99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2): Aku Berhak Bahagia


__ADS_3

Orang pasti berpikir kalau aku adalah wanita yang beruntung. Baru tiga bulan aku berpisah dengan Mas Alvian, lalu sekarang mendapat cinta yang baru. Dan dia adalah atasanku sendiri.


Ibuku benar, kehidupan seorang janda tidak semudah yang dibayangkan. Akan ada beberapa orang yang menyoroti tindak tandukmu.


Orang-orang dikantor mulai berbisik-bisik. Itu pasti karena setiap hari Pak Rangga memberikan bunga untukku. Dia bersikap lebih terbuka. Karena dia tidak mau sembunyi-sembunyi.


Aku belum siap memulai suatu hubungan baru. Selalu kujawab begitu padanya. Tapi dia bilang, dia akan menunggu.


Ah, apa sih yang ada di otaknya?


"Aku sudah menyukaimu sebelum kamu jadi milik siapapun. Jadi biarkan saja orang-orang mau bilang apa." Dia selalu bilang begitu padaku.


Sedikit demi sedikit, aku mulai membuka diri. Perhatian yang Pak Rangga berikan padaku membuatku mulai sadar, kalau hidup akan terus berlanjut. Dan kita harus menentukan sendiri pilihan hidup kita. Bukan orang lain.


.


.


.


"Kenapa, Mel?" Amel terus memandangi bunga pemberian Pak Rangga.


"Aku tidak menyangka jika Rangga sangat romantis. Itulah kenapa kita tidak bisa menilai orang lain hanya dari penampilannya saja."


Aku tersenyum kecil. "Iya, Mel. Maaf dulu aku pernah berprasangka buruk soal Rangga."


"Oh ya, Cil. Dulu saat bersama Alvian, apa kau pernah mendapat bunga juga?"


Raut wajahku langsung berubah begitu mendengar nama Mas Alvian disebut. "Kenapa kau mengungkit tentang dia?"


"Maaf, Cil. Aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu pada masa lalu." Amel meringis minta pengampunan dariku. "Jangan marah. Kau kan tahu kalau aku suka kelepasan bicara."


"Iya, aku maafkan."


Pertanyaan Amel membuatku jadi melayangkan pikiranku ke beberapa tahun yang lalu. Tahun-tahun yang aku habiskan bersama Mas Alvian.


Aku jadi ikut bertanya pada diriku sendiri. Apa Mas Alvian pernah memberiku bunga?


Pernah. Aku ingat itu. Meski tidak sering. Dia selalu membawakanku bunga saat aku selalu berhasil terpilih jadi karyawan terbaik di kantor.


Memberi bunga adalah hal simpel yang biasa dilakukan para pasangan. Tapi tidak semua pasangan melakukan itu.


Aku baru sadar banyak hal yang hilang di kehidupan pernikahanku yang dulu. Kami menikah karena saling mencintai. Aku tahu itu.


Tapi kehidupan setelah menikah... Kami malah disibukkan mengejar karir masing-masing. Meski itu sudah disepakati sejak awal.


Semua orang mengira kami adalah keluarga yang bahagia. Karena itu yang selalu kami tampilkan didepan publik. Semua itu adalah ego dariku dan Mas Alvian.


Jadi... Apakah selama ini aku... Benar bahagia? Ataukah hanya pura-pura bahagia?


.


.


.


Mengambil keputusan yang tepat, disaat yang tepat pula. Aku memutuskan untuk memulai perlahan apa yang diinginkan oleh Pak Rangga. Rangga maksudku. Dia tidak mau aku memanggilnya 'pak'. Karena dia memang belum menikah dan juga memiliki anak.

__ADS_1


Aku terkekeh sendiri jika mengingat hal itu. Rangga adalah sosok yang hangat. Entah kenapa dia tidak mau menunjukkan kehangatan dirinya. Apa karena dia memimpin sebuah perusahaan? Bisa jadi. Dia ingin disegani oleh para karyawannya.


Sudah kupikirkan dengan matang jalan yang sekarang aku ambil. Meski banyak mulut yang bergosip tentangku. Aku harus mulai bebal dari sekarang.


