
Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta
Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.
*Happy Reading*
Keesokan harinya, Cecilia sudah menyiapkan sarapan pagi
untuknya dan juga Rangga. Cecil tersenyum kala melihat Rangga turun ke lantai
bawah. Cecil segera menghampirinya.
“Mas, ayo sarapan. Aku sudah memasak nasi goreng kesukaanmu.”
Ucap Cecil diiringi senyum. Seolah tidak terjadi apapun diantara dirinya dan
Rangga semalam, Cecil mencoba bersikap biasa di depan Rangga.
“Aku ada meeting pagi ini. aku akan makan dikantor saja.” Jawab
Rangga dingin.
“Eh? Kalau begitu
aku bawakan saja ya? Tunggulah sebentar, aku akan menyiapkannya untukmu.”
Cecil segera
berlalu dari hadapan Rangga, namun langkahnya kembali terhenti.
“Tidak perlu!
Sudah kubilang aku akan makan dikantor.” Tanpa bicara lagi Rangga segera pergi
meninggalkan Cecil yang masih diam mematung.
Cecilia hanya
bisa menghela nafas melihat sikap Rangga yang dingin padanya. Ia tahu apa yang
sudah ia lakukan semalam pastilah membuat Rangga kecewa padanya.
“Aku tahu
kamu marah, Mas. Tapi kita ‘kan masih bisa membicarakan ini secara baik-baik. Bukan dengan sikap seperti ini.” gumam Cecil
yang pastinya tidak didengar oleh Rangga.
.
.
.
-Gedung AJ Group-
Rangga menemui
Ibu Siti yang sudah menunggunya di lobi. Rangga tersenyum lebar saat berjalan
menghampiri Bu Siti. Sikapnya sangat berbeda dengan saat tadi menghadapi Cecil.
“Ibu…” sapa
Rangga yang memang sudah menganggap Bu Siti seperti ibunya sendiri.
“Mas Rangga…”
Ibu Siti berdiri ketika menyambut Rangga.
“Terima kasih
karena mau datang membawakan makanan untukku. Aku sangat rindu dengan masakan
ibu…” ujar Rangga.
“Mas Rangga
ini ada-ada saja. Bukankah sudah ada Mbak Cecil yang selalu memasak untuk Mas
Rangga?”
“Aku sedang
ingin makan masakan ibu…” balas Rangga dengan tersenyum.
“Ibu sudah
tahu apa yang sedang terjadi. Ibu yakin Mas Rangga pasti bersikap dingin pada
Mbak Cecil. Benar ‘kan?” tebak Ibu Siti yang memang sudah hapal perangai
Rangga.
Rangga memalingkan
__ADS_1
wajahnya. Ia merasa terciduk karena tidak bisa membohongi Ibu asuhnya itu.
“Aku tidak
habis pikir kenapa dia berpikir seperti itu, Bu. Dengan santainya dia memintaku
untuk menikah dengan wanita lain.” Rangga mengusap wajahnya.
“Apa yang
dialami Mbak Cecil juga bukan hal yang mudah. Ibu yakin dia pasti sudah
memikirkannya selama beberapa waktu. Sebaiknya Mas Rangga bicara baik-baik
dengan Mbak Cecil. Jangan malah bersikap dingin padanya. Mas Rangga harus
memberikan dukungan pada Mbak Cecil. Pasti sangat sulit menghadapi kenyataan
ini sendirian. Apa Mas tidak berpikir kesitu?”
Rangga hanya
terdiam mendengar semua nasehat Ibu Siti. Ia lalu berpamitan dan berterimakasih
pada Ibu Siti karena sudah membawakan makanan untuknya.
Ibu Siti memandang
punggung Rangga yang mulai menjauh. “Semoga Mas Rangga bisa menemukan solusi
terbaik untuk masalah yang sedang di hadapinya.” Gumam Ibu Siti lirih.
.
.
.
.
-Kediaman Adi Jaya-
Sandra membawakan
secangkir teh untuk suaminya yang sedang bersantai di teras belakang rumah
mereka.
“Ini tehnya,
Pa.” ucap Sandra sambil menyerahkan cangkir teh pada Adi.
“Terima
Adi Jaya meletakkan cangkir tersebut ke atas meja.
Lalu mulai bicara pada Sandra. “Jadi, mama sudah tahu semuanya? Apa Anna yang
memberitahu Mama?”
