99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2): Pernyataan Cinta


__ADS_3

"Aku menyukaimu. Dari pertama kita bertemu. Meskipun sikapku kasar terhadapmu, tapi itu hanya topeng. Yang sebenarnya, adalah... Aku menyukaimu.."


Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Rangga. Dia sudah memutar otaknya untuk mengeluarkan kata-kata yang bagus. Namun pada akhirnya, hanya itu yang mampu dia ucapkan.


Dia sudah memikirkan hal ini selama berhari-hari. Juga meyakinkan dirinya sendiri, jika memang benar inilah yang dia rasakan. Dia tak pernah merasakan hal seperti ini pada perempuan manapun. Hanya pada Cecil saja. Ada sesuatu yang berbeda darinya.


.


.


.


Satu hari sebelumnya,


"Kak Rangga yakin mau melakukan ini? Kakak serius menyukai Bu Cecil?"


"Menurutmu aku bercanda?" Rangga melotot ke arah Danny.


"Bertahun-tahun aku mengenal Kak Rangga. Dan baru kali ini kakak jatuh cinta. Di usia kakak yang---Sudah tidak muda lagi." Danny terkekeh.


"Sialan kau!!"


"Maaf-maaf, Kak. Aku pikir kakak tidak serius ketika kakak bilang menyukai Bu Cecil. Karena dulu dia masih punya suami. Tapi sekarang, mereka sudah berpisah. Wah, jangan-jangan Kak Rangga penganut aliran 'kutunggu jandamu' ya?" ledek Danny sambil tertawa.


Rangga mendekat dan memukul pelan kepala Danny. "Jangan asal bicara kau!" Rangga terlihat kesal.


"Aduh! Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud begitu. Tapi, kakak serius akan mengungkapkan perasaan kakak pada Bu Cecil? Dia masih dalam masa Iddah alias masa tunggu setelah bercerai."


Rangga menghela nafas. "Aku harus berusaha dahulu. Karena cinta, tak bisa datang tiba-tiba. Dia pasti sangat terkejut nanti."


"Tentu saja dia terkejut. Aku saja sudah terkejut lebih dulu."


"Kalau begitu aku harus cari kata-kata yang bagus dan tepat. Agar dia tidak terkejut. Iya kan, Dan?"


Danny memutar bola matanya. "Lakukan saja apa yang menurut kakak benar."


.


.


.


"Saya serius dengan kata-kata saya, Cecilia."


Rangga mengatakan itu saat Cecilia datang ke ruangannya untuk menyerahkan laporan mingguan.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Cecilia hanya terdiam. Dia berpikir jika bosnya itu pasti sedang bercanda. Meskipun terlihat diwajahnya kalau dia tersipu malu mendengar ungkapan Rangga.


"Umm, kamu tidak perlu terburu-buru menjawabnya. Saya----masih bisa menunggu." kini Ranggapun ikut tersipu malu.


Cecilia mengangguk. Lalu berbalik badan dan meninggalkan ruangan Rangga.


"Dia pasti sudah mulai gila." batin Cecilia sambil melangkah keluar.


...***...


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Cecilia terus memikirkan pernyataan Rangga. Setelah pesta kejutan kecil untuknya beberapa waktu lalu, sikap Rangga padanya memang berubah. Tapi tak pernah dipikir pusing olehnya. Bisa saja Rangga berubah karena ingin mengubah imej didepan karyawannya. Bukan hanya didepannya saja.


Tapi kejadian hari ini, membuatnya ingat dengan apa yang pernah dikatakan Alvian padanya saat terakhir mereka bertemu.


Alvian ingin Cecil bersama dengan Rangga. Karena Alvian bilang, Rangga mencintainya. Atau jangan-jangan ini hanya permainan Rangga saja, untuk mengerjai Cecilia?


Otaknya tak bisa berpikir jernih saat ini. Terlalu mendadak jika Rangga memang benar menyukainya. Sejak kapan? Mulai kapan? Kenapa harus dia? Ah sial!!! Cecil tak bisa menjawab pertanyaan itu.


Lalu perlahan dia mengingat kejadian saat dia selalu bertemu Rangga disaat dia sedang bersedih. Di cafe Chocolatte Lover, pertama kali Rangga melihatnya menangis, dan menyodorkan saputangan untuknya. Lalu saat Tasya kecelakaan, Rangga juga yang mengantarnya ke rumah sakit. Dan puncaknya saat Cecil memutuskan pergi dari rumah, Rangga juga yang menolongnya dan memberinya tempat menginap. Semuanya terlalu kebetulan, menurut Cecil.


Cecilia mengacak-acak rambutnya yang tergerai. Dia bingung harus bersikap bagaimana saat menghadapi Rangga esok hari.


