
Haloπππ welcome back to season 3. Dont forget to leave Like π and Comments π
...*Happy Reading*...
Cecilia tak lagi melihat punggung Rangga yang ternyata sudah jauh dari jangkauannya. Cecil hanya bisa menangis menatap kepergian suaminya itu. Ia merasa sangat bersalah karena sudah mengacaukan bulan madu mereka.
Cecil berjalan gontai menuju apartemen Rangga. Cecil berharap jika Rangga telah tiba di apartemennya. Namun ternyata tidak. Apartemen itu terasa sepi dan sunyi. Tak ada tanda-tanda seseorang disana.
Cecil duduk di sofa lama menunggu kedatangan Rangga. Namun hingga malam tiba, Rangga tak jua datang. Cecil membersihkan diri lalu menuju dapur untuk memasak makan malam.
Ia memasak makanan kesukaan Rangga. Cecil menunggu Rangga di meja makan. Namun tetap yang di tunggunya tak jua muncul.
Cecil kembali merutuki dirinya dan menangis. Bagaimana bisa ia memikirkan pria lain di hari bulan madunya bersama Rangga? Karena lelah menangis, Cecil tertidur di meja makan dengan beralaskan tangan sebagai bantal.
Keesokan paginya, bunyi kunci apartemen terbuka, dan Rangga masuk ke dalam apartemennya. Ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan istrinya. Ia melihat istrinya tengah tertidur di meja makan. Rangga hanya berlalu dan segera menuju kamar mandi.
Mendengar ada suara gemericik air, Cecil terbangun dari tidurnya dan mengerjapkan mata beberapa kali.
"Itu pasti Rangga!" batin Cecil.
Dengan terburu-buru ia segera kembali ke dapur dan memasak sarapan sederhana. Ia hanya membuat roti lapis dan segelas susu hangat untuk menemani sarapan mereka.
Rangga keluar dari kamar mandi, dengan sudah rapi lalu menuju meja rias untuk menyisir rambutnya.
"Mas, sarapan dulu yuk!" ajak Cecil dengan mengembangkan senyumnya.
Rangga tak menggubris ajakan Cecil namun ia tetap berjalan ke meja makan. Mereka duduk berhadapan. Rangga segera mengambil roti lapis dan ia suapkan ke mulutnya.
"Mas... Aku... Aku benar-benar minta maaf. Aku...sangat menyesal, Mas. Tolong jangan pergi lagi! Aku tidak sanggup melihatmu pergi..." Air mata Cecil tak mampu lagi ia bendung.
__ADS_1
Ia menangis sesenggukan dengan menunduk. Rangga merasa tak tega melihat istrinya menangis seperti itu.
Rangga mendekati Cecil dan mengangkat dagu Cecil agar mata mereka bertemu. Rangga melihat air mata yang menggenang di mata wanita yang ia cintai. Rangga menghapus air mata Cecil dengan jarinya.
"Jangan menangis. Aku juga minta maaf sudah meninggalkanmu kemarin."
Tangis Cecil makin kencang. Rangga membawa Cecil dalam pelukannya. Ia mendekap erat wanita yang selalu terlihat rapuh di matanya. Ia tak pernah sanggup melihat Cecil menangis.
"Sudah jangan menangis lagi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
Cecil menghapus sisa-sisa air matanya dengan tangan. "Mas... Maafkan aku..."
"Ssssttt!!!" Rangga mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Cecil. "Jangan bicara lagi! Aku tidak marah padamu. Aku hanya marah pada diriku sendiri. Aku lah yang sudah merusak momen bulan madu kita. Sekarang jangan menyalahkan dirimu lagi. Ya?"
Cecil mengangguk. Rangga tersenyum melihat istrinya sudah bisa tersenyum lagi. Rangga mengusap lembut pipi Cecil yang memerah.
"Heh?! Apa maksudmu, Mas?"
Rangga mulai gemas dengan sikap istrinya yang kadang terlalu polos, kadang juga terlalu beringas, hihi.
Tak mau menyia-nyiakan momen lagi, Rangga segera menggiring Cecil menuju tempat tidur. Ia sudah berjanji akan mencetak gol sebanyak-banyaknya selama bulan madu mereka, haha.
Cecil yang juga merindukan suaminya, menyambut baik sikap Rangga yang tanpa basa basi langsung menerkamnya dan membuat pagi ini di penuhi dengan suara desahan dari kedua insan yang sedang di mabuk cinta. Sepertinya hari ini mereka akan tinggal di apartemen saja dan tak pergi kemanapun. Cukup pergi ke pulau kapuk yang di penuhi erangan kenikmatan disana, hehe.
.
.
.
__ADS_1
.
Sementara itu di Indonesia, Alvian beberapa kali berkunjung ke kafe milik Cecilia. Namun ia tak pernah melihat sosok wanita yang ia cari. Ingin rasanya ia bertanya pada karyawan kafe, namun tak pernah ia tanyakan karena tentu saja ia merasa tak pantas mencari mantan istrinya itu.
Karena terlalu sering datang ke kafe untuk sekedar membeli roti lapis, beberapa karyawan sempat menyadari sosok Alvian yang beberapa tahun ini menghilang dari layar kaca ataupun politik.
Rani yang memang pernah mengenal Alvian pun, menyadari jika pelanggan yang sering datang itu adalah mantan suami Cecilia.
"Pak Alvian!" panggil Rani.
Alvian menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Rani. Alvian nampak mengerutkan dahinya.
"Ada apa ya?" tanya Alvian.
"Saya Rani, Pak. Apa bapak masih ingat dengan saya? Dulu saya pernah bekerja di AJ Foods bersama Bu Cecil."
"Oh, iya. Jadi, sekarang kau bekerja disini?"
"Iya, Pak."
"Ummm, lalu Cecilia? Apa dia sering datang kemari?"
"Setiap hari Bu Cecil datang kesini. Tapi karena sekarang Bu Cecil sedang pergi ke luar negeri bersama suaminya."
"Oh, begitu ya." Setelah sedikit berbincang dengan Rani, Alvian pun berpamitan pada Rani.
Alvian menghela nafas lalu melajukan mobilnya meninggalkan area kafe milik Cecilia.
#bersambung...
__ADS_1