99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Karma atau Takdir?


__ADS_3

...๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ...


"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Alvian, Bim. Alvian semakin kacau. Sama seperti Rangga yang kacau beberapa bulan lalu." Ungkap Shasha saat bertemu dengan Bima. Ia tak tahu harus bicara pada siapa lagi selain Bima.


"Tapi si Rangga sudah kembali bangkit. Dia malah membeli gedung baru untuk perusahaannya. Kenapa Alvian masih belum bisa moveon juga?"


"Kamu adalah sahabatnya. Cobalah untuk bicara dengannya. Aku kasihan melihat kondisi Nayla. Dia sedang hamil besar tapi Alvian sama sekali tak peduli padanya."


"Tapi kamu adalah manajer sekaligus sahabatnya. Setiap hari kamu bersama dengannya."


"Aku sudah bosan bicara dengannya dan tak pernah didengar. Apa kau punya informasi mengenai Cecilia?"


"Cecilia? Apa ya? Hari terakhir sebelum dia pergi, dia mengirimiku sebuah email. Tapi isinya hanya kalimat perpisahan saja, tidak lebih. Kenapa memangnya?"


"Pergi kemana dia? Dia bagai ditelan bumi. Alvian memintaku mencari keberadaan Cecil. Dia ingin tahu kabar tentang Cecil."


"Untuk apa Alvian masih mencari Cecilia?"


"Hanya ingin tahu kabarnya saja, Bim."


"Hubungannya dengan Rangga kurang berjalan baik. Mungkin itu sebabnya dia pergi. Dan ada kemungkinan ada campur tangan dari ... " Bima terhenti.


"Campur tangan siapa, Bim?" Selidik Shasha.


"Ah, tidak! Bukan siapa-siapa," jawab Bima gugup.


Sebaiknya tidak perlu membahas tentang Cecilia lagi di depan Shasha. Pikir Bima.


...***...


-Klinik Dokter kandungan-


"Kamu datang sendiri Nayla?"ย tanya Dokter Thania.


"Iya, Dok," jawab Nayla tertunduk.


"Alvian kemana? Sudah lama sekali dia tidak pernah ikut mengantarmu cek kandungan."


"Mas Alvian sedang sibuk, Dok."


Dokter Thania menghela nafas.


"Baiklah, nanti saya akan coba hubungi Alvian. Dan kamu, sebaiknya jangan terlalu banyak pikiran. Itu akan menurunkan kondisimu dan bayimu."


"Baik, Dok. Terima kasih banyak." Nayla akan meninggalkan ruangan Dokter Thania. Namun kakinya terhenti dan berbalik.


"Ada apa Nayla?" tanya dokter Thania penuh selidik.


"Apa ... saya bisa bicara dengan Dokter?" tanya Nayla ragu.


"Tentu saja. Saya akan temui kamu di kantin klinik setelah saya memeriksa semua pasien."


"Terima kasih, Dok."


.


.


.


-Di kantin-


"Nayla ... Apa ada yang ingin kamu ceritakan pada saya?"


"Mmm... Saya dengar ... Dokter sudah lama mengenal Mbak Cecil."


"Iya, dia teman lama saya. Dia juga pasien disini. Ada apa?"

__ADS_1


"Tolong saya Dokter! Apa dokter tahu dimana keberadaan Mbak Cecil?"


"Keberadaan Cecil? Kenapa kamu bertanya soal itu?"


Mata Nayla mulai berkaca-kaca.


"Selama beberapa bulan ini ... Mas Alvian berubah. Dia selalu menyebut nama Mbak Cecil dalam tidurnya. Dia sangat kehilangan Mbak Cecil. Makanya aku ... Aku ingin mempersatukan mereka kembali." Air mata Naylapun tumpah.


Dokter Thania menutup mulutnya seakan tak percaya apa yang dikatakan Nayla. "Kenapa kamu bicara begitu? Kamu adalah istri Alvian, Nayla."


"Aku tahu ini aneh. Tapi aku tidak tahan melihat Mas Alvian menderita seperti itu. Dia masih sangat mencintai Mbak Cecil. Tapi dia terpaksa menceraikannya karena suatu hal."


"Nayla, dengarkan saya ..." Dokter Thania menggenggam kedua tangan Nayla. "Yang harus kamu pikirkan adalah kesehatan kamu dan bayimu. Mengerti? Jangan memikirkan hal lain. Saya mohon. Saya sangat mengkhawatirkan keadaanmu dan bayimu."


Nayla menganggukkan kepalanya. Entah dia akan mendengarkan nasihat Dokter Thania atau tidak.


...***...


Tuuuttt Tuuuutttย  (Nada telepon tersambung)


"Halo... " Suara di seberang.


"Halo, bisa saya bicara dengan Alvian?"


"Ini dengan siapa?"


"Saya dokter Thania. Dokter kandungannya Nayla, istri Alvian."


"Oh, tunggu sebentar. Akan kusambungkan pada Alvian."


"Halo, Thania... " suara Alvian.


"Halo Al... Maaf jika aku mengganggu, dan aku juga tidak mau ikut campur urusan rumah tangga kalian, tapi karena Nayla adalah pasienku, jadi aku harus bicara padamu."


"Apa terjadi sesuatu dengan Nayla?" suara Alvian panik.