Rangga yang dia kira sosok yang menyebalkan, sombong, dan tidak bisa menghargai orang lain, ternyata kini malah menyatakan perasaan padanya.


Tok...tok...


Kaca mobil Cecilia diketuk oleh seseorang. Ismail.


Sedari tadi mobilnya sudah ada dipelataran rumah, namun Cecil tak kunjung keluar dari mobil.


Cecil membuka kaca mobilnya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ismail.


Cecil mengangguk. "Iya... Aku baik-baik saja." jawab Cecil sambil tersenyum.


"Kalau begitu cepatlah turun! Ibu sudah menunggu."


"Hmm, baiklah." Cecilia merapikan rambutnya dan membawa tasnya, lalu turun dari mobil.


Seperti biasa, suasana makan malam terasa hangat. Ismail sekarang selalu menyempatkan waktu untuk makan dirumah. Karena dia sudah berjanji pada ibu Maria.


Ditengah perbincangan seru antara Ibu Maria dan Ismail, Cecilia hanya bisa diam, dan sesekali tersenyum menanggapi cerita mereka berdua.


Raganya mungkin ada bersama Ibunya dan Ismail, tapi pikirannya, entah kenapa terus memikirkan pernyataan Rangga.

__ADS_1


Sampai waktu tidurpun tiba, Cecil hanya bisa membolak-balikkan badannya diatas ranjang. Dia tak bisa tidur. Dia benci pada dirinya sendiri.


"Tidak mungkin aku goyah secepat ini. Tidak mungkin!!! Aku baru saja merasakan luka karena kehilangan cinta. Mana mungkin secepat ini mendapat cinta baru? Ini pasti cuma mimpi. Iya. Ini hanya mimpi. Besok pagi, pasti semua kembali normal. Pasti!!!" Ucapnya dalam hati.


...💟💟💟...


Cerita Rangga : New York, 10 tahun yang lalu...


Untuk pertama kalinya, aku diminta memberi kuliah umum seputar pengalamanku menjadi pengusaha muda di depan adik-adik kelasku. Aku sangat gugup. Aku takut salah bicara. Aku harus menampilkan kesan pertama yang bagus di depan para juniorku. Pertama, aku harus berpenampilan menarik. Tapi Aku bingung harus mengenakan baju apa.


"Pakai ini saja!" Hendi, asisten Papa, membantuku untuk memilihkan kemeja. Dia sudah seperti kakak untukku. Dia banyak mengajariku tentang kehidupan pebisnis muda.


"Kau serius? Apa cocok untuk kupakai mengajar?"


"Tentu saja cocok. Kau ini sangat tampan dilihat dari sisi manapun."


Pilihan Hendi jatuh pada kemeja putih polos yang menurutku itu biasa aku pakai. Tapi dari pada aku bingung menentukan pilihan, sebaiknya aku setujui saja saran dari Hendi.


"Oke. Terima kasih banyak." Aku tersenyum lega.


Aku berdiri didepan cermin. Terlihat sempurna. Aku suka. Tapi aku kurang suka kalau harus memakai kemeja panjang tanpa jas. Jadi kuputuskan untuk menggulung lengannya sampai siku. Agar terlihat lebih keren.



Begitu sampai di kampus, aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke kelas. Kupakai kacamata hitamku karena sinar matahari musim panas cukup membuat mataku silau.


Ponselku berbunyi. Ada sebuah pesan masuk. Dari Nadine. Dia tak pernah bosan mendekatiku. Aku berpikir sejenak.


Apakah aku harus membalas pesannya atau tidak. Kupandangi layar ponselku sambil terus berjalan.


Tak kusangka aku menabrak seorang gadis yang berjalan didepanku. Dia terjatuh, dan buku-buku yang dibawanya juga jatuh berserakan.


Bukan waktunya untuk mengurusi hal sepele begini. Kulanjutkan saja langkahku. Sambil mengetik pesan balasan untuk Nadine. Kudengar sayup-sayup ada suara berteriak memanggil ke arahku.


Aku tak perlu menggubrisnya. Lagipula dia juga tidak terluka, hanya jatuh tersungkur biasa, pikirku.


Ternyata gadis itu berani juga hingga memukulkan salah satu bukunya tepat mengenai punggungku.


Aku mulai kesal. Dan kuhampiri dia. Dia memintaku untuk minta maaf. Kulirik dia dari balik kacamataku. Dari pada memperpanjang masalah, kuucapkan sorry dan aku melenggang pergi.


Aku tahu jika gadis itu sangat kesal. Biarkan saja. Aku memang begini. Aku tak suka berurusan dengan gadis manapun.


...💟💟💟...


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2