
...πππ...
"Cil, apa yang kamu lakukan disini?" Suara Amel mengagetkan Cecilia yang sedari tadi bergeming di depan kafe. Dengan cepat Cecilia menyeka air matanya.
"Tidak ada. Aku hanya mencari angin saja."
"Ayo kembali kedalam!" Ajak Amel dengan meraih bahu Cecil.
Saat hendak berbalik badan, sebuah mobil datang dan berhenti tepat di depan mereka.
Amel dan Cecil penasaran dengan sosok yang keluar dari dalam mobil.
"Shasha?" Cecil terkejut sekaligus senang.
"Hai, Cil. Selamat ya atas pembukaan kafemu," ucap Shasha dengan mengulurkan tangannya.
"Terima kasih karena sudah bersedia datang." Cecilia menyambut uluran tangan Shasha.
"Maaf aku datang terlambat. Acaranya sudah selesai ya?"
"Iya, tapi tidak apa. Silahkan masuk! Ada Bima juga di dalam."
Shasha melangkah masuk ke dalam kafe, diikuti Cecil dan Amel dibelakang.
Amel menahan lengan Cecil. "Tunggu, Cil!"
"Ada apa?"
"Untuk apa kamu mengundang mantan manajer Alvian?"
"Memangnya kenapa?"
"Bisa saja dia masih berhubungan dengan Alvian. Dan dia datang kemari hanya untuk memata-mataimu."
"Astaghfirullahaladzim, Amel. Tidak baik berburuk sangka pada orang lain. Jika Shasha masih berhubungan dengan Mas Alvian, apa masalahnya?"
"Kamu ini! Masih belum sadar juga ya? Alvian beserta keluarganya selalu mengacaukan hidupmu dan membuatmu menderita. Jadi berhenti peduli pada mereka. Akan lebih baik jika kamu membencinya saja!"
"Jangan bicara begitu, Mel. Aku yakin baik Mas Alvian maupun Nayla, dan juga Mas Arif, mereka akan mendapat hukuman mereka sendiri. Jadi, kita jangan menghakimi mereka lagi. Kamu mengerti 'kan?"
Amel memutar bola matanya.
"Hatimu terbuat dari apa, Cil? Bagaimana bisa kamu memaafkan mereka dengan cepat setelah apa yang telah mereka lakukan padamu? Kamu sudah kehilangan banyak hal karena mereka."
"Saat kita menyimpan kebencian, tidak ada yang bisa kita dapatkan dari hal itu, kecuali kesedihan dan kekecewaan. Aku memang pernah sakit hati karena mereka. Aku sangat kecewa pada mereka. Tapi apa yang aku dapat? Aku hanya merasa sedih dan sendiri. Aku tidak mau begitu, Mel. Aku ingin bahagia. Aku tidak mau bersedih lagi. Dan satu-satunya cara adalah, memaafkan diri kita sendiri, lalu orang lain. Aku mencoba berdamai dengan hatiku. Kemudian aku harus berdamai dengan orang-orang yang pernah menyakitiku."
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu..."
"Mel... Di masa lalu, aku juga pernah melakukan kesalahan. Anggap saja aku sedang menebus kesalahanku. Dengan begitu, kami impas. Simple 'kan? Aku bukan orang baik, tidak sepenuhnya baik. Mereka juga tidak sepenuhnya jahat. Mengenai Nayla... Di pernikahan sebelumnya, dia belum bahagia. Dia menjadi istri yang hanya merawat suaminya yang sakit. Dia tak sempat merawat seorang anakpun. Lalu sekarang, dia memiliki anak dari Mas Alvian. Itu adalah balasan karena dia sudah bersabar. Mungkin, dulu aku egois. Aku hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri. Tidak peduli seperti apa perjuangan Nayla menjalani hidupnya. Jadi... Aku minta sekarang, kita lupakan semuanya, dan hidup dengan tenang. Bagaimana?"
"Kenapa setelah berhijab kamu jadi bersikap lebih bijak?" Amel geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Cecilia tertawa. "Jadi kamu mau berhijab juga?"
"Duh, sepertinya aku masih belum siap, Cil. Hehehe."
"Belajar dulu saja. Nanti aku kenalkan dengan Umi Isma."
"Oke. Hehe." Dan mereka berdua berpelukan lalu masuk kembali ke kafe.
...***...
Herman dan Bu Siti kembali ke rumah dengan membawa satu box roti pemberian dari Cecil.
"Kalian sudah pulang?" Tanya Pak Udin.
"Sudah, Pak. Acaranya seru, Pak. Harusnya Bapak ikut juga," balas Herman.
"Nanti tidak ada yang menemani Mas Rangga, Man," sahut Bu Siti.
"Lho! Memangnya kalian tidak bertemu dengan Mas Rangga? Tadi sepertinya dia pergi dengan mobilnya. Bapak pikir dia pergi ke kafe Mbak Cecil juga."
"Eh? Mas Rangga pergi?" Herman dan Bu Siti mengernyit.
"Ada apa ribut-ribut memanggil namaku?"
Yang dibicarakan tiba-tiba datang dan langsung ngeloyor pergi menuju kamarnya.
"Mas Rangga dari mana?" Tanya Bu Siti.
Rangga menghentikan langkahnya.
Herman dan Bu Siti mengernyit. Dalam hati mereka berkata, "Siapa juga yang berpikir macam-macam?!"
...***...
"Bagaimana acaranya, Cil? Banyak yang datang?"
"Ibu harusnya ikut juga kesana. Ramai, Bu. Banyak anak muda yang datang."
"Itu acara anak-anak muda, ibu tak cocok ada disana. Eh, Ibu dengar kau mengundang Bima dan mantan manajernya Alvian itu, siapa namanya?"
"Shasha, Bu. Kenapa memangnya?"
"Untuk apa kau mengundang teman Alvian juga?"
"Mereka adalah temanku juga, Bu."
"Kau ini! Sulit sekali bicara denganmu! Sudah ibu bilang jangan berhubungan dengan apapun yang berkaitan dengan Alvian lagi! Bisa tidak kau dengarkan apa kata ibumu!"
"Tadi Amel, sekarang ibu! Mau sampai kalian akan terus menghujat mereka? Mereka datang kesana sebagai tamuku, bukan sebagai teman Mas Alvian."
Cecil tak ingin berdebat lagi dengan ibunya dan memilih masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Hei!!! Ibu belum selesai bicara!! Cecil!!!"
Cecil menutup telinganya dan tak ingin mendengar apapun lagi saat ini.
Ini adalah hari bahagianya. Kenapa banyak orang yang merusak suasana hatinya?
.
.
.
Keesokan harinya,
Cecilia bersiap untuk berangkat ke kafe. Setelah perdebatan semalam, Cecilia dan ibunya belum saling bicara lagi. Cecil merasa kesal dengan tingkah ibunya yang selalu membenci sesuatu yang berhubungan dengan Alvian.
Oke! Mereka memang patut untuk dibenci, karena mereka banyak menyakiti Cecil. Tapi, apa yang didapat dari kebencian? Apa yang didapat dari balas dendam? Itu hanya menyisakan kesedihan. Jadi Cecil memilih untuk memaafkan mereka yang sudah menyakitinya. Itu akan membuatnya lebih tenang dan bahagia.
"Aku sudah bahagia, Bu," ucap Cecil pada akhirnya.
"............" tak ada jawaban dari ibu Maria.
"Aku mohon ibu mengerti dengan keputusanku. Tuhan saja selalu memaafkan hambaNya, bagaimana kita yang hanya manusia biasa. Kenapa tidak bisa memaafkan kesalahan sesama manusia?"
"Huft, ibu mengerti apa maksudmu. Baiklah, mulai sekarang ibu tidak akan membicarakan mereka lagi."
"Terima kasih, ibu..." Cecilia berhambur memeluk ibunya.
...***...
Hari ini adalah hari pertama Cecil mengelola kafenya. Karena masih baru, ia memberi diskon 50% di semua menu yang ada di kafe.
Kebanyakan pengunjung adalah anak-anak sekolah dan mahasiswa yang sengaja nongkrong untuk menghabiskan waktu ataupun mengerjakan tugas kuliah.
Cecilia sangat bersemangat hari ini. Ia meracik dan melayani sendiri customernya. Meskipun dia juga mempekerjakan tiga orang lainnya untuk membantunya di kafe.
Kafe tutup pukul 10 malam. Cecilia sangat lelah hari ini. Sesampainya dirumah, ia ingin menikmati udara malam dulu di depan rumahnya.
Seperti biasa ia duduk di teras rumah ditemani secangkir teh jahe yang tadi diseduhnya. Ia menyesap sedikit demi sedikit teh jahenya karena masih panas.
Cecilia merasa sangat bahagia. Meski tubuhnya terasa lelah dan pegal, tapi rasa bahagia itu membuat semua rasa sakit hilang.
Ia ingin setiap hari seperti hari ini. Ia tak memikirkan apapun selain kafenya. Beban yang kemarin dia rasakan, kini hilang sudah bagai di hempas angin.
...πππ...
bersambung dulu yaaaa,,,,
Nantikan cerita selanjutnyaππ
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian π£π£
__ADS_1
Satu like or comment saja sudah membuat author bahagiaaaa πππ
Terima kasih π