
*Cecilia PoV*
Aku tak bisa pulang ke rumah dalam keadaan begini. Aku masih syok dengan apa yang dikatakan oleh Mas Arif. Tega sekali dia memintaku untuk menceraikan Mas Alvian. Meskipun beberapa waktu yang lalu aku sendiri memang ingin bercerai dari Mas Alvian. Tapi itu semua hanya karena aku mementingkan egoku.
Ya Tuhan, apakah ini karma untukku? Aku sangat takut. Aku masih mencintai Mas Alvian. Aku pergi dari rumah karena marah. Tapi aku masih ingin kembali. Apa yang harus aku lakukan?
Tiba-tiba terlintas dibenakku untuk bertemu seseorang. Seseorang yang bisa membuatku tenang dengan suara sejuknya. Umi Isma.
Sudah cukup lama aku tidak menemui beliau. Beliau orang yang sangat ramah. Aku menyukainya. Entah kenapa aku bisa terbuka padanya.
"Assalamu'alaikum, Umi."
"Wa'alaikumussalam. Sudah lama tidak mampir kemari. Apa sedang sangat sibuk?" Aku menyalami Umi Isma dan mencium punggung tangannya.
"Maaf, Umi. Akhir-akhir ini, sedang ada banyak pekerjaan dan juga masalah." Raut wajahku selalu tak bisa berbohong.
"Ada apa lagi, Nak?" tanya Umi Isma sambil mengajakku duduk di ruang kantor masjid. Aku tidak tahu Umi Isma tinggal dimana. Yang aku tahu, aku bisa menemuinya di masjid ini. Karena beliau biasanya mengadakan kajian di masjid.
"Maaf, Umi. Kesannya aku datang kesini kalau sedang ada masalah saja."
"Tidak apa-apa, Nak. Apa ada yang bisa Umi bantu? Kamu terlihat sangat gelisah"
"A-aku... Pergi dari rumah, Umi."
"Astaghfirullahaladzim. Memangnya ada masalah apa sampai kamu pergi dari rumah? Seorang istri, pantang pergi meninggalkan rumah tanpa adanya ijin dari suami."
"Aku tahu, Umi. Aku juga menyesal karena sudah melakukan ini. Sekarang aku harus bagaimana Umi?"
...***...
"Jadi, kau akan kembali ke rumah suamimu?" tanya Ibu saat aku merapikan barang-barangku kedalam tas besar.
"Iya, Bu. Aku rasa apa yang aku lakukan ini tidaklah benar. Aku harus pulang."
"Hmm, baiklah. Ibu mengerti." Ibu mendekatiku dan membelai rambutku. "Dengar, saat ada masalah, jangan gunakan emosimu. Tapi gunakan hatimu. Ibu tahu kau sangat terluka. Ibu juga terluka. Ibu bisa merasakan apa yang kau rasakan. Kalian sudah menikah. Permasalahan kalian, bukan lagi jadi urusan ibu. Kemarin ibu membelamu karena ibu tahu sifatmu. Kau tak bisa dipaksa. Makanya ibu mengijinkanmu tinggal disini sementara. Kalau sekarang hatimu sudah mulai membaik. Maka bicarakan baik-baik dengan Alvian. Dari awal kau sudah tahu apa resikonya dipoligami. Kejadian seperti ini, cepat atau lambat pasti akan terjadi."
__ADS_1
"Terima kasih, Bu. Maaf kalau aku selalu bikin ibu khawatir." Aku memeluk Ibu. Keputusanku untuk kembali ke rumah bukan serta merta karena pemikiranku saja. Tapi karena Umi Isma yang meyakinkanku.
Masih kuingat dengan jelas nasehat dari Umi Isma.
"Pernikahan itu adalah janji sepasang insan dengan Tuhannya. Kamu berjanji untuk bersama dengan pasanganmu, dalam susah, dalam suka, dalam setiap masalah, untuk menghadapi bersama-sama. Memang tak mudah menerima suami yang berpoligami. Hanya kesabaranmulah yang akan menuntunmu kepada surga. Bisakah kamu bersabar, Nak? Bisakah kamu lebih bersabar lagi? Allah tidak akan memberikan cobaan pada hambaNya, melebihi dari kemampuan sang hamba. Jangan dulu menyerah, Nak. Tetap berdoa pada Allah. Dan kuatkan hatimu."
...***...
Kumantapkan langkah kakiku menuju ke rumah. Rumah kami. Rumah ku dan Mas Alvian. Aku tidak peduli lagi ucapan Mas Arif kemarin.
Aku akan memperbaiki semuanya. Aku yakin aku bisa. "Bismillahhirrohmanirrohim...". Aku mulai masuk ke dalam rumah.
Semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga. Kulihat tatapan aneh dari mereka. Namun segera setelah itu suasana jadi mencair. Mbak Sari menghampiriku dan memelukku. Dia sangat senang karena aku kembali. Nayla yang awalnya canggung, ikut bergabung bersamaku dan Mbak Sari. Nayla juga memelukku.
Kulihat Mas Alvian masih terdiam. Aku tahu dia juga merasa bersalah padaku. Tersirat di matanya kalau dia juga senang aku kembali.
