99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Tetangga Baru


__ADS_3

*Cecilia PoV*


Hari ini Mas Alvian dan keluarganya pergi menjemput Nayla dari kantor polisi. Sesampainya di rumah, aku melihat Nayla terlihat sangat lusuh, tubuhnya kelihatan kurus, dan tatapan matanya sayu. Tubuhnya begitu lemah hingga Mas Alvian terus memegangi lengannya dan memapahnya berjalan. Dia pasti syok tinggal beberapa hari di kantor polisi.


Tatapan Mas Arif masih sama padaku. Dia membenciku. Dari dulu dia tidak menyukaiku. Setelah kejadian ini, dia pasti makin membenciku. Rasanya dadaku sesak, harus berada di situasi seperti ini. Mereka adalah keluargaku, tapi mereka menganggapku orang asing.


Mas Alvian mengantarkan Nayla ke kamarnya. Rasanya aku tidak peduli apakah Mas Alvian akan tidur di kamar Nayla atau di kamar ini bersamaku. Selama ini Mas Alvian tidak pernah menganggap Nayla seperti istri baginya. Entah sekarang. Apakah semuanya akan berubah?


Aku terkejut saat Mas Alvian ternyata kembali ke kamarku. Kamar kami. Aku masih duduk di tepi tempat tidur. Mas Alvian duduk disampingku. Dia menatapku. Dan aku membalas tatapannya. Dia terlihat sedih. Lalu memelukku.


"Maafkan aku, Cil. Maaf kalau semuanya jadi begini. Aku juga sedih sepertimu. Kehilangan putri kita satu-satunya, aku juga sangat terpukul. Tapi bukan berarti kita bisa menyalahkan Nayla. Dia sudah membantu kita menjaga Tasya. Tolong maafkan aku, Cil."


Aku merasa iba padanya. Aku juga tidak menginginkan jadi seperti ini. Tapi kenapa dari awal kalian tidak jujur padaku. Itu yang membuatku bingung.


"Iya, Mas. Aku juga minta maaf karena sudah membuat kekacauan di keluarga ini."


Mas Alvian melepaskan pelukannya. Dia tersenyum padaku. Aku pun tersenyum padanya. Meski agak terpaksa.


...***...


Ibu meneleponku dan memintaku untuk mampir ke rumah setelah pulang kerja. Dia bilang rumah toko yang dulu dijadikan toko kue kami, sudah selesai di perbaiki dan dijadikan sebagai rumah tinggal. Ada orang yang bersedia menempati rumah itu. Rumah itu berada disebelah rumah kami. Setelah toko kue pindah ke ruko yang lebih besar, ruko sebelah rumah jadi kosong dan tak ada yang menempati.


Menurutku itu ide yang bagus. Karena Ibu jadi punya tetangga dekat yang bisa dimintai tolong jika ada apa-apa. Selama ini Ibu tinggal seorang diri.


Aku sudah pernah mengajaknya untuk tinggal bersamaku dan Mas Alvian, namun Ibu menolak. Dia tidak bisa meninggalkan rumah peninggalan Ayah. Lagipula toko kue kami juga lebih dekat dengan rumah Ibu.


Sesampainya di rumah, ibu langsung menyambutku. Seperti biasa dia menanyakan kabarku. Aku jawab kalau aku baik-baik saja.


Persoalan dengan Nayla dan juga kakak iparku, sebaiknya tidak kuceritakan pada Ibu. Ibu membawaku menuju ke rumah sebelah. Rumah itu tak berjarak jauh. Hanya perlu beberapa langkah.

__ADS_1


"Ibu sudah membeli beberapa perabot rumah untuk mengisi rumah itu. Jadi si penyewa rumah tidak perlu membeli banyak perabot."


"Sebenarnya ibu tahu kalau kau pasti setuju, tapi tidak ada salahnya, kalau ibu minta pendapatmu. Dan kau sekalian berkenalan dengan penyewa rumah kita."


Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui siapa orang yang akan menyewa rumah kami. Si polisi menyebalkan yang memintaku untuk meneruskan kasus kecelakaan Tasya.


"Nak Ismail, kenalkan ini putri ibu, namanya Cecilia. Cecil, ini Nak Ismail, dia seorang anggota polisi." Ibu mengenalkan aku pada Ismail.


Well, aku sudah mengenalnya, Bu. Batinku.


Aku tersenyum getir melihatnya. Sementara si Ismail, dia tersenyum sangat lebar. Seolah-olah dia baru saja menang lotre.


"Kalian mengobrol saja, Ibu buatkan teh dulu untuk kalian." Ibu meninggalkan kami berdua.


