99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 – Bagian 19


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, welcome back to season 3 of 99 Cinta


Untukmu. Don’t forget to leave Like and comments. Thank you.


*Happy Reading*


Keesokan harinya, Cecilia sudah menyiapkan sarapan pagi


untuknya dan juga Rangga. Cecil tersenyum kala melihat Rangga turun ke lantai


bawah. Cecil segera menghampirinya.


“Mas, ayo sarapan. Aku sudah memasak nasi goreng kesukaanmu.”


Ucap Cecil diiringi senyum. Seolah tidak terjadi apapun diantara dirinya dan


Rangga semalam, Cecil mencoba bersikap biasa di depan Rangga.


“Aku ada meeting pagi ini. aku akan makan dikantor saja.” Jawab


Rangga dingin.


“Eh? Kalau begitu


aku bawakan saja ya? Tunggulah sebentar, aku akan menyiapkannya untukmu.”


Cecil segera


berlalu dari hadapan Rangga, namun langkahnya kembali terhenti.


“Tidak perlu!


Sudah kubilang aku akan makan dikantor.” Tanpa bicara lagi Rangga segera pergi


meninggalkan Cecil yang masih diam mematung.


Cecilia hanya


bisa menghela nafas melihat sikap Rangga yang dingin padanya. Ia tahu apa yang


sudah ia lakukan semalam pastilah membuat Rangga kecewa padanya.


“Aku tahu


kamu marah, Mas. Tapi kita ‘kan masih bisa membicarakan ini secara baik-baik. Bukan  dengan sikap seperti ini.” gumam Cecil


yang pastinya tidak didengar oleh Rangga.


.


.


.


-Gedung AJ Group-


Rangga menemui


Ibu Siti yang sudah menunggunya di lobi. Rangga tersenyum lebar saat berjalan


menghampiri Bu Siti. Sikapnya sangat berbeda dengan saat tadi menghadapi Cecil.


“Ibu…” sapa


Rangga yang memang sudah menganggap Bu Siti seperti ibunya sendiri.


“Mas Rangga…”


Ibu Siti berdiri ketika menyambut Rangga.


“Terima kasih


karena mau datang membawakan makanan untukku. Aku sangat rindu dengan masakan


ibu…” ujar Rangga.


“Mas Rangga


ini ada-ada saja. Bukankah sudah ada Mbak Cecil yang selalu memasak untuk Mas


Rangga?”


“Aku sedang


ingin makan masakan ibu…” balas Rangga dengan tersenyum.


“Ibu sudah


tahu apa yang sedang terjadi. Ibu yakin Mas Rangga pasti bersikap dingin pada


Mbak Cecil. Benar ‘kan?” tebak Ibu Siti yang memang sudah hapal perangai


Rangga.


Rangga memalingkan

__ADS_1


wajahnya. Ia merasa terciduk karena tidak bisa membohongi Ibu asuhnya itu.


“Aku tidak


habis pikir kenapa dia berpikir seperti itu, Bu. Dengan santainya dia memintaku


untuk menikah dengan wanita lain.” Rangga mengusap wajahnya.


“Apa yang


dialami Mbak Cecil juga bukan hal yang mudah. Ibu yakin dia pasti sudah


memikirkannya selama beberapa waktu. Sebaiknya Mas Rangga bicara baik-baik


dengan Mbak Cecil. Jangan malah bersikap dingin padanya. Mas Rangga harus


memberikan dukungan pada Mbak Cecil. Pasti sangat sulit menghadapi kenyataan


ini sendirian. Apa Mas tidak berpikir kesitu?”


Rangga hanya


terdiam mendengar semua nasehat Ibu Siti. Ia lalu berpamitan dan berterimakasih


pada Ibu Siti karena sudah membawakan makanan untuknya.


Ibu Siti memandang


punggung Rangga yang mulai menjauh. “Semoga Mas Rangga bisa menemukan solusi


terbaik untuk masalah yang sedang di hadapinya.” Gumam Ibu Siti lirih.


.


.


.


.


-Kediaman Adi Jaya-


Sandra membawakan


secangkir teh untuk suaminya yang sedang bersantai di teras belakang rumah


mereka.


“Ini tehnya,


Pa.” ucap Sandra sambil menyerahkan cangkir teh pada Adi.


“Terima


Adi  Jaya meletakkan cangkir tersebut ke atas meja.


Lalu mulai bicara pada Sandra. “Jadi, mama sudah tahu semuanya? Apa Anna yang


memberitahu Mama?”


