
...💟💟💟...
Rangga semakin rajin datang ke kajian yang diadakan Isma dan Farid. Ia mulai mempelajari ilmu agama yang dulu tak sempat ia pelajari dengan serius. Hatinya kini lebih tenang. Damai. Mengenal satu persatu ayat-ayat Allah di dalam Alqur'an.
Ada pula kajian untuk para remaja muslim. Beberapa trik menghadapi masalah remaja yang makin hari kian rentan dengan hal negatif, dari mulai obat terlarang, **** bebas, dan masalah remaja lainnya.
Rangga juga diberi kesempatan untuk mengisi kegiatan motivasi bagi para muda mudi, karena prestasinya sebagai pengusaha muda yang sukses. Ia memberikan tips dan trik bagaimana menjadi pemuda yang cemerlang di usia muda.
Sesekali Rangga bertemu pandang dengan Cecilia yang juga rutin mengikuti kajian yang di isi oleh Isma. Meski tempat mereka terpisah, tapi kehadiran Cecil membuat Rangga jadi lebih bersemangat untuk belajar agama.
Ada desiran yang berbeda ketika mereka bertemu kembali. Terasa seperti mereka dipertemukan kembali dalam takdir Illahi yang suci.
Gejolak hati menggebu ingin segera melangkah lebih maju. Cinta yang kini dirasa, bak air yang menyejukkan dahaga dikala haus melanda.
"Sebaiknya kamu melakukan Ta'aruf, Nak. Itu akan lebih baik dari pada pendekatan yang berlebihan," nasehat Farid pada Rangga usai acara kajian.
"Ta'aruf? Apa itu Abah?" tanya Rangga mengernyitkan dahi.
"Itu semacam perkenalan antar dua manusia, lelaki dan perempuan."
"Tapi, aku dan Cecil sudah saling mengenal."
Farid tersenyum. "Mungkin dulu cara kalian berkenalan salah. Lebih tepatnya kurang sesuai dengan ajaran agama. Makanya hubungan kalian tidak berjalan dengan baik. Maaf kalau abah harus berkata begini, tapi karena kamu sudah mulai belajar agama, tidak ada salahnya kalau kamu memang serius dengan Cecilia, maka lakukanlah Ta'aruf."
Rangga melirik ke arah Isma. Isma mengangguk setuju.
"Lalu bagaimana dengan Cecil? Apa dia juga setuju melakukan Ta'aruf denganku?"
"Umi akan bicara dengannya. Perlahan. Jangan memaksanya."
"Benar. Perlahan saja. Kalau kalian memang jodoh, pasti Allah akan memudahkan jalan untuk kalian."
"Aamiin. Terima kasih Abah, terima kasih Umi..."
...***...
Sementara itu, dua orang yang sedang putus asa dengan masalah percintaan mereka, sedang saling mengungkapkan perasaan masing-masing sambil meneguk minuman beralkohol di sebuah bar.
"Sudah, berhenti minum! Kita pulang saja!"
"No! Aku belum mabuk. Aku harus meratapi nasibku."
"Nasibmu tidak seburuk itu kok. Kamu masih punya pilihan yang lain."
"Ternyata ikatan takdir mereka sangat kuat. Seberapa jauhpun mereka dipisahkan, mereka akan kembali menyatu."
"Itu berarti dia memang bukan jodohmu. Ayo kita pulang!"
Perlahan Raditya memapah Nadine keluar dari bar.
"Aku aan mengantarmu pulang. Kamu sudah kelihatan mabuk."
"No! Aku tidak mabuk. Aku masih bisa menyetir mobilku sendiri."
"Jangan gila, Nad! Kamu bisa celaka kalau menyetir dalam keadaan begini."
"Apa pedulimu?"
"Aku peduli denganmu. Ayo cepat masuk!"
"Lepas! Aku tidak mau!"
Radit menarik nafas kasar.
__ADS_1
"Kalau kamu sesedih ini, kenapa kamu membatalkan pertunanganmu dan Rangga? Kenapa tidak kamu lanjutkan perjuanganmu yang sudah berapa tahun itu? Kamu bilang sudah menerima Rangga pergi. Kamu sudah mengikhlaskan dia bersama Cecil. Kenapa sekarang..."
"Iya! Aku memang sudah membatalkan pertunangan itu. Tapi aku pikir, Rangga juga akan melupakan Cecilia. Tapi nyatanya, mereka masih saling cinta. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu sudah mengikhlaskan Cecilia? Kamu yang sudah membawa Cecilia kembali, apa kamu rela dia bersama Rangga? Rangga adalah sahabatmu sekarang. Apa kamu bisa merestui mereka?"
Raditya terdiam. Mencoba mencerna semua pertanyaan yang Nadine ucapkan.
"Mereka tidak perlu restu dari kita. Dari awal mereka memang ditakdirkan berjodoh. Hanya saja, jalan yang harus mereka lalui selalu terjal dan berliku. Mereka akan mulai berta'aruf. Aku rasa itu adalah jalan yang baik. Mereka pasti akan menemukan kebahagiaan."
"Nad... Kenapa kita tidak melakukan ta'aruf juga? Tak ada salahnya 'kan kalau kita coba." Radit menatap Nadine serius.
"Sudah cukup kita mencoba mencari cinta yang tidak penah bisa kita dapat. Mungkin saja, ternyata cinta itu sangatlah dekat. Hanya kita saja yang tidak menyadarinya."
"Apa? Apa maksudmu, Dit?"
"Mari kita berta'aruf juga."
"APA?!? Aku dan kamu?! Yang benar saja!"
