
...💟💟💟...
Malam itu, Cecil dan Maria menyiapkan makan malam untuk menyambut Ismail. Mereka memang belum tahu apa yang akan Ismail bicarakan. Tapi sepertinya sesuatu yang penting. Jadi, mereka menyiapkan kejutan kecil untuknya.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam... Bu, Ismail sudah datang..."
Cecilia dan Maria menyambutnya.
"Aku... Tidak datang sendiri..." Ismail membawa seseorang.
"Aku ingin mengenalkannya pada kalian..."
Cecilia sangat terkejut mengetahui siapa yang di bawa Ismail. Sosok yang sudah dikenalnya sejak lama.
"Hana...??"
"Bu Cecil...." Hana menghampiri Cecil dan memeluknya.
"Kalian...??" Cecil mengernyitkan dahi.
"Maaf aku tidak pernah cerita ke kamu, Cil... Aku dan Hana... Sedang melakukan Ta'aruf..."
Cecilia tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah... Selamat ya..."
Hana menyalami Maria.
"Akhirnya putraku menemukan tambatan hatinya. Mari silahkan duduk, ayo kita makan malam bersama. Ibu sudah siapkan semuanya."
"Han, mereka adalah keluargaku disini. Jadi, aku rasa kamu perlu mengenal mereka," terang Ismail.
"Iya, Mas. Aku juga senang bisa bertemu dengan Bu Cecil lagi."
"Jangan memanggilku begitu. Panggil saja Mbak Cecil. Itu akan lebih enak didengar."
"Iya, Mbak."
Cecilia tersenyum dan melirik ke arah Ismail. Memberi tanda kalau dia setuju dengan pilihan Ismail.
...***...
Sementara itu,
Isma akhirnya mencoba menghubungi kediaman Adi Jaya untuk mencari tahu tentang keadaan Rangga. Isma mendadak mematung setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Siti.
"Ada apa Umi? Apa terjadi sesuatu pada Rangga?" Tanya Farid cemas.
"Ibu Siti bilang, hari itu Rangga meminta ijin pada Papanya untuk menemui Cecil, tapi Mas Adi tidak mengijinkannya, dan Rangga tetap pergi. Lalu Mas Adi mengalami serangan jantung. Dan sekarang masih di rawat dirumah sakit," ucap Isma prihatin.
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Ibu Siti tidak bilang bagaimana keadaan Mas Adi. Tapi sepertinya harus dirawat secara intensif. Apa kita perlu menjenguknya, Bah? Umi khawatir dengan Rangga. Dia pasti sangat sedih. Ini semua salah Umi. Umi yang memintanya untuk ijin pada Mas Adi. Jika saja Umi tidak memintanya, ini semua tidak akan terjadi..." Isma mulai berkaca-kaca.
"Umi tenang dulu. Jangan berpikir macam-macam. Yang penting kita sudah tahu kalau Rangga baik-baik saja, dan inilah alasan kenapa dia tidak datang waktu itu. Kita siap-siap sekarang lalu ke rumah sakit."
...***...
-Rumah Sakit-
__ADS_1
Isma mendekati Rangga yang terduduk lesu di depan kamar perawatan Adi Jaya. Ia melihat kesedihan dan penyesalan di wajah putranya itu.
"Rangga..." Isma memanggilnya lirih.
"Umi... Kok bisa ada disini?" Rangga terkesiap.
"Umi menelepon rumah kamu dan Ibu Siti bilang kalau kamu ada di sini. Bagaimana keadaan Papa kamu?"
"Sudah agak baikan. Tapi masih harus menjalani beberapa tes."
"Umi minta maaf ya. Karena keinginan Umi, semua jadi begini..."
"Jangan menyalahkan diri Umi. Umi dan Abah tidak bersalah. Akulah yang bersalah. Aku yang akan menanggung semuanya. Papa sedang istirahat. Silahkan masuk Umi, Abah."
Isma dan Farid masuk ke kamar Adi Jaya. Dilihatnya Adi Jaya sedang terlelap tidur dengan ditemani Sandra di sampingnya. Isma menyapa Sandra.
Merekapun berpelukan. Sandra menitikkan air matanya. Isma menguatkan Sandra untuk tetap bersabar menghadapi ujian ini.
"Jangan berhenti berdo'a. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang."
"Terima kasih, Mbak Anna."
Kemudian Ismapun memeluk Sheila, lalu Rangga. Ia merasa bersalah pada putranya itu. Didekapnya dengan erat putra yang telah lama dia rindukan.
"Andai saja aku tidak muncul di hadapan Rangga, pasti akan lebih mudah untuknya... Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Kuatkan putraku Ya Allah..." Batin Isma.
.
.
.
Di sisi lain,
Tiap hari Rangga pulang tengah malam karena harus lembur mengurus masalah di beberapa cabang. Beberapa klien membatalkan kontrak yang sudah disetujui sebelumnya.
