
Kediaman keluarga Alvian,
Alvian baru tiba di rumah asramanya sekitar pukul sebelas malam. Ia merasa tubuhnya amat lelah karena lembur. Akhir-akhir ini perusahaan Wendy sedang melakukan ekspansi bisnis yang membuatnya ikut sibuk. Alvian melihat Nayla masih terduduk di sofa.
"Baru pulang, Mas?"
Nada suara Nayla terdengar dingin.
"Iya, beberapa hari ini aku akan sering pulang malam. Kau pergilah tidur lebih dulu. Tidak perlu menungguku."
"Benarkah? Kau memang bekerja atau melakukan hal lain, Mas?"
"Sudahlah, Nay. Aku tidak mau berdebat. Dan jangan mencurigaiku seperti itu. Aku tidak melakukan apapun diluar sana." bela Alvian.
"Oh ya? Lalu untuk apa setiap hari kau datang ke kafe milik Mbak Cecil?"
"Cecil lagi, Cecil lagi. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Aku lelah, aku ingin istirahat. Berhentilah meracuni pikiranmu sendiri dengan pikiran buruk, Nay."
Alvian masuk kedalam kamar dan tak bicara lagi dengan Nayla.
Sementara Nayla hanya bisa mendengus kesal dengan mengepalkan tangan.
.
.
.
-Kantor Rangga-
Rangga duduk di kursi kebesarannya dan memijat pelipisnya pelan. Ia memikirkan kata kata Cecilia yang menyatakan jika dirinya hamil.
Apakah benar Cecil hamil anak dirinya? Itulah yang jadi pertanyaan Rangga saat ini. Ia masih belum percaya jika dirinya sudah dinyatakan sembuh total dari yang sebelumnya dinyatakan sulit memiliki keturunan.
Rangga mengusap wajahnya gusar. Hingga akhirnya sebuah ketukan di pintu membuat kembali ke alam nyata. Sekretarisnya mengatakan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.
Rangga terkejut bukan main melihat siapa yang datang ke kantornya.
"Kamu? Mau apa kamu datang kemari?"
Tanya Rangga pada tamunya yang adalah Nayla.
__ADS_1
"Maaf jika aku mengganggu waktu bapak. Tapi ada yang harus bapak tahu soal istri bapak." ucap Nayla tanpa basa basi.
"Apa maksudmu?"
"Ini, lihatlah sendiri!"
Nayla menyerahkan sebuah amplop yang berisi foto-foto.
Rangga amat terkejut karena itu adalah foto istrinya dengan seseorang.
"Apa ini?!" tanya Rangga dengan hati yang bergemuruh.
"Seperti yang bapak lihat. Istri anda dan suami saya datang ke klinik dokter kandungan berdua. Apa yang dilakukan mereka? Tentu saja memeriksakan kehamilan, bukan?" ucap Nayla memprovokasi.
"Apa?!"
"Aku juga sangat marah seperti bapak. Dan kita harus segera bertindak. Jika tidak mereka akan mengkhianati kita lebih dari ini." lagi lagi Nayla memprovokasi Rangga.
Setelah mengatakan semua maksudnya, Nayla undur diri dari kantor Rangga.
Rangga berusaha tidak mempercayai semua bukti yang ada di depan matanya. Tapi, disana memang terselip sebuah kebenaran.
Cecilia memang hamil. Tapi Rangga masih ragu jika itu adalah anaknya, darah dagingnya.
Rangga menggebrak meja kerjanya. Ia sangat marah.
Ia segera menyudahi pekerjaannya dan keluar dari kantor. Rangga yang sekarang amatlah berbeda dengan Rangga yang dulu.
Sejak vonis dari dokter beberapa waktu lalu, emosinya kadang tidak terkontrol. Ia tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan tidak.
Terlebih lagi saat Cecil memintanya untuk menikah lagi. Ia benar benar marah dan tak habis pikir dengan ide Cecilia.
Apakah karena dia menolak rencana Cecil, makanya kini Cecil justru hamil dengan mantan suaminya?
Itulah yang sekarang jadi pikiran Rangga.
Ia melajukan mobilnya dengan kencang agar segera tiba di kafe Cecilia.
Begitu sampai, ia menarik paksa lengan Cecil dan membawanya pulang ke rumah.
Rangga kembali menunjukkan amarahnya dan melempar foto foto yang ada di tangannya.
__ADS_1
Cecilia sangat terkejut dengan sikap suaminya yang begitu kasar padanya.
"Astaghfirullahaladzim, Mas. Apa aku sehina itu hingga harus mengandung benih dari pria yang bukan suamiku? Apa kau berpikir aku sekotor itu, Mas?"
Meski amat sedih dengan tuduhan suaminya namun Cecil berusaha tegar.
"Lalu apa ini? Kau bahkan pergi ke dokter kandungan dengannya! Apa kau pikir aku tidak bisa mendampingimu kesana?"
"Aku minta maaf, Mas. Aku tahu aku salah. Tapi, anak ini benar benar anak kita, Mas. Anakmu! Darah dagingmu! Hanya kau yang menyentuhku!"
"Cukup! Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi! Pergi dari sini!"
"Mas!"
"Pergi!!! Aku tidak mau melihatmu. Ternyata selama ini aku salah menilaimu. Kau memang masih mencintai dia. Benar kan?"
Cecilia menggeleng pelan. Air matanya sudah mengalir deras sedari tadi.
"Baiklah, Mas. Jika kau memang tidak percaya padaku. Aku akan pergi. Tapi satu yang harus kau tahu. Jangan pernah menyesali apa yang sudah kau lakukan. Biarlah anakku tumbuh tanpa seorang ayah."
Cecilia berjalan gontai kedalam kamarnya dan membereskan barang barangnya. Ia menghela nafas berkali kali dan meyakinkan dirinya jika ini hanyalah mimpi.
Tapi ini bukanlah mimpi. Ini nyata!
Sekali lagi Cecilia harus selalu meyakini, "Jika kau kehilangan satu cinta, maka percayalah, Allah memiliki 99 cinta untukmu. Kau pasti bisa, Cecilia!" ucapnya pada diri sendiri sebelum akhirnya meninggalkan rumah yang diharapkan bisa menjadi syurga untuknya.
...***...
#bersambung...
*Maaf UP nya jarang2 🙏🙏
semoga kalian masih tetap suka dengan alurnya. Siapkan tisu atau kanebo kering utk merasakan kesedihan Cecilia di cerita ini.
Kenapa dari awal Cecilia selalu sedih? kok kayak gak pernah bahagia?
Aku yakin pasti kalian akan menanyakan itu. Tapi percayalah, akan ada pelangi setelah hujan. akan ada senyuman setelah air mata.
semuanya sudah diatur dan akan menjadi indah pada waktunya. 😊😊
jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😍😍💟💟
__ADS_1
...M E R D E K A...