99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Rapuh


__ADS_3

*Raditya PoV*


Setelah pemakaman Tasya, aku belum bertemu kembali dengan Cecil. Yah tentu saja dia harus cuti untuk menenangkan diri dan hatinya. Aku tak menyangka jika selama ini dia menyimpan rahasia yang besar. Aku tak percaya jika orang seperti Alvian bisa melakukan ini. Dia adalah suami yang baik, dan selalu tampil harmonis di depan banyak orang. Siapa sangka semua itu hanya topeng.


Aku ingin menemui Cecil. Menemaninya sepanjang hari. Memberikan candaan garingku buatnya. Dia selalu tertawa dengan tingkah anehku. Dan aku ingin dia selalu tertawa. Sial, aku gak bisa konsen kerja kalo gini. Aku kepikiran Cecil terus. Dua gelas kopi belum cukup membuatku kembali bersemangat. Hingga akhirnya, kulihat seseorang yang akan mengembalikan gairahku.


"Nadine!!!" Teriakku. Aku menghampirinya segera.


"Ada apa?" Dia menjawab ketus, seperti biasa.


"Kenapa kau tak datang ke pemakaman putri Cecilia?" tanyaku geram.


Dia memalingkan wajah. Aku tahu dia akan melakukannya.


"Apa kau sangat membenci Cecil? Hingga kau tidak punya sedikit saja empati padanya? Dia baru saja kehilangan putrinya. Dia adalah sahabatmu, Nad. Meskipun itu dulu. Tapi sekarang kita satu kantor, tidak ada salahnya jika kau menunjukkan simpatimu padanya. Jika sikapmu terus seperti ini pada Cecil, maka orang-orang bisa curiga pada hubungan kalian. Mulai sekarang, urus sendiri urusanmu dengan Rangga. Aku tak mau ikut campur lebih jauh lagi. Suatu saat, kau pasti akan menyesal, sudah berbuat seperti ini pada Cecil."


Aku merasa sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan. Aku ingin Nadine sadar. Dan bisa memaafkan Cecil meski menurutku dalam hal ini Cecil tidak bersalah. Aku meninggalkan Nadine yang masih diam bergeming. Semoga saja suatu saat dia akan menyesali perbuatan buruknya pada Cecil. Aku melenggang pergi dengan senyuman puas di bibirku.


...***...


Seminggu kemudian,


Keadaan Cecil sudah mulai membaik. Namun setiap hari dia masih menangisi kepergian Tasya. Dia selalu mengurung diri di kamar Tasya. Bahkan sampai lupa makan. Alvian berkali-kali membujuknya, namun masih tidak berhasil. Bahkan ibunya sendiri pun tidak berhasil. Malah Cecil meminta ibunya untuk pulang ke rumah saja. Dia hanya ingin sendirian.


"Neng, Cecil mana?" Tanya Alvian saat pulang kerja.

__ADS_1


"Bu Cecil ada dikamar Non Tasya, Pak." Jawab Neneng. Dan Alvian langsung melenggang ke kamar Tasya.


Dilihatnya tubuh Cecil meringkuk di tempat tidur Tasya sambil memeluk boneka kesayangan Tasya. Tubuhnya tidak terawat dengan rambut acak-acakan. Wajahnya  sembab dan matanya membengkak. Alvian menarik nafas panjang.


"Mau sampai kapan kau bersikap begini, Cil? Kasihan Tasya jika kau terus bersikap begini. Dia sudah tenang disana. Jadi kita disini juga harus mengikhlaskannya. Kau lihat dirimu sekarang. Berantakan dan kacau. Kau pikir Tasya senang jika melihat keadaanmu seperti ini??!"


"Tinggalkan aku sendiri." Jawab Cecil lirih.


"Nayla bilang kau belum makan sedari pagi. Ini sudah malam, ayo kita turun untuk makan!" Alvian menarik lengan Cecil.