"Sebaiknya kita urus dulu cabang New York, Ga," saran Hendi.
"Aku harus bagaimana, Hen?" Tanya Rangga mulai frustasi.
"Aku sudah menyiapkan tiket untuk berangkat kesana."
"Kapan kita berangkat?"
"Besok lusa. Kamu siapkan semua dokumen yang diperlukan. Tegarlah Rangga!! Ada ribuan karyawan yang bergantung padamu." Hendi menepuk pundak Rangga.
"Baik, Hen. Thanks ya! Kamu seperti kakak bagiku. Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau tidak ada kamu."
"Pak Adi sudah seperti ayah bagiku. Kalian keluargaku. Dan keluarga tidak akan saling meninggalkan." Hendi memeluk Rangga.
"Bersemangatlah Rangga! Lupakan masalahmu dulu!"
Rangga menganggukkan kepala. Senang rasanya ada yang mendukungnya di saat keadaan sedang tidak baik.
...***...
Rangga bersiap terbang ke New York bersama Hendi. Keluarganya mengantarnya ke bandara. Adi Jaya sudah mulai pulih, namun harus duduk di kursi roda. Rangga berlutut untuk berpamitan dengan Papanya. Mereka berpelukan. Ada tangis haru yang terjadi.
Kemudian Rangga menghampiri Isma. Ismapun memeluk putranya itu. Entah berapa lama ia akan berpisah dengan putranya itu. Isma berpesan agar Rangga menjaga kesehatannya. Jangan lupa berdo'a agar semua masalah cepat terselesaikan.
Ranggapun memeluk Sheila, lalu Sandra. Ia meminta pada Sandra agar menjaga Papanya sampai ia kembali nanti.
__ADS_1
"Jaga diri kalian semua. Aku pergi ya! Sampai bertemu lagi!"
Itulah kalimat terakhir Rangga sebelum akhirnya pesawat terbang membawanya pergi jauh menyeberangi lautan luas, melintasi beberapa benua.
"Selamat tinggal Cecilia... Jaga dirimu dengan baik. Jika suatu saat nanti kita memang ditakdirkan berjodoh, pasti Allah akan mempertemukan kita kembali..."
...***...
"Hari ini Rangga bertolak ke New York," ucap Nadine.
"Apa?!"
"Jika kau ingin menemuinya, atau paling tidak mengucapkan selamat jalan padanya, kau bisa pergi sekarang."
"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, Nad?"
"Maafkan aku. Rangga memang tidak ingin kamu mengetahui jika dirinya akan pergi."
Tanpa kata-kata lagi, Cecilia berlari menuju mobilnya dan melajukannya menuju bandara. Pikirannya dipenuhi berbagai keadaan yang tak baik.
Bagaimana jika Rangga tidak akan kembali? Bagaimana jika ini adalah kesempatan terakhirku untuk mengutarakan isi hatiku?
Cecilia memarkir mobilnya di sembarang tempat, dan membuat petugas bandara mengejarnya. Namun Cecil tak peduli. Ia hanya ingin bertemu Rangga sebelum pesawatnya berangkat.
Cecilia berlarian kesana kemari mencari sosok Rangga. Ia bertanya dimana keberangkatan luar negeri. Ia mencari kesana.
Masih belum di temukan juga sosok yang ia cari. Air mata mulai bercucuran di pipinya. Hatinya sakit mendengar kepergian Rangga.
Hingga akhirnya Cecil menyerah dan terduduk lemas. Ia menangis kencang disana. Tak peduli jika petugas yang tadi mengejarnya sudah mengelilingi dirinya.
Seseorang menghampiri Cecil dan menjelaskan duduk permasalahannya kepada petugas bandara. Mereka paham dan melepaskan Cecil.
Cecil masih tertunduk lesu dengan deraian air mata.
"Pesawat Kak Rangga sudah berangkat." Sebuah suara membuat tangisan Cecil terhenti. Itu adalah Sheila.
Cecil mendongak. Ia menghapus air matanya. "Maafkan aku, Sheila."
"Kau tidak perlu meminta maaf. Kak Rangga pergi untuk kebaikan semua. Sama seperti dulu yang kamu lakukan."
Cecil bangun dari duduknya dan berhadapan dengan Sheila.
"Terima kasih karena sudah mencintai kakakku. Aku tidak pernah melihat Kak Rangga mencintai seorang wanita seperti dia mencintaimu."
Tangis Cecil kembali pecah.
"Bersemangatlah! Dan tunggu sampai kakakku pulang."
Cecil menatap Sheila.
"Kau bisa 'kan melakukannya?" Tanya Sheila dengan sungguh-sungguh.
Cecil mengangguk mantap. Ia kembali menghapus air matanya.
...💟💟💟...
Bersambung kembali,,,,
#Detik-detik menuju ending....
Dukungan kalian adalah semangatku 😍😍
__ADS_1
Terima kasih 🙏