Dari awal semua tidak akan pernah mudah. Punya hubungan dengan atasanmu sendiri, pasti banyak yang akan membicarakanmu. Tapi beberapa orang juga mendukungku. Meski hanya Amel dan Hana. Hahaha. Mereka teman sejatiku.


Radit? Dia kecewa padaku. Tapi dia tetap jadi teman yang baik. Aku tahu dia masih ada rasa untukku, tapi dia juga bukan tipe orang pemaksa.


"Jadi benar? Jika kau punya hubungan dengan bos kita?" tanya Radit dengan ekspresi memelasnya.


Aku tersenyum. "Aku hanya berusaha mengenalnya. Kami belum sedekat yang orang pikirkan. Itu saja."


"Apa bedanya?"


"Dit, aku sudah tidak bisa main-main dalam hal begini. Aku sudah pernah gagal. Jadi---"


"Iya, aku tahu. Dari awal aku tidak pernah meminta lebih. Asalkan kamu bahagia, aku juga ikut senang. Begitulah sahabat. Benar kan?"


"Thank you, Radit. You are always be the best. Jangan bersedih! Mana lawakan untuk hari ini? Biasanya kau selalu melawak didepanku."


"Sedang tidak ada gairah."


Aku malah tertawa melihat tingkah aneh Radit. "Kau tidak berbakat untuk jadi pemarah. Wajahmu terlalu lucu untuk marah." aku mencubit kedua pipi Radit.


Raditpun ikut tertawa.


.


.


.


"Apa maksudmu, Rangga? Seluruh divisi di kantor sudah tahu tentang hubunganmu dan Cecilia. Apa kau sudah tidak waras?"


"Aku memang tidak waras. Lalu apa maumu?"


"Rangga!!! Bagaimana soal pertunangan kita? Seluruh dunia juga tahu jika aku adalah calon istri kamu!"


"Apa mereka juga tahu jika kita dijodohkan? Dari awal aku tidak pernah menerima perjodohan ini. Itu hanya keinginan orang tua kita. Pernikahan kita adalah pernikahan bisnis. Apa kamu mau menikah karena kontrak bisnis?"


"Tapi aku mencintaimu, Rangga."


"Maaf, Nadine. Tapi aku tidak mencintaimu. Aku hanya menganggapmu seperti adikku. Itu saja."


"Apa kau bilang? Adik? Bertahun-tahun kita bersama lalu kamu bilang aku ini seperti adikmu? Bagaimana jika Om Adi tahu tentang Cecilia? Dia tidak akan tinggal diam soal masalah ini. Sejak awal, kau sudah tahu, jika anak-anak seperti kita, yang dibesarkan sebagai pewaris sebuah perusahaan, tidak akan pernah bisa hidup dengan keinginan kita sendiri. Takdir kita? Semua sudah diatur oleh orang tua. Jadi, seperti apapun hidup yang kamu inginkan. Kamu tidak akan pernah mendapatkannya. Pahami itu Rangga!" kemudian Nadine pergi meninggalkan ruangan Rangga. Dengan cepat aku bersembunyi. Agar Nadine tak melihatku.


"Apa yang Nadine katakan benar. Anak-anak seperti mereka, tidak bisa mendapatkan hidup yang mereka inginkan. Makanya, Radit selalu kabur dari papanya. Karena dia tidak mau hidupnya diatur. Rangga.... Apa kamu bisa berjuang untuk hidupmu sendiri? Tanpa harus mengikuti keinginan orang tuamu?" ucap batinku.


Aku tertegun seorang diri. Kakiku tak bisa melangkah ke ruangan Rangga. Aku terlalu takut untuk menghadapimu, Rangga. Aku takut terlalu jatuh cinta padamu. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mundur?


.


.


.


.

__ADS_1


"Kita mau kemana, Nad?" tanyaku pada Nadine yang terus menarik tanganku sambil berjalan tergesa.


"Ikut saja! Nanti juga kau tahu!" kami menaiki lift.


Atap gedung. Nadine pasti akan membawaku kesana. Dulu dia pernah membawaku kesana saat dia menumpahkan kekesalannya padaku.


