
Bulan madu? Kenapa Rangga kembali membahas soal bulan madu? Bukankah waktu itu kami sudah melakukan bulan madu? Meski hanya di dalam rumah keluarganya.
Huft! Aku harus menjawab apa? Dia sepertinya sangat ingin kami pergi berbulan madu.
Malam ini aku belum bisa memejamkan mata. Kulihat Rangga terlelap dengan damai. Dia pasti sangat lelah setelah bekerja seharian. Apa aku akan menyakitinya jika aku menolak rencana bulan madu ini?
Baiklah, sebaiknya aku tidur saja. Besok baru akan kubahas lagi dengannya.
Keesokan paginya, aku mulai membuka mata kala kurasakan sesuatu menyentuh wajahku. Ya Tuhan! Rangga! Dia sedang apa?
"Sayang, bangun!"
Dia menciumi wajahku. Astaga! Dia sangat manis.
"Mas, hentikan! Aku akan bangun!"
"Tidak mau, aku ingin terus menciumi wajah istriku yang cantik ini..."
"Mana ada cantik? Aku baru bangun tidur, Mas..."
Rangga menghentikan aksinya. "Baiklah, ayo bangun! Aku akan membuatkan sarapan untukmu."
"Hah?! Kok kamu, Mas? Biar aku saja yang buatkan."
"Untuk hari ini aku yang akan membuatnya."
Rangga turun dari tempat tidur dan bergegas menuju dapur. Ada apa dengannya? Apa ini adalah rencananya agar aku bersedia pergi berbulan madu? Jika dia semanis ini, bagaimana aku bisa menolak?
.
.
.
Aku memperhatikan suamiku yang sedang membuat sarapan untuk kami. Entah apa yang ia masak. Sebenarnya aku tidak tega. Karena dia sudah lelah bekerja, tidak mungkin aku merepotkannya dengan tugas rumah tangga juga.
"Baunya sangat harum, Mas. Aku yakin pasti enak!" pujiku agar ia lebih bersemangat.
Tak lama Rangga membawa dua piring berisikan nasi goreng dengan telor ceplok diatasnya.
Aku tersenyum. "Terima kasih, Mas. Lain kali jangan menyusahkan dirimu begini."
"Apa yang susah? Aku terbiasa hidup mandiri saat di Amerika. Tanpamu dan tanpa Bu Siti."
Aku terkekeh. "Benar juga. Apa sudah boleh dimakan?"
"Tentu saja."
Aku menyendok nasi goreng yang masih hangat ini lalu menyuapkan ke mulutku.
"Bagaimana?" tanya Rangga dengan menopang dagunya menatapku.
"Hmmm, ini enak. Tidak buruk lah untuk seorang pemula." Aku kembali terkekeh.
"Hei, istriku. Aku bukan pemula dalam hal begini. Aku seorang profesional."
"Profesional dalam mengambil hati wanita maksudmu?"
__ADS_1
Tiba-tiba Rangga terdiam dan menatapku intens.
"Go honeymoon with me?" tanyanya lagi seperti semalam.
"Okey, I will..." jawabku dengan senyum lebar di bibirku.
Tentu saja itu membuat Rangga sangat bahagia dan memelukku.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan?" tanyaku.
"Papa akan mengurusnya bersama Hendi. Jangan khawatirkan soal itu. Kita akan bersenang-senang di New York."
"Eh? Kita akan berbulan madu kesana?"
"Iya. Kita akan kesana. Kita akan mengenang masa lalu disana."
Entah kenapa aku merasa itu bukan keputusan yang bagus. Kenapa Rangga memilih New York?
.
.
.
.
Setelah melalui perjalanan panjang di pesawat, akhirnya kami tiba di kota yang penuh kenangan ini. Sedang musim dingin disini, makanya aku membawa beberapa pakaian hangat yang cukup banyak.
Sudah lama aku tak kemari, dan pastinya cuaca disini dengan Indonesia sangatlah berbeda. Rangga memakaikan syal ke leherku karena melihatku kedinginan.