"Untuk apa kamu kembali kesini?" Sudah kuduga Mas Arif tidak akan suka kedatanganku ke rumah.
"Ini rumahku, jadi aku berhak untuk kembali." jawabku lantang.
"Alvian..!" Teriak Mas Arif pada Mas Alvian.
Aku tersenyum. Mas Alvian membelaku.
"Jadi kamu akan memaafkan istri kamu ini, Alvian?"
"Iya, Mas. Aku memaafkan Cecilia. Kami akan memperbaiki semuanya. Maaf kalau kemarin kami membuat Mas khawatir."
"Tidak bisa!!! Keluarga kita tidak akan memaafkan hal semacam ini. Istri kamu sudah meninggalkan rumah ini atas kemauan dia sendiri. Dan sekarang dengan mudahnya dia kembali ke rumah ini? Tidak bisa Alvian!!"
"Mas... Tolonglah... Kami janji tidak akan ada kejadian seperti ini lagi kedepannya." Mas Alvian memohon pada kakaknya.
Aku sebaiknya diam dulu. Mas Arif menatapku dengan tajam. Baiklah, aku harus bicara sekarang.
"Maafkan aku, Mas. Kemarin aku melakukan kesalahan. Aku terlalu mengikuti egoku. Aku terlalu marah. Aku sedang emosi saat itu. Sampai aku tak bisa mengendalikannya. Maafkan aku. Kini aku sudah sadar. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku dan Mas Alvian sudah berjanji akan memulai semuanya dari awal. Aku harap Mas Arif bisa mengerti."
__ADS_1
Ya Tuhan, tanganku gemetar begitu hebat. Entah kekuatan apa yang merasukiku, hingga aku bisa berkata begitu pada Mas Arif. Selama ini aku tak pernah bisa membantahnya, begitupun Mas Alvian. Aku harap dia bisa mengerti.
"Mungkin... Alvian bisa memaafkanmu. Tetapi aku tidak!"
Apa yang Mas Arif katakan? Kakiku lemas Ya Tuhan. Apa yang harus kulakukan?
"Kamu... Selalu menggunakan egomu untuk setiap masalah. Karena keegoisanmu, keluarga ini jadi kacau."
Kacau? Apa maksud mas Arif?
"Aku tidak bisa membiarkanmu terus membuat masalah dikeluarga kami. Saat kamu ingin bercerai dari Alvian, kamu pasti mengikuti egomu. Lalu Kau menyalahkan Nayla atas meninggalnya Tasya. Karena mengikuti egomu, kamu melaporkan Nayla ke polisi. Sekarangpun, kamu mengikuti egomu. Untuk pergi dari rumah hanya karena tahu Nayla hamil. Cecilia, kamu akan terus begitu. Tidak akan bisa berubah. Masalah lain akan muncul, dan kamu pasti akan menggunakan emosimu untuk menyelesaikan masalah itu."
"Pak, apa yang bapak bicarakan? Cecilia memang pernah bersalah, tapi dia sudah meminta maaf. Jangan memperpanjang masalah." ucap Mbak Sari. Hanya mbak Sari saja yang selalu membelaku.
"Masalah sudah selesai, Bu. Tapi setelah dia kembali, masalah datang lagi. Keluarga kami adalah keluarga terhormat. Kami tidak bisa menerima sikapmu yang selalu memakai amarah seperti itu. Kembalilah ke rumah ibumu. Kamu tidak bisa kembali ke rumah ini lagi."
"Ta-tapi, Mas..." Suaraku tercekat. Aku tak bisa bicara apapun. Setiap kata dari Mas Arif, bagaikan titah dari seorang raja yang tak bisa dibantah.
"Mas... Jangan lakukan ini padaku dan Cecil. Aku akan lakukan apapun asalkan Mas memaafkan Cecil. Tolonglah Mas..." Mas Alvian mencoba membelaku.
"Tidak perlu membelanya lagi, Alvian!!! Sudah cukup drama yang dia tunjukkan di rumah ini!"
Percuma saja, Mas Alvian tak akan bisa menolongku. Aku tahu seperti apa keluarga mereka. Yang dituakan, tidak bisa dibantah. Dari awal, hidup mereka memang sudah diatur. Aku saja yang terlalu memaksakan diri untuk masuk.
"Baiklah, aku akan pergi. Maaf, Mas Alvian. Aku harus pergi."
Dengan langkah gontai kulangkahkan kakiku keluar dari rumah. Aku tidak akan pernah bisa kembali kesini. Apa yang sudah kutinggalkan, tidak akan bisa kudapat kembali. Begitulah pemikiran Mas Arif.
Kedengar suara Mas Alvian yang terus memanggil namaku. Dia ingin mengejarku, namun ditahan oleh Mas Arif. Mas Alvian terus memohon. Namun Mas Arif bergeming.
Ini semua salahku. Aku yang sudah memulai masalah ini. Jadi aku harus bisa menanggung resikonya.
Air mataku mulai mengalir. Kuatkan aku, Ya Tuhan... Kuatkan aku...
...💟💟💟...
__ADS_1
hmmmmm, drama Cecilia baru saja dimulai...😥😥
Harap bersabar 😉😉😉