99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Menemukan Ditemukan


__ADS_3

...💟💟💟...


"Ini dia, Cil. Konsep yang aku tawarkan untuk kafemu. Silahkan kamu lihat dulu garis besarnya. Karena luas tanahnya masih agak luas, jadi akan kubuat kafe berada ditengah saja. Lalu untuk sebelah kanan, akan digunakan sebagai lahan parkir para pengunjung. Bagaimana menurut kamu?"


"Bagus. Aku suka. Aku percayakan semua kepadamu."


"Benarkah? Syukurlah jika kamu menyukainya."


"Kira-kira butuh berapa lama untuk membangunnya?"


"Mmm, sekitar satu sampai dua minggu lah. Tenang saja, aku punya tim yang hebat. Jadi kamu pasti puas dengan hasilnya."


"Serius? Aku serahkan semua padamu. Oh ya, bagaimana kabar Nadine?"


"Nadine? Dia baik-baik saja. Dia sedang mempelajari bisnis Papanya. Dan memutuskan akan melanjutkan bisnis keluarganya."


"Benarkah?"


Raditya mengangguk.


"Aku ikut senang mendengarnya."


"Umm, Cil. Aku boleh bertanya sesuatu?"


"Soal apa?"


"Soal hubunganmu dan polisi itu..." Radit menggaruk tengkuknya.


"Maksud kamu Ismail?"


"Hehe, iya. Apa benar kamu punya hubungan dengannya? Maksudku semacam... Hubungan asmara?"


Cecilia tersedak saat sedang meminum tehnya. "Apa? Hubungan asmara? Aku dan Ismail? Tidak, Dit. Kami hanya berteman saja."


"Benarkah kalian hanya berteman? Tapi kelihatannya... Kalian lebih dari teman."


"Dia seperti seorang putra untuk ibuku. Jadi kami memang dekat. Tapi... Hanya sebatas itu saja."


"Ooh begitu..." Radit tersenyum penuh arti sambil menyesap kopinya. Ia bernafas lega. Mulai sekarang dia akan mendekati Cecil dari awal. Dia tidak akan menyerah dengan mudah.


...***...


"Tumben kamu jam segini ada di kantor? Biasanya keluyuran tidak jelas," ujar Rangga saat menyambangi kantor Radit.


"Eits, jangan salah. Aku baru bertemu dengan klien penting disini. Sayang sekali kamu datang terlambat."


"Klien penting?" Rangga mengernyit.


"Klien ini spesial pakai telor. Dia adalah Cecilia..."


Rangga terkejut mendengar ucapan Radit. Namun menjaga diri untuk tetap tenang meski agak syok mendengar nama Cecilia.


"Aku sudah pernah bilang padamu, jika aku pasti akan menemukan Cecilia. Terbukti 'kan sekarang, Cecil sudah kembali. Memang sih, bukan aku yang berhasil membuatnya kembali. Tapi paling tidak, usahaku tak terbuang dengan sia-sia."


Rangga memang sudah mengetahui perihal kembalinya Cecilia. Namun ia tak berniat untuk menemuinya.


Rangga tak menanggapi setiap ocehan yang keluar dari mulut Radit. Sedari tadi ia hanya bercerita tentang Cecilia. Cecilia beginilah, Cecilia begitulah.


"Sekarang kamu percaya 'kan, jika aku ahli dalam berbagai bidang. Jangan lagi meremehkanku. Paham kau?!"


"Iya iya. Aku mengerti. Tidak perlu berteriak."


Hati Rangga masih terasa sesak saat mendengar nama Cecilia. Wanita yang pernah mengisi hari-harinya.


Wanita yang pernah jadi sumber kebahagiaannya, tapi juga jadi puncak kehancurannya. Dialah Cecilia.

__ADS_1


Wanita yang sudah meninggalkannya tanpa ada sepatah katapun darinya sebagai salam perpisahan.


Wanita itu kini kembali. Apakah ia akan memaafkannya? Rangga mengepalkan kedua tangannya.


...***...


"Halo, Nak Ismail..."


"Ada apa, Bu?"


"Maaf jika ibu meminta tolong padamu lagi. Cecilia...."


"Ada apa dengan Cecilia?" Suara Ismail panik.


"Dia sudah pergi sejak siang tadi, tapi... Belum ada kabar tentangnya. Apa kamu... Bisa mencarinya?"


"Baiklah. Aku akan mencarinya. Ibu tenang saja dan jangan khawatir."


"Terima kasih, Nak Ismail."


Ismail menutup panggilan telepon bersama Maria.


Ada apa lagi ini?


Ismail memijat keningnya pelan. Ia membuka ponselnya dan melacak keberadaan Cecilia.


Mobilnya berhenti di suatu tempat. Ismail segera menuju kesana sebelum Cecilia kembali pergi.