"Tidak ada salahnya kalau kita coba."
Nadine kembali ke alam sadarnya, dan menatap dalam mata pria dihadapannya. Ia tahu jika pria didepannya ini serius dengan ucapannya.
Apakah ia harus menerima ajakan pria ini? Yang sudah menjadi temannya sejak masa SMA.
"Kamu serius dengan ucapanmu?"
"Iya. Aku serius."
Entah sadar atau tidak, Nadine melingkarkan tangannya dileher Radit, kemudian mencium bibirnya.
Radit terkejut menerima ciuman dadakan dari Nadine.
"Kenapa?" Tanya Nadine karena Radit tak membalas ciumannya.
Nadine tertawa. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Iapun meminta maaf.
"Kita akan melakukannya lagi, setelah kita benar-benar sudah sah menjadi suami istri."
"Baiklah, calon suamiku..." Nadine tertunduk malu.
Radit membalas dengan senyuman, kemudian memeluk Nadine.
"Peluk dikit boleh 'kan ya?" Cengir Radit.
...***...
Rangga bersiap untuk bertemu dengan Farid dan Isma, dan juga bertemu dengan Cecilia. Mereka akan resmi bertemu untuk berta'aruf.
Rangga meminta ijin pada Adi Jaya. Isma mengingatkannya untuk meminta ijin dulu pada Papanya dan juga Sandra. Dan betapa senangnya ketika Sandra menyatakan jika dia setuju dengan hubungannya dan Cecilia. Namun Papanya...
"Jangan dia, nak! Kamu boleh berkenalan dengan wanita manapun tapi jangan dia!"
"Kenapa? Apa karena Cecil seorang janda? Bukan salahnya jika dia harus bercerai."
"Rangga... Sekali saja Papa mohon padamu..."
"Tidak! Aku mencintai Cecil. Hanya dia. Aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia!" Rangga bersikeras.
Adi Jaya memegangi dadanya yang makin lama makin sakit. Apalagi melihat putra kesayangannya tak mau mendengarkan permintaannya.
"Jika Papa tidak bisa memberi restu. Maka aku tidak perlu restu dari Papa. Cukup Mama dan Abah Farid saja. Juga tante Sandra."
"Kak Rangga!!! Sejak kapan kakak berani melawan Papa seperti ini? Ini pasti karena wanita itu 'kan? Kakak jadi orang yang berbeda karena dia!" Sheila ikut angkat bicara.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu ikut campur. Kalau kalian tidak bisa merestui hubungan kami, silahkan saja. Aku tidak butuh itu! Apapun yang terjadi aku akan tetap menikahi Cecilia!"
Rangga melangkah pergi dari rumahnya. Ia tak mempedulikan lagi keluarganya yang tak bisa menerima Cecil.
Dari jauh Sheila berteriak memanggil nama Rangga. Namun ia bergeming dan terus melajukan mobilnya.
Adi Jaya melihat kepergian putranya dengan perasaan hancur. Putra yang selalu dia banggakan, memilih pergi meninggalkannya hanya karena seorang wanita. Hatinya hancur, dadanya makin sesak. Membuatnya ambruk dan tak sadarkan diri.
"Papa... Papa kenapa? Papa bangun...!!!" Teriak Sandra histeris.
"Sheila...!!! Cepat panggil ambulans!!!" Tangisannya pecah sambil terus memanggil-manggil nama suaminya.
...***...
Rangga semakin kencang melajukan mobilnya. Ia marah. Marah pada keluarganya yang tak bisa memenuhi keinginannya. Ia tak menginginkan apapun selain Cecil.
"Maafkan Rangga, Pa. Maaf kalau harus jadi begini. Aku harap suatu saat kalian bisa memahami perasaanku. Aku harap suatu saat kalian bisa merestui hubungan kami. Aku sangat berharap..."
Air mata Rangga tiba-tiba mengalir. Dengan cepat ia menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
Drrrrttttt drrrrrtttt drrrrrttttttt
Ponsel Rangga bergetar. Ada sebuah panggilan. Ia melirik ke arah ponselnya. Dari Sheila.
Rangga tak mempedulikan dan terus menyetir.
Drrrrtttt drrrrtttt drrrrttttt
Panggilan dari Sheila terus masuk. Hingga akhirnya Rangga memutuskan untuk menjawab panggilan itu.
"Ada apa lagi sih?" Ucap Rangga kesal.
Hanya terdengar suara tangisan disana.
"Shei... Ada apa? Kenapa kamu menangis?" Rangga mulai panik.
"Papa, kak.... Papa.... Hiks hiks hiks..."
"Ada apa dengan Papa?" suara Rangga makin panik.
"Pa...pa... Kena serangan jantung, kak..."
CKIIIIIIIITTTTTTTTTT!!!
Rangga menginjak rem seketika. Wajahnya pucat pasi. Air matanya mengalir makin deras. Ada rasa penyesalan di hatinya. Ia menggenggam dengan keras kemudi mobilnya. Matanya terpejam.
Dan dengan rasa sedih bercampur penyesalan, Rangga memutar kemudi mobilnya dan melaju berlawanan arah dengan arah menuju Cecilia.
"Maafkan aku, Cil... Sekali lagi aku menyakitimu... Maaf..."
Rangga memukul kemudinya sambil berurai air mata.
"AAARRRGGGGHHHH!!!!"
Rangga berteriak marah pada dirinya sendiri.
...💟💟💟...
BERSAMBUNG,,,,,
Jangan lupa tinggalkan kenang2an kalian untuk Cecilia 😘😘😘
Thank You
__ADS_1