
Halooo, terima kasih untuk yg setia menunggu season 3 ini UP. Semoga sabar menanti ya ππ
*Happy Reading*
...πππ...
Oke! Mungkin kalian akan menganggap aku sedikit tidak waras. Sekarang aku sedang duduk berhadapan dengan mantan suamiku. Ditemani secangkir kopi yang kupesan pada karyawanku.
Kami duduk di meja yang agak jauh dari pengunjung kafe lainnya. Bukan bermaksud untuk berdua-duaan. Aku juga tahu batasanku sebagai seorang istri. Mas Alvian adalah pria di masa laluku dan akan selalu begitu. Tapi... tak ada salahnya kan jika kami masih berteman?
"Bagaimana kabarmu, Cil?" tanya Mas Alvian setelah menyesap kopinya.
"Baik, Mas. Alhamdulillah."
Sebaiknya aku menjawab sekenanya saja. Tidak perlu bertanya macam-macam padanya. Aku pun terus menunduk selama kami berbincang.
"Umm, apa kau tahu, jika sekarang aku... bekerja di tempat Wendy?"
"Iya, aku tahu."
"Amel pasti sudah cerita denganmu ya?"
"Iya."
"Bagaimana kabar Rangga? Perusahaannya makin besar saja."
"Mas Rangga baik. Alhamdulillah, AJ Grup semakin maju."
"Bagaimana kabar ibu?"
Duh, kenapa aku merasa jika Mas Alvian sengaja melakukan ini? Sengaja mengulur waktu dengan memberikan banyak pertanyaan.
"Ibuku baik."
"Syukurlah..."
Hening....
Apa lagi yang harus kukatakan? Apa aku harus bertanya tentang Nayla? Tidak, tidak! Itu bukan ide bagus.
"Cecil..."
"Iya, Mas." Aku masih menunduk.
__ADS_1
"Ini kartu namaku. Ada nomor teleponku disana. Jika kau butuh sesuatu...kau bisa menghubungiku. Kalau begitu, aku permisi. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam..."
Aku mendongak ketika sosok itu tak ada lagi di depanku. Kulihat Mas Alvian benar-benar sudah pergi dari kafeku.
Aku menarik nafas, lalu kulihat kartu nama di atas meja.
Aku memeganginya lama. Apa aku harus menyimpan kartu namanya? Yah, siapa tahu suatu saat aku membutuhkan bantuannya. Tapi aku tidak akan langsung memasukkan nomor ponselnya ke dalam kontak ponselku.
Aku kembali menemui karyawan kafe dan sedikit berbincang dengan mereka mengenai perkembangan kafe.
Pukul tujuh malam, aku memutuskan untuk pulang. Aku titipkan kafe pada karyawan kepercayaanku, Rani. Dia adalah bawahanku saat dulu bekerja di AJ Foods. Dia mengundurkan diri karena sikap Rangga yang dulu sangat dingin dan semena-mena.
Tak kusangka pria menyebalkan itu sekarang adalah suamiku. Aku tersenyum geli jika mengingat tentang itu. Mengingat pertemuan kami yang sangat aneh.
Masih kuingat dengan jelas saat aku memukulkan buku pada punggungnya, lalu dia berbalik dan menatapku tajam. Sampai sekarang pun aku masih takut dengan tatapan elangnya. Tapi itu membuatku makin cinta padanya.
Karena hari ini aku tidak memasak, aku menghubungi Rangga dan bertanya tentang menu makan malam yang dia inginkan.
"Assalamu'alaikum, Mas. Hari ini aku tidak masak karena baru keluar dari kafe. Bagaimana kalau kubelikan makanan saja? Mas mau makan apa?"
"Wa'alaikumsalam. Sayang, sepertinya aku pulang terlambat hari ini. Masih ada makan malam bersama klien. Tidak apa 'kan? Kamu makan dulu saja. Atau suruh Bi Idah memasak sesuatu untukmu."
"Aku mencintaimu, Cecilia. Wa'alaikumsalam."
Panggilan berakhir. Aku melajukan mobilku pulang ke rumah.
*
*
*
Pukul sepuluh malam, aku sudah bersiap menuju ke alam mimpi. Kulirik ponselku dan tak ada notifikasi apapun disana. Lalu aku ingat jika aku harus meminum ramuan yang ibuku berikan padaku. Yah, bagaimanapun juga itu adalah tanda jika ibu menyayangiku.
Aku meminum satu sendok ramuan yang teksturnya seperti madu. Lumayanlah, rasanya juga enak. Semoga usaha ibu segera membuahkan hasil.
Aku kembali ke tempat tidur. Rangga pasti akan pulang larut malam lagi. Kesibukannya benar-benar melebihi saat dia memimpin AJ Foods. Aku merebahkan tubuhku ke ranjang besar yang terasa dingin.
Entah kenapa ingatanku tertuju pada pertemuanku dengan Mas Alvian. Aku segera beristighfar. Tidak baik seorang istri memikirkan suami wanita lain.
Aku pun mencoba memejamkan mata dan terlelap. Semoga besok aku sudah melupakan segalanya.
__ADS_1
Keesokan paginya, kulihat Rangga sudah berbaring di sampingku. Wajahnya terlihat sangat lelah. Kasihan sekali dia. Aku ingin ikut meringankan bebannya. Tapi dia pasti tidak mengijinkan aku untuk bekerja lagi di AJ Grup.
Kubelai pelan rambutnya yang mulai panjang. Dia bahkan tak sempat memikirkan penampilannya.
Kukecup singkat bibirnya itu yang seakan menantangku untuk maju. Aku menutup wajahku.
Apa-apaan aku ini? Aku malah menggodanya. Yah meskipun dia tidak tahu karena masih terlelap.
Aku pun akan beranjak dari tempat tidur, namun tertahan karena tangan Rangga mencekal lenganku.
"Mau kemana?"
Hah?! Aku tidak tahu jika dia sudah bangun. Haduh, bagaimana jika dia tahu kalau tadi aku...
"Kenapa hanya bibir saja yang kau cium?"
Aku membulatkan mata. Jadi dia tahu?! Malu sekali aku!!!
"Sayang... Maaf ya karena aku pulang larut malam."
Aku berbalik menatap Rangga. "Tidak apa. Aku mengerti. Suamiku adalah orang yang sibuk." Aku membingkai wajah Rangga dengan tanganku.
"Sayang, aku merindukanmu..." ucap Rangga dengan wajah bangun tidurnya yang terlihat tampan.
Tentu saja aku tak bisa menolak pesona seorang Rangga.
Kemudian, kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi?
.
.
#Bersambung...
π π π π lanjutkan dengan imajinasi kalian sendiri yes. Eits tapi ingat, yg belum cukup umur jangan ikutan berimajinasi ππ
Hai hai hai, buat kalian yg selalu setia mampir ke lapak Cecilia, yuk mampir juga ke lapak Mamak yg lain yg ada di NT. Ada 3 cerita halu yg masih ongoing ππ
__ADS_1
Dijamin ceritanya gak kalah seru kok! Mamak tunggu ya Like n favoritnya di cerita yg laen πππ