.


.


.


-Kafe Chocolatte Lovers-


Dari kejauhan, Ismail menatapnya tanpa berkedip. Ia tahu wanita diseberang sana sedang merasa gundah.


"Boleh saya temani?" Sebuah suara berhasil membuat Cecil menuntaskan lamunannya.


"Ismail? How could you find me?" Cecilia mengernyit.


"Apa kamu lupa? Mobilmu masih memiliki pelacak."


"Bukankah sudah dilepas?"


"Sejak sebulan lalu, ibu memintaku memasangnya kembali. Maaf, aku tak bermaksud..."


"Tidak apa. Ibu selalu cemas kepadaku. Aku merasa tak enak hati padanya."


"Makanya kamu jangan membuat ibu khawatir terus menerus."


"Kamu ingin minum apa?"


"Apa menu terbaik disini?"


"Akan kupesankan!"


Cecilia beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke meja kasir. Ia bertemu Indra yang nampak terkejut melihat penampilan baru Cecilia.


Setelah pesanan Ismail datang, mereka bercerita bersama dan sesekali Cecil tersenyum cerah tanpa beban.


"Sudah pukul delapan malam, sebaiknya kita pulang. Ibu pasti sudah menunggu kita," ajak Ismail.


"Ayo! Tapi kamu sudah menghubungi ibu 'kan kalau kamu sudah menemukanku?"

__ADS_1


"Iya, sudah. Aku sudah mengiriminya pesan teks."


Cecilia berjalan beriringan dengan Ismail sambil masih bercanda gurau, hingga tak sadar jika langkahnya terhenti karena menabrak seseorang. Seorang pria.


"Maaf, saya tidak sengaja..." Ucap Cecil.


"Iya, tidak apa." Suara itu tidak asing di telinga Cecilia. Cecil ingat siapa pemilik suara itu.


DEG.


Seketika kedua insan yang baru bertabrakan itu saling menatap.


"Ce-Cecilia...?" Lelaki itu menggumamkan nama wanita yang berdiri mematung didepannya.


Ditatapnya lekat-lekat sosok itu. Meski sudah bukan Cecilia yang dulu pernah dikenalnya. Namun dia tetaplah Cecilia.


"Ayo jalan, Cil..." Ismail meraih tangan Cecilia dan membawanya keluar dari kafe.


Cecilia menunduk saat melewati sosok yang pernah hadir mengisi hatinya beberapa bulan lalu. Dan bisa saja sosok itu masih singgah di hatinya.


Cecilia melepas genggaman tangan Ismail saat tiba di parkiran mobil.


"Ah ma-maaf, Cil. Aku tidak sengaja..."


Cecilia hanya tersenyum. "Ini, kunci mobilku. Kamu akan menyetir 'kan?"


"Ah iya. Tentu saja." Ismail merasa canggung.


Selama perjalanan kembali ke rumah, hanya kesunyian yang ada di antara mereka berdua.


Pikiran Ismail melayang jauh. Ia mengingat saat dulu Cecilia selalu datang padanya disaat hatinya sedang sedih. Dan sekarang, mereka selalu dekat seperti tak berjarak tapi tetap terasa jauh.


Ismail merasa hati Cecilia masih tertambat pada seseorang. Diliriknya sesekali sosok yang duduk disebelahnya. Ia melihat keluar jendela. Menatap lampu-lampu jalan yang berjejer sepanjang jalan.


Dan akhirnya sampai juga di tujuan dengan tanpa ada percakapan diantara mereka berdua.


Ismail mematikan mesin mobil. Mereka berdua masih bergeming di dalam mobil.


"Kamu ... Masih mencintainya?" tanya Ismail pada akhirnya yang memecahkan keheningan diantara mereka.


"Eh? Apa kamu bilang?" Cecilia tersadar dari lamunannya.


"Apa kamu masih mencintai Rangga?"


"Aku ... Tidak tahu. Aku sendiri yang meninggalkannya, lalu untuk apa aku harus kembali padanya. Iya 'kan?" Cecilia mulai canggung dengan percakapan ini.


Ismail tersenyum. "Istirahatlah! Kamu pasti lelah."


"Hu'um. Terima kasih sudah menemukanku."


Cecilia membuka pintu mobil dan berjalan keluar.


Kemudian Ismail mengikutinya turun dari mobil.


"Cecilia... Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan tentang perasaanmu. Dihatimu... Masih ada Rangga 'kan? Aku tahu itu," ucap Ismail dalam hati.


...💟💟💟...


bersambung lagi deeehhh,,,,


*jangan lupa tinggalkan jejak👣👣


*Lalu kemanakah Alvian beserta keluarganya???


sabar yaaa sabaaarrr, akan ada seseorang yang menjawabnya.😁😁

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya 🙏


__ADS_2