99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Chaos (2)


__ADS_3

*Cecilia PoV*


Dengan berurai air mata, kususuri jalanan kota dengan mobilku. Emosiku masih menggebu. Aku tidak percaya kalau Mas Alvian akan membiarkanku pergi begitu saja.


Walaupun aku akan tetap pergi, sekalipun dia menghentikanku. Aku harus kemana sekarang? Ke rumah ibuku? Itu memang yang akan kulakukan. Tapi tidak dalam keadaan begini. Aku terlalu kacau jika harus menemui ibuku sekarang.


Ya Tuhan, apakah yang aku lakukan ini sudah benar? Aku sangat terluka. Aku tidak bisa tinggal ditempat itu lagi. Aku sudah kehilangan putriku, dan sekarang apa aku juga harus melepaskan suamiku?


Aku sangat bingung, Tuhan. Dan dalam kebingungan itu tiba-tiba aku menemukan satu tempat yang pernah kusinggahi untuk menenangkan diri.


Kafe Chocolatte Lovers.


...***...


*Rangga PoV*


Ponselku berdering saat aku hendak istirahat merebahkan tubuhku ke ranjang. Siapa yang telepon di jam segini? Pikirku.


Indra? Indra adalah pemilik kafe Chocolatte Lovers. Aku baru saja dari sana tadi. Kenapa Indra menelepon? Apa ada barangku yang ketinggalan?


Aku sangat terkejut dengan apa yang diceritakan Indra. Tanpa berpikir panjang aku langsung melenggang pergi memacu mobilku menuju kafe.


Sesampainya di kafe, kulihat Cecilia sedang duduk tertunduk. Aku menghampiri Indra.


"Ada apa, Ndra? Apa yang terjadi padanya?" Aku menunjuk ke arah Cecilia, yang sepertinya sudah tak sadarkan diri.


"Sepertinya mbak ini sedang ada masalah atau bagaimana, Mas. Dia memesan banyak minuman. Dan menghabiskannya." jelas Indra.


"Memangnya kamu kasih minum apa? Alkohol? Kenapa dia seperti orang mabuk begitu?"


"Mas Rangga jangan bercanda, disini tidak menyediakan alkohol, Mas. Mungkin dia mabuk coklat, makanya bisa jadi begitu."


"Jangan bercanda! Ya sudah, kamu tolong bawa dia ke mobilku. Terima kasih karena sudah menghubungiku. Dia pegawaiku di kantor."


"Saya tidak tahu harus menghubungi siapa, karena kafe sudah mau tutup. Dan mbak ini tidak mau beranjak pergi. Lalu saya ingat jika pernah melihat Mas Rangga disini bersama mbak ini. Jadi akhirnya saya menghubungi Mas Rangga. Maaf Mas sudah mengganggu."


"Iya tidak apa-apa."


Aku memapah Cecilia untuk masuk ke mobilku. Namun tiba-tiba dia sadar dan menolak. Dia bicara meracau tak jelas sama seperti orang mabuk. Menurutku ini sangat aneh.


Apa efek meminum coklat dengan porsi besar akan membuat orang jadi mabuk? Aku masih belum bisa percaya.


Cecilia mengenaliku, memanggil-manggil namaku, dan bercerita kalau dia pergi dari rumahnya. Lalu dia membuka bagasi mobilnya dan membawatas besarnya keluar.


Jadi dia benar-benar pergi dari rumah? Aku mengernyitkan dahiku.


Keadaan Cecil sudah sangat kacau. Aku memutuskan untuk membawanya ke rumahku.


Sampai di rumah, Cecilia memuntahkan isi perutnya di kamar mandi. Baiklah, sepertinya benar kalau dia memang terlalu banyak meminum coklat dan akhirnya membuat lambungnya 'eneg', lalu mengeluarkannya.


Bu Siti menyiapkan kamar tamu untuk Cecil. Setelah Cecil memuntahkan semua isi di perutnya, kemudian dia tertidur. Kulihat raut wajahnya. Matanya sembab. Seperti habis menangis. Apa yang terjadi denganmu, Cil? Apa Alvian menyakiti kamu lagi?


Ah, aku benci diriku sendiri. Apa yang aku rasakan sekarang? Iba? Kenapa aku tidak bisa membiarkan dia menjauh? Kenapa aku peduli padanya? Melihat kesedihan yang dialaminya membuatku semakin mendekat padanya.

__ADS_1


Apa aku jatuh cinta?


...***...


