
Tanpa sepengetahuan Cecil, Maria datang berkunjung ke rumah Adi Jaya pagi itu. Maria disambut hangat oleh Sandra.
"Eh, besan. Tumben datang kesini tidak mengabari dulu. Apa datang sendiri?" sambut Sandra.
"Iya, besan. Saya datang sendiri. Pak Adinya ada?"
"Ada. Papa sedang istirahat di kamar. Apa perlu kupanggilkan?"
"Ya boleh jika tidak merepotkan."
"Tentu saja tidak. Kita adalah keluarga." balas Sandra dengan tersenyum. "Silahkan duduk! Saya masuk ke kamar dulu."
Maria pun duduk di sofa ruang tamu. Bu Siti datang dengan membawa secangkir teh di tangannya.
"Silahkan, nyonya, diminum tehnya."
"Ah, iya..Terima kasih Bu Siti."
Tak lama kemudian, Sandra datang bersama dengan Adi Jaya. Kondisinya sudah pulih dan bisa berjalan meski tertatih.
Adi Jaya duduk berhadapan dengan Maria.
"Maaf, jika kedatangan saya mengganggu waktu istirahat bapak."
"Jangan bicara begitu. Kita adalah keluarga." sahut Adi Jaya.
"Terima kasih karena sudah menyambut saya dengan baik. Begini..." Raut wajah Maria berubah tajam dan serius.
Adi Jaya dan Sandra mendengarkan dengan seksama.
"Apa tidak sebaiknya kita mengatur rencana bulan madu untuk Rangga dan Cecilia?" usul Maria.
Adi Jaya dan Sandra saling melempar pandang.
"Sepertinya itu ide bagus, Pa. Rangga selama ini sangat sibuk. Sehingga ia jarang menghabiskan waktu berdua dengan Cecilia." balas Sandra.
"Hmm, benar juga. Semenjak aku sakit, Rangga mengambil alih perusahaan." imbuh Adi.
"Jadi, kalian setuju? Saya meminta pada Pak Adi untuk mengatur jadwal untuk mereka. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak. Saya hanya ingin kebahagiaan untuk mereka berdua. Kemarin saya baru saja memberi Cecil ramuan herbal dari teman arisan saya. Ya semoga saja setelah mereka melakukan bulan madu, maka mereka segera memberi kita cucu." lanjut Maria.
"Kami tidak berpikir macam-macam kok, Bu. Saya justru senang karena ibu mengusulkan ini. Ibu tahu sendiri kan dulu saja mereka sangat sulit dibujuk untuk berbulan madu. Apalagi sekarang, pasti akan sulit untuk membujuk mereka." balas Adi Jaya.
"Maka dari itu, kita harus membuat kejutan untuk mereka. Jangan beritahukan hal ini lebih dulu. Jadikan ini sebagai kejutan. Sebaiknya, ajak Rangga makan siang bersama, lalu kita bicarakan semua dengan baik-baik." usul Maria lagi.
"Papa rasa papa suka dengan ide Besan kita, Ma." Adi melirik ke arah Sandra.
"Tentu, Pa. Mama juga sangat setuju jika Cecil bisa segera hamil." Sandra nampak bersemangat.
__ADS_1
.
.
.
Saat jam makan siang, Sandra menghubungi Rangga dan memintanya datang ke rumah papanya tanpa Cecilia. Sandra berseru gembira ketika Rangga menyetujuinya. Maria sadar jika putrinya yang selalu menolak membahas soal bulan madu, maka dari itu ia memutuskan bicara dengan anak menantunya saja.
Rangga datang ke rumah papanya dan bertemu Maria disana. Ia cukup terkejut karena tidak tahu jika ibu mertuanya sedang ada di rumah. Rangga merasa ada sesuatu yang para tetua rencanakan.
"Bulan madu?" Rangga mengerutkan keningnya mendengar cerita rencana para orang tua.
"Iya, Nak Rangga. Kamu dan Cecil harus punya waktu untuk berdua." ujar Maria dengan lembut, tak biasanya Maria bersikap manis seperti ini.
"Tapi..."