"Di apartemen lamaku."
"Eh?"
"Ayo!"
Rangga menaruh tas kamindi bagasi mobil. Ternyata dia sudah menyiapkan semuanya.
"Kamu masih hapal jalanan sini, Mas?"
"Tentu saja." jawabnya sambil mengusap pipiku.
Ah Rangga, kau sangat manis. Mana Rangga yang dingin yang pertama kali kutemui di kota ini?
Sekitar setengah jam perjalanan kami tiba di apartemen Rangga yang menurutku cukup mewah. Hmmm, sekelas Rangga mana mau tinggal di tempat yang biasa. Aku yang anak kosan biasa mungkin terbiasa.
"Sayang, kenapa tersenyum? Ada yang aneh dengan apartemenku?"
"Tidak. Apartemenmu sangat bagus dan nyaman, Mas. Aku suka."
Aku mengacungkan dua jempolku padanya. Aku tidak mau merusak moodnya. Dia pasti lelah.
"Mas, kamu mandilah dulu. Nanti aku masakkan sesuatu untukmu."
"Tidak ada bahan makanan disini, sayang."
"Aku akan membelinya di supermarket bawah."
__ADS_1
"Hmmm, thank you."
Lagi-lagi Rangga mencium bibirku. Meski hanya sekilas, itu berhasil membuat wajahku memerah karenanya.
.
.
Aku memasak menu sederhana saja untuk menu makan malam kami. Usai makan malam, kami hanya menikmati malam di balkon apartemen Rangga.
Menatap lampu-lampu kota di malam hari dengan saling berpelukan. Ternyata begini rasanya berbulan madu. Rasanya sangat menyenangkan. Seakan hanya ada aku dan dia saja di dunia ini.
Aku terkekeh sendiri membayangkan jika setiap hari seperti hari ini. Tak ada beban, dan Rangga selalu menemaniku.
"Sayang, kau kenapa? Kenapa tertawa?"
Aku menggeleng. Rangga membalikkan tubuhku agar menghadap ke arahnya. Aku menatap matanya yang teduh dan tak ada tatapan dingin disana.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanyaku
"Apa?"
"Kenapa dulu kau bersikap sangat dingin? Kau sebenarnya orang yang hangat, kenapa menutupinya?"
"Hmmm, entahlah. Mungkin karena aku tak punya banyak waktu untuk bergaul. Aku hanya menghabiskan waktu untuk bekerja."
"Hmm, begitu."
"Kau suka aku yang mana? Yang dingin atau yang hangat?"
Aku kembali terkekeh. Apa maksud pertanyaannya itu?
"Aku suka keduanya. Rangga yang manapun, aku akan tetap menyukainya."
Rangga tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Begitu dekat hingga aku tahu apa yang akan dilakukannya.
Aku reflek menutup mataku karena tahu dia akan mencium bibirku. Sebuah ciuman hangat dan lembut di malam bersalju.
Aku membalas ciumannya, sama lembutnya dan mulai bergairah. Aku mendorong dada Rangga pelan kala aku merasa nafasku mulai habis.
"Kau lelah. Kita tidur saja ya." ucapku malu-malu.
"Tidak, aku tidak akan pernah lelah jika denganmu..."
Rangga kembali meraih bibirku dan bermain disana dengan lembut. Dia membawa tubuhku masuk ke dalam kamar dan merebahkanku ke tempat tidur.
Aku merasa gairahku juga mulai meletup. Kurasa karena obat herbal yang ibuku berikan. Aku menarik tubuh Rangga dalam dekapanku dan mencium bibirnya dengan rakus.
Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku? Aku merasa sangat menginginkan Rangga. Dia bagai candu untukku. Rangga pun tak menyia-nyiakan hal itu. Malam ini menjadi malam panjang yang tak terlupakan untukku dan juga Rangga.
#Bersambung...
Halooo readerrrsss, tarik napas dulu nyook!!! 😁😁😁
Jangan lupa dukungannya selalu untuk Rangga dan Cecilia 😊😊
Thank you 😘😘
__ADS_1