
...***...
Malam ini aku dan Rangga akan berkunjung ke rumah ibuku dan menginap disana. Setelah menikah kami belum berkunjung lagi ke rumah ibu karena kesibukan Rangga yang harus mengurus pekerjaannya. Bahkan kamipun tak sempat untuk memikirkan pergi berbulan madu.
Di kamar yang sudah lama tak kusinggahi, kami masih belum bisa memejamkan mata meski sudah diatas tempat tidur. Rangga masih berkutat dengan laptop dan pekerjaannya. Sedangkan aku merebahkan tubuhku terlentang menghadap langit-langit kamar.
"Sayang, kamu belum tidur?" Tanya Rangga.
"Belum, sedang memandangi langit-langit kamarku. Kerjaan kamu masih banyak ya?"
"Hmm, lumayan. Aku harus mengecek semua laporan yang dikirim semua cabang padaku. Kamu tidur dulu saja."
"Tidak apa. Aku temani kamu."
"Eh sayang, kamu yakin kita tak mau pergi bulan madu?" Rangga berhenti memandangi laptopnya dan membahas soal bulan madu lagi.
"Yakin. Tak apa kok. Aku tahu kamu sibuk." Jawabku dengan memposisikan diri duduk berhadapan dengan Rangga.
"Tapi, rata-rata pasangan menikah selalu melakukan bulan madu."
"Tidak selalu. Lagipula itu bukan suatu kewajiban kok. Yang kita butuhkan hanya menghabiskan waktu berdua. Itu baru benar."
"Umm, atau begini saja. Kita lakukan bulan madu sambil aku tetap bekerja. Bagaimana kalau kita pergi ke Bali? Sekalian aku berkunjung ke cabang disana. Atau... ke Jogjakarta saja? Nanti bisa sekalian jenguk Umi sama Abah juga. Bagaimana menurut kamu?"
"Rangga... jangan memaksakan dirimu. Sungguh aku tidak apa-apa."
"Cecil..." Rangga menatapku penuh harap. Mungkin dia berharap aku memilih salah satu kota yang harus dikunjungi untuk bulan madu. Tapi, benar, aku tak masalah dengan itu.
"Dengar, ada ribuan orang yang bergantung padamu dalam meraup rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Suamiku adalah tumpuan hidup untuk banyak orang. Asal kamu tahu, aku bangga padamu karena hal itu. Jadi, jangan merasa tak enak hati padaku."
Rangga menatapku intens.
"Terima kasih istriku... Kamu adalah hal terbaik yang pernah kudapat."
"Sama-sama. Cepat selesaikan pekerjaanmu lalu istirahat."
"Hu'um baiklah."
Rangga kembali menatap laptopnya. Dan aku menatap dirinya. Ekspresi seriusnya dalam bekerja membuatku makin jatuh cinta dengannya.
Cup. Aku mengecup bibirnya sekilas.
Rangga menatapku dengan wajahnya yang bersemu merah.
"Hei, kamu sudah mulai nakal, huh? Berani menciumku lebih dulu."
"Memangnya kenapa? Kamu sudah sah jadi milikku..."
Dengan cepat Rangga memelukku dan menciumi pipiku hingga turun ke leherku. Aku berteriak geli.
"Stop Rangga!! Jangan lanjutkan!"
Rangga terhenti. Eskpresi wajahnya berubah datar. Sepertinya dia ingat kalau sekarang aku sedang datang bulan, jadi kami tidak bisa melanjutkan aktifitas kami lebih lanjut, hihihi.
"Tadaaaa" aku mengambil sekotak kartu permainan Uno yang dulu selalu kumainkan.
"Kita main kartu saja..." ajakku dengan senyum lebar di wajahku.
"Wah, boleh deh." Rangga menerima tantanganku dan menutup laptopnya.
"Yang kalah kita coret mukanya dengan.... Lipstik merah milikku, hahaha."
"Oke! Siapa takut! Aku selalu menang dalam permainan ini." Rangga bersemangat.
