami satu kelas, dan guru menyuruhku untuk duduk disebelah Nadine. Awalnya aku cukup takut, karena anak-anak banyak yang bergosip tentang Nadine.
Tapi kau tahu Ismail, aku yang murid baru ini, justru memberanikan diri untuk berkenalan lebih dulu dengan Nadine.
Bayangkan saja, aku yang murid baru, tapi malah aku yang mengajak dia berkenalan lebih dulu. Aneh kan? Tapi aku memang tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.
Kesan pertamaku tentang Nadine... Menurutku dia tak seperti yang teman-teman lain bicarakan. Dia orang yang hangat. Meskipun cara bicaranya agak sedikit kasar. Tapi aku tahu dia sebenarnya baik.
Lalu akhirnya kami berteman dekat. Kemudian muncul satu pria yang memperingatkanku untuk jangan terlalu dekat dengan Nadine.
Pria itu bernama Radit. Dia bilang perangai Nadine itu buruk. Jadi dia tak akan bisa berteman dengan siapapun, termasuk aku.
Tapi anehnya, kami bertiga akhirnya malah jadi sahabat. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Dan bercerita bersama.
__ADS_1
Aku tahu Nadine sebenarnya hanya kesepian. Dia kurang mendapat perhatian karena orang tuanya terlalu sibuk. Makanya, aku ingin menjadi sahabat yang baik untuk Nadine. Aku ingin mengisi hari-harinya yang sepi.
Semuanya berjalan baik-baik saja. Bahkan kami mengikat janji disebuah pohon beringin yang ada di belakang sekolah. Kami berjanji akan selamanya jadi sahabat.
Namun... Karena adanya kesalahpahaman yang tiba-tiba terjadi diantara kami, semuanya jadi hancur. Nadine membenciku. Sekeras apapun aku coba menjelaskan semuanya. Dia tidak akan pernah mempercayaiku..."
"Karena pria?" Ismail bertanya.
"Biisa dibilang begitu."
"Dan kamu? Juga memutuskan persahabatan kalian?"
"Tidak. Aku terus berjuang untuk membuat Nadine mengerti. Jika kenyataannya tak seperti yang dia pikir. Tapi dia tetap tidak mempercayaiku. Lalu..."
"Lalu apa?"
"Lalu aku memutuskan untuk bersama dengan Radit."
"Ah, berarti aku salah duga."
"Heh?"
"Aku pikir kalian bertengkar karena memperebutkan Radit."
"Apa? Memperebutkan Radit? Hahaha. Kau sangat konyol. Hahaha."
"Kenapa malah tertawa?"
"Kau tak akan bilang begitu kalau tahu Radit itu seperti apa. Dia pria terlucu yang tak pernah serius dengan apapun."
"Hah? Kau serius? Apa ada pria seperti itu?" Ismail menggaruk kepalanya. "Lalu kenapa kau mau bersama dengannya? Hanya karena Nadine? Agar dia tak menganggapmu merebut pria impiannya? Begitu?"
"Ish, kau seorang polisi. Pasti sudah bisa menebak seperti apa akhirnya." Aku cemberut.
"Bukan begitu. Aku hanya asal menebak saja. Lalu sekarang dimana mereka? Apa kau masih bertemu dengan mereka?"
"Huufffttt. Mereka sekarang satu kantor denganku."
"Setelah lulus sekolah, aku kuliah diluar negeri. Di sana aku pernah bertemu satu kali dengan Nadine. Aku sendiri juga tak pernah tahu kalau Nadine juga kuliah di Amerika. Setelah beberapa tahun berlalu, kami bertemu lagi. Kami bekerja di perusahaan yang sama. Aku menyebutnya sebagai takdir yang aneh. Benar kan?"
"Iya, cukup aneh. Sepertinya kalian memang ditakdirkan bertemu kembali. Untuk menyelesaikan hal yang belum usai di masa lalu."
Aku memandang Ismail. "Hal yang belum usai di masa lalu?"
"Selesaikanlah! Kau tak akan hidup tenang sebelum semuanya jelas."
Ismail benar. Tapi... Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku... Terlalu takut. Karena ini seperti mengulang masa lalu...
.
.
.
Keesokan harinya, aku mengundang Rangga untuk makan malam di rumah kami. Aku tahu akan terasa canggung karena ibu mengenal Rangga saat insidennya dengan Mas Alvian beberapa waktu lalu.
"Makan malamnya sangat enak, Bu. Terima kasih karena sudah mengundang saya." ungkap Rangga.
