
...💟💟💟...
"Papa dan Mama kenapa tidak menghubungiku lebih dulu kalau mau datang kesini? Lalu dapat dari mana alamat aku?" Ismail langsung mencecar orang tuanya dengan berbagai pertanyaan.
"Kamu ini!!! Orang tua datang menjenguk bukannya senang, malah bertanya macam-macam. Kamu sudah berapa bulan tidak pulang, huh? Kamu bikin Mama khawatir. Makanya, Mama ajak Papa buat jenguk kamu kesini," jelas Mama Ismail.
"Kami tahu alamat kamu dari Romi. Teman kamu," tambah Papa.
"Jadi... Gara-gara gadis tadi kamu tidak pernah pulang?" goda Mama.
"Apaan sih Ma? Ini tidak seperti yang Mama pikir. Aku dan Cecil tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya berteman."
"Ckckck, berapa usiamu, huh? Masih mau bohong pada Mamamu. Sudah sangat jelas kalau kamu menyukainya."
"Benarkah, Ma? Apa sangat jelas kalau putra kita menyukai dia?" Tanya Papa berbinar.
"Tentu saja. Anak kita sampai rela menjemput pujaan hatinya dan jadi supir pribadi, dan malah meninggalkan mobilnya di kantor. Itu apa kalau bukan cinta, Pa?"
"Tidak, tidak. Ini tidak seperti yang Mama kira. Mama jangan sembarangan bicara. Aku dan Cecil hanya berteman. Titik." raut muka Ismail sudah memerah saat ini.
"Kamu masih malu mengakui perasaanmu? Apa mau Mama bantu?"
"Hah? Bantu? Bantu apaan sih Ma? Sudah ya, ini sudah malam. Sebaiknya Mama dan Papa istirahat dulu. Pakai kamarku saja. Biar nanti aku tidur di sofa. Sekarang aku mau pergi ke kantor dulu. Aku akan mengecek pekerjaanku sekalian mengambil mobil. Aku pergi dulu ya."
Mama dan Papa tertawa geli melihat tingkah putra mereka yang wajahnya sudah bersemu merah seperti kepiting rebus.
...***...
Keesokan harinya,
"Lho? Ibu? Bukankah ibu masih tak enak badan, kenapa masih pagi sudah menyiapkan sarapan?"
"Orang tua Ismail sedang berkunjung. Tidak enak kalau ibu tidak menyambut mereka dengan baik. Selama ini kita sudah banyak merepotkan putra mereka."
Cecilia hanya mengernyitkan dahinya. "Lalu ibu akan mengundang mereka untuk sarapan bersama disini?"
"Tidak. Kau antarkan saja sarapan ini ke rumah Ismail. Oh ya, hari ini ibu tidak ke toko. Ibu ada janji dengan teman-teman ibu untuk bertemu. Kau bisa 'kan jaga toko?"
"Ibu 'kan masih tak enak badan, kenapa malah mau pergi?"
"Ibu hanya terlalu stres, bukan sakit parah. Tidak perlu khawatir. Dan nanti, minta tolong suruh orang untuk bawakan beberapa produk terbaik kita untuk orang tua Ismail."
"Iya, Bu. Baiklah. Aku akan menjaga toko dengan baik."
"Jangan membuat ibumu cemas seperti kemarin."
"Iya, bu. Jangan khawatir."
...***...
"Senang sekali rasanya setiap hari ada yang mengirimkan sarapan untukmu. Kamu sudah menjadi bagian keluarga mereka ya?" Ucap Mama menggoda Ismail.
"Bukan begitu, Ma. Ibu yang memintaku agar makan di rumahnya setiap hari."
__ADS_1
"Hmm begitu. Kamu bahkan memanggilnya dengan sebutan 'ibu'. Pa, putra kita sepertinya sudah siap menikah."
"Mama ... Jangan menggodaku terus. Sudah ah, aku harus berangkat ke kantor. Kabari aku kalau kalian mau kembali ke Bandung. Aku akan mengantar kalian. Mobilku aku tinggal di rumah, siapa tahu Papa dan Mama ingin berkeliling Jakarta. Aku pergi dulu, Ma, Pa. Assalamu'alaikum." Ismail mencium punggung tangan Mama dan Papanya.
"Mama rasa kita harus membantu putra kita, Pa. Dia sangat pemalu, tapi hatinya baik."
"Papa rasa juga begitu. Dan gadis itu, sepertinya gadis baik."
...***...
