
Cecilia terbangun di pagi hari dan langsung membersihkan dirinya. Usai bersiap, Cecil menuju dapur dan melihat sosok yang amat ia rindukan. Sudah satu minggu Rangga berada di Jogja karena urusan pekerjaan.
Namun pagi ini rasanya hati Cecil amat berbunga karena mendapati suaminya sudah ada di dirumah.
"Mas Rangga?!" teriak Cecil dan langsung berlari memeluk Rangga.
Rangga tertawa dan membalas pelukan istrinya.
"Mas kapan pulang? Kenapa tidak mengabariku?"
"Semalam. Kau sudah tidur. Jadi aku tidak tega membangunkanmu."
"Aku merindukanmu, Mas..." Entah kenapa mereka melupakan masalah mereka beberapa hari lalu. Rangga juga sudah bersikap hangat pada Cecil seperti biasa.
"Aku juga merindukanmu..." Balas Rangga kemudian mengecup bibir istrinya.
"Duduklah. Aku membuatkan sarapan untuk kita."
Cecil mengernyit. "Harusnya aku yang membuat sarapan, Mas."
"Tidak apa. Aku juga terbiasa."
Cecilia makin mengernyit karena sarapan yang dimasak Rangga bukanlah menu makanan biasa.
"Mas?"
Rangga sepertinya tahu apa yang jadi pertanyaan istrinya. "Mulai sekarang kita akan memakan makanan yang sehat saja. Aku akan mengatur menunya."
"Kenapa tiba-tiba?"
"Aku sudah lama merencanakan ini, tapi baru bisa terwujud hari ini. Kita akan memulai gaya hidup sehat mulai hari ini. Bagaimana?" alasan Rangga.
"Hmm, aku setuju..." Cecil menyunggingkan senyum lalu menyantap sarapannya.
__ADS_1
Rangga menatap wanita yang amat ia cintai itu. Ia teringat akan perkataan dokter Oki saat dirinya memeriksakan diri ke klinik.
"Hasil tes istri Anda sudah 10 tahun lalu. Kita tidak tahu seperti apa kondisi istri anda sekarang. Beliau harus melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui tingkat kesuburannya sekarang. Ada kemungkinan jika semua bisa berubah asal kalian memulai gaya hidup sehat. Dan juga tetap berusaha dan berdoa. Karena sesungguhnya semua hal itu terjadi atas kehendak Tuhan."
Lama memandangi Cecil, Rangga pun ikut menyantap makanan di depannya.
.
.
Cecil terus menyunggingkan senyumnya mengingat kebersamaannya bersama Rangga. Ia memandangi bekal makan siang yang Rangga buatkan untuknya.
Cecil tidak akan bertanya lebih banyak apa yang menyebabkan Rangga berubah sikapnya pada Cecil. Ia ingin melupakan masalah mereka kemarin dan membuka lembaran baru.
Pintu ruangan Cecil di ketuk dan munculah Rani dari balik pintu.
"Maaf, bu, saya mau minta tolong apa ibu bisa menggantikan Sita untuk menjaga kasir? Ia terlihat sedang tidak sehat dan ijin pulang." ucap Rani dengan sopan.
"Terima kasih, Bu."
Cecil keluar dari ruangannya dan berjalan kearah meja kasir. Ia melayani pelanggan dengan ramah dan selalu tersenyum.
Seorang pria nampak memasuki area kafe. Ia mengedarkan pandangan mencari seseorang yang sudah belasan tahun tak dilihatnya.
Matanya tertuju pada meja kasir yang cukup ramai karena antrian pembeli yang akan membayar cake mereka. Dilihatnya si penjaga kasir amat ramah melayani pembeli. Membuatnya tersenyum kagum pada kasir cantik tersebut.
Pria yang tak lain adalah Archan itu menatap intens pada wajah cantik Cecil yang selalu mengembangkan senyumnya. Sementara yang ditatap sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya. Malah orang lain yang menyadari tingkah Archan tersebut.
Memang tidaklah salah sejak dulu aku mengagumimu, Cecilia. Kini kau menjelma menjadi wanita sholehah yang amat cantik dan anggun. Sayang sekali kau sudah kembali menikah...
"Mbak Rani, lihat tuh! Pria itu sejak masuk tadi hanya menatap bu Cecil tanpa memilih roti. Sebenarnya dia kemari ingin menatap Bu Cecil atau mau membeli roti sih?" ucap Ita.
"Iya. Bahkan dia tidak berkedip menatap bu bos kita. Yah wajar sih, Bu bos masih sangat cantik meski usianya sudah kepala 3. Sana sebaiknya kau tegur dia sebelum matanya kebablasan. Bagaimanapun bu bos itu wanita bersuami." sahut Rani.
__ADS_1
Ita mengangguk dan akan menegur Archan. Namun dengan sigap Archan menyadari jika dirinya akan ditegur dan langsung menuju ke etalase roti dan memilih beberapa roti.
Sampai di meja kasir, nampaknya Cecil tidak menyadari jika Archan adalah teman SMA nya dulu. Pastinya ia tidak ingat karena sudah belasan tahun tidak bertemu.
"Selamat siang, silahkan!" sapa Cecil ramah.
Archan menyerahkan beberapa roti untuk dibayar. " Apa kabar, Cecilia?"
"Eh?!" Cecil menatap aneh ada pria didepannya.
"Saya baik, Alhamdulillah." jawab Cecil datar.
"Kau tidak mengingatku?"
"Eh?!"
"Aku teman lamamu..."
Cecil mengerutkan dahinya mencoba mengingat siapa pria di depannya.
"Kau..." Cecilia masih tidak bisa mengingatnya.
"Apa visi dan misi sekolah kita? Bla bla bla bla..." Archan melakukan pidato seperti saat dulu ia berpidato didepan teman-temannya semasa SMA dulu.
"Astaghfirullah!!! Ketua osis!!!" seru Cecil.
Archan tertawa karena Cecil masih mengingatnya. Cecil pun ikut tertawa karena berhasil mengenali teman lamanya itu.
.
.
#bersambung...
__ADS_1