*Cecilia PoV*


Keputusanku untuk pergi dari rumah yang sudah kutempati bersama mas Alvian selama delapan tahun, memang membuatku sangat sedih. Sudah kubayangkan malam ini aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Aku sendiripun bingung, aku akan pergi kemana. Apakah keputusanku ini terlalu terburu-buru?


Sudah terlambat untuk mengulang waktu. Dan waktu memang tak bisa berulang. Akan kusesali nanti saja semua keputusanku ini.


Kupikir aku benar-benar tak bisa tidur nyenyak. Tapi... Tunggu tunggu!! Aku merasa sangat nyaman, dan tak ingin terbangun dari tempat tidur. Semalam baru saja aku memprediksi kalau aku tak akan bisa tidur nyenyak. Lalu Ini? Apa ini? Aku tidur sangat nyenyak di kasur empuk ini.


Perlahan kubuka mataku. Betapa terkejutnya aku saat melihat Pak Rangga ada di depanku. Ini bukan mimpi kan?


"Kamu sudah bangun, Cil. Bersihkan dirimu lalu turun kebawah untuk sarapan.Β  Untuk hari ini, kamu, saya ijinkan untuk cuti. Istirahatlah dulu, dan jangan berpikir untuk pergi sebelum saya kembali dari kantor. Mengerti?"


Tanpa mendengar apa jawabanku, Pak Rangga langsung berlalu dari hadapanku.


Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Bagaimana bisa aku sampai ada disini. Di kamar ini. Bukan. Di rumah ini.


Aku membenamkan wajahku kedalam bantal. Aku sangat malu saat ingat kejadian semalam. Yang menolongku semalam adalah Pak Rangga. Dan aku sadar betul itu, tapi kenapa aku tidak menolaknya waktu itu?


Kuacak-acak rambutku yang terurai. Aku harus bersikap bagaimana jika didepan Pak Rangga nanti? Ah, benar-benar menyebalkan.


...***...


Usai mandi dan membersihkan diri, aku keluar dari kamar. Sepertinya aku tidur di kamar tamu yang berada di lantai dua.


Saat keluar kamar, kulangkahkan kaki menuju tangga ke bawah. Aku takjub dengan kemegahan di rumah ini. Dan baru kali ini aku datang ke rumah Pak Presdir.


Aku tidak pernah tahu siapa perempuan itu. Bukan urusanku juga. Kulanjutkan langkahku menuju ruang makan.


Sebenarnya aku tidak tahu dimana letak ruang makan berada. Tapi karena aku mendengar suara piring yang berdenting, aku yakin pasti suara itu berasal dari sana. Dan benar saja, ada seorang wanita paruh baya yang sedang merapikan piring diatas meja makan.


Wanita itu melihatku, dan dia menyapaku.


"Silahkan, Mbak Cecil. Sarapannya sudah siap. Kenalkan, saya Ibu Siti, kepala asisten rumah tangga disini." Ibu Siti mengulurkan tangannya.


"Terima kasih, Ibu. Maaf saya jadi merepotkan."


"Tidak apa-apa. Mbak Cecil kan tamunya Mas Rangga. Jadi harus dilayani dengan baik."


Aku tersenyum kikuk.


"Mbak Cecil adalah wanita pertama yang dibawa Mas Rangga ke rumah." Cerita bu Siti sambil menuangkan teh untukku. Seketika aku tersedak oleh makanan yang sedang kukunyah.


"Apa Bu? Wanita pertama?" tanyaku mengulangi kalimat bu Siti.


"Iya, selama ini Mas Rangga tidak pernah membawa teman wanitanya ke rumah. Mbak Cecil ini yang pertama."


Aku mulai berpikir. Tidak mungkin pria seperti Rangga Adi Putra tidak pernah membawa teman wanitanya ke rumah? Bukankah dia punya banyak penggemar wanita?


"Bukankah Bu Nadine juga sering datang kemari, Bu?" tanyaku dengan penuh selidik.

__ADS_1


"Oh, kalau Nona Nadine, memang dia sering kesini. Tapi bukan karena diajak. Dia yang datang sendiri. Beda dengan Mbak Cecil." Ibu Siti tersenyum aneh padaku.


Aku mengambil cangkir tehku dan meneguknya. Ada yang tidak beres disini. Bu Siti pasti berpikir yang tidak-tidak dengan hubunganku dan Pak Rangga.


"Saya hanya pegawainya Pak Rangga, Bu.Β Dan kebetulan saja Pak Rangga menolong saya tadi malam." Perlu kujelaskan agar bu Siti tidak salah paham kepadaku.