"Lho, Ibu Maria, mau pergi ya?"
"Iya. Ada janji dengan teman. Kalian juga mau pergi?"
"Aah sebenarnya... Kami mau ke rumah Ibu. Tapi... Karena ibu mau pergi, jadi..."
"Eh? Mau ke rumah? Oh kalau begitu mari silahkan masuk. Kalian sudah jauh-jauh datang kemari. Ayo masuk!"
Mama dan Papa Ismail saling melempar pandang. Mereka akhirnya masuk ke rumah ibu Maria. Dan ia pun membatalkan acara bersama teman-temannya.
"Maaf ya bu, kami jadi mengganggu acara ibu."
"Tidak apa. Bisa diganti lain hari."
"Umm begini. Kedatangan kami kemari, karena ingin menyampaikan sesuatu pada ibu," ucap Mama Ismail penuh hati-hati.
"Sesuatu? Apa itu?" Jawab Maria penuh tanya.
"Eh? Me-melamar..?!"
Mata Maria terbelalak mendengar pernyataan dari orang tua Ismail.
...***...
"Lho? Ibu sudah dirumah? Kupikir masih bersama teman-teman ibu..." ucap Cecil ketika mendapati ibunya sudah ada dirumah.
"Ibu tidak jadi pergi..." jawab Maria datar.
"Kenapa? Ibu masih tak enak badan?"
Cecilia mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air, lalu duduk berhadapan dengan ibunya di meja makan.
"Tadi orang tua Ismail datang kesini."
"Oh ya? Lalu?" Cecilia meneguk air dalam gelasnya.
"Mereka ingin melamar kau untuk Ismail..."
"Uhukk... Uhuuukk..." Cecilia tersedak.
"A-apa?? Melamarku? Lalu, apa jawaban Ibu?" Tanya Cecil penasaran.
"Tentu saja ibu tolak!"
__ADS_1
"Eh? Ditolak?"
"Tentu saja ibu tolak! Apa kau mau ibu menerimanya, huh?"
"Ti-tidak, bukan begitu."
"Dari awal dia datang kemari, ibu sudah merasa ada yang aneh. Pasti ada sesuatu dengannya. Ternyata dugaan ibu benar. Dia pindah kemari karena dia punya perasaan padamu. Tapi ..."
"Tapi apa bu?"
"Tapi dia tidak layak mendapatkanmu..."
"Ibu....?"
"Dia pantas mendapatkan yang lebih baik darimu. Kau tahu itu 'kan? Dia lelaki yang cemerlang. Dia harus mendapatkan gadis yang cemerlang juga."
Cecilia mengangguk. Lalu terdiam. Dan suasanapun jadi hening. Cecil meneguk habis semua air di gelas. Dan meletakkan gelasnya di meja. Kemudian menatap jauh ke depan.
.
.
.
-Beberapa Jam yang Lalu-
"Kami ingin melamar putri ibu, Cecilia, untuk putra kami, Ismail."
"Eh? Me-melamar?"
"Maaf kalau terkesan mendadak. Tapi... Kami lihat putra kami dan putri ibu sudah saling dekat satu sama lain. Jadi... Apa salahnya kalau mereka disatukan dalam ikatan pernikahan. Bagaimana menurut ibu?"
"Jujur ini sangat mengejutkan untuk saya. Sebelumnya saya minta maaf apabila jawaban saya kurang berkenan di hati bapak dan ibu. Saya sudah menganggap Ismail seperti putra saya sendiri. Jadi... Saya tidak bisa menerima lamaran ini..."
"Eh? Kenapa tidak bisa, bu? Bukankah bagus karena putra kami sudah seperti putra ibu sendiri."
"Putra kalian, adalah lelaki cemerlang. Dia pantas mendapatkan gadis yang lebih baik dari putri saya. Cecilia... Sudah pernah menikah sebelumnya, lalu kemudian berpisah. Dia tidak pantas bersanding dengan Ismail. Jadi, saya benar-benar minta maaf, saya tidak bisa menerima lamaran ini..."
"............"
kedua orang tua Ismail tak mampu berkata-kata lagi. Mereka benar-benar merasa malu.
"Tapi kalian tenang saja. Saya akan menjaga putra kalian dengan baik. Dia tetap jadi putra saya yang berharga."
...💟💟💟...
bersambung,,,,
sengaja di potong2 ya scenenya, hehehe.
Dont forget to leave like,comment. and love 😘
thank you
__ADS_1