99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Teman Baik


__ADS_3

Radit melangkahkan kakinya sambil bersenandung. Ia datang ke rumah sakit untuk menjenguk Rangga. Begitu sampai di depan kamar rawat Rangga, Radit terkejut karena kamar itu sedang dibersihkan. Iapun bertanya pada petugas yang sedang membersihkan kamar itu.


"Maaf, pasien yang dikamar ini kemana ya? Ini kamar Rangga Adi Putra 'kan?"


"Oh, iya benar. Ini kamarnya Mas Rangga. Tapi hari ini pasien sudah diperbolehkan pulang oleh dokter."


"Apa? Sudah pulang? Kenapa Rangga tidak mengabariku?"Gumam Radit.Β  "Ya sudah kalau begitu saya permisi. Terima kasih, Pak."


Radit bergegas memacu mobilnya menuju rumah Rangga. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Rangga. Perasaannya mengatakan jika Pak Presdir tidak akan tinggal diam. Rangga sudah membuat saham AJ Foods turun drastis dengan ulahnya kemarin. Itu pasti membuat Presdir murka.


Sesampainya disana Radit berlarian seperti orang gila mencari Rangga. Ia dihadang oleh beberapa penjaga yang dipekerjakan oleh Pak Presdir.


Radit berhasil melewati beberapa penjaga dan masuk ke dalam rumah. Ia bertemu Sandra di ruang keluarga. Para penjaga mengejarnya, namun Sandra menyuruh mereka untuk membiarkan Radit masuk.


"Tante ... dimana Rangga?" tanya Radit sambil terengah.


"Dia ada di ruang kerja papanya di lantai atas." jawab Sandra santai.


Meski nafasnya memburu, Radit kembali berlari menaiki tangga. Ia takut Pak Presdir akan mencelakai Rangga.


"Rangga...!!! Rangga....!! Kau dimana?" teriak Radit.


Ia bergegas membuka satu persatu pintu ruangan di lantai dua. Dan tibalah ia di ruangan yang didepannya di jaga oleh dua orang.


Radit yang masih terengah tak menghiraukan para penjaga dan menerobos masuk ke ruangan itu.


"RANGGAAAAAAA...!!!" teriak Radit histeris.


Dilihatnya Rangga sedang berlutut didepan Papanya. Dibelakang Rangga ada Hendi yang berdiri tegap seakan siap menghukum Rangga. Ia senang karena belum terlambat untuk menolong Rangga. Rangga masih baik-baik saja.


Semua mata di ruang itu tertuju pada Radit. Pak Presdir menghampiri Radit yang sedang mengatur nafasnya. Kemudian menepuk pundak Radit.


"Papa senang kamu memiliki teman yang baik, Rangga." Pak Presdir tersenyum lalu pergi dari ruang kerjanya.


Radit merasa berada di situasi yang membingungkan. Rangga kemudian bangkit dan berdiri.


"Kau baik-baik saja? Kenapa tidak bilang jika sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Radit ditengah kebingungannya dan nafas terengah.


"Aku baik-baik saja. Maaf tidak mengabarimu. Terima kasih sudah berlari sampai kesini." Rangga menepuk pundak Radit lalu pergi keluar menuju kamarnya.


Radit merasa bingung dengan situasi yang sedang terjadi. Namun ia tetap mengikuti langkah Rangga menuju kamarnya.


...***...


Radit merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk milik Rangga. Ia merasa lelah hati dan badan. Ibu Siti masuk ke kamar Rangga dengan membawa dua gelas air es yang menyegarkan.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu. Kamu memang tahu apa yang kubutuhkan," ucap Radit dengan mengedipkan mata.


"Sama-sama Mas Radit. Ibu senang karena Mas Radit mengkhawatirkan Mas Rangga."


Radit meneguk air yang dibawa bu Siti dengan sekali teguk. "Tentu saja aku khawatir. Anak itu sudah membuat papanya marah, dan dia juga hampir membuat perusahaan bangkrut. Apa tidak pusing kepalaku memikirkannya?"


Rangga berdiri di depan pintu yang menuju teras kamar. Ia hanya tersenyum mendengar keluh kesah Radit. "Kau terlalu berlebihan. Papa tidak akan menyakitiku."


"Siapa yang tahu apa yang akan terjadi denganmu? Lalu untuk apa kau berlutut di depan Om Adi tadi? Kau sudah siap mati, huh?"