Cecil meronta. Berteriak pada Alvian. Dan membuat Alvian makin naik pitam. Namun semua usahanya tidak membuahkan hasil. Cecil malah mengusirnya.


"Pergiiiiii!!!! Jangan ganggu aku!!! Tinggalkan aku sendiri!!!" Cecil berteriak.


Dia sudah lelah dengan urusan pekerjaannya, lalu harus di hadapkan dengan sikap Cecil yang keras kepala.


"Bukan hanya kau yang bersedih dengan kepergian Tasya. Aku jug sedih. Aku adalah ayahnya. Aku juga tidak ingin kehilangan Tasya dengan cara seperti ini." ucap Alvian lirih dan berkaca-kaca.


Nayla mengetuk pintu lalu masuk ke kamar dengan membawa secangkir teh untuk Alvian.


"Minumlah dulu, Mas. Siapa tahu bisa membuatmu lebih tenang. Kondisi Mbak Cecil masih labil, sebaiknya jangan diganggu dulu. Kita tunggu sampai Mbak Cecil tenang. Aku yakin dia akan kembali seperti dulu."ucap Nayla sambil tersenyum.


Alvian meminum tehnya. "Terima kasih, Nay."


"Sama-sama, Mas. Kalau begitu aku permisi dulu." Nayla membalikkan badan namun langsung di tahan oleh Alvian. Dia meraih tangan Nayla.

__ADS_1


"Tunggu, Nay." Alvian menarik tangan Nayla dan memintanya untuk duduk disamping Alvian. Nayla terlihat canggung dengan sikap Alvian.


"Ada apa, mas?" Nayla menatap lekat Alvian. Ada rasa rapuh yang Nayla lihat dimatanya. Alvian yang sedari kemarin terlihat tegar, sekarang begitu rapuh. Hatinya pasti sedang sakit, pikir Nayla.


Alvian memeluk Nayla. Sangat erat. Nayla bingung dengan sikap Alvian. Namun dia hanya pasrah berada didekapan Alvian. Nayla membalas pelukan Alvian, membelai punggungnya. Menepuknya dengan lembut.


Setelah beberapa saat, Alvian melepas pelukannya. Dia menatap Nayla. Memandangi wajahnya. Nayla begitu cantik, cantik alami tanpa polesan make up di wajah putihnya. Alvian menangkupkan kedua tangannya di wajah Nayla. Mulai mendekat dan semakin mendekat. Nayla terkejut dengan sikap Alvian.


"Mas?" suara lirihnya tak terdengar oleh Alvian yang langsung mencium bibirnya. Nayla hanya bisa pasrah dengan perlakukan Alvian. Bagaimanapun juga, dia adalah istri Alvian.


Nayla tahu jika saat ini perasaan Alvian sedang tergoncang. Dengan cepat dia mendorong tubuh Alvian dan melepas ciumannya.


"Mas, tolong jangan begini. Aku tahu Mas sedang bersedih. Tapi tolong jang----"


Nayla tak sempat melanjutkan kalimatnya karena Alvian kembali meraihnya, dan mencium bibirnya.


Ini adalah ciuman pertama Nayla yang dia dapat dari Alvian. Alvian menciumnya dengan lembut. Nayla ingin kembali mendorong tubuh Alvian.


Namun akhirnya Nayla menerima semua itu. Diapun membalas ciuman Alvian. Dan mengikuti ritmenya. Alvian merasa mendapat lampu hijau dari Nayla. Maka ia akan melakukan lebih dari ini.


Nayla tahu Alvian menginginkan ini dari Cecil. Tapi Cecil tak bisa memberikannya. Maka dialah berpasrah diri untuk menerima semua gairah Alvian yang sudah lama tertahan. Satu tahun mereka menikah, dan hari itu adalah malam pertamanya bersama Alvian. Nayla meneteskan air mata karena bahagia.


...💟💟💟...


Bersambung,,,,,

__ADS_1


__ADS_2