99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2): Urutan Mengubah Hubungan(3)


__ADS_3

Tahun berganti begitu cepat.


Banyak pelajaran hidup di tahun yang sudah berakhir ini.


Aku akan memulai awal yang baru. Memiliki semangat yang baru.


Dan aku akan mengisi hari-hariku di tahun yang baru ini, bersama denganmu...


...***...


Tak lama lagi AJ Foods akan merayakan hari jadinya. Pesta tahunan awal tahun yang meriahpun siap untuk digelar. Para karyawan menyambut dengan suka cita. Semua orang mempersiapkan diri mereka dengan baik. Bahkan banyak yang sengaja berbelanja pakaian baru untuk dipakai diacara malam itu.


Lalu bagaimana denganku? Apa aku harus memesan gaun baru pada Jimmy? Tidak. Aku tidak pernah hadir di acara itu. Acaranya selalu diadakan di akhir pekan. Jadi aku tidak bisa datang. Karena Tasya. Aku tidak mau membuat dia kecewa. Lalu tahun ini?


"Aku tak pernah datang di perayaan hari jadi AJ Foods. Jadi, tahun ini aku juga tak akan datang."


"Cecil, mungkin dulu kamu tak bisa datang karena ada Tasya. Tapi sekarang---? Maaf bukannya aku memaksamu, tapi kita sudah bekerja keras kemarin. Jadi tak ada salahnya jika kita merayakan keberhasilan kita di acara nanti. Betul tidak, Bu?"


"Betul sekali Nak Rangga." Mereka berdua tertawa dengan puas.


Oke. Tidak ada yang mendukungku disini. Ibu pasti senang karena sekarang memiliki satu putra lagi. Kemarin Ismail, dan sekarang Rangga. Kenapa emak-emak suka sekali pada pria tampan? Lebih baik aku mengalah saja.


"Iya, baiklah. Aku akan datang. Sudah puas kan?"


"Terima kasih, sayangku. Aku lanjut membantu ibu lagi ya."


"Iya."


Aku senang Rangga sudah mulai akrab dengan ibu. Seperti biasa, ibu memperlakukan Rangga bak putranya sendiri. Dia malah lebih perhatian pada Rangga daripada terhadapku.


Lalu aku sendiri? Apa aku bisa akrab juga dengan keluarga Rangga? Pak Presdir? Apa beliau bisa menerimaku?


Huffftttt, memikirkannya saja sudah membuatku berkeringat dingin. Bagaimana ini?


...***...


The Gala Dinner Day


AJ Foods menyewa sebuah ballroom di salah satu hotel bintang 5 untuk perayaan hari jadinya tahun ini. Acara yang super mewahΒ  yang banyak dihadiri oleh tamu-tamu penting dan terkenal.


Aku yang baru kali ini datang, merasa sangat canggung. Benar-benar mirip sebuah pesta kelas atas. Dan aku baru tahu kalau pestanya di bagi dalam dua tempat. Tidak semua karyawan terbiasa mengikuti pesta macam begini. Apalagi untuk buruh harian yang bekerja di pabrik. Mereka tidak betah berlama-lama disini.


"Cil, ada apa dengan wajahmu?" Rangga menyadari sedari tadi aku merasa gugup.


Aku hanya tersenyum.


"Kamu pasti belum terbiasa dengan pesta begini ya?"


Aku mengangguk.


"Tak apa-apa. Santai saja. Ini mirip acara gala dinner biasa. Banyak rekan bisnis AJ Foods yang hadir. Kamu harus terbiasa dengan hal begini. Karena kamu akan mendampingiku nantinya."


Sekali lagi aku hanya tersenyum.


"Ya sudah, kamu coba cari teman-teman kamu. Biar kamu tidak sendirian disini. Aku mau menemui klien-klien kita dulu."


Aku melihat sekeliling. Semua orang berpakaian sangat rapi dan elegan. Ini seperti pesta orang-orang kaya. Aku merasa gugup. Meski kehidupan Rangga dan Mas Alvian memang sedikit mirip. Tapi entah kenapa sekarang terasa sangat membuatku berdebar. Mungkin aku terlalu takut menghadapi dunia yang memandangku sebelah mata.


Saat sedang mencari Amel dan Hana, tak sengaja aku bertemu dengan Nadine. Dia sangat cantik malam ini. Gaun malamnya sangat indah. Dia berjalan ke arahku.


"Hai, Cil. Kau datang? Kudengar kau tak pernah sekalipun datang diacara hari jadi AJ Foods. Jadi, kenapa kali ini kau datang?"


