
...πππ...
Proyek pembangunan kafe Cecilia sudah dimulai. Ia beruntung karena memiliki tabungan dari uang gono gininya bersama Alvian. Itu adalah sebuah berkah baginya. Sekarang ia akan fokus pada bisnis yang akan dimulainya. Dan sejenak tidak memikirkan persoalan asmara.
Cecilia ingin hidup tenang bersama ibunya. Meski beberapa hari lalu ia tiba-tiba bertemu Rangga, namun hal itu bukan sesuatu yang penting untuknya. Ia mencoba untuk melupakan pertemuan itu.
Sesuai janji yang dikatakan Radit, kalau pembangunan kafenya hanya memakan waktu seminggu sampai dua minggu, ternyata Radit membuktikan ucapannya.
Kafe yang di inginkan Cecil adalah kafe terbuka dengan suasana alam yang menyejukkan. Hal itu agar membuat pengunjung merasa rileks saat berada di cafe. Sejenak melupakan masalah yang sedang dihadapi. Sangat cocok dengan fillsofi Cecil saat ini.
...
(gambar ilustrasi)...
...***...
Hari ini adalah hari pembukaan kafe Cecilia. Sedari pagi dia sibuk mendekorasi ruangan kafe agar sesuai keinginannya. Semua sahabatnya datang untuk membantu karena hari ini adalah akhir pekan dan mereka libur kerja.
Amel, Hana, Nadine, Radit, dan Ismail. Mereka bekerja sama membantu Cecil. Suatu kebahagiaan yang tak terkira memiliki teman seperti mereka. Itu anugerah yang indah bagi Cecil.
Malampun tiba, para tamu undangan dan juga pengunjung mulai berdatangan ke kafe. Cecilia menyalami satu persatu tamu dan pengunjung. Dia juga mengundang Danny dan Herman. Meskipun dia tidak tahu apakah tuannya bersedia datang atau tidak.
"Hai, Cil. Selamat ya atas pembukaan kafe kamu..." Itu adalah Bima, sahabat Cecil yang lain.
"Hai, Bim. Terima kasih sudah bersedia datang. Kamu datang sendiri?"
"Iya lah! Memang mau datang bersama siapa?"
"Kupikir kamu akan mengajak Shasha."
"Dia sangat sibuk sekarang, setelah mengurus Alvian, dia..." Bima tak melanjutkan kalimatnya.
"Maaf, Cil. Aku tidak bermaksud untuk membahas soal Alvian didepanmu."
"Tidak apa. Aku sudah baik-baik saja. Mari masuk! Kita temui teman-teman yang lain."
Tak lama, Danny dan Herman datang bersama Ibu Siti. Cecil sangat gembira menyambut kedatangan mereka.
.
.
.
Malam ini Cecilia selalu tersenyum lebar. Dia akan berbahagia mulai dari sekarang. Tak ada lagi kegundahan yang terlihat di wajahnya.
Saat semua acara sudah terlewati dan hanya tinggal beberapa orang saja di dalam kafe, Bima menghampiri Cecilia yang sedang duduk sendiri seraya memijat kakinya yang pegal karena sedari tadi ia mondar-mandir menyalami para tamu.
"Kamu senang?" Tanya Bima.
"Iya, Bim. Tapi lelah, hehehe."
"Setelah ini kamu harus beristirahat."
"Iya, kamu tenang saja."
"Cil..."
"Hmm?"
"Sebenarnya, sebelum Alvian pergi... Dia... Menitipkan sesuatu padaku."
"Eh?"
__ADS_1
"Sebuah surat untukmu." Bima memberikan secarik amplop pada Cecil.
"Dimana dia sekarang, Bim?"
"Aku tidak tahu. Dia bagai ditelan bumi. Sama seperti saat dulu kamu pergi."
Cecil menghela nafas. "Aku tidak bisa menerima surat ini."
"Eh?"
"Bagiku Mas Alvian adalah masa lalu."
"Tapi nyatanya kamu masih ingin tahu dimana dia berada sekarang."
"Hanya sebatas ingin tahu saja."
"Apa kamu tahu dimana Alvian sekarang?" Amel tiba-tiba datang ke meja Cecil dan Bima.
Bima menggeleng.
"Ish, kenapa para selebriti suka menghilang begitu saja jika mereka punya masalah?"
Tak ada yang mengomentari pertanyaan Amel.
"Iya 'kan? Apa yang kukatakan itu benar. Mereka tiba-tiba menghilang saat mereka merasa terpojok dan melakukan kesalahan."
"Aku mengecek melalui akun gosip, ada yang bilang jika Alvian kembali ke kota Solo. Dia tinggal di tempat paling terpencil disana dan dikucilkan dari dunia luar bersama Nayla, dan juga Arif. Mengerikan sekali bukan? Hukum seperti ini lebih layak dari pada hukuman penjara." Lanjut Amel.
