
Masihkah kamu ingat tentang aku?
Aku yang berjuang mencintaimu,
Aku yang memulai kisah ini denganmu,
Tidakkah kau lupa,
Kalau aku tak bisa pergi,
...💟💟💟...
Keesokan harinya,
Rangga duduk terdiam di meja kerjanya. Dia memikirkan kejadian semalam. Dia masih belum mendapat jawaban, kenapa Cecilia menangis?
Cecilia yang dia kenal sebagai seorang wanita yang tangguh. Yang selalu tersenyum pada semua orang. Tiba-tiba menangis sendirian dan menghindari keramaian.
Rangga mulai bersimpati padanya. Dan mulai penasaran dengannya.
Apa yang membuat wanita tangguh seperti Cecilia menangis? Apa dia begitu menderita hingga tak mampu lagi menahan kesedihannya?
Rangga terus bertanya pada dirinya sendiri. Ada rasa bersalah yang berkecamuk dalam hatinya.
Jangan-jangan dia menangis karena aku? Selama ini aku sudah terlalu keras padanya.
Rangga mulai dihantui rasa bersalah. Ia akan menemui Cecilia dan meminta maaf padanya.
Dengan tergesa-gesa Rangga berlari menuju ruangan Cecil. Namun disana ia tak mendapati Cecil melainkan Hana.
"Pak Rangga?" Sapa Hana saat sedang mengambil berkas diruangan Cecil.
"Hana, dimana Cecilia?" Tanya Rangga dengan terengah-engah.
"Lho? Apa bapak tidak ingat? Hari ini Bu Cecil mengambil cuti. Bukankah bapak sendiri yang memberinya ijin?"
Rangga terdiam. Dia terlihat sangat bingung. Tiba-tiba separuh badannya terasa lemas.
Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang hilang? Apa aku sudah tidak waras?
Bayangan wajah Cecilia yang penuh dengan air mata muncul kembali dibenak Rangga. Wajah sedih seorang perempuan. Rangga tak kuat jika harus melihat seorang perempuan menangis. Ia tak sanggup melihat air mata itu terjatuh.
"Kak? Apa yang Kakak lakukan disini?" Suara Danny membuat Rangga kembali ke alam sadar.
"Kak? Kakak baik-baik saja?"
Rangga segera menyadarkan dirinya. "Iya, aku baik-baik saja."
...💗...
Sementara itu, Cecilia dan Bima menunggu kedatangan Alvian di pengadilan. Cecilia yang tak sabar menantikan sosok Alvian, berusaha menyembunyikan kecemasannya dengan berjalan kesana kemari di depan Bima. Hingga Bima merasa tak nyaman dengan perilaku Cecilia.
"Berhenti berjalan mondar-mandir di depanku! Jika Alvian bilang dia akan datang, dia pasti akan datang! Duduklah disini! Pening kepalaku melihatmu berjalan kesana kemari."
"Maaf, Bim. Tapi lihat ini sudah pukul berapa? Kenapa dia belum datang juga?" Cecil menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.
Dan akhirnya Shasha, manajer Alvian datang menghampiri Cecilia.
"Maaf aku datang terlambat. Jalanan sangat padat di jam-jam segini." ucap Shasha dengan santai.
"Lalu dimana Mas Alvian? Kenapa kau datang sendiri?" tanya Cecil kesal.
__ADS_1
"Alvian sedang ganti baju. Apa kau tahu? Bagaimana perjuangan dia agar bisa kemari? Dia harus menyamar dengan memakai jaket, topi dan masker agar tidak ada orang yang mengenalinya. Ini semua karena kau! Kenapa menyuruhnya datang di sidang perceraian kalian? Kau datang sendiri juga bisa kan?" gerutu Shasha.
"Sudah Sha, tidak perlu diperpanjang. Yang penting Alvian sudah datang. Lalu dimana Pak Hamdani?" Bima mencoba menenangkan suasana.
"Mereka berdua masih di toilet. Itu mereka!" Shasha menunjuk ke arah Alvian yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Maaf Cil, aku terlambat. Persidangannya sudah dimulai?" ucap Alvian.
"Iya, tidak apa-apa. Shasha sudah menceritakan semuanya. Terima kasih kamu sudah datang," jawab Cecilia datar.
"Bapak Alvian Arifin dan Ibu Cecilia Wijaya!!" Panggil seseorang yang keluar dari ruang sidang. "Silahkan masuk ke ruang sidang!!"
...❤❤❤...