Sandra tahu


kemana arah pembicaraan ini berlanjut. “Iya, Pa. Mbak Anna yang memberitahu


Mama.”


“Lalu apa


Anna juga cerita soal rencana Cecil yang ingin mencarikan istri untuk Rangga?”


“Iya, Pa. Mbak Anna juga cerita soal itu. Bahkan Mbak Anna


bilang jika Cecil sudah bicara dengan Rosida.”


“Hmm, lalu apa jawaban Rosida?”


“Sepertinya Ros setuju dengan rencana Cecil. Ternyata dia…


menyukai Rangga, Pa.” jawab Sandra jujur karena tidak mau menyembunyikan apapun


dari suaminya.


Adi Jaya memijat pelipisnya pelan. “Ya Tuhan, cobaan apa


lagi ini?”


Sandra mengusap pelan punggung suaminya itu. “Pa, mama mohon


Papa jangan terlalu memikirkan masalah ini. Biarkan Rangga dan Cecil yang


menyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri.”


“Tapi masalahnya Cecil sudah melibatkan kita kedalam


permasalahan mereka.” Adi Jaya merasa bingung.

__ADS_1


“Cecil hanya ingin memberitahukan kebenarannya kepada kita. Dari


pada kita mendengarnya dari orang lain. Mama yakin Cecil juga pasti menderita,


Pa. Dia menahan semuanya seorang diri selama ini. Mama bisa mengerti


perasaannya.”


“Ya sudahlah. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka.”


“Iya, Pa. maafkan Mama karena sudah menyembunyikan semua ini


dari Papa. Semoga Cecil dan Rangga bisa mendapatkan solusi terbaik dari masalah


ini.”


.


.


.


.


-Perusahaan Wenamel Corp-


Amel baru saja keluar dari ruangan suaminya. Ia akan kembali


menuju ke ruangannya. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena bertemu dengan sosok


yang tidak asing baginya. Alvian. Meski mereka satu perusahaan, namun tidak


setiap waktu mereka bertemu, karena berbeda divisi.


“Amel… bisa aku bicara sebentar?” Tanya Alvian yang


sepertinya ingin bicara hal serius padanya.


Amel mengernyitkan dahinya. “Hmm, baiklah. Kita bicara di


kafe kantor saja.” Balas Amel.


Amel dan Alvian duduk berhadapan di kafe. Amel hanya memesan


es jeruk dan Alvian tidak memesan apapun. Saat ini yang dia butuhkan hanya


bicara dengan Amel.


“Ada apa?” Tanya Amel tanpa berbasa-basi.


“Maaf jika aku mengganggu waktumu. Aku hanya ingin


menanyakan sesuatu padamu.”


“Soal apa?”


“Apa yang terjadi dengan Cecilia?”


Seketika raut wajah Amel berubah drastis. Ia tidak suka jika


Alvian masih saja memikirkan soal Cecilia.


“Tidak ada. Lagipula untuk apa kau masih peduli dengan


mantan istrimu?” Amel segera beranjak dari tempat duduknya, namun Alvian


menahannya.


“Tunggu, Mel. Aku tahu ini aneh. Tapi… semua yang terjadi


pada Cecil adalah kesalahanku…”


“Apa katamu?”


“Jika saja aku tidak menyembunyikan kenyataan ini dari


Cecilia, mungkin dia… tidak semenderita ini… Saat itu yang kupikirkan adalah perasaan Cecil. Aku tidak tega mengatakan kenyataan pahit itu padanya. Kini aku sungguh menyesal.” sesal Alvian.


Amel yang tadinya ingin marah dan meledak-ledak menjadi


tidak tega dan hanya menatap iba kearah Alvian. “Aku bisa mengerti jika kau


masih peduli pada Cecilia, tapi… sudah bukan ranahmu lagi untuk ikut campur


urusan Cecilia dan Rangga. Jadi, biarkan saja mereka menyelesaikan masalah


mereka sendiri. Kau juga sebaiknya hanya pikirkan Nayla dan anakmu.”


Setelah merasa cukup bicara dengan Alvian, Amel segera beranjak


dari duduknya dan keluar dari kafe. Sementara Alvian masih diam dan merenungi


semua kesalahannya pada Cecil.


#bersambung

__ADS_1


“Ada yang bilang jika penyesalan itu datangnya di akhir…


Dan dari semua kisah, itu memang benar…”


__ADS_2