
Setelah pertengkaran malam itu, keadaan makin canggung antara Cecilia dan Alvian. Namun mereka bersikap baik-baik saja di hadapan Tasya. Mereka berdua tidak mau Tasya mengetahui masalah mereka. Akan ada saatnya mereka menjelaskan semua pada Tasya.
Laporan yang diminta Rangga akhirnya selesai. Cecilia kembali menyeleksi karyawan sesuai dengan permintaan Rangga.
Cecilia mulai jenuh dengan sikap Rangga yang sulit di tebak. Kadang dia baik, penuh perhatian, kadang dia menunjukkan sikap angkuhnya. Membuat Cecil lelah hati. Namun karena kehadiran Radit, dia masih bisa selalu tersenyum.
Radit adalah orang yang humoris, ia selalu bisa mencairkan suasana. Ia suka membuat bahan candaan yang ringan, hingga bisa membuat Cecil tertawa lepas.
Semua perhatian yang Radit berikan, tidak lah berbeda dari saat mereka masih duduk di bangku SMA. Cecil tahu jika Radit memendam rasa terhadapnya. Namun ia tak mempermasalahkannya.
Radit sendiri juga paham jika Cecil hanya menganggapnya sebagai teman baik.
"Bagaimana kabar Ibumu, Cil? Sudah lama aku tak bertemu dengannya." Obrolan Radit dan Cecil selalu dimulai di kafe lantai satu AJ Foods.
"Kabar Ibuku baik. Aku juga jarang bertemu dengannya. Hanya sesekali bicara dengannya lewat sambungan telepon."
"Syukurlah. Jika kau berkunjung kesana. sampaikan salamku untuknya."
"Pasti. Akan kusampaikan."
"Oh ya, soal Nadine---?"
"Ada apa dengan Nadine?"
"Kau jangan memikirkan dia. Dari dulu sifatnya tidak berubah. Jadi, percuma saja jika kita bicara baik-baik dengannya."
Cecilia tersenyum. "Tidak masalah. Aku tahu dia belum bisa memaafkanku."
"Aku tahu kau orang yang sabar. Aku yakin suatu saat Nadine akan menyadari jika kau tidak bersalah."
"Terima kasih sudah mendukungku."
"Aku dengar dia sedang dekat dengan bos baru kita. Lihat itu!" Radit menunjuk ke arah pintu masuk gedung AJ Foods.
Terlihat Nadine dan Rangga sedang berjalan bersama. Nadine bergelayut mesra pada lengan Rangga.
Gosip tentang mereka berdua sudah sering Cecilia dengar, terutama dari Amel yang pengikut setia akun instagram Rangga.
"Ada apa? Kenapa diam?" Tanya Radit.
"Tidak, Dit. Aku hanya merasa jika mereka sangatlah cocok."
"Bukankah Nadine juga kuliah di New York? Apa kau pernah bertemu dengannya?"
"Eh? Itu---?"
Cecil ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Apakah ia harus jujur pada Radit?
__ADS_1
"Tidak perlu di jawab jika kau tidak mau menjawabnya. Aku memahami perasaanmu, Cil."
Cecil membalas dengan sebuah senyuman. Tak lama ponsel Cecil berdering. Ada sebuah panggilan masuk. Dari Bima Antