99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 - Bagian 35 (END)


__ADS_3

-Kediaman Keluarga Adi Jaya-


Semua orang menatap kearah Rangga yang sedari tadi menunduk. Dua keluarga sedang berkumpul untuk membicarakan masalah yang seharusnya hanya menjadi urusan pasangan suami istri itu saja.


"Jadi, bagaimana Rangga? Apa kamu sudah berhasil menemukan jejak Cecilia?" tanya Adi Jaya.


"Maafkan aku, Pa. Aku belum menemukan jejak Cecil." jawab Rangga pasrah.


"Umi yakin jika Cecil tidak mungkin menduakan kamu, Rangga." timpal Isma.


"Maafkan aku, Umi."


"Coba kamu cari info pada teman-teman terdekat Cecilia. Bahkan yang tidak kamu duga sekalipun." usul Farid.


"Teman yang tidak terduga?" gumam Rangga kemudian mengangguk paham.


Tanpa diduga ternyata Rangga menemui Ismail yang kini tinggal di kota kembang, Bandung bersama Hana.


Ismail cukup terkejut dengan kedatangan Rangga yang seakan tiba-tiba.


"Maaf jika aku mengganggu waktumu, Ismail. Aku ... aku minta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi beberapa bulan lalu." ucap Rangga.


"Tidak apa. Aku juga sudah melupakannya. Kalau boleh aku tahu, ada keperluan apa kamu datang kemari?"


"Umm, begini. Aku ... mencari keberadaan Cecilia."


Ismail tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Rangga.


"Apa maksudmu?"


"Cecilia pergi dari rumah. Dan ini adalah karena ulahku." tersirat penyesalan di wajah Rangga.


Ismail masih bergeming dan tak berkomentar.


"Ismail, tolonglah! Selama ini Cecil dekat denganmu! Aku yakin kamu pasti tahu sesuatu! Kumohon katakan!"


Rangga memohon bak anak kecil yang memohon minta dibelikan mainan.


Ismail menghela nafas kemudian mulai angkat bicara.


"Sebenarnya alasan Cecil sering datang ke Bandung adalah untuk berobat. Ia dapat saran dari Alvian untuk mengikuti pengobatan alternatif disini."


"Pengobatan?"


"Dia sangat terpukul saat tahu tidak akan bisa memiliki anak. Jadi, dia memutuskan untuk melakukan pengobatan alternatif."


Rangga terdiam.


"Aku tidak tahu dimana Cecil berada. Kuberi saran untukmu. Jika kau berniat memperbaiki hubunganmu dengan Cecilia, maka ... jangan pernah melukai hatinya lagi." tutup Ismail.


*


*


*


Cecilia sedang memilih beberapa pakaian bayi di sebuah pusat perbelanjaan. Matanya berbinar saat melihat pakaian bayi perempuan yang begitu menggemaskan.


Tanpa ia sadari, sepasang netra sedang memperhatikan gerak gerik Cecil. Tak ingin membuang waktu, orang itu menghampiri Cecil.


"Cecilia!" sapa orang itu.


"Archan?" Cecil cukup terkejut.


"Kamu sedang belanja keperluan bayi?" tanya Archan.


"Iya." jawab Cecil canggung.


"Kamu sendirian saja?"


"Umm, aku ... aku bersama dengan..."


"Cecil!" Alvian menghampiri Cecil dan Archan yang sedang berbincang.


Archan tercengang karena yang menemani Cecil bukanlah Rangga, suaminya melainkan mantan suaminya.


"Mas, kenalkan, ini Archan, temanku." ucap Cecil.


"Oh, iya. Alvian!" Alvian mengulurkan tangannya.


"Archan!" sambut Archan dengan uluran tangannya.


"Umm, kalau begitu aku permisi dulu ya, Archan. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam."


Archan hanya memandangi punggung Cecil yang kian menjauh bersama Alvian.


"Jadi, dia ada disini..." Gumam Archan.


.


.


Archan kembali ke Kota Jogja dan menemui Rosida. Setelah sempat bersitegang dengan para orang tua masing-masing. Akhirnya Rosida bersedia menerima pinangan Archan, begitu pula dengan Archan yang menerima perjodohan dirinya dengan Rosida.


Perasaannya kepada seseorang nyatanya tidak akan pernah bersambut karena orang itu telah tertambat untuk orang lain.


Karena tak ingin masalah calon kakak iparnya semakin meruncing, maka Archan memberitahu tentang keberadaan Cecilia pada Rosida, Isma dan Farid. Mereka saling pandang.

__ADS_1


"Jadi, selama ini Mbak Cecil bersama dengan mantan suaminya?" ucap Rosida.


"Tapi, tolong jangan berpikiran buruk tentang Cecil. Aku tahu dia adalah wanita baik-baik. Dia tidak akan mengkhianati pernikahannya. Dia pasti datang ke Solo untuk menenangkan diri." bela Archan.


"Umi juga yakin jika Khumaira tidak akan memgkhianati Rangga." ucap Isma.


"Kalau begitu, kita harus meyakinkan Rangga agar tidak meluapkan emosinya. Abah takut dia tidak terkontrol." Sahut Farid.


"Aku akan ikut bicara dengan Rangga." timpal Archan.


"Umi, sebaiknya besok Umi minta Mas Rangga untuk datang kemari." usul Rosida.


......***......


Keesokan harinya,


Rangga sudah duduk bersama dengan Isma dan Farid juga Archan. Isma sudah mewanti wanti Rangga agar tidak tersulut emosi jika mendengar apa yang akan Archan katakan.


"Aku tahu dimana istrimu berada." ucap Archan.


Rangga terperanjat.


"Berjanjilah kau tidak akan marah, Rangga." Isma mengusap lengan putranya.


"Aku yakin Cecil bukan wanita yang seperti itu. Jika kau mencintainya, maka kau harus percaya padanya," tegas Archan.


......***......


Rangga menghubungi Alvian terlebih dahulu sebelum menemui Cecilia. Ia tidak ingin Cecil menghindarinya.


Sebenarnya Rangga ingin marah karena saat itu dirinya pernah bertanya pada Alvian, namun Alvian menjawab jika dirinya tidak tahu dimana Cecil berada.


"Aku minta maaf karena saat itu aku bilang jika aku tidak mengetahui dimana Cecilia. Ini demi kebaikan Cecil. Kau tidak mempercayainya. Dia sangat bersedih." ucap Alvian.


"Aku mengerti. Aku sudah mengakui kesalahanku. Aku ingin Cecil kembali padaku." sesal Rangga.


"Kau boleh menemuinya. Tapi jika dia menolak untuk ikut denganmu, maka kau jangan memaksanya. Dia sedang hamil besar." tegas Alvian.


"Aku mengerti. Sekali lagi terima kasih karena sudah menjaganya."


Alvian mengangguk.


.


.


.


Rangga melihat seorang wanita dengan perut buncit sedang mengajar anak-anak kecil bernyanyi. Terukir sebuah senyum di wajah tampannya kala melihat wanita yang amat ia cintai itu terlihat baik-baik saja.


Rasanya Rangga sudah sangat merindukan istrinya itu. Namun semua rasa sebisa mungkin ia tahan lebih dulu.


Netra Cecil mwmbulat sempurna kala melihat sosok yang beberapa bulan ini tak dilihatnya.


"Mas Rangga?" gumam Cecil.


"Cecil... Akhirnya aku menemukanmu..." ucap Rangga dengan berkaca-kaca.


Penampilan Rangga sangatlah berbeda dengan Rangga yang biasa Cecil lihat.


"Dari mana Mas tahu aku ada disini?" tanya Cecil ketus.


"Cecil, aku mohon! Ijinkan aku bicara sebentar denganmu." pinta Rangga.


Cecil tak menjawab kemudian duduk di bangku taman.


"Katakan!"


"Aku ingin meminta maaf!" ucap Rangga.


Cecilia hanya terdiam.


"Aku tahu selama ini aku banyak melakukan kesalahan. Maafkan aku, Cil..." Rangga berlutut di depan Cecil.


"Mas! Apa yang kamu lakukan?"


"Aku tidak akan bangun sebelum kamu memaafkan aku..."


Cecil menghela nafasnya. "Baiklah. Aku memaafkanmu. Apa kini Mas percaya jika anak yang kukandung adalah anak Mas?"


"Iya, aku percaya. Aku selalu percaya padamu, Cecil..."


Rangga memeluk Cecil, namun terhalang oleh perut buncit Cecil. Kemudian mereka berdua malah tertawa bersama.


......***......


Cecil akhirnya kembali ke rumah suaminya. Mereka sudah saling memaafkan. Baik keluarga Cecil maupun Rangga, menyambut dengan baik kembalinya mereka bersama.


"Semoga setelah ini, kalian bisa menghadapi berbagai macam badai yang datang menghampiri. Rumah tangga memang tidak semudah kelihatannya. Harus ada rasa saling menghargai satu sama lain jika suatu saat kalian berselisih." nasihat Isma untuk Cecil dan Rangga.


"Iya, Umi. Insha Allah Rangga akan menjaga Cecil dan anak kami dengan baik." jawab Rangga.


Tak terasa waktu bergulir cepat, Cecil tiba-tiba merasakan perutnya mengalami kontraksi.


"Mas! Sepertinya aku akan melahirkan!" Seru Cecil dengan memegangi perutnya dan mengatur nafas.