"Rangga, papa akan atur semuanya. Urusan pekerjaan, biar Hendi yang mengurusnya. Kamu jangan khawatir! Pikirkan saja satu tempat yang ingin kamu kunjungi bersama Cecil. Papa akan mengatur segalanya."
Rangga nampak berpikir. Para tetua terlihat bersemangat tentang ini. Tidak mungkin juga ia menolak. Lalu istrinya? Cecilia lah yang selalu tidak suka membahas soal bulan madu.
Namun kini, ia harus bagaimana? Keinginan para orang tua tidak bisa dibantah. Tapi memaksa Cecil? Ia juga tak bisa.
Rangga hanya tersenyum menanggapi semua keinginan para tetua.
Hmmm, sebaiknya kuiyakan dulu saja permintaan mereka agar mereka tak kecewa. Sebenarnya aku juga ingin memiliki waktu berdua dengan Cecil dan tak memikirkan apapun. Mereka pasti sudah sangat ingin menimang cucu dariku dan Cecil. Sebaiknya aku cari cara untuk membujuk Cecil. Si wanita keras kepala itu harus menuruti keinginanku kali ini.
"Baiklah, Pa, Ma, Ibu. Kami akan melakukan bulan madu. Aku akan pikirkan satu tempat untuk kami singgahi." jawab Rangga.
β’
β’
β’
Rangga sengaja pulang lebih awal hari ini. Ia meminta Cecil memasak sesuatu yang spesial hari ini. Kali ini rencananya membujuk Cecil untuk berbulan madu haruslah berhasil.
Pukul enam petang, Rangga telah tiba di rumahnya. Ia sengaja mengendap-endap masuk kedalam rumah agar Cecil tidak tahu.
Ia membawakan buket bunga mawar untuk Cecilia. Dilihatnya Cecil masih sibuk di dapur. Rangga menghampiri Cecil dengan langkah pelan. Rangga yang bertemu Bi Idah memintanya untuk diam dan tak memberi tahu Cecil jika dirinya sudah pulang.
"Sayang..."
"Astaghfirullahaladzim..." Pekik Cecil kala tangan Rangga melingkar di pinggangnya.
"Hehe, kamu kaget ya? Bukankah sudah kubilang jika aku akan pulang lebih awal?"
"Iya, tapi tetap saja kenapa aku tidak mendengar suaramu masuk ke rumah?"
__ADS_1
"Aku sengaja ingin memberimu kejutan."
"Aku sedang memasak, sebaiknya Mas mandi dulu saja."
"Tidak mau! Aku masih mau memeluk istriku! Aku sangat merindukanmu..." ucap Rangga manja.
Cecil memutar bola matanya malas.
"Setiap hari kan ketemu, Mas. Sudah sana! Aku harus menyiapkan makan malam untukmu."
"Biar Bi Idah saja yang lanjutkan! Aku punya kejutan untukmu." Rangga menggiring tubuh Cecil menjauh dari dapur dengan tetap memeluknya dari belakang.
Rangga menuju ke ruang tamu dimana sebuah buket bunga sudah ia siapkan.
"Tadaaa!!!"
Cecil membulatkan mata tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia melepas pelukan Rangga dan mendekati buket bunga yang cukup besar itu.
"Mas? Apa ini? Tumben mengirimiku bunga?" tanya Cecil menyelidik.
"Hei, memangnya seorang suami perlu alasan jika ingin memberi istrinya bunga?"
"Hmmm, tidak sih. Tapi..."
"Aku mencintaimu, Cecil..." Rangga segera meraih tengkuk Cecil lalu mencium bibirnya dengan lembut. Ia tak mau istrinya itu kebanyakan bicara lagi.
Cecil menepuk pelan dada Rangga karena ia tak siap dengan serangan tiba-tiba suaminya.
"Mas...?" Cecil terengah kala Rangga melepas ciumannya.
Rangga mengusap pelan bibir Cecil yang basah karena ulahnya.
"Mas? Ada apa sebenarnya?" tanya Cecil menatap mata suaminya.
"Sayang, kita pergi berbulan madu yuk!"
"Hah?! Bulan madu?" Cecil mengernyitkan dahinya.
.
.
#bersambung...
ππππ
Apa Cecil setuju dengan ide Rangga?
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak jempol πkalian ππ
thank you