Tentang dosa yang menurutnya adalah dosaku. Kali ini, sudah sangat jelas dia menginginkan apa. Wajahnya sudah merah padam. Nadine sangat marah padaku.


"Aku tidak mau berbasa-basi lagi denganmu. Kau tahu bukan kenapa aku membawamu kesini?"


"Apa ini tentang Rangga?"


Nadine tersenyum sinis. "Kau bahkan tidak memanggilnya seperti biasa. Apa kau sudah sedekat itu dengan Rangga? Asal kau tahu, kau sama sekali tidak pantas bersanding dengan Rangga."


Aku diam. Mungkin ini yang terbaik. Aku tidak perlu menanggapi Nadine.


"Hei!!! Aku bicara denganmu.Kenapa diam? Kau pikir selama ini aku diam saja karena aku menerima kedekatanmu dengan Rangga? Tidak!! Aku tidak akan tinggal diam. Kau akan menyesal karena sudah melakukan semua ini padaku!"


Aku menatap Nadine. Aku merasa kasihan padanya. Kenapa dia...? Harus bersikap seperti ini. Dia... Wanita sempurna. Cantik, kaya, dan pintar. Kenapa dia terus menghiba cinta seperti ini?


"Rangga? Dia...? Dia tidak mencintaimu, Nad. Dia hanya menganggapmu sebagai adik." Aku mulai buka suara.


"Apa? Adik? Omong kosong macam apa yang kau bicarakan ini? Jangan mengarang cerita!"


"Aku dengar semuanya, Nad. Hari itu, saat kau bicara dengan Rangga. Jadi tolonglah, jangan bersikap seperti ini. Kau adalah wanita sempurna. Kau bisa mendapatkan lelaki yang tulus mencintaimu."


"Tutup mulutmu!!! Aku tak mau dengar apapun! Jangan mengatur hidupku! Aku minta padamu, jangan dekati Rangga lagi! Apa kau mengerti? Jika tidak, kau akan tahu akibatnya."


"Tidak, Nad! Aku tidak akan mundur. Aku akan berjuang mempertahankan Rangga. Aku menyukai Rangga."


Nadine tertawa terbahak.


"Apa kau bilang? Suka? Cinta? Jangan bertindak bodoh! Kau harus berhenti, Cecil. Sebelum kau semakin terluka."


"Tidak! Aku tidak akan berhenti."


"Kenapa?!"


"karena AKU BERHAK BAHAGIA!!!"


Aku berteriak pada Nadine. Aku sudah tidak tahan lagi. "Perempuan seperti akupun, juga berhak bahagia, Nad. Dan kebahagiaanku sekarang ada pada Rangga. Jadi, aku tidak akan melepaskannya!!"


PLAAAAKKK!!!!


Tangan kanan Nadine mendarat tepat di pipi kiriku. Nadine menamparku.


"Apa katamu? Kau berhak bahagia? Kau pikir aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan mantan suamimu? Yang jadi orang ketiga disini, adalah kau, bukan Nayla. Kau yang masuk ke kehidupan Alvian dan Nayla, lalu merusak kebahagiaan mereka. Dan sekarangpun, kau masuk ke kehidupanku dan Rangga. Dan merusak segalanya. Asal kau tahu, perempuan sepertimu tidak berhak bahagia. Kau tidak berhak bahagia!!!"


Kemudian Nadine meninggalkanku. Seperti biasa. Meninggalkanku terpaku seorang diri.


Air mataku mulai membasahi pipi. Apakah aku serendah itu? Apakah aku benar-benar tidak pantas untuk bahagia?


Aku menangis dengan keras. Kakiku terasa lemas. Kemudian aku terduduk. Air mataku mengucur deras. Aku memukul-mukul dadaku. Sesak sekali rasanya.


Aku adalah wanita yang jahat. Aku tidak berhak bahagia. Apakah benar begitu?


Tangisanku makin kencang. Namun tak ada seorangpun yang mendengarnya. Apa aku tidak pantas dicintai?? Seseorang tolong jawab aku!!!

__ADS_1


...💟💟💟...


__ADS_2