
"Silahkan kau pilih, mana yang akan kau selamatkan? Kau hanya bisa memilih salah satu dari mereka"
Suara Pak Presdir terus menggema di telinga Cecilia. Apa yang harus aku lakukan? Tanyanya dalam hati. Air matanya sudah terkucur deras. Namun selalu dengan sigap di sekanya dengan tangan.
"Kenapa bapak melakukan ini?" tanya Cecil dengan suara bergetar.
"Saya tidak melakukan apapun. Kau yang akan memilih takdir untuk mereka."
Cecil memejamkan matanya. Berusaha mencari jawaban atas apa yang akan dia lakukan. Mereka orang-orang yang ia cintai. Tidak mungkin ia menyakiti mereka semua.
Bayangan kejadian buruk yang akan menimpa mereka jika Cecil memilih salah satunya, membuatnya memutuskan untuk tidak menyakiti mereka. Lebih baik ia yang pergi.
"Baiklah, Pak. Saya akan pergi. Dari kehidupan Rangga dan juga semuanya. Tapi Anda harus berjanji, tidak akan melakukan apapun kepada mereka. Dan uang ini, saya juga tidak akan menerimanya."
Pak Presdir menyilangkan kedua tangannya. "Umm, jadi itu keputusanmu? Kau juga harus benar-benar menepati janjimu. Atau kau akan melihat mereka bertiga menderita. Hendi, jam berapa penerbangan saya?"
"Masih sekitar satu jam lagi, Pak."
"Baiklah. Sampai disini saja pertemuan kita Cecil. Terima kasih karena sudah bersikap bijak."
Pak Presdir meninggalkan Cecil yang masih terduduk lesu dengan deraian air mata.
Hendi menghampirinya. "Aku minta maaf. Karena harus begini."
Cecil menatap Hendi dengan tatapan benci.
"Jangan menatapku begitu Cecil. Dari awal harusnya kau tahu, jika Pak Presdir tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengan Rangga. Kau harus sadar diri Cecilia. Sekali lagi aku minta maaf. Selamat tinggal Cecilia."
Hendipun pergi meninggalkan Cecil. Tangis Cecil makin keras setelah dirinya sendirian tak berdaya. Dia meremas lembaran foto yang ada di tangannya. Ingin rasanya berteriak. Tapi ia tak mampu. Ia hanya bisa berpasrah atas apa yang menimpanya.
...💟...
"Bagaimana?" tanya Romi pada Ismail.
"Apanya yang bagaimana? Interogasi sudah selesai. Penyelidikan juga sudah berulang kali, dan tidak ada bukti lain selain dia pembunuhnya." Ismail memijat keningnya.
"Tapi dia bersikeras bukan dia pembunuhnya. Sepertinya dia jujur."
"Mau bagaimana lagi? Kasus akan segera disidangkan. Jika benar dia bukan pembunuhnya, semoga jaksa penuntut bisa menemukan bukti baru. Ditambah keluarga korban tidak menyetujui adanya autopsi. Akan sangat sulit membuktikan kebenaran kesaksian si tersangka."
"Umm, berkali-kali dia bilang jika korban sudah meninggal sebelum dia mencekik lehernya. Bagaimana dia bisa mengetahuinya?"
"Berapa lama kau jadi polisi? Begitu saja kau masih bingung. Apa perlu aku mencekik lehermu, huh?"
"Apa? Belakangan ini kau sangat emosional kawan. Relaks sedikit lah."
"Ah iya, omong-omong siapa jaksa penuntut untuk kasus ini?"
"Ah benar, jaksa penuntut. Kau tahu siapa? Si cantik dan jutek itu, jaksa Reisha."
"Semoga dia bisa menemukan kebenarannya. Dia terkenal sangat jujur dalam bertugas."
"Dia sangat galak, tapi sangat cantik. Dan sepertinya dia menyukaimu." Romi menggoda Ismail.
"Menyukaiku? Yang benar saja. Aku tidak akan cocok dengan wanita diktator macam dia."
"Ah benar juga. Kau tidak cocok dengannya. Dan dia bukan tipemu. Tipemu adalah wanita manis yang suka bermanja-manja padamu. Iya, 'kan?"
"Apa maksudmu?"
"Astaga! Aku sampai lupa. Ada si manis yang menunggumu di kantin."
"Hah? Siapa?"
__ADS_1
"Si Cecilia. Dia mencarimu. Sepertinya dia sedang bersedih atau semacamnya."
"Kenapa tidak bilang dari tadi?!"
Tanpa pikir panjang Ismail langsung berlari menuju kantin. Romi yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Katakan dulu terima kasih! Dasar bucin!"
...***...
-Kantin-
Ismail menghampiri Cecilia yang duduk sendirian. Ditemani satu gelas es teh yang sepertinya belum dia teguk sedikitpun.
"Cil ... kau mencariku? Maaf, tadi aku sedang ada interogasi kasus."
Cecilia bergeming. Dia juga tidak menjawab pertanyaan Ismail.
"Cil? Kau baik-baik saja?" Ismail melihat ada yang tidak beres dengan Cecilia.
Dengan mata yang sedikit sembab karena menangis, Cecil menatap Ismail.
"Ismail, ayo pergi dari sini!"
"Heh? Pergi kemana?"
"Kemana saja. Ajak aku pergi kemanapun yang kau inginkan."
"Eh? Tapi, Cil ... aku tidak membawa mobil hari ini. Apa kau ... ?"
"Sepeda motor? Tidak masalah. Ayo berangkat!"