Rangga yang selalu menjadi suami siaga segera membawa Cecil ke rumah sakit milik Thania.


Rangga menunggu dengan harap-harap cemas proses kelahiran anaknya di temani Maria.

__ADS_1


Thania keluar dan memberitahu hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.


"Maaf, Rangga. Kondisi Cecil ... buruk! Bukankah ini adalah suatu keajaiban Cecil bisa kembali hamil? Dan ternyata kejutan datang di saat-saat terakhir."


Rangga mengusap wajahnya kasar.


"Apa yang harus kulakukan?"


"Kau harus memilih mana yang harus diselamatkan. Karena tidak mungkin kami menyelamatkan keduanya."


"Apa?!" Rangga terduduk lemas.


"Cecil... sempat berbisik padaku. Jika dia menginginkan anaknya selamat. Dia memilih mengorbankan nyawanya demi anak kalian."


Rangga menggeleng. "Tidak, Thania! Aku memilih Cecil. Dia harus selamat." ucap Rangga dengan suara bergetar.


Seorang perawat menghampiri Thania.


"Dokter, pasien dalam kondisi kritis. Bagaimana ini?"


Thania menatap Rangga.


"Selamatkan keduanya, Than!" Rangga memohon dengan menangkupkan tangannya.


"Aku mohon! Aku tidak ingin kehilangan mereka berdua!"


"Aku akan berusaha." jawab Thania kemudian masuk kembali ke ruang operasi.


*


*


*


Satu tahun kemudian,


Rangga dan Alvian sedang duduk di tepi danau menikmati musim panas yang tidak terlalu panas ini. Setiap minggu keluarga mereka memutuskan untuk melakukan piknik bersama dan menghabiskan waktu di hari libur.


"Alif, jaga adikmu dengan baik!" seru Alvian pada Alif yang sedang bermain dengan Elifia.


"Biarkan saja mereka! Anak-anak memang sangat suka bermain." sahut Rangga.


"Kau membawa bekal yang sangat banyak, Ga."


"Yeah, begitulah. Karena aku tidak ingin anak-anak kita kekurangan makanan saat berlibur."


Alvian tertawa.


"Al, apa kau tidak ingin menikah lagi? Kau sudah lama menduda."


Alvian menggeleng. "Prioritasku sekarang adalah membesarkan Alif. Masalah yang lain tidaklah penting." jawab Alvian.


"Hmm, bagus juga jawabanmu."


"Lihat! Itu mereka!" Alvian menunjuk kearah Radit dan juga yang lainnya.


Nadine berjalan tertatih karena perutnya yang sudah membesar.


"Astaga! Siapa yang memilih tempat ini untuk dijadikan tempat berpiknik? Tempatnya sangat jauh dari kota dan aku yang bertubuh besar ini diharuskan berjalan dari tempat parkir menuju kemari." sungut Nadine.


Tak kalah sengit, Amelpun menggerutu karena dirinya juga tengah hamil. Demi apa, jika sekali lagi Cecilia harus berada diantara sahabatnya yang sedang hamil ini. Untuk kedua kalinya, Amel dan Nadine hamil secara bersamaan.


"Kalian akan tahu betapa indahnya saat nanti tiba di tepi danau nanti," ucap Cecil membujuk kedua sahabatnya.


"Akhirnya kalian tiba juga!" ucap Rangga seakan mengejek Nadine dan Amel.


"Kau pasti ingin mengerjaiku, huh?!" Nadine memukul lengan Rangga.


Suasana mulai riuh karena semua orang telah berkumpul.


"Ayo! Kita makan dulu! Aku memasak banyak makanan hari ini," ucap Cecil.


"Ternyata apa yang kau katakan benar juga, Cil. Pemandangannya saat indah dari sini." ucap Amel.


"Tentu saja. Aku tidak akan salah memilih tempat piknik untuk kita."


"Untuk bulan depan, biarkan aku yang memilih tempatnya." seru Nadine.


"Iya, Bumil. Terserah kau saja!" jawab Cecil.


"Hei, ayo kita mengambil gambar!" seru Radit.


Semua orang merapat agar tidak terlewat oleh kamera.


Alvian dan Alif. Amel, Wendy dan putri mereka. Nadine, Radit dan putra mereka. Lalu Cecil dan Rangga juga Elifia.


"Satu, dua, tiga! Senyum!!!"


......***......


...T A M A T...


"Terima kasih utk kalian yg setia menemani kisah ini hingga 3 season lamanya. Mohon maaf apabila dalam pembuatan kisah ini, masih banyak kekurangan disana sini.


dukung mamak terus untuk selalu berkarya.


Buat kalian yang ingin membaca karya mamak yg lain, bisa klik profil mamak,


Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2