"......................"


"Aku tahu. Pasti karena Rangga bukan? Dan kau juga ingin mencari muka didepan Om Adi. Benar kan?"


"................." Entah kenapa aku merasa tidak perlu menjawab semua pertanyaan Nadine.


"Oke. Tak apa jika kau tidak mau bicara denganku. Semoga malam ini jadi malam keberuntunganmu. Bye!"


Huaaahhh, ya ampun! Aku jadi makin tegang karena mendengar kalimat Nadine tadi. Apa yang harus kulakukan?

__ADS_1


"Cecil!!" ada yang menepuk pundakku. Radit.


"Syukurlah ada kamu, Dit."


"Ada apa? Kenapa kamu sendirian disini?"


"Aku mencari Amel dan Hana tapi belum berhasil kutemukan."


"Kamu kesini bersama Rangga kan? Dimana Rangga?"


"Dia sedang menemui rekan bisnisnya."


"Oh, ya sudah. Kau ikut denganku saja. Akan kubawa ke tempat Amel dan Hana."


"Iya baiklah. Terima kasih. Beruntung aku bertemu denganmu." Aku tersenyum lega.


.


.


Acara akbar hari inu sudah dimulai. Pak Presdir memberikan sambutan lebih dahulu. Beliau bercerita tentang perjalanannya dalam merintis AJ Foods.


Terkadang diselingi dengan gurauan yang di sambut tawa oleh para tamu undangan. Aku merasa Pak Presdir adalah orang yang hangat. Dia tak seperti kelihatannya. Sama seperti Rangga. Mungkin Pak Presdir juga memiliki sesuatu yang tak ingin orang lain ketahui.


Aku memandang ke arah Ibu Presdir. Dia sangat cantik dan anggun. Dilihat sekilas, dia bukan tipe ibu tiri yang jahat.


Tibalah saatnya Rangga memberikan sambutan. Sebelum memulai sambutannya, dia melihat ke arahku. Tatapannya sedikit aneh. Apa maksud tatapan itu?


"Karena malam ini adalah malam yang spesial untuk perusahaan tercinta kita ini, maka dimalam ini pula saya pribadi ingin mengumumkan sesuatu yang penting. Saya ingin memperkenalkan kepada kalian semua, calon istri saya..."


Seketika para tamu undangan berbisik-bisik. Pak Presdir menatap Rangga dengan tajam. Aku mendengar orang-orang menyebutkan nama Nadine.


Yah wajar saja, tamu undangan disini kebanyakan adalah rekan bisnis Pak Presdir. Yang mereka tahu Nadine adalah calon istri Rangga. Lalu aku? Apa aku harus merasa senang karena Rangga akan mengumumkan hubungan kami? Ditambah lagi, banyak juga wartawan yang hadir.


Tidak!!! Otakku berpikir keras. Belum saatnya kami mengumumkan hubungan ini. Aku memberikan kode pada Rangga untuk menghentikan aksinya.


"Akhirnya saya menemukan tambatan hati, dia adalah... Cecilia. Wanita yang duduk disebelah sana, adalah calon istri saya."


"Bukannya anda akan bertunangan dengan putri dari Grup HD? Nadine Hadinata? " Celetuk salah satu wartawan.


"Dari awal saya tidak pernah menerima perjodohan antara saya dan Nadine. Pa,Β  aku minta maaf. Tapi inilah yang sebenarnya. Aku mencintai Cecil. Dan aku akan menikahinya."


"Rangga!!! "


"Maaf! Demikian pengumuman dari saya. Saya permisi!"


Rangga melangkahkan kakinya menuju ke mejaku. Dia meraih tanganku, dan membawaku keluar dari ruangan itu.


Baiklah, setelah ini kami akan menghadapi hal yang lebih besar lagi.


...***...


Selama perjalanan, Rangga dan Cecilia hanya terdiam. Ingin rasanya Cecil memecah keheningan, namun dia memilih diam. Karena takut tambah merusak suasana hati Rangga.


Perjalanan terasa sangat jauh. Cecilia tidak tahu apa yang ada dibenak Rangga.Β  Kali ini dia memutuskan untuk bicara.


"Kita mau kemana, Ga? Ini sudah terlalu jauh dari kota."


"............"


"Kamu---tidak berusaha menculikku kan?"


CKIIIIIIIITTTTTTT


Rangga menginjak pedal rem mobil secara tiba-tiba. Lalu menatap Cecil dengan tajam.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku kan hanya bertanya."


"Jika aku bisa, aku akan membawamu pergi jauh dari sini. Jadi tidak ada yang bisa memisahkan kita."