"Aku tidak mengundangmu untuk makan disini." jawab Ibu ketus.
"Ibu---" Aku melirik ke arah ibuku.
"Mungkin ini sudah terlambat. Tapi saya ingin meminta maaf. Maafkan saya, Bu. Saya sangat menyesal atas kejadian tidak mengenakkan beberapa waktu yang lalu."
"Tidak apa. Aku sudah melupakannya. Lalu, apa hubungan kalian sekarang? Apa yang dituduhkan Alvian waktu itu adalah benar? Jika kalian sebenarnya punya hubungan?"
"Ibu!!! Sudah kubilang aku dan Pak Rangga tak ada hubungan apa-apa."
"Lalu sekarang?"
__ADS_1
"Saya serius dengan Cecilia, Bu. Saya mencintainya."
"Cinta?" Ibu mengernyitkan dahi.
"Iya, Bu. Saya mencintai Cecil. Dan saya janji akan membahagiakan dia. Saya datang kesini untuk meminta restu dari ibu."
Ibu menghela nafas. "Restu? Apa keluargamu tahu soal hubungan kalian?"
"Keluarga?? Ah, tentu saja. Bu Siti sudah pernah bertemu dengan Cecil sebelum ini. Dan dia menyukai Cecil." Rangga tersenyum.
Aku memejamkan mata. Rangga sangat tidak berpengalaman dalam hal begini.
Beberapa kali aku melirik padanya untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya. Tapi dia tidak paham dengan kode dariku.
"Bu Siti? Siapa dia?" Ibu bertanya sambil memicingkan mata.
"Dia adalah orang yang sudah merawatku dari kecil. Dia adalah keluargaku."
Aku rasa ibu mulai marah. Rangga! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu begitu polos?
"Pulanglah, Nak."
"Eh?"
"Pulanglah!! Acara makan malamnya sudah selesai." Ibu beranjak dari meja makan.
"Ah, iya. Sekali lagi terima kasih, Bu."
.
.
"Maafkan ibu, ya. Mungkin dia agak terkejut. Karena tiba-tiba aku membawamu ke rumah."
"Iya, tidak apa-apa. Kalau begitu, aku pulang ya! Selamat malam."
"Selamat malam. Hati-hati di jalan."
...***...
Aku terduduk kembali di ruang makan. Kuteguk segelas air putih sampai habis. Ibu keluar dari kamarnya. Aku tahu dia akan memarahiku.
"Apa kau sudah gila? Kenapa kau berpacaran dengan bosmu?"
"Ibu! Aku juga tak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padanya."
"Apa? Jadi benar kau sudah punya hubungan dengan dia saat belum bercerai dengan Alvian?"
"Tidak, Bu. Sumpah demi apapun aku tak mengkhianati Mas Alvian."
"Jadi sekarang kau sudah gila, huh?" Ibu memukul punggungku. Berkali-kali.
"Aw!!! Sakit, Bu. Hentikan!"
"Biar!! Biar kau tahu rasa seperti apa rasanya menyakiti ibumu. Dia itu bosmu. Kau pikir keluarganya akan menerimamu yang hanya karyawan rendahan, hah?"
"Cukup, ibu!! Aku bukan karyawan rendahan. Aku karyawan terbaik di AJ Foods."
"Ya Tuhan!!! Kau pikir ibu begini karena tak sayang sama kau, hah? Ibu tidak akan membiarkan kau jatuh di lubang yang sama dua kali. Apa kau tak bisa belajar dari masa lalu? Keluarga Alvian tak pernah menerimamu sebagai menantu. Apa kau akan mengulang semua itu? Keluarga Rangga pasti akan melakukan hal yang sama. Apalagi sekarang kau seorang janda. Apa kau pikir Pak Presdir akan menerimamu sebagai menantunya?" Ibu mulai sesenggukan.
Akupun hanya terdiam. Ucapan ibu ada benarnya. Tapi... Aku belum melakukan apapun. Aku belum memperjuangkan apapun. Kenapa aku harus menyerah?
"Kau harus tahu diri, Nak. Mundurlah!!! Sebelum kau terluka lebih dalam lagi." Ibu melangkah pergi dan masuk ke kamarnya.
Aku memukul dadaku. Rasanya sesak sekali. Aku bertengkar dengan ibu. Sama seperti dulu. Saat aku mempertahankan hubunganku dengan Mas Alvian. Ini seperti... Mengulang masa lalu...
Ini... Takdir yang aneh...
...💟💟💟...
__ADS_1
bersambung,,,,,