"Eits, tidak bisa. Aku yang akan selalu menang disini."
Well, malam ini kami lalui dengan bermain kartu hingga menjelang pagi.
...***...
Aku membantu ibu untuk menyiapkan sarapan pagi. Hari ini meja makan akan terasa penuh karena ada aku dan Rangga, juga Ismail dan Hana.
Kami berlima berkumpul di satu meja makan yang sama untuk pertama kalinya. Semua terdiam menikmati sarapan dengan lahap.
"Kalian berdua, semalam berisik sekali, apa yang kalian lakukan?" Ismail membuka perbincangan.
Aku dan Rangga saling pandang. "Jadi kau dengar, huh?" Jawab Rangga.
"Ya iyalah. Kalian tertawa sangat keras. Daripada kalian menghibur diri dengan bermain kartu, sebaiknya kalian cari waktu untuk bulan madu. Dan kamu Rangga, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Kasihan Cecil 'kan?!"
"Aku tidak apa-apa Ismail. Aku sangat mengerti jika Rangga sibuk. Soal semalam, aku minta maaf kalau kami sudah mengganggu istirahat kalian."
"Yang Ismail katakan benar. Kalian harus berbulan madu seperti pasangan yang lain. Jangan hanya memikirkan uang saja. Kalian sudah menikah selama dua bulan, apa tidak ada niat untuk memberi ibu cucu, huh? Kau bahkan sedang datang bulan. Setelah datang bulanmu selesai, pergilah berbulan madu."
Aku dan Rangga hanya terdiam. Entah kenapa terasa sakit saat ibu yang mengatakan itu semua. Tapi aku berusaha senormal mungkin untuk meresponnya.
"Kami tidak perlu berbulan madu, Bu. Dan kami juga tidak menunda soal momongan. Jadi, ibu tenang saja. Ibu pasti akan mendapatkan cucu dari kami." Balasku sambil tersenyum.
Kulihat raut wajah Rangga seakan menahan amarah. Aku mengerti perasaannya. Ia pasti terluka karena perkataan ibu.
.
.
__ADS_1
.
"Jangan diambil hati ya. Ibuku memang kadang suka bicara begitu. Jangan dipikirkan," ucapku membuka percakapan didalam mobil.
Ini hari minggu, tapi aku dan Rangga harus tetap bekerja. Aku akan pergi ke kafe, sementara Rangga harus meeting dadakan bersama staffnya.
Rangga masih bergeming menanggapi ucapanku.
"Rangga... tolong maafkan ibu ya."
"Hmm... Yang dikatakan ibumu memang benar. Tapi aku hanya tidak suka dia membela Ismail. Kenapa ibumu sangat menyukai Ismail? Aku ini 'kan menantunya, kenapa malah membela dia? Kalian bahkan tak punya hubungan darah, tapi ibu menganggapnya seperti putranya sendiri."
"Ibu menyukainya sejak pertama kali bertemu. Jadi,biarkan saja. Kamu jangan memikirkannya."
Rangga menepikan mobil.
"Kenapa berhenti?" Tanyaku.
"Kita harus berbulan madu, Cil. Aku akan minta ijin pada Papa supaya aku bisa cuti selama satu minggu atau mungkin lebih."
Aku mengernyitkan dahi. "Kok jadi bahas bulan madu lagi sih?"
"Semua orang menyebutkannya, Cil. Cuma kamu saja yang menolak."
"Karena itu memang tidak perlu, Ga. Setiap hari bisa melihatmu bagiku itu sudah cukup."
Rangga mengacak rambutnya. Kemudian menatapku dengan tajam.
"Ada apa?"
"Aku merasa berdosa karena sudah tak acuh padamu. Semua orang berpikir aku tidak peduli padamu. Aku harus bagaimana, Cil?"
Kulihat Rangga mulai frustasi dengan hal bulan madu ini. Aku menarik lengannya dan memeluknya. Menepuk-nepuk pundaknya lembut.
"Tidak apa. Semua pasti akan baik-baik saja. Kita akan melewatinya bersama. Aku akan memikirkan cara agar masalah bulan madu ini tidak mengganggu kita lagi."
...***...
...Perhatian!!! 18+ part (harap pembaca bijak)...
...***...
Satu minggu kemudian,
"Apa bulan madu itu sangat perlu, Nad?" Tanya Cecilia pada Nadine saat berkunjung ke kafe bersama putra kecilnya.
"Kenapa kau bertanya begitu? Aku sendiri juga tidak melakukan bulan madu. Radit sangat sibuk setelah kami menikah."
"Apa semua orang menginginkan kamu agar melakukan bulan madu?"
"Hu'um, begitulah."
"Kalau begitu kenapa tak lakukan saja?"
"Apa?"
"Bulan madu. Kalian harus melakukannya. Carilah tempat dan waktu yang bagus."
Cecilia mengerutkan dahinya. "Kenapa Nadine jadi ikut mendukung soal bulan madu ini sih? Huuufffttttt, bikin galau saja..."
.
.
.
Pukul 9 malam Rangga menjemput Cecilia di kafenya. Setelah menikah Rangga tak mengijinkan Cecil untuk berkendara sendiri. Harus bersama supir atau dirinya, kecuali untuk urusan genting seperti saat Nadine dan Amel melahirkan kemarin.
"Sudah lama menunggu?"
"Tidak, aku baru saja keluar."
Rangga membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Cecilia masuk. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada permbicaraan terjadi selama perjalanan menuju kediaman Adi jaya.
Sesekali Cecilia melirik ke arah Rangga yang nampak lelah. Pekerjaannya makin berat setelah semua tanggung jawab diserahkan padanya.
Empat puluh lima menit mereka berdua berkendara, dan sampailah ditujuan. Rangga lebih dulu turun lalu membukakan pintu untuk Cecilia.
"Terima kasih..." ucap Cecilia diikuti senyum manisnya.
"Ayo masuk, kamu pasti lelah 'kan?"
"Tidak. Justru kamu kan yang kelihatan lelah."
Mereka memasuki rumah, namun terjadi keanehan disana. Rumah terasa sepi. Bagai tak berpenghuni.
"Shei... Papa... Mama... Bu Siti..." Rangga memanggil nama semua orang.
Namun tak ada jawaban.
"Pada kemana sih orang-orang?" Rangga menggerutu.
"Coba aku cek ke belakang." Cecilia mengitari rumah.
__ADS_1
Begitupun Rangga, namun masih tak menemui seorangpun di rumah itu. Aneh sekali. Pikir Rangga.
Tiba-tiba ponsel Rangga berbunyi. Sebuah pesan masuk. Dari Sheila.
"Happy honeymoon buat Kakakku terganteng dan Kakak ipar cantik. Kalian mendapat paket istimewa selama satu minggu dengan fasilitas super lengkap. Silahkan lihat ke gazebo belakang dan kolam renang. Manfaatkan waktu kalian bersama, dan jangan lupa, berikan aku keponakan yang lucu-lucu."
"Ranggaaaa!!! Cepat kemari!!!" Teriak Cecilia.
Rangga bergegas berlari ke tempat Cecilia yang berada di taman belakang.
Rangga terkejut karena taman belakang rumahnya sudah berubah menjadi sebuah taman bernuansa romantis. Sudah tersedia meja makan yang dihiasi lilin yang lengkap dengan makanan diatasnya. Kolam renang di rumahnya juga sudah di sulap ala-ala pantai di Hawaii.
Cecilia tak talah terkejut, ia mendapati bak dirinya berada di surga ketika melihat kamarnya bersama Rangga sudah dipenuhi bunga mawar yang wangi semerbak. Tempat tidurnya berubah seperti tempat tidur para putri raja yang indah dan bernuansa emas.
Rangga mengikuti Cecil di belakangnya. Masalah bulan madunya kini sudah terselesaikan. Mereka tak perlu harus jauh-jauh pergi ke luar kota ataupun luar negeri. Hanya di rumah saja, itu bagaikam surga untuk mereka berdua.
Rangga memeluk pinggang Cecil dari belakang. Sambil berbisik mesra,
"Apa yang akan kita lakukan lebih dulu?"
Cecilia gugup dengan perlakuan Rangga.
"Ki-kita... akan makan dulu. Aku lapar..."
Cecilia meninggalkan Rangga dan bergegas menuju meja makan yang tadi sudah disiapkan. Rangga terkekeh melihat tingkah Cecilia.
Usai makan malam, Rangga mengajak Cecilia berenang. Awalnya Cecil menolak karena sudah malam hari. Tapi Rangga terus memaksanya hingga akhirnya Cecilpun mau.
Mereka berenang bersama. Menikmati malam dibawah sinar bulan. Dalam temaram cahaya, Rangga membelai rambut Cecilia yang terurai basah. Mengelus pipinya dengan lembut. Kemudian menciumnya.
"Rangga...." Cecilia tersipu malu.
"Kenapa? Ini 'kan bukan pertama kalinya."
"Aku tahu, tapi... rasanya seperti yang pertama ketika bersamamu..." Cecil tertunduk malu.
Rangga mengangkat dagu Cecilia. "Kamu cantik, kenapa harus malu?"
Rangga mengecup bibir Cecilia dengan lembut. Membuat Cecil serasa melayang dengan belaian lembut bibir Rangga. Cecilpun membalas ciuman Rangga.
Keluar dari kolam renang, Rangga menggendong Cecil ala bridal style menuju kamar mereka. Merebahkan tubuh Cecilia ke atas ranjang.
Rangga menahan bobot tubuhnya dengan tangan agar tak menindih tubuh Cecil. "Kamu siap?"
Cecilia mengangguk dan tersenyum sangat manis, meskipun dalam hatinya ia sangat gugup.
Rangga membaca do'a terlebih dahulu kemudian mencium puncak kepala Cecilia. Turun kebawah, hidung, pipinya, lalu bibir merah Cecilia. Cecilia memejamkan matanya sambil menikmati sentuhan dari Rangga yang seakan membawanya ke surga.
Rangga meminta ijin pada Cecil untuk melakukan penyatuan mereka.
Dan malam ini berakhir dengan bersatunya dua sejoli yang sekarang tertidur lelap tertutup selimut. Rangga memeluk Cecil dalam tidurnya.
.
.
.
Esok hari, Cecilia menuju dapur untuk membuat sarapan. Untuk pertama kalinya ia turun ke dapur tanpa memakai hijab, karena memang tak ada orang lain lagi selain mereka berdua.
Rangga menuju dapur juga dan langsung memeluk pinggang Cecil, ini adalah favoritnya setelah mereka menikah. Karena menurut Rangga, saat memeluk dari belakang, ia merasakan aroma tubuh Cecil yang seakan itu adalah miliknya seutuhnya.
"Jangan ganggu, aku sedang memasak." Ucap Cecil galak.
Rangga bergeming dan tetap menciumi leher jenjang Cecil dan menyibak rambutnya yang masih basah. Rangga memberi tanda merah di leher itu.
Cecil mencubit tangan Rangga yang melingkar di tubuhnya.
"Berhenti, atau kita tidak akan sarapan!"
"Tidak, aku tidak akan berhenti!"
"Rangga!!!" Cecil mulai kesal.
"Aku mau sarapan yang lain dulu." Rangga membalik tubuh Cecil, dan langsung menyambar bibir Cecil. Menciumnya dengan lembut dan mendapat balasan yang sama dari Cecil.
Cecil masih memakai baju handuk dan Rangga hanya melilitkan handuk dipinggangnya, membuat mereka akhirnya kembali melakukan pergelutan panas seperti semalam sekali lagi.
...💖💖💖...
...Finally, this is the ending of 99 Cinta Untukmu,...
...Thank you so much for appreciating my work....
...See you in another story......
...Love you so much...
...Muah muah muah muah muah...
...-pinkanmiliar-...
...2021...
__ADS_1