99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Hijrah atau Kembali?


__ADS_3

...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Radit berdiri mematung di depan sebuah pondok pesantren. Ia telah sampai di alamat yang diberikan oleh pak detektif. Ada beberapa pertanyaan di benaknya.


"Apa benar Cecil tinggal disini selama ini?" Ia memandangi ponselnya yang berisi pesan dari Pak detektif.


"Maaf, Anda mencari siapa?" Rosida bertemu Radit saat akan masuk ke dalam pondok.


"Eh? Saya? Saya mencari Cecilia. Apa ... dia ada disini?"


Rosida mengernyitkan dahi. "Cecilia?" Rosida berpikir sejenak. "Anda siapa?"


"Saya temannya dari Jakarta."


"Bagaimana Anda tahu alamat pondok pesantren ini?"


"Ada seseorang yang mengirimkan alamat ini padaku." Radit menunjukkan ponselnya pada Rosida.


Rosida tidak bisa memutuskan apapun. Ia harus memberitahu Umi Isma lebih dulu.


"Tunggu dulu disini. Nanti saya akan kembali. Oh ya, Siapa nama Anda?"


"Raditya Hanggawan."


"Baiklah." Rosida kemudian masuk ke dalam pondok.


Rosida menuju kamar Umi Isma. Dan disana juga ada Cecilia.


"Kebetulan ada kamu Maira. Ada yang ingin aku sampaikan."


"Tentang apa?" tanya Cecil.


"Ada seseorang yang mencarimu di depan pondok."


Cecilia terkejut. "Mencariku? Siapa?"


"Seorang pria bernama Raditya Hanggawan."


Cecilia tertegun.


"Apa kamu mengenalnya?" tanya Umi Isma.


"Iya, Umi. Aku mengenalnya." jawab Cecil.


"Meskipun kenal tapi jika kamu tidak ingin menemuinya maka tidak apa 'kan Umi?"


"Terserah Khumaira saja. Biar dia yang memutuskan." jawab Umi.


"Jika menemuinya, kamu harus menemani Khumaira, Ros. Tidak baik yang bukan mahrom bertemu hanya berdua." timpal Abah Farid.


"Iya, Abah. Bagaimana Maira? Kamu mau menemuinya?"


Cecilia menatap Umi Isma. Ada keraguan di hatinya. Tapi, Radit sudah datang dari jauh. Apa setega itu Cecil tak mau menemuinya?


"Baiklah, aku akan menemuinya."


"Kalau begitu aku akan memanggilnya dahulu. Kamu harus memastikan apakah benar dia bernama Radit atau bukan."


Rosida kembali ke tempat Radit menunggu.


"Raditya! Silahkan masuk!"


"Dimana Cecilia?"


"Dia ada didalam. Mari ikut saya!"


Radit mengikuti langkah Rosida masuk kedalam pondok. Terlihat sesosok perempuan yang sedang berdiri seakan menyambutnya.


Saat langkahnya semakin dekat, Radit memandang perempuan itu. Seperti sosok yang ia kenal, namun tampilannya berbeda.


Radit membuka matanya lebar-lebar agar tahu siapa sosok itu sebenarnya. Itu memang benar Cecilia.


"Ce-Cecil? Kamu benar-benar Cecil 'kan?"


"Iya. Aku Cecilia."


Radit tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Cecilia yang ia lihat, tak seperti Cecilia yang dulu.


Tak ada lagi rambut indah sebahunya yang tergerai. Tak ada riasan wajah yang selalu terlihat merona saat ia tersenyum. Tak ada lagi kaos dan celana jeans kesukaannya di saat sedang santai.


Cecilia yang ia temui, sudah merubah penampilannya. Ia sudah menutup kepalanya dengan kain bernama hijab. Menutup semua bagian tubuhnya dengan dress panjang yang orang-orang menyebutnya gamis.


Cecilia tersenyum pada Radit. Senyum itu masih sama. Selalu ramah dan menentramkan hati.


"Sebaiknya kita duduk di bangku taman saja." Usul Rosida tiba-tiba karena melihat situasi canggung terjadi, yang disetujui oleh Radit dan Cecil.


Mereka duduk bertiga. Cecil dan Rosida duduk bersebelahan, dan Radit duduk di depan mereka.


"Silahkan kalian berdua bicara."


Radit menatap Rosida dan menunggunya meninggalkan ia dan Cecil.

__ADS_1


"Kenapa diam saja? Bukankah kamu mencari Cecilia? Sudah bertemu malah diam saja!"


"Dia bilang bicara berdua, kenapa ini malah bertiga?" gumam Radit mulai kesal.


"Kamu bukan mahramnya Khumaira, jadi tidak boleh bicara berduaan di tempat sepi." jelas Rosida.


"Sepi apanya? Lihat saja disana banyak anak-anak berkeliaran. Lalu tadi apa? Khu apa?" Radit makin bingung.


"Khumaira. Mereka memanggilku begitu disini." terang Cecil.


"Oh." Radit menggaruk kepalanya. "Apa semua orang yang masuk pesantren harus mengganti namanya ya?" gumam Radit.


"Kau bilang apa?" Rosida mendelik ke arah Radit.


"Ah tidak. Aku tidak mengatakan apapun."


"Baiklah, aku akan mengawasi dari sana, kalian bicara dulu disini. Tidak ada hal yang rahasia 'kan yang akan kalian bicarakan?"


"Huh! Ini anak membuatku emosi saja! Siapa sih dia? Kenapa Cecil bisa mengenal gadis menyebalkan seperti dia?" Rutuk Radit dalam hati.


Kemudian Rosida berpindah tempat dan duduk di bangku taman sisi yang lain. Sambil tetap mengawasi gerak gerik Radit. Ia hanya khawatir terjadi sesuatu pada Cecil.


"Siapa sih dia? Gayanya menyebalkan sekali!" umpat Radit.


"Dia anak pemilik pondok pesantren ini. Namanya Rosida."


"Oh, pantas saja. Gayanya songong!"


Cecilia tertawa. "Kamu tidak berubah ya. Masih suka melucu seperti dulu."


"Bagaimana kabarmu, Cil?"


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Lama tidak bertemu ya. Bagaimana kamu bisa menemukanku disini?"


"Itu adalah keahlianku, Cil. Hehe. Aku 'kan punya banyak mata-mata."


Cecilia tertawa kecil. "Bagaimana kabar dikantor?"


"Baik, semuanya baik. Dan kamu tahu, aku akhirnya menjalankan bisnis Papa. Aku sudah tak bekerja di AJ Foods lagi."


"Benarkah? Baguslah. Aku ikut senang karena kamu sudah berdamai dengan Papamu."


"Umm, Cil... Mau sampai kapan kamu tinggal disini?"


"Eh?"


"Pulanglah, Cil. Semua orang merindukanmu."


"Aku datang kesini untuk menjemputmu." Ungkap Radit.


"Apa? Menjemputku?"


"Iya. Kamu bersedia 'kan kembali ke Jakarta bersamaku?"


Cecil menatap Radit. "Maaf, Dit. Aku tidak bisa."


Ada raut kesedihan di wajah Radit. Keceriannya hilang seketika. Setelah berbincang beberapa lama, Radit berpamitan pada Cecil. Dan dengan langkah gontai, iapun pergi dari pondok. Usahanya untuk membawa Cecil pulang tidak berhasil.


...***...


Radit menyusuri jalanan kota Jogja dengan langkah lemas lunglai. Ia berjalan ke arah Malioboro. Dia ingin merasakan keramaian. Agar tak terlalu sedih karena penolakan Cecilia. Namun percuma, ia tetap merasa sangat sedih.


Di tengah kesedihan yang melandanya, sebuah suara mengagetkan lamunannya.


"Radit!!!" Suara itu tak asing baginya. Ia menoleh mencari sumber suara. Seorang wanita melambai padanya.


"Nadine?" Radit terperangah.


Nadine menghampiri Radit yang keadaannya kacau dan putus asa.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Nadine.


Radit merasa gila dengan situasi ini. Ia mengacak-acak rambutnya.


Nadine membawa Radit ke sebuah kafe. Ia memesankan minuman dingin untuk Radit. Terlihat jelas Radit seperti backpacker yang kehabisan ongkos di perjalanan.


Radit menatap Nadine tajam.


"Jadi selama ini kau tinggal disini, huh?"


"Tempat tinggalku memang disini, Dit." Jawab Nadine santai.


"Hei!!! Apa kau sudah tidak waras? Bagaimana bisa kau membatalkan pertunangan hanya dengan selembar surat?" Radit meledak-ledak.


Nadine menghela nafas. "Itu adalah yang terbaik. Sejak awal orang tuaku juga sudah memberitahu jika aku harus berhenti mengharapkan Rangga. Tapi aku tidak pernah mendengarkan mereka."


"Sorry ..." Radit melunak.


"Lebih baik aku pergi, benar 'kan?"


"Apanya yang baik? Pertama Cecil, lalu kamu."

__ADS_1


"Omong-omong, bagaimana kau bisa sampai disini?"


"Aku mencari Cecilia. Rencananya aku ingin membawanya pulang ke Jakarta."


"Lalu?"


"Tidak berhasil. Dia menolak."


"Sudah kuduga. Kau tahu 'kan bagaimana Cecilia. Kau tidak akan berhasil membujuknya."


"Jadi kau tahu jika Cecilia ada di Jogja?"


"Aku juga baru mengetahuinya. Aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Aku juga menyuruhnya kembali. Tapi dia menolak."


"Lalu bagaimana hubungan kalian? Kau sudah memaafkan Cecilia?"


"Secara resmi belum. Tapi ... aku belajar untuk mengikhlaskan semuanya."


"Kau serius, Nad?" Radit tersenyum lebar.


"He'em. Aku sadar jika aku tidak bisa menggantikan posisi Cecil di hati Rangga."


"Terima kasih, Nad. Aku lega mendengarnya."


"Apa rencanamu sekarang? Apa kau akan langsung kembali?"


"Aku belum tahu, Nad. Rasanya hatiku hancur berkeping."


"Ish, jangan berlebihan! Sebaiknya kau ikut denganku. Tinggal dulu di rumahku. Dari pada kau seperti gelandangan tak ada arah tujuan yang jelas."


"Apa katamu?!"


"Hahaha, tampangmu memang cocok jadi backpacker yang kehabisan ongkos, hahaha."


...***...


Beberapa hari terakhir, Cecilia sering melamun di kamarnya menghadap keluar jendela. Hatinya kini bimbang. Perasaan rindu pada kota Jakarta semakin menyeruak tak terbendung. Ia merindukan rumahnya, kamarnya, ibunya, dan teman-temannya. Air matanya tak tertahan lagi. Ia menangis.


Dirasakannya sebuah tangan menyentuh bahunya. Membelainya lembut. Itu adalah Umi Isma.


Cecilia tak berusaha menghapus air matanya. Ia ingin Umi Isma tahu apa yang sedang dirasakannya sekarang.


"Apa yang harus aku lakukan, Umi?"


Umi Isma memandang wajah Cecilia. Lalu mengusap air mata Cecilia dengan jarinya. "Ada kalanya kita merindukan orang-orang yang kita tinggalkan. Sama seperti Umi dulu. Sangat merindukan Rangga. Tapi Umi tidak bisa berbuat apapun. Banyak sekali penyesalan yang Umi rasakan. Jadi, Umi tidak mau kamu mengambil jalan yang sama seperti Umi. Jika kamu merasa sudah siap untuk kembali, maka kembalilah. Kamu masih memiliki orang tua yang harus kamu jaga. Bila kamu kembali, kembalilah untuknya, untuk ibumu. Bukan untuk orang lain. Umi yakin seorang ibu selalu bisa memaafkan kesalahan anaknya."


"Umi ... " Cecil memeluk Umi Isma. Dan tangisnya pecah dipelukan Umi Isma.


...***...


Beep beep beep


Ada sebuah pesan masuk di ponsel milik Ismail. Lalu ia membaca pesan masuk itu.


Jantungnya berdegup kencang. Sebuah pesan yang membuatnya girang tak terkira. Senyum lebar tersungging di wajah tampannya. Tak henti-hentinya ia menatap layar ponselnya.


"Ini bukan mimpi 'kan?" Ismail mencoba meyakinkan dirinya dengan mencubit pipinya sendiri.


"Aw, sakit! Ini bukan mimpi. Ini benar-benar nyata."


Ismail meloncat kegirangan. Seperti anak kecil yang baru saja mendapat sebuah hadiah.


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih..." ucapnya berkali-kali.


.


.


.


"Ismail ... Aku akan kembali ke Jakarta. Bisakah kamu menjemputku di bandara?"


.


.


.


Pesan singkat itu mampu membuat kebahagiaan tak terhingga di hidup Ismail.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


*bersambung,,,,


"finally, she's back! 😊😊


kira-kira ada yg nge'ship' Nadine sama Radit gak ya?😁


*jangan lupa tinggalkan jejak 🐾🐾


Terima kasih πŸ™

__ADS_1


#selamat berpuasa bagi kalian yg menjalankannya πŸ™


__ADS_2