Aku menatap tajam ke arah Ismail. "Apa yang Anda lakukan disini?" Aku bertanya sinis padanya.


Dan ternyata semua barang-barangnya sudah masuk ke rumah ini.


Apa-apaan ini? Ibu bilang mau bertanya dulu padaku apakah aku setuju atau tidak dengan penghuni baru rumah kami.


Tapi kenapa, Ibu seolah-olah sudah menyetujui kalau si polisi ini yang akan menyewa rumah kami.


Aku tertawa getir. "Jangan bercanda. Anda membuntuti saya, ya? Bagaimana mungkin Anda bisa tahu kalau Ibu saya menyewakan rumah? Anda pasti sengaja menyewa rumah ini. Supaya Anda bisa terus mendesak saya agar melanjutkan kasus anak saya. Berapa kali saya sudah bilang, jangan ikut campur urusan saya dan keluarga saya. Anda tidak tahu apa-apa. Anda tidak tahu apa yang saya rasakan. Jadi tolong, hentikan semua ini. Dan sebaiknya Anda jangan menyewa rumah ini. Sebaiknya Anda cari tempat yang lain saja."


"Maaf kalau saya terkesan mengikuti Anda. Tapi saya memang sedang membutuhkan tempat tinggal. Dan saya merasa disini adalah tempat yang cocok. Dan mengenai kasus Anda.... saya tidak memaksa Anda untuk melanjutkan kasusnya, tapi saya mohon, untuk percaya pada pihak kepolisian. Tolong percaya pada kami. Kami pasti akan memberikan keadilan untuk Anda. Karena saya tahu persis apa yang Anda rasakan."


"Cukup!!! Saya tidak mau dengar lagi. Saya tahu kalian hanya memanfaatkan situasi ini. Kalian tahu kalau suami saya adalah seorang selebritis. Makanya kalian ingin mempublikasikan kasus ini, supaya kalian mendapat popularitas di masyarakat. Kalian sengaja ingin menyebarkan kasus ini kepada media. Begitu kan?"


"Tidak, Nyonya. Kami sama sekali tak punya maksud untuk seperti itu. Kami hanya ingin membantu Anda. Itu saja! Karena saya tahu apa yang Anda rasakan. Kehilangan orang yang kita sayangi itu sangat menyakitkan."

__ADS_1


"Berhenti mengatakan jika Anda tahu apa yang saya rasakan. Anda tidak tahu apa-apa tentang apa yang saya rasakan. Apa Anda pernah kehilangan anak?" Mataku rasanya mulai panas.


Ismail hanya terdiam.


"Oh, mungkin harusnya saya bertanya dulu, apa Anda sudah menikah? Sepertinya belum. Lalu kenapa Anda sok tahu soal perasaan saya? Anda tidak tahu apapun soal apa yang saya rasakan. Jadi tolong, jangan mencampuri lagi urusan keluarga saya. Jika memang Anda butuh tempat tinggal, saya ijinkan Anda untuk menyewa rumah ini. Tapi jangan sampai anda melewati batas!"


Aku meninggalkan Ismail dan menuju ke rumah Ibu. Di tengah perjalanan aku berpapasan dengan ibu.


"Kalian sudah selesai berbincang? Ayo mari Nak Ismail, ibu sudah buatkan teh."


"Terima kasih, Bu. Tapi saya harus kembali ke kantor."


Aku tidak tahu kalau Ismail juga akan pergi meninggalkan rumah.


Dan dia melenggang pergi setelah berpamitan pada Ibu.


Ibu sepertinya sangat menyukai dia. Oh, come on, siapa yang tidak menyukai para anggota polisi?


Pria-pria dengan tubuh proporsional, rambut rapi, dan terkadang wajahnya juga tampan. Sama dengan si Ismail ini, dia juga punya wajah yang tampan. Bertubuh tinggi, dan badan yang bagus, mana mungkin ibuku tidak menyukainya. Aku tersenyum memyeringai pada ibuku.


"Bagaimana? Kau setuju bukan, jika Nak Ismail menyewa rumah kita? Tanya ibu saat kami meminum teh bersama. Aku mengernyitkan dahi.


"Ibu rasa dia orang yang hangat dan baik, dan juga sopan. Lagipula, dia itu seorang polisi, jadi ibu merasa lebih tenang meski tinggal sendiri disini."


Iya, ibu benar. Selama ini aku sering khawatir karena ibu tinggal sendiri. Ada baiknya juga kalau ibu tinggal berdekatan dengan seorang polisi.


Jika diperhatikan, si Ismail ini sepertinya orang yang baik. Walaupun aku tidak suka dengan sikapnya yang ingin ikut campur dengan urusan keluargaku.


...💟💟💟...

__ADS_1


__ADS_2