Agenda sidang perdana perceraian Alvian dan Cecilia adalah mediasi. Sidang berlangsung tertutup. Dan hanya dihadiri oleh pihak-pihak yang akan bercerai dan pengacara masing-masing pihak.
Bima mulai membacakan tuntutan yang diajukan oleh Cecilia. Alvian yang duduk bersebelahan dengan Cecilia, hanya memandangi Cecilia dengan tatapan sendu. Dan Cecilia bergeming walau dia tahu Alvian terus memandanginya.
Dan tiba saatnya Pak Hakim bertanya pada Cecilia. "Ibu Cecilia Wijaya, apa benar Anda mengajukan gugatan cerai kepada suami Anda, Bapak Alvian Arifin?"
"Iya Pak Hakim. Benar!" Cecilia menjawab dengan lantang.
"Apa alasan yang membuat Anda menggugat cerai suami Anda? Karena dalam tuntutan yang dibacakan oleh pengacara Anda, disitu tidak tertera alasan Anda menggugat cerai suami Anda!"
Cecilia terdiam. Dia memang tidak mengatakan apa-apa pada Bima soal alasan sebenarnya dia ingin berpisah dengan Alvian. Alvian terus memandangi Cecilia. Tatapannya sangat sedih. Tak bisa dipungkiri dia memang tidak ingin berpisah dengan Cecilia.
Semua yang hadir di persidangan menunggu jawaban dari Cecilia. Hingga tiba-tiba...
"Karena dia menikah lagi!" Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Cecilia dengan menunjuk jarinya ke arah Alvian.
Sontak seluruh orang terkejut dengan jawaban Cecilia. Tak terkecuali Bima. Dia hanya bisa memegangi kepalanya dan menutup mata. Dia tahu kalau bukan itu alasan Cecilia ingin berpisah.
Alvian sendiri juga tak percaya dengan yang dikatakan Cecil. Dengan lirih dia menyebut nama Cecilia.
"Jadi maksud Anda suami Anda melakukan poligami, begitu??!" tanya Pak Hakim kembali.
"Iya Pak Hakim"
"Apakah saat akan menikah lagi, suami Anda tidak meminta ijin dari Anda? Atau suami Anda melakukan pernikahan secara diam-diam?"
"Tidak! Saya tahu kalau dia menikah lagi. Dan saya juga sudah mengijinkannya untuk menikah lagi." Cecilia menjawab dengan ekspresi datar.
"Jika Anda tahu dan Anda juga mengijinkan suami Anda untuk menikah lagi. Kenapa sekarang Anda ingin menggugat cerai suami Anda?"
"Karena saya sudah tidak bisa lagi, Pak Hakim. Saya sudah tidak bisa lagi hidup bersama dengan dia. Saya memang mengijinkan dia untuk menikah lagi. Tapi sekarang, saya tidak bisa menerima itu."
Pak Hakim menghela nafas. Begitu juga dengan yang hadir. Dan Bima hanya bisa terdiam. Sementara Alvian, dia terus memandangi Cecilia. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Cecilia. Dia tahu ada hal lain yang Cecilia sembunyikan.
...❤❤❤...
Sidang mediasi sudah berakhir. Dan akan dilanjutkan ke sidang selanjutnya dua minggu kemudian. Di luar ruang sidang, mereka berkumpul kembali. Bima sedang berbincang dengan Pak Hamdani, pengacara Alvian. Sementara Alvian, Cecilia dan Shasha duduk berseberangan. Shasha mendiskusikan jadwal Alvian setelah persidangan.
"Oh ya, Al. Ini jadwalmu setelah ini. Berkumpul bersama komunitas pecinta seni lukis. Menurutku ini hal bagus. Bisa kau jadikan kampanye mencari simpati dari anggota komunitas. Ada stasiun televisi yang akan meliput." ujar Shasha panjang lebar.
"Sha, hari ini tolong kosongkan jadwalku. Carikan waktu lain untuk bertemu komunitas itu."
"Hah?! Yang benar saja?! Apa yang ingin kau lakukan? Kenapa menunda semua jadwalmu?"
"Ada urusan penting yang harus kulakukan!!!" Alvian berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri Cecilia lalu meraih tangannya, dan membawanya pergi.
Tentu saja hal itu membuat Shasha bingung dan sedikit kesal. "Alvian!!! Kau mau pergi kemana?" teriak Shasha.
__ADS_1
"Tolong urus semuanya hari ini, Sha. Bima!! Aku minta maaf. Tolong bantu aku kali ini!!" jawab Alvian sambil tetap berjalan menggenggam tangan Cecilia.