"Jangan membuatku takut. Kita kan belum dengar jawaban dari Papa kamu. Belum tentu juga beliau----"

__ADS_1


"Dia tidak akan setuju. Aku sudah tahu dari sorot matanya."


Cecilia menghela nafas. "Itu sebabnya kita pergi dari sana?"


"Jangan bicara lagi, dan tetaplah diam." Rangga kembali mengemudikan mobilnya.


Sampailah mereka ke suatu tempat.


"Pantai? Kenapa para lelaki suka membawa wanita ke pantai? " batin Cecilia. Mengingatkannya pada kenangan bersama Alvian.


Ada sebuah saung di pinggir pantai. Rangga berjalan ke arahnya. Lalu memposisikan dirinya tidur telentang menghadap langit dengan tangannya dijadikan alas. Matanya terpejam. Mau tak mau Cecilia mengikuti Rangga. Namun dia hanya duduk disebelah Rangga.


Lama mereka tak bersuara. Hanya suara deburan ombak yang bersahutan seakan sedang bercengkerama.


"Kenapa diam saja?" Rangga mulai bersuara namun matanya tetap terpejam.


"kamu bilang aku harus diam."


"Maaf ya, aku tadi bersikap begitu. Aku hanya---Memikirkan beberapa hal." Matanya mulai terbuka.


"Memikirkan apa?"


"Bukankah dulu--- Aku yang lebih dulu bertemu denganmu..."


"Eh?"


"Aku yang lebih dulu bertemu denganmu, benar kan?" Rangga memiringkan tubuhnya dan menghadap Cecil.


"Kenapa memangnya?"


"Harusnya aku yang menikah denganmu. Bukan Alvian."


Cecilia tertawa kecil. "Jadi kau sedang memikirkan tentang itu?"


"Iya. Aku kan yang lebih dulu bertemu denganmu, jadi--- Harusnya aku yang menikah denganmu."


"Pemikiran macam apa itu? Urutan bertemu tidak bisa dijadikan patokan sebagai takdir jika itu adalah jodohmu. Lagipula, apa kau tak sadar bagaimana sikapmu dulu? Hanya wajahmu saja yang tampan, tapi kelakuanmu nol besar. Nol besar!!! Tahu kau?"


"Aish... Kalau itu--? Itu memang benar. Aku tidak bersikap baik padamu saat pertama kali kita bertemu. Tapi Cecil, Mulai sekarang... Aku akan bersikap baik padamu. Aku akan menjagamu. Jadi, jangan khawatir soal Papa atau siapapun. Mengerti?"


Cecilia mengangguk. "Aku tahu. Kamu sebenarnya orang yang baik. Kamu hanya selalu merasa kesepian dan tersingkirkan. Makanya kamu-- Memilih tidak memiliki teman. Tapi... Mulai sekarang, jangan merasa kesepian lagi. Ada aku. Kamu bisa berbagi denganku." Cecilia menggenggam tangan Rangga.


"Terima kasih, Cil. Terimakasih sudah datang di hidupku. Meskipun... Aku datang terlambat." Rangga mencium puncak kepala Cecilia.


Mereka saling memandang. Jarak diantara mereka terlalu dekat. Cecilia menangkap ada sinyal-sinyal aneh pada Rangga. Rangga lebih mendekatkan lagi wajahnya, tidak, bibirnya. Bibirnya menuju ke bibir Cecilia. Semakin dekat, semakin dekat. Lalu...


"Aku tidak bisa melakukannya!" Rangga terhenti.


".........." Cecilia tersipu malu. Dia pasti sudah mengira Rangga akan mencium bibirnya.


"Aku----Tidak bisa melakukannya. Hingga kamu, benar-benar jadi milikku. Milikku yang sah."


Cecilia tertawa kecil. "Tidak apa-apa. Iya, aku tahu." Lalu menepuk pelan pundak Rangga. "Jangan dipaksakan!" Cecilia bergelayut manja dilengan Rangga.


"Kau mengejekku?" kesal Rangga.


"Tidak!!!"


"Jangan berbohong!"


"Aku tidak bohong!!!"


Cecilia tidak berbohong. Dia hanya merasa jika dirinya memiliki hubungan asmara dengan pria yang baru menginjak dewasa dan masih polos.


Ceciliapun akhirnya tertawa lepas. Diikuti Rangga yang menertawakan dirinya sendiri.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…bersambung,,,


Rangga, kau perlu banyak belajar dari pria-pria lain di novel sebelah, wkwkwkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2