
Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta
Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.
*Happy Reading*
Cecilia termenung di ruang kerjanya. Setelah apa yang
terjadi tadi pagi di rumah mertuanya, membuatnya semakin sedih namun kini ia
tidak bisa menangis lagi. Satu hal yang kini terlintas dibenaknya adalah bisa
membuat keluarga Rangga memiliki pewaris dari darah daging Rangga sendiri,
meski bukan dirinya yang mengandung benih Rangga. Terasa menyakitkan memang. Tapi
hanya ini cara yang bisa ia temukan untuk saat ini.
Siang itu, seseorang datang ke kafe dan menemui Cecil. Itu adalah
Nadine. Sudah seminggu sejak Cecil mengatakan jika dirinya akan mencarikan
istri muda untuk Rangga. Nadine datang menemui Cecil untuk mengetahui
kelanjutan cerita Cecil itu.
“Hai, Cil…” sapa Nadine masuk ke ruang kerja Cecil.
“Hai, Nad. Kau datang sendiri?”
“Tidak, aku bersama Rafael dan pengasuhnya.”
“Kau ingin minum apa?”
“Tidak, Cil nanti saja. Aku kesini karena…”
Sepertinya Cecil sudah tahu apa yang membuat Nadine datang. “Hmm,
soal itu. Aku sudah menemukan wanita yang cocok, Nad…”
“Cil, kau jangan menyerah dulu. Seperti yang pernah
dikatakan Amel, jika kita harus mencoba segala cara. Mari kita coba konsultasi
ke dokter di luar negeri. Aku bisa membantumu.” Ucap Nadine berusaha meyakinkan
Cecil.
“Tidak, Nad. Untuk apa aku berobat ke luar negeri jika
hasilnya akan tetap sama.”
“Cil, aku mengenal Rangga dengan baik. Dia bahkan tidak
mempermasalahkan masalah anak bukan? Kenapa kau harus melakukan ini?”
“Benar, Rangga memang tidak pernah mengeluh soal anak. Tapi….
Orang-orang disekitarnya yang…” suara cecil tercekat. Air matanya lolos kembali
dari pelupuk matanya.
Nadine segera menghampiri Cecil dan memeluknya. Tangis Cecil
__ADS_1
pecah dibahu Nadine. Nadine mengusap punggung Cecil untuk menguatkannya.
Ya Allah, apakah aku
memang harus kembali merelakan suamiku untuk wanita lain? Apa takdirku begitu
menyedihkan? Tidak! Aku tidak boleh menyalahkan takdir. Ini adalah jalan
hidupku. Aku yang memilih jalan ini untuk hidupku sendiri.
Dan tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata tengah
memperhatikan mereka dari luar ruangan Cecilia. Mata itu menatap sendu dengan
tangisan Cecilia. Ada rasa bersalah dalam sorot matanya.
Malam harinya, Cecil menunggu hingga kafe tutup dan semua
karyawannya pulang. Entah kenapa ia tidak ingin pulang cepat hari ini setelah
siang tadi ia menangis tersedu didepan Nadine. Cecil melangkah menuju mobilnya,
dan…
“Cecil…” sebuah suara datang dari balik semak-semak dekat
kafenya.
Cecilia terkejut. “Mas Alvian? Apa yang kau lakukan disini?”
“Aku menunggumu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Mas. Ini sudah
Cecil akan membuka pintu mobilnya namun kembali terhenti.
“Aku melihatmu menangis siang tadi. Aku tahu kau pasti
sangat sedih dengan kondisimu. Jika kau butuh seorang teman maka aku….”
“Itu bukan urusanmu, Mas. Lagi pula aku memiliki banyak
teman yang peduli padaku, jadi kau jangan ikut campur masalah ini lagi. Kita sudah
tidak memiliki hubungan apapun. Jadi, sebaiknya kau urus saja Nayla dan Alif
dengan baik. Aku permisi. Assalamu’alaikum.” Tutup Cecil sebelum akhirnya
melajukan mobilnya keluar dari area kafe.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Alvian lirih dengan tatapan
sendunya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Dua minggu kemudian,
Sore itu Cecil sengaja datang ke kantor Rangga dan
menghubungi Rosida.
“Assalamu’alaikum, Ros. Apa pekerjaanmu sudah selesai?”
“Wa’alaikumsalam,
Mbak. Iya, sudah selesai. Kenapa, mbak?”
“Aku sedang ada di depan kantormu, waktu itu kau bilang
ingin berkunjung ke rumahku.”
“Oh iya, mbak. Maaf belum
sempat.”
“Bagaimana kalau hari ini saja? Cepatlah turun, aku sudah di
depan.”
“Hmm baiklah…”
Cecil menyapa Ros yang keluar dari gedung AJ Grup. Mereka saling
bercipika cipiki lalu masuk kedalam mobil. Cecil menuju ke sebuah supermarket
terlebih dahulu untuk membeli barang-barang kebutuhan dapur. Mereka rencananya
akan masak memasak di rumah Cecil.
Sesampainya di rumah, Cecil dan Ros langsung sibuk di dapur.
Mereka memasak beberapa menu makanan untuk makan malam mereka. Sambil menunggu
Rangga pulang, Cecil dan Ros menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama. Hingga
akhirnya, Rangga datang dan mereka makan malam bersama.
Suasana makin hangat karena candaan dari Ros dan Rangga yang
memang kompak. Cecil bisa melihat jika mereka cukup dekat. Cecil tersenyum
melihat kehangatan itu tercipta. Karena hari sudah mulai larut, Cecil meminta
Ros untuk menginap di rumahnya. Rangga pun tidak keberatan. Mereka masih
memiliki kamar kosong di rumah mereka.
Cecil memandangi wajah Rangga yang sudah terlelap. Wajah lelah
yang masih terlihat tampan di mata Cecil. Cecil menghela nafas dan bersiap
untuk hari esok. Ia akan mulai menjalankan rencananya.
Ya Allah, kuatkan
hatiku sekali lagi. Aku hanya ingin melihat suamiku bahagia. Kumohon restui
jalanku ini…
__ADS_1
#bersambung…