99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 - Bagian 26


__ADS_3

Cecilia duduk berhadapan dengan Archan, teman semasa SMA nya dulu. Bukan bermaksud apapun, Cecil hanya bersikap sopan karena Archan adalah tamu.


"Jadi... Apa yang kau lakukan di Jakarta?" tanya Cecil.


"Aku akan melamar pekerjaan di perusahaan milik Radit. Kami bertemu beberapa hari lalu saat dia ke Jogja." jawab Archan.


"Oh ya? Kau yakin akan bekerja disini? Maksudku... Kau seorang lulusan S3, harusnya kau menjadi seorang profesor dong!"


Archan tertawa renyah. Wanita di depannya ini memang memiliki pembawaan yang menyenangkan. Tak heran banyak pria yang menyukainya, bahkan mengaguminya termasuk dirinya.


"Aku hanya ingin mencari pengalaman juga."


"Apa keluargamu setuju kau pindah kemari?"


"Iya, aku sudah memberitahu Abah soal kepindahanku. Kau tahu, abah selalu protektif padaku. Padahal aku seorang pria."


"Tapi abahmu merelakanmu untuk merantau ke Mesir, itu berarti dia tidak seprotektif itu. Hanya kadang, seorang anak merasa jika orang tua terlalu berlebihan dalam bersikap." ada semburat kesedihan ketika Cecil mengatakan hal itu. Pastinya ia mengingat soal ibunya. Entah sampai kapan ia bisa berdamai dengan ibunya.


"Cil, ada apa?"


"Ah, tidak, tidak apa-apa. Silahkan dinikmati." Cecil mempersilahkan Archan untuk mencicipi cake dan tehnya.


Sepeninggal Archan, Cecil kembali berkutat dengan pekerjaannya. Sudah menjelang malam, dan pelanggan mulai ramai. Para muda mudi berdatangan untuk sekedar nongkrong atau meminum kopi.


Seorang pelanggan tetap bakery kembali datang.


"Hai, Cil..."


"Mas Alvian?" Entah kenapa senyum tulus tersungging dari bibir Cecil.


Mereka berbincang di area kafe.


"Jadi, kau sudah mendatangi klinik pengobatan itu?"


"Hu'um. Ceu Nanah orang yang baik dan ramah. Aku sangat nyaman berobat padanya."


"Kau tidak sakit, Cil. Jangan menyebutnya begitu."


Cecilia tersenyum. Apa yang dikatakan Alvian benar juga.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Mas."


"Terima kasih kembali. Lalu, apa Rangga tahu soal ini?"


"Tidak, aku belum memberitahunya. Aku masih terlalu takut. Mungkin suatu saat aku akan memberitahunya." Cecil kembali mengulas senyumnya.


"Soal pernikahan? Kau tidak akan melakukannya bukan?"


"Sepertinya tidak. Hubunganku baru saja membaik dengannya. Aku tidak mau membahas soal hal itu lagi dengannya. Kurasa dia juga sudah melupakannya."


"Syukurlah. Aku selalu berharap yang terbaik untukmu, Cil."


"Terima kasih banyak, Mas."


Tak lama berbincang, Alvian pamit undur diri. Ia harus segera pulang. Keluarganya menunggu di rumah.


Cecilia kembali tersenyum sumringah.


"Saat ini bertemu dan bicara denganmu sangatlah menenangkan, Mas. Aku merasa lebih nyaman kita menjadi sahabat seperti ini daripada dulu saat menikah denganmu." batin Cecil.


.


.


"Tumben Mas Rangga jam segini sudah dirumah..." gumam Cecil.


Ia mengucap salam lalu masuk kedalam rumah. Rangga menjawab salam dan menyambut Cecil dengan masih memakai celemek memasak di tubuhnya.


"Mas, apa yang sedang kamu lakukan?"


"Aku menyiapkan makan malam untuk kita."


"Ya Allah, Mas. Jangan lakukan itu. Itu kan tugasku. Kenapa jadi kamu yang repot sih?"


"Tidak apa, istriku. Sebaiknya kau mandi dulu lalu ke meja makan untuk makan bersamaku."


"Mas..." Cecil memeluk tubuh Rangga.


"Terima kasih ya." ucapnya.

__ADS_1


"Iya, sayang. Sudah sana. Aromamu seperti adonan roti saja."


"Mas!!!" protes Cecil sambil memanyunkan bibirnya.


Tak lama kemudian, Cecil duduk di meja makan dan menatap menu makanan yang di siapkan oleh Rangga. Semuanya adalah menu makanan sehat.


"Mas, kamu menyiapkan semuanya?"


"Iya lah. Aku sudah meminta Bi Idah untuk berbelanja bahan makanan yang sudah aku catatkan. Tidak apa kan kita makan yang seperti ini?"


"Tidak apa, Mas. Lagipula sudah saatnya kita mengurangi banyak lemak. Yah memang tubuh kita membutuhkan lemak juga. Tapi kan kita harus mengurangi porsinya. Kalau begitu, besok giliran aku yang menyiapkan menunya ya."


"Iya sayang. Terserah kau saja."


Lalu mereka berduapun makan dengan lahap, meski jika dilihat oleh mata makanan itu sangatlah tidak enak. Rebusan sayuran dan beberapa buah, ditambah teh hijau tanpa gula. Mirip menu orang yang ingin menurunkan berat badan.


Usai menyantap makan malam, mereka membersihkan diri lalu bersiap menuju alam mimpi. Mereka masih sama-sama terdiam diatas tempat tidur. Rasanya canggung karena kemarin mereka sempat bersitegang.


"Masalah kemarin..." Rangga memulai membuka suara.


"Hentikan, Mas! Aku tidak mau membahasnya lagi. Kita lupakan saja ya?" pinta Cecil.


Ada secercah senyum di wajah Rangga. "Jadi, kamu..."


"Iya, Mas. Kita akan menjalani kehidupan kita hanya berdua. Tidak ada orang lain didalamnya."


"Terima kasih, sayang..." Rangga memeluk Cecilia. "Kupikir kau akan terus keras kepala."


"Tidak, Mas. Aku tahu kau juga terluka dengan semua permintaanku. Bahkan aku juga amat terluka. Aku tidak akan sanggup melihatmu bersama orang lain..." mata Cecil mulai berkaca-kaca.


Rangga tersenyum haru. Malam ini akan menjadi awal untuk mereka berdua kembali merajut asa dan mengarungi bahtera rumah tangga meski badai akan terus menerjang.


.


.


#bersambung...


mohon maap UPnya slow ya kesayangan... 😊😊

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak 👍💟💟


__ADS_2