"Karena aku salah, aku harus meminta maaf. Betul 'kan, Bu?"


"Minta maaf saja masih belum cukup. Kau harus bertanggung jawab atas turunnya saham AJ Foods dan berita miring yang beredar di masyarakat."


"Kau tenang saja! Aku sudah punya rencana."


"Rencana? Rencana apa? Apa aku boleh bergabung? Aku pasti akan membantumu."


Rangga tersenyum penuh keyakinan. "Terima kasih banyak karena mau membantuku."


"Jangan berterimakasih dulu. Kita harus buktikan pada Om Adi, jika kita bisa memperbaiki situasi buruk ini."


"Umm, iya. Let's do it!" Ucap Rangga menepuk bahu Radit.


Ibu Siti tersenyum bahagia karena Rangga memiliki teman baik seperti Radit.


...***...


Sedari pagi ia mencari namun belum bertemu dengan yang dicarinya. Ia putuskan untuk coba mendatangi kamar Umi Isma.


Rosida pernah berpesan, tidak sopan jika kita datang ke kamar Umi tanpa meminta ijin lebih dulu.


Cecilia sudah berdiri di depan kamar Umi Isma. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Umi Isma di dalam kamar setelah diketuknya beberapa kali pintu kamarnya.


Cecilia merasa bingung. Ada hal yang ingin ia bahas dengan Umi.


Dicobanya mengetuk pintu sekali lagi dengan lebih keras. Dan ternyata pintu kamar Umi Isma tidak terkunci.


Cecilia masuk dengan hati-hati dan memanggil nama Umi. Namun tetap tak ada jawaban.


Kamar milik Abah dan Umi cukup luas. Disediakan meja dan kursi tamu untuk orang yang ingin menemui mereka.


Pandangan mata Cecilia tiba-tiba tertuju ke arah meja panjang di ruang tamu. Ada satu album foto yang terbuka di atas meja.


Cecilia penasaran dan mendekat. Dilihatnya lembar demi lembar foto yang ada di album itu.

__ADS_1


Itu bukan foto, lebih tepatnya seperti kumpulan foto yang diambil dari koran atau majalah yang digunting lalu di tempel pada sebuah album foto. Semacam kliping foto.


Cecilia meneliti lebih dekat foto siapa yang ada di album kliping itu.


"Ini 'kan?!" Cecilia menutup mulutnya.


"Khumaira!!!" Rosida memergoki Cecil yang sedang membuka album foto milik Umi Isma.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rosida ketus.


"Aku? Aku ... aku tidak melakukan apapun, Ros. Aku hanya mencari Umi." jawab Cecil gugup.


"Apa yang kau lihat?" Rosida menatap ke arah Cecil yang seperti menyembunyikan sesuatu.


"Ini? Foto ini? Orang di dalam album foto ini ... adalah Rangga, bukan??" tanya Cecil dengan menunjukkan album foto kepada Rosida.


"Bukankah Umi sudah bilang, jangan masuk sembarangan jika Umi tidak ditempat!" Rosida merebut album foto dari tangan Cecil.


"Ros... kenapa Umi menyimpan foto-foto Rangga yang diambil dari majalah?" tanya Cecil penuh selidik.


"Bukan urusanmu! Dan juga bukan urusanku! Ayo cepat keluar dari sini, sebelum Umi mengetahuinya." Rosida menyeret lengan Cecil keluar dari kamar Umi Isma.


"Dimana Umi Isma, Ros?" Cecil tak menyerah begitu saja.


"Umi sedang pergi dengan Abah ke luar kota."


"Pergi kemana?" Cecil terus bertanya dan mendesak Rosida.


"Bukan urusanmu! Ayo cepat keluar!" Kini Rosida benar-benar membawa Cecil keluar dari kamar Umi


"Ros... apa mungkin ... Umi ... adalah ibu kandung Rangga??"


Rosida nampak pucat pasi. "Aku tidak tahu, Maira. Jika kau ingin tahu jawabannya, maka sebaiknya kita tunggu sampai Umi kembali."


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


--------bersambung-------


hayo hayoooo tebak-tebakan lah sekarang.... 😁😁😁


jangan bosan tunggu up dari Cecilia yak.


Dont forget leave your like, comment n vote😘😘


thank U

__ADS_1


Β©pinkanmiliar


2021


__ADS_2