"Sudah kuperingatkan dari awal, jika kehamilan Nayla itu bermasalah. Kamu harus menjaga Nayla dengan hati-hati. Jangan biarkan dia terlalu banyak pikiran dan kelelahan. Fatal akibatnya jika sampai terjadi sesuatu pada janinnya."


"Al... Kamu mendengarku 'kan?"


"I-iya Than. Aku dengar."


"Tolong lebih perhatikan Nayla. Lupakanlah Cecilia. Hubungan kalian sudah berakhir. Fokuslah pada Nayla mulai sekarang. Aku bicara begini bukan karena kita berteman. Tapi karena aku seorang dokter. Aku berhak memastikan kondisi pasienku dalam keadaan baik-baik saja. Apa kamu mengerti?"


"Iya Than. Terimakasih sudah mengingatkanku."


"Jika kamu tidak peduli pada Nayla, setidaknya kamu harus peduli pada anakmu..."


Alvian terdiam cukup lama. Dia memikirkan tindakan bodohnya selama beberapa bulan ini.


Dia tidak hanya menyakiti Cecil. Tapi juga Nayla.


"Laki-laki macam apa kamu Alvian?" Alvian bergumam sambil membenturkan kepalanya di dinding.


"Kamu pantas dihukum karena kamu sudah menyakiti dua wanita sekaligus... Aaarrrgggghhh!!!" Alvian membenci dirinya sendiri.


...***...


Nayla tidak menyerah begitu saja. Ia tetap mencari informasi tentang keberadaan Cecilia pada teman-teman terdekatnya. Kali ini ia mendatangi Amel di gedung AJ Foods yang baru.


"Bu Amel, ada tamu yang mencari ibu. Dia menunggu di lobi kantor," ucap resepsionis.


"Siapa?"


"Seorang wanita bernama Nayla."


Amel cukup terkejut mendengar Nayla datang menemuinya.

__ADS_1


"Nayla!" panggil Amel saat menemui Nayla di lobi AJ Foods.


Nayla membalikkan badan saat mendengar namanya di panggil. Amel terkejut karena melihat Nayla dengan perut yang sudah membesar.


Selama ini dia hanya mendengar jika Cecilia memutuskan berpisah dari Alvian karena Nayla hamil. Dan ternyata itu memang benar. Nayla benar-benar hamil!


"Mbak Amel. Terima kasih sudah mau menemuiku."


"Ah iya. Tidak apa-apa. Umm, omong-omong ada urusan apa kamu mencariku?" Amel berusaha menutupi kekagetannya.


"Mbak Amel adalah sahabat Mbak Cecil 'kan? Mbak pasti tahu dimana Mbak Cecil sekarang. Iya 'kan?" Nayla bertanya tanpa berbasa basi.


"Hah? Jadi kamu kesini karena ingin menanyakan hal itu?"


"Iya, aku harus menemukan Mbak Cecil."


"Untuk apa kamu mencarinya?"


"Ini ... semua demi Mas Alvian."


"Alvian?" Mendengar nama Alvian membuat Amel kesal.


"Tolong Mbak, beritahu aku dimana Mbak Cecil sekarang."


"Aku tidak tahu!" jawab Amel mulai ketus.


"Tapi Mbak Amel adalah sahabat Mbak Cecil."


"Aku memang sahabatnya. Tapi bukan berarti aku mengetahui semua tentang Cecil."


Nayla sedih mendengar jawaban Amel.


"Sebaiknya kamu jangan datang kemari lagi! Aku benar-benar tidak tahu dimana Cecilia sekarang! Lalu itu ... sudah berapa bulan?" Amel menunjuk ke arah perut Nayla.


"Masuk bulan ke delapan, Mbak."


Tiba-tiba seorang karyawan menghampiri Amel dan berbisik padanya.


"Aku harus pergi sekarang. Ada rapat bersama klien. Maaf aku tidak bisa membantumu."


Amelpun pergi meninggalkan Nayla yang masih diliputi kesedihan.


Saat Nayla melangkah keluar kantor, tak sengaja dia bertemu Rangga. Rangga menghampiri Nayla. Tatapannya pada Nayla sedikit aneh.


"Ada urusan apa kamu disini?" tanya Rangga dingin.


Dengan raut wajah yang putus asa Nayla mencoba menjawab.


"Apa Bapak tahu dimana Mbak Cecil?"


Rangga tersenyum sinis. "Kamu datang kesini untuk menanyakan itu? Untuk apa? Hidupmu sudah tenang 'kan tanpa adanya Cecilia." Ranggapun tak menghiraukan Nayla dan melangkah pergi.


"Tunggu Pak!! Tolong bantu saya. Beritahu saya dimana Mbak Cecil?"


Rangga mengepalkan tangannya. "Saya tidak tahu. Dan jangan pernah bertanya tentang Cecilia lagi!"


Nayla hanya bisa menatap Rangga yang berjalan menjauh darinya. Ia bertambah sedih karena tak seorangpun bersikap baik kepadanya.


Wajar saja, Nayla dikenal sebagai wanita kedua yang menghancurkan rumah tangga Cecilia dan Alvian. Bertanya pada sahabat Cecilia sama saja dengan mencari mati. Benar 'kan?


...๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ...


-------------bersambung----------


*hmmmm, kesian juga sih si Nayla. Bagaimana menurut kalian?๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€


*jangan lupa tinggalkan jejak ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Terima kasih


ยฉpinkanmiliar2021


__ADS_2