Tanpa bertanya apapun lagi, Ismail mengambil sepeda motornya yang terparkir di halaman belakang kantor polisi. Kemudian memberikan helm pada Cecilia. Lalu melajukan motornya keluar kantor tanpa mempedulikan Romi yang memanggilnya dari jauh.
Sepanjang perjalanan Cecilia hanya terdiam. Ismailpun tak berani bertanya lebih dulu. Sudah jelas terjadi sesuatu padanya. Namun Ismail belum tahu pasti apa itu. Ia akan menunggu sampai Cecil menceritakannya sendiri.
"Pantai? Kau membawaku kesini?" tanya Cecil seperti tak suka.
"Kau tidak suka? Atau kita pergi ke tempat lain saja?"
"Tidak. Disini saja. Aku suka pantai. Karena memiliki banyak kenangan. Kita disini saja."
Mereka duduk bersebelahan menghadap laut. Hari sudah mulai gelap. Namun Cecilia masih diam. Dan tiba-tiba saja menyandarkan kepalanya ke bahu Ismail.
"Aku boleh bersandar, 'kan?"
"Boleh. Bukannya sudah kau lakukan. Kenapa baru bertanya?"
"Dih, kau sangat menyebalkan!"
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba datang ke kantorku?"
"Ismail, bisakah aku meminta tolong?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong jaga ibuku."
"Apa??!"
"Tidak perlu terkejut begitu. Aku hanya ... harus pergi."
"Pergi? Pergi kemana?"
__ADS_1
"Pergi untuk menyelamatkan orang-orang yang kusayangi."
"Cecil? Apa yang kau katakan?"
"Aku harus pergi, Ismail. Untuk kebaikan semuanya."
"Ini pasti karena Rangga, iya 'kan?"
"Rangga tidak bersalah. Akulah yang salah. Ismail, hanya kau orang yang aku percaya. Jadi, tolonglah aku. Aku mohon!!!"
"Huuuffftttt, baiklah. Lalu kau akan pergi kemana?"
"Itu ... Rahasia ..."
...***...
Keesokan harinya, pagi-pagi buta Cecilia meminta Ismail untuk mengantarnya ke bandara tanpa diketahui oleh ibunya. Sebelum pergi Cecilia menatap wajah ibunya yang masih terlelap.
"Ibu ... maafkan aku. Aku belum bisa jadi anak yang baik untukmu. Setiap saat aku hanya memberikan masalah untukmu. Setelah hari ini, ibu harus hidup dengan baik, ada Ismail di sisi Ibu. Dia menyayangi ibu. Dia akan menjaga Ibu. Selamat tinggal ibu. Entah kapan kita bisa bertemu kembali."
Cecil tak kuasa membendung air matanya. Ia menangis dalam diam. Sepanjang perjalanan menuju bandara, ia hanya terdiam.
Ismailpun sekali lagi tak berani menanyakan hal apapun. Tapi batinnya sangat bergejolak. Hingga akhirnya dia tidak tahan lagi dengan kebisuan ini.
"Kau yakin akan melakukan ini, Cil?" tanya Ismail saat duduk di kursi tunggu bandara.
"Iya. Kau jangan cemas. Aku tidak akan pergi untuk selamanya. Suatu saat nanti aku akan kembali kesini. Kau adalah orang pertama yang akan aku hubungi. Percayalah!"
"............." Ismail terdiam.
"Aku percaya padamu, Ismail. Jadi, kau juga harus percaya padaku. Umm, sepertinya penerbanganku sebentar lagi. Kita harus berpisah disini. Tolong jaga ibuku. Pastikan dia tidak kehilangan putranya. Dia sangat menyayangimu." Cecilia mendekat dan memeluk Ismail.
"Baiklah, Cil. Kau jangan khawatir. Aku akan menjaga ibu dengan baik. Kau sendiri juga harus hidup dengan baik."
"He'em. Terima kasih banyak Ismail. Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu. Aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi di waktu yang akan datang."
Ismail hanya menatap Cecilia yang semakin bergerak jauh darinya. Hatinya sakit melihat Cecilia pergi. Meski begitu, ia harus menghormati keputusan Cecilia. Ia sudah berjanji.
"Aku tidak akan membiarkan orang-orang yang aku sayangi terluka. Lebih baik aku yang terluka. Biarlah waktu yang akan menyembuhkan lukaku. Dengan menjauh dari semuanya, aku pasti bisa melupakan semua kenangan perlahan-lahan. Mungkin suatu saat aku akan menyesali keputusanku ini. Tapi, saat itu terjadi, semoga semua hal sudah menjadi lebih baik. Semuanya lebih bahagia.
Rangga ... maafkan aku, aku tidak bisa berada disisimu. Aku ... tidak cukup berani mengorbankan hati orang lain agar aku bisa bahagia. Semoga kau bahagia walau tanpa aku disisimu. Sekali lagi aku minta maaf."
...***...
"Pak Rangga!!! Pak Rangga!!!"
"Hana!! Kenapa kau berteriak?"
"Mas Danny, dimana Pak Rangga?"
"Pak Rangga sedang meeting dengan klien. Ada apa?"
"Ada yang harus aku sampaikan pada Pak Rangga."
"Harus sekarang?? Apa sepenting itu?"
"Iya, Mas. Ini tentang Bu Cecil!!"
"Bu Cecil? Ada apa dengannya?"
Hana menyerahkan selembar kertas kepada Danny.
"Surat pengunduran diri? Apa maksudnya ini Han? Bu Cecil mengundurkan diri dari AJ Foods?"
__ADS_1
...💟💟💟...
------bersambung-------