"Iya, saya sudah dengar dari anak saya, Herman. Supirnya Mas Rangga."


Aku mengangguk. "Oh ya, Bu. Terima kasih banyak atas sarapannya. Saya rasa, saya harus segera pergi, Bu. Tak enak jika saya merepotkan Pak Rangga lagi. Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya buat Pak Rangga."


"Lho, kenapa pergi? Mbak Cecil tidak boleh pergi sebelum Mas Rangga kembali dari kantor. Tadi Mas Rangga titip pesan begitu sama ibu."


"Hah?!" Aku membulatkan mata tak paham. Sekilas kuingat perkataan Pak Rangga saat aku bangun tidur tadi.


"Begini saja. Supaya Mbak Cecil tidak bosan, Mbak Cecil bisa ke ruang perpustakaan. Disana nanti ada ruangan punya Nona Sheila. Mbak Cecil bisa baca-baca buku koleksinya Nona Sheila."


"Sheila?" Apakah itu adalah perempuan muda yang difoto keluarga tadi?


"Mbak Cecil belum tahu tentang Nona Sheila? Dia adiknya Mas Rangga. Satu-satunya. Memang jarang kelihatan, karena Nona Sheila tinggalnya di Amerika. Dan Mas Rangga sangat menutupi kehidupan pribadi adiknya. Jadi memang jarang disorot oleh wartawan. Orang-orang tahunya mMas Rangga itu anak tunggal."


Aku mengangguk-angguk. Begitupun juga denganku, selama ini aku juga tahunya Pak Rangga adalah anak tunggal. Dan juga pewaris AJ Group.


...***...


Sebenarnya tidak aneh, bagi keluarga konglomerat macam Pak Adi Jaya, memiliki ruang perpustakaan sendiri dalam rumahnya. Tapi tetap saja aku selalu dibuat takjub dengan hal-hal yang ada di rumah ini.


Perpustakaan ini memiliki sudut-sudut tersendiri. Dan buku-bukunya, juga disusun berdasar kepemilikan masing-masing. Ada ruang milik pak presdir, dan juga bu presdir. Lalu, Rangga's Corner. Judul yang tertera di papan depan salah satu ruang. Aku penasaran seperti apa koleksi buku milik Pak Rangga.


Semuanya tersusun rapi. Dan di susun berdasarkan huruf abjad. Rangga sangat menyukai kerapian. Aku tahu itu.


Tapi tak ada buku yang menarik disana. Semuanya tentang bisnis dan ekonomi. Aku menepuk kepalaku.


Apa yang kamu harapkan, Cecil?


Aku berharap menemukan satu saja buku tentang novel percintaan. Hahaha, rasanya tak mungkin.


Lalu di sudut paling ujung, adalah yang paling menarik perhatian. Karena papannya saja berwarna merah muda, dan huruf-huruf yang menyusun kata Sheila's Corner berwarna pelangi. Sangat cantik.


Kususuri satu persatu rak demi rak koleksi buku-buku milik Sheila. Mataku berbinar, novel roman. Itu yang paling banyak di rak buku Sheila. Dan ada satu rak berisi film-film romansa.


Baiklah, lebih menarik menonton film dari pada membaca buku. Pikirku. Perlengkapan home theatre sudah tersedia disana. Langsung saja kupilih film yang akan kutonton, lalu aku duduk manis sambil memeluk boneka Hello Kitty milik Sheila. Sheila sepertinya penggemar berat tokoh kucing satu ini. Karena terlihat dari ornamen yang ada disini, rata-rata bergambar Hello kitty.


...***...


Kulupakan sejenak masalahku. Dan kuhabiskan waktu untuk menonton film. Karena terlalu banyak film yang aku tonton. Hingga membuatku mengantuk dan tertidur. Semua ruang di rumah ini sepertinya nyaman untuk tidur.


Tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Kulihat jam ditanganku. Aku terkejut karena sudah pukul 7 malam. Kurapihkan baju dan rambutku. Aku bergegas keluar dari ruangan Sheila. Namun aku terhenti karena disana sudah ada Pak Rangga yang berdiri sambil menyilangkan tangannya.


"Pak Rangga?"


"Kamu sepertinya sangat suka sekali tidur ya." Rangga tersenyum sangat lebar.


Aku tidak bisa mengartikan apa makna dibalik senyuman itu. Dia mengejekku atau...?

__ADS_1


Yang jelas senyuman itu menghipnotisku. Rangga yang selama ini aku kenal, tidak pernah tersenyum seperti ini di depanku. Ada apa dengannya?


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


__ADS_2