Sandra tahu
kemana arah pembicaraan ini berlanjut. “Iya, Pa. Mbak Anna yang memberitahu
Mama.”
“Lalu apa
Anna juga cerita soal rencana Cecil yang ingin mencarikan istri untuk Rangga?”
“Iya, Pa. Mbak Anna juga cerita soal itu. Bahkan Mbak Anna
bilang jika Cecil sudah bicara dengan Rosida.”
“Hmm, lalu apa jawaban Rosida?”
“Sepertinya Ros setuju dengan rencana Cecil. Ternyata dia…
menyukai Rangga, Pa.” jawab Sandra jujur karena tidak mau menyembunyikan apapun
dari suaminya.
Adi Jaya memijat pelipisnya pelan. “Ya Tuhan, cobaan apa
lagi ini?”
Sandra mengusap pelan punggung suaminya itu. “Pa, mama mohon
Papa jangan terlalu memikirkan masalah ini. Biarkan Rangga dan Cecil yang
menyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri.”
“Tapi masalahnya Cecil sudah melibatkan kita kedalam
permasalahan mereka.” Adi Jaya merasa bingung.
__ADS_1
“Cecil hanya ingin memberitahukan kebenarannya kepada kita. Dari
pada kita mendengarnya dari orang lain. Mama yakin Cecil juga pasti menderita,
Pa. Dia menahan semuanya seorang diri selama ini. Mama bisa mengerti
perasaannya.”
“Ya sudahlah. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka.”
“Iya, Pa. maafkan Mama karena sudah menyembunyikan semua ini
dari Papa. Semoga Cecil dan Rangga bisa mendapatkan solusi terbaik dari masalah
ini.”
.
.
.
.
-Perusahaan Wenamel Corp-
Amel baru saja keluar dari ruangan suaminya. Ia akan kembali
menuju ke ruangannya. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena bertemu dengan sosok
yang tidak asing baginya. Alvian. Meski mereka satu perusahaan, namun tidak
setiap waktu mereka bertemu, karena berbeda divisi.
“Amel… bisa aku bicara sebentar?” Tanya Alvian yang
sepertinya ingin bicara hal serius padanya.
Amel mengernyitkan dahinya. “Hmm, baiklah. Kita bicara di
kafe kantor saja.” Balas Amel.
Amel dan Alvian duduk berhadapan di kafe. Amel hanya memesan
es jeruk dan Alvian tidak memesan apapun. Saat ini yang dia butuhkan hanya
bicara dengan Amel.
“Ada apa?” Tanya Amel tanpa berbasa-basi.
“Maaf jika aku mengganggu waktumu. Aku hanya ingin
menanyakan sesuatu padamu.”
“Soal apa?”
“Apa yang terjadi dengan Cecilia?”
Seketika raut wajah Amel berubah drastis. Ia tidak suka jika
Alvian masih saja memikirkan soal Cecilia.
“Tidak ada. Lagipula untuk apa kau masih peduli dengan
mantan istrimu?” Amel segera beranjak dari tempat duduknya, namun Alvian
menahannya.
“Tunggu, Mel. Aku tahu ini aneh. Tapi… semua yang terjadi
pada Cecil adalah kesalahanku…”
“Apa katamu?”
“Jika saja aku tidak menyembunyikan kenyataan ini dari
Cecilia, mungkin dia… tidak semenderita ini… Saat itu yang kupikirkan adalah perasaan Cecil. Aku tidak tega mengatakan kenyataan pahit itu padanya. Kini aku sungguh menyesal.” sesal Alvian.
Amel yang tadinya ingin marah dan meledak-ledak menjadi
tidak tega dan hanya menatap iba kearah Alvian. “Aku bisa mengerti jika kau
masih peduli pada Cecilia, tapi… sudah bukan ranahmu lagi untuk ikut campur
urusan Cecilia dan Rangga. Jadi, biarkan saja mereka menyelesaikan masalah
mereka sendiri. Kau juga sebaiknya hanya pikirkan Nayla dan anakmu.”
Setelah merasa cukup bicara dengan Alvian, Amel segera beranjak
dari duduknya dan keluar dari kafe. Sementara Alvian masih diam dan merenungi
semua kesalahannya pada Cecil.
#bersambung
__ADS_1
“Ada yang bilang jika penyesalan itu datangnya di akhir…
Dan dari semua kisah, itu memang benar…”