"Ditambah lagi hukuman dari masyarakat yang berkomentar pedas tentang mereka. Ya ampun!!! Mana mungkin mereka bisa menunjukkan batang hidung mereka lagi didepan kita. Iya 'kan?" Tambah Amel.
Cecilia hanya menatap menerawang jauh. Ia tak mau mendengar lebih jauh tentang Alvian dan keluarganya.
"Lalu Nayla. Sejak awal aku tidak suka dengan perempuan ini. Dia selalu berlagak polos dan lugu, tapi apa? Dia berhasil membuat Alvian jatuh ke lubang paling rendah dalam titik hidupnya. Karir Alvian sudah tamat sekarang. Tak ada lagi yang akan mengingatnya sebagai selebriti di tanah air."
"Sudahlah, Mel. Jangan terus mengumpat!" Lerai Nadine ikut bergabung.
Mereka bertiga tertawa, namun tak begitu dengan Cecil. Maksud teman-temannya adalah membelanya. Namun entah kenapaΒ ia tak suka dengan caranya.
"Hei, kalian tidak sadar jika ada anggota polisi disini?" Radit ikut menimpali.
"Jaga mulutmu, Mel! Atau kamu akan digiring ke kantor polisi seperti waktu itu." Ledek Radit.
Amel melayangkan tinjunya ke lengan Radit.
"Harus ada yang melaporkannya lebih dulu, baru bisa di proses." Terang Ismail.
"Dan menurutku tidak akan ada yang mau melapor karena semua ucapanku adalah benar."
"Dasar kamu!!" Radit merasa kalah.
"Sudah-sudah, jangan terus berdebat." Nadine menengahi Radit dan Amel.
Cecilia merasa perlu menghirup udara malam yang sejuk. Ia berjalan sendiri ke arah depan kafe.
Dalam gelapnya malam, Cecil merasa ada seseorang yang bersembunyi di balik semak-semak didekat kafe.
Cecilia berlari keluar kafe. Dilihatnya sesosok pria yang berjalan menjauh dari kafenya. Cecil mengejar orang itu.
"Tunggu!! Berhenti!!!"
Orang itupun menghentikan langkahnya.
"Siapa kamu? Kenapa mengendap-endap seperti pencuri?"
Orang itu membalikkan badan. Ia memakai topi.
__ADS_1
Cecilia memperhatikan dengan seksama. Namun terlalu gelap untuk melihat.
Perlahan orang itu membuka topinya.
Cecilia membelalakkan matanya.
"Rangga? Apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku hanya kebetulan lewat daerah sini. Kenapa kamu keluar? Bukankah kamu sedang bersenang-senang dengan teman-temanmu?" Ucap Rangga dengan ketus.
"Aku ingin menghirup udara segar saja. Dan aku curiga ada seseorang yang bersembunyi di balik semak-semak. Jadi... Aku ingin tahu siapa orang itu."
"Ooh. Sekarang sudah tahu 'kan? Silahkan kembali ke teman-teman kamu. Mereka pasti menunggumu..."
"Kamu tidak mengucapkan selamat padaku?"
"Semua orang sudah memberikan selamat padamu. Apa aku perlu melakukannya juga?" Dan Rangga masih tetap bersikap dingin.
"Kamu... Masih marah padaku?"
"Marah? Kenapa aku harus marah? Ini hari bahagiamu, Cecil. Nikmatilah!"
"Rangga ... Aku minta maaf. Karena sudah pergi meninggalkanmu. Kalau kamu ingin aku menjelaskan semuanya, akan aku jelaskan."
"Aku tidak butuh penjelasanmu! Semuanya sudah berakhir, 'kan?"
"................"
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Aku dengar kamu pergi karena untuk kebaikanku sendiri. Kebaikan yang mana?"
"Rangga..." Cecilia mulai berkaca-kaca.
"Kamu tidak bisa menjawabnya? Ya sudah, tidak perlu membahasnya lagi." Rangga melangkah pergi meninggalkan Cecil.
Air mata Cecil mulai membasahi pipinya.
Maafkan aku, Rangga.
Aku harus melakukan semua ini padamu. Semoga suatu saat kamu bisa memaafkanku...
Cecil terus memandangi Rangga yang makin jauh dari pandangannya.
Ternyata aku masih belum bisa berdamai dengan hatiku.
Hatiku masih terasa sakit bila mengingatmu, Rangga.
Ini tak semudah yang kubayangkan.
Ya Allah...Β Tolong Kuatkan hatiku... "
...πππ...
.......
.......
...Bersambung...
.......
.......
...Terimakasih yg selalu setia membaca kisah Cecilia ππ...
...Doakan semua akan indah pada waktunya...πππ...
__ADS_1
jangan lupa leave like comment and love ππ
thank you ππ