
...Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta...
...Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you....
...*Happy Reading*...
Aku berjalan lunglai menuju rumahku. Selama perjalanan menuju rumah, banyak hal yang kupikirkan. Terutama adalah saat melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Ros. Tentu saja dia sangat terkejut. Karena secara tiba-tiba aku memintanya untuk menikah dengan Rangga.
Mungkin dia berpikir, mana ada seorang istri meminta wanita lain untuk menikahi suaminya? Tentu saja tidak pernah terpikirkan olehku akan melakukan hal ini.
Apa aku bodoh? Atau mungkin aku sudah tidak waras? Mungkin beberapa orang akan menganggapku begitu.
Bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengatakan hal ini pada Rangga. Tapi aku sudah lebih dulu bicara pada Ros. Apa mungkin aku salah langkah?
Mungkin saja. Kenapa sekarang rasanya sakit?
Apa yang sebenarnya kau lakukan, Cecil? Salah satu bagian dari diriku mengatakan hal itu. Namun bagian lainnya juga mendukungku. Benar, Cecil. Ini adalah untuk kebaikan bersama. Untuk keluarga besar kalian berdua.
Aku terduduk di tepi tempat tidur. Ada sedikit kelegaan dalam hatiku. Namun ada juga rasa penyesalan disana.
Aku meringkuk di atas tempat tidur dan menangis disana. Tangisan pilu seorang istri yang lagi-lagi harus mengorbankan hatinya.
Apakah aku harus egois? Tidak! Aku tidak bisa bersikap egois. Aku memikirkan kebahagiaan banyak orang. Bisakah ada seseorang yang mengerti?
.
.
.
.
Sementara itu, Rosida masih bergeming di atas sajadahnya. Ia yang baru saja menunaikan shalat malam kembali termenung kala mengingat permintaan Cecil padanya.
__ADS_1
Ros tidak memberikan jawaban. Lebih tepatnya belum. Masih banyak yang ia pikirkan. Memang benar ia mengagumi sosok Rangga, kakak tirinya. Tapi bukan berarti dirinya ingin memiliki Rangga.
Atau bisa dibilang begitu? Bukankah ada pepatah mengatakan, awalnya dari rasa kagum, lalu tumbuh menjadi suka, lalu kelamaan menjadi cinta.
"Astaghfirullahaladzim, apa sih yang aku pikirkan? Mas Rangga adalah kakakku. Kenapa aku berpikiran jauh begitu?" Ros menggeleng cepat. Ia tak mau rasa kagumnya pada Rangga berubah menjadi suka atau cinta.
Ia tak mau menyakiti hati Cecilia. Namun permintaan ini juga Cecil sendiri yang mengatakannya.
"Ya Allah, hatiku begitu dilema. Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa menghadapi Umi dan Abah nantinya..." Ros menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
.
.
Keesokan harinya, Isma dan Farid datang menemui Rosida. Farid meminta Ros untuk sementara waktu tinggal bersama mereka saja.
Rasanya Ros sudah tahu apa alasan Abahnya meminta untuk tinggal bersama. Kini mereka bertiga duduk berhadapan di rumah pondok komplek Masjid Al Iman.
"Jadi, Umi dan Abah sudah tahu?" tanya Ros.
"Belum, Abah."
"Apa yang akan kamu lakukan, Ros?" tanya Farid lagi.
"Ros sudah memikirkan semua dengan matang, Umi, Abah." Ros menatap Isma dan Farid bergantian.
Isma menatap Ros dengan harap-harap cemas. "Semoga kamu mengambil keputusan yang tepat, Nak."
"Ros akan menyetujui permintaan Mbak Cecil..."
"A-apa? Apa yang kamu bicarakan, Ros?" Farid heran dengan pemikiran putrinya itu.
"Ros..." Isma menatap Ros dengan sendu.
__ADS_1
"Ros menyukai Mas Rangga..."
"Apa?! Rangga adalah kakakmu, Nduk..." ucap Farid.
"Hanya kakak tiri, Abah. Bukan kakak kandung. Ros tahu ini mengejutkan untuk Umi dan Abah. Tapi... Ros sendiri tidak tahu kapan rasa itu mulai tumbuh. Awalnya Ros hanya mengagumi Mas Rangga. Tapi... Lam kelamaan rasa itu muncul. Ros perempuan normal, Umi, mana mungkin Ros tidak menyukai Mas Rangga." Ros mulai menitikkan air mata.
Isma memegangi dadanya. Ia tidak percaya dengan jawaban putri tirinya itu.
"Sudahlah. Lagi pula Khumaira juga belum bicara apapun pada Rangga. Kita akan tunggu hingga Khumaira yang meminta pendapat kita. Dan kamu, Ros. Sebaiknya kamu keluar dari pekerjaan ini. Ternyata keputusan abah sudah salah dengan mengirimmu kemari."
"Abah!!!" Teriak Ros.
"Ros, jangan berteriak pada Abahmu." lerai Isma.
"Besok kamu berkemas dan ikut abah kembali ke Jogja."
"Apa? Tidak, Abah."
"Jangan membantah! Abah akan cari alasan yang bagus untuk bicara dengan Rangga."
Farid pun meninggalkan Isma dan Ros yang masih duduk di sofa ruang tamu. Isma merasa iba dengan Ros. Isma mendekati Ros.
"Nduk, jangan marah pada Abahmu. Abah hanya ingin yang terbaik untukmu." Isma mengusap punggung Ros yang bergetar karena tangisannya.
"Apa salahnya jatuh cinta, Umi? Apa Ros bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa? Ros juga tidak tahu jika rasa itu ternyata untuk kakak tiri Ros sendiri. Maafkan Ros, Umi..." Ros memeluk Isma.
Isma hanya bisa menghela nafas dengan semua cerita putrinya itu.
"Khumaira... Entah apakah ini memang jalan yang terbaik atau bukan. Umi mohon kamu mengambil cara terbaik untuk menyelesaikannya." batin Isma.
#bersambung...
"Orang-orang mungkin tidak akan mengerti...
__ADS_1
Hati yang kupenggal ini hanya untuk membahagiakanmu..."
-99 cinta untukmu-