99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 - Bagian 09


__ADS_3

...Halo readers kesayangan mamak👋👋👋 welcome back to season 3. Dont forget to leave Like 👍 and Comments 😘...


...*Happy Reading*...


Seperti yang sudah diperkirakan Alvian, Cecilia meminta bertemu di taman olahraga tempat penuh kenangan untuk mereka. Ketika Alvian datang, Cecilia sedang memainkan bola basket di tangannya. Tanpa mempedulikan jika ia memakai gamis panjang.


Cecil terhenti kala melihat Alvian sudah datang. Cecil melemparkan bola basket ke arah Alvian dan dengan sigap Alvian menangkapnya.


Cecil mengatur nafasnya dan mengambil botol air mineral yang sudah ia siapkan. Alvian berjalan ke arah Cecil yang sedang duduk sambil menenggak air minumnya.


"Permainanmu masih bagus, Cil."


"Tidak perlu memujiku."


"Kudengar kau baru saja dari luar negeri."


"Dari mana kau tahu?"


"Rani yang memberitahuku."


Cecil tak menjawab lagi dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Bisa kau jelaskan ini, Mas?" Mata Cecil memerah saat menyerahkan sebuah amplop pada Alvian.


Alvian menerima amplop itu dan membukanya. Sebuah hasil laboratorium dari sebuah klinik yang ia kenali.


"Cecil..." Alvian memandang Cecil usai membaca secarik kertas yang berlogokan klinik milik Thania.


"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku, Mas? Kenapa?" Cecil tak mampu lagi membendung air matanya.


Cecil marah, kecewa, dan sedih mendapati kenyataan jika dirinya tak bisa hamil lagi. Ia menangis sejadinya dan memukuli dadanya yang terasa sesak.


"Cecil, hentikan!" Alvian memegangi tangan Cecil.


"Kenapa, Mas? Jika dulu kau memberitahuku pasti hasilnya tidak akan sesakit ini." kini Cecil memukuli dada Alvian. Air matanya terus mengalir tanpa mau berhenti.

__ADS_1


"Apa yang harus kukatakan pada suamiku? Apa yang harus kulakukan? Katakan padaku, Mas! Katakan!"


Alvian tak tega melihat Cecil yang begitu bersedih setelah mengetahui kebenarannya. Alvian membawa Cecil kedalam pelukannya. Sedari tadi ia memang ingin memeluk Cecil, namun ia urungkan karena tahu status mereka sekarang. Tapi karena Cecil terus menangis, Alvian menjadi iba dan melakukan apa yang hatinya katakan.


Alvian mendekap erat tubuh Cecil yang bergetar hebat karena isak tangisnya makin pilu dan mengelus punggungnya.


"Menangislah, Cecil... Menangislah jika itu membuatmu tenang."


.


.


.


.


Cecil tiba di rumahnya dengan langkah gontai. Ia menemui Bi Idah dan memintanya untuk memasakkan makan malam untuk Rangga. Cecil segera naik ke kamarnya dan membersihkan diri, lalu merebahkan diri di tempat tidur.


Gairah hidupnya sudah hilang setelah mengetahui kenyataan pahit tentang kondisi dirinya. Ia kembali menangis kala mengingat apa yang Alvian katakan padanya tadi.


.


.


.


"Maaf karena selama ini aku tidak memberitahumu. Aku sengaja menyembunyikannya darimu karena Thania juga menyetujui hal itu. Harusnya aku memberitahumu ketika kau sudah siap. Tapi... Masalah datang bertubi-tubi menimpa rumah tangga kita saat itu. Aku tidak akan tega menyakitimu, Cil."


".............."


"Setelah melahirkan Tasya, kau divonis tidak akan bisa hamil lagi karena kondisimu tidak memungkinkan untuk hamil. Apa kau pikir aku sanggup mengatakan hal itu, Cil? Aku tidak akan sanggup melihat kesedihanmu. Bahkan tadi pun... aku minta maaf karena sudah lancang memelukmu. Aku hanya ingin bisa menjadi teman berbagi untukmu. Kau bisa mengandalkan aku jika kau ingin mencari teman bercerita."


.


.

__ADS_1


.


Cecilia memejamkan mata dan mencoba memasuki alam mimpi. Ia berharap jika apa yang ia alami hari ini hanyalah sebuah mimpi buruk dan esok semua akan kembali seperti semula.


Meski bagaimanapun, manusia tidak akan pernah bisa mengubah takdir yang sudah di gariskan. Cecilia harus menerima semua kekurangan dalam dirinya.


Namun bagaimana dengan Rangga? Apakah Rangga bisa menerima kondisi Cecil?


.


.


.


Aku terbangun di pagi buta. Aku merasa sudah cukup untuk tertidur dan ingin segera ke alam nyata. Apakah aku bermimpi kemarin? Rasanya tidak. Aku tidak bermimpi.


Semua itu nyata. Aku sudah di vonis tidak akan bisa memiliki keturunan. Lalu aku harus bagaimana? Aku harus mengadu pada siapa?


Pada Tuhan pastinya. Lalu setelah itu? Apakah keadaan akan berubah? Tentu saja tidak.


Aku akan tetap mengecewakan Rangga dan keluarganya. Juga ibuku yang sangat menginginkan cucu dariku dan Rangga.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku juga masih tak mampu mengatakan apapun pada Rangga. Apa Rangga masih bisa menerimaku sebagai istrinya? apakah cintanya akan berubah ketika mengetahui aku tak bisa memberinya keturunan.


Akhirnya aku menyibukkan diri di kafe selama satu hari penuh. Begitu juga dengan hari-hari berikutnya. Aku akan terus menyibukkan diri di kafe agar mulai melupakan semuanya.


Meski lelah mendera tubuhku, aku tak mempedulikan itu. Satu yang aku inginkan. Aku ingin melupakan semuanya. Jika saja aku bisa lupa ingatan, itu akan lebih mudah untukku.


Malam itu, aku berniat pulang ke rumah usai berkutat seharian di kafe. Tidak biasanya aku menyalakan radio di mobilku. Namun entah kenapa, malam ini aku ingin mendengarkan radio. Bukan sebuah lagu tentunya. Aku lebih suka mendengarkan murottal Qur'an di dalam mobil. Aku merasa diriku lebih tenang jika mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Sebuah frekuensi radio yang pernah kudapat dari Umi Isma yang siarannya berisi tausiyah-tausiyah dari para ulama, aku mencari frekuensi itu. Akhirnya ketemu juga.


Seorang ustadz sedang bertausiyah. Entah secara kebetulan atau memang sudah takdirku untuk mendengarnya, ustadz itu sedang menjelaskan tentang kegundahan hatiku.


"Ada beberapa sebab musabab diperbolehkannya suami menikah lagi atau berpoligami. Salah satu diantaranya adalah karena istri tersebut sakit, berkepanjangan atau sakit yang di kuatkan dengan diagnosa dari dokter jika istri tersebut tidak dapat memliki keturunan, Lalu ada juga bla bla bla bla..."

__ADS_1


Jiwaku serasa meremang. Semua kata-kata ustadz itu mengiang di telingaku. Sulit untuk dicerna memang. Tapi sebagai wanita yang beragama, aku tahu apa yang harus kulakukan. Bukan hanya untuk diriku saja, tapi untuk keberlangsungan keturunan keluarga besar kedua belah pihak.


#bersambung...


__ADS_2