Dan Cecilia hanya pasrah menuruti keinginan Alvian. Mereka berduapun pergi meninggalkan Bima dan Shasha yang masih diliputi kebingungan.
Alvian mengendarai mobilnya sendiri. Dan Cecilia hanya diam duduk disamping Alvian. Cukup lama Alvian berkeliling menyusuri jalan-jalan ibukota. Cecilia yang tak tahan dengan sikap Alvian, akhirnya buka suara.
"Sebenarnya kita mau kemana, Mas? Dari tadi hanya berputar-putar tidak jelas!"
Alvian tidak menjawab pertanyaan Cecilia. Dan akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang tidak asing.
Cecilia cukup terkejut karena Alvian membawanya ke tempat kenangan mereka. Sebuah tempat bermain olahraga anak-anak remaja.
Terlihat anak-anak muda sedang bermain basket. Dulu mereka sering datang seusai bekerja. Alvian sangat pandai bermain basket. Dan Cecilia sedikit demi sedikit mulai berlatih basket. Alvian mengajari Cecilia sampai mahir.
Bayangan-bayangan saat dulu mereka ada disini, mulai terbayang di mata Cecilia. Cecilia berjalan menyusuri tempat itu. Sudah lama sekali sejak terakhir mereka datang kesana.
Suasana riuh penuh anak-anak remaja berolahraga. Mata Cecilia mulai berkaca-kaca. Batinnya terus bertanya, kenapa Alvian membawanya ketempat ini?
"Cil, aku akan bermain basket bersama mereka. Kau mau ikut?" suara Alvian menyadarkan Cecil dari lamunannya.
"Eh? Tadi kau bilang apa, Mas?"
"Aku mau bermain basket. Kau mau iku?" Alvian melepas jasnya dan menyerahkannya pada Cecil.
"Sepertinya tidak. Kau saja yang main!"
"Ya sudah. Kau tunggu disini!"
Alvian berlari menuju para remaja yang sedang bermain basket sambil menggulung lengan kemeja panjangnya.
Alvian berlari mendribble dan mengoper bola basket. Keahliannya dalam bermain basket masih sama seperti dulu. Cecilia memandanginya dari pinggir lapangan.
Dan setelah permainan berakhir, Alvian menghampiri Cecil. Alvian terlihat letih. Dan nafasnya tidak teratur. Karena memang sudah lama tak berlatih.
"Minumlah, Mas." Cecilia menawarkan sebotol air mineral pada Alvian.
"Bagaimana permainanku? Masih sebagus dulu atau tidak?" Alvian meneguk air yang diberikan Cecil dan duduk disamping Cecil.
"Menurutku masih bagus. Masuk kategori lumayan untuk orang yang sudah jarang berlatih."
"Kapan terakhir kita datang kesini? Sepertinya sudah sangat lama. Dulu sebelum aku masuk ke dunia politik, aku masih menyempatkan waktu untuk datang kesini. Dan saat itu, kamu juga beluk sesibuk sekarang. Jadi, kita bisa datang bersama."
Cecil hanya diam mendengar ucapan Alvian. Apa yang dikatakannya benar. Waktu kebersamaan mereka sudah mulai berkurang. Alvian yang sibuk dengan jadwal keartisan dan politiknya. Cecilia yang sibuk dengan pekerjaan dan mengejar karirnya. Membuat mereka lupa, jika seharusnya pasangan menikah itu, harus memiliki waktu untuk berdua agar mereka tetap bisa mengingat hal manis yang mereka jalani selama bertahun-tahun.
Dan akhirnya hari mulai gelap, lalu adzan maghrib berkumandang. Alvian bergegas menuju masjid, diikuti dengan Cecilia.
Seusai sholat mereka kembali duduk di lapangan basket. Mereka duduk terdiam. Belum ada yang membuka perbincangan. Semua terasa canggung. Karena hari ini mereka baru saja menjalani sidang perceraian, lalu ternyata mereka malah berakhir di tempat penuh kenangan ini.
"Mas?" Cecilia mulai membuka pembicaraan.
"Ada apa?"
"Kamu? Masih ingat pertemuan pertama kita?"
"Tentu saja aku ingat. Aku masih mengingat semuanya."
Cecil menoleh ke arah Alvian dan menatapnya. Alvian juga membalas tatapan Cecil. Lalu mata mereka bertemu, saling berhadapan, saling bertatapan.
"Diantara sekian banyak orang di negeri asing---Hanya kamu yang mengenaliku---" lanjut Alvian.
...❤❤❤...
__ADS_1
To be continued. . .