
Sudah satu bulan berlalu sejak Cecil dan Rangga memutuskan untuk membuka lembaran baru. Masalah yang kemarin sempat membuat dua keluarga bersitegang juga sudah diselesaikan secara baik-baik. Hubungan Cecil dan Maria pun kembali membaik.
Cecil masih sembunyi-sembunyi pergi ke Bandung untuk melakukan terapi di klinik Ceu Nanah. Merasa ada perubahan dalam dirinya, membuat Cecil percaya dengan terapi yang dilakukan Ceu Nanah. Memang belum ada tanda-tanda jika dirinya hamil. Tapi paling tidak, ia dan Rangga terus berusaha untuk melakukan yang terbaik.
Hubungan mereka sudah membaik, tentu saja urusan ranjang juga ikut membaik. Begitu pun Rangga juga merasa jika tubuhnya merasa lebih sehat setelah meminum vitamin yang disarankan dokter dan menjalani pola hidup sehat bersama Cecil. Kini mereka tinggal menyerahkan semuanya pada Yang Diatas. Kapankah mereka akan di beri kepercayaan untuk menimang si buah hati?
Hari itu, Isma dan Farid datang berkunjung ke Jakarta. Mereka datang ke Masjid Al Iman karena akan diadakan tabligh akbar disana. Isma mengundang Rangga dan Cecil juga keluarga Adi Jaya.
Isma dan Farid mengenalkan Abah Amin kepada Cecil dan Rangga. Abah Amin tak lain adalah ayah dari Archan. Hari itu Archan juga ikut datang ke acara tersebut.
Archan cukup terkejut karena Cecil ternyata menikahi putra tiri Farid, sahabat ayahnya.
"Dunia memang sempit ya, Ar. Ternyata abahmu dan abahnya Rangga bersahabat. Semoga kalian juga bisa menjadi sahabat." ucap Cecil saat mengenalkan Rangga pada Archan.
Archan hanya tersenyum kecut. Sejak awal memang harapannya untuk mendekati Cecil sudah pupus. Ia tidak mungkin merusak rumah tangga Cecil yang terlihat amat harmonis dan bahagia.
Archan terlihat menyendiri dan menjauh dari kerumunan orang-orang yang datang untuk mendengarkan ceramah. Ia menghela nafas merasakan sakit di hatinya.
Seseorang menegurnya.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah semua orang berkumpul disana?" seru seorang gadis yang tak lain adalah Rosida.
"Siapa kamu? Aku sedang ingin sendiri disini." balas Archan.
"Ish, kau ini sudah berumur tapi masih bersikap seperti anak kecil saja. Abahmu mencarimu!" ucap Ros kemudian berlalu.
"Abahku? Kau kenal abahku?" Archan akhirnya mengikuti langkah kaki Ros.
"Hmm, tentu saja. Abahku dan abahmu berteman." jawab Ros ketus.
"Jadi kau putrinya abah Farid? Kenapa berbeda sekali dengan abahmu yang ramah? Kau sangat bar bar."
"Apa katamu?! Ah, sudahlah, aku tak mau berdebat denganmu. Cepat jalan! Acaranya akan segera dimulai."
"Iya, iya, ini juga sedang jalan." timpal Archan kesal karena ada gadis kecil yang berani memarahinya.
__ADS_1
Acara tabligh akbar pun selesai. Keluarga Farid dan Amin berkumpul bersama. Mereka menyantap nasi kebuli khas Timur Tengah yang sudah disiapkan oleh Cecilia dan Isma.
Selama acara makan malam bersama, sesekali Archan mencuri pandang ke arah Cecilia. Rangga menyadari kemana arah mata Archan memandang. Ya, kearah istrinya.
Rangga berdecak kesal namun tak ada yang menyadarinya.
"Sayang..." Cecilia menepuk lengan Rangga pelan. "Sesekali makan yang berat tidak apa 'kan? Ini tidak terjadi setiap hari. Lagipula tidak enak hati pada Umi Isma."
"Iya, tidak apa, sayang. Kita bisa makan makanan sehat esok hari." jawab Rangga.
Cecilia tersenyum manis pada Rangga. Membuat Archan merasa terbakar api cemburu. Kenapa rasa cintanya justru hadir ketika sang pujaan hati telah memiliki tambatan hati? Ah, rahasia cinta memang aneh.
.
.
Perjalanan kembali ke rumah, Cecilia dan Rangga hanya terdiam didalam mobil. Cecilia melirik ke arah suaminya yang nampak diam usai makan malam.
"Mas, ada apa? Apa kau sakit?" Cecil sampai menyentuh dahi Rangga untuk memastikan suaminya baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja. Kamu mungkin yang tidak baik-baik saja."
"Apa kau mengenal pria tadi?"
"Pria tadi? Siapa maksudmu? Archan?"
Rangga memutar bola matanya malas.
"Dia adalah teman SMAku, Mas. Dia teman Radit dan Nadine juga."
"Oooh." Rangga menjawab singkat.
"Kenapa memangnya?"
"Tidak ada."
__ADS_1
"Ish, kamu tidak pandai berbohong, Mas. Aku tahu ada sesuatu yang kamu tutupi. Atau jangan-jangan... Kamu cemburu ya, Mas?" goda Cecilia.
"Tidak! Siapa juga yang cemburu!"
Cecilia tertawa geli. "Aku tahu kamu sedang cemburu, Mas. Aku sangat hapal sifat posesifmu itu. Mengaku sajalah!" Cecil terus menggoda Rangga.
Rangga makin menginjak pedal gas mobilnya. Ia ingin buru-buru memberi hukuman ada istrinya.
"Mas, pelankan mobilnya! Nanti kalau terjadi sesuatu bagaimana?" ucap Cecil panik.
Rangga tidak menggubris ucapan Cecil. Hingga akhirnya mereka sampai di kediaman mereka. Rangga segera membukakan pintu mobil untuk Cecil dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.
"Mas!!! Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" Cecil meronta. Namun Rangga tidak mendengarnya.
Kemudian Rangga tiba di lantai dua dimana kamar mereka berada.
"Mas! Kita bersihkan diri kita dulu ya!" Lagi-lagi Cecil tak bisa berkata apapun karena Rangga langsung membungkam bibirnya.
Sebuah ciuman panjang terjadi dengan cepat dan gairah yang sudah memuncak. Hawa tubuh Rangga terasa panas setelah tadi memakan cukup banyak daging kambing. Orang bilang daging kambing bisa menaikkan hasrat lelaki.
Entah terbukti benar atau tidak, namun Rangga kini sudah terbakar gairah. Ia terus menciumi istrinya hingga terdengar suara desah lembut keluar dari bibir Cecilia.
"Mas..." Cecil berusaha mencegah Rangga ketika tubuh Rangga sudah berada di atas tubuhnya.
"Aku tidak mau kamu melakukan ini karena terbakar cemburu, Mas. Kita harus melakukannya karena suka sama suka." Ucap Cecil.
"Baiklah. Aku minta maaf. Sekarang aku bertanya padamu. Apa kau tidak suka aku memperlakukanmu seperti ini?"
Wajah Cecil merona mendengar pertanyaan Rangga. Jujur ia juga suka dengan permainan Rangga yang spontan.
"Aku... menyukainya, Mas." jawab Cecil menutup wajahnya.
Rangga terkekeh. "Kalau begitu mau lanjut?" goda Rangga dengan mengedipkan sebelah matanya.
.
__ADS_1
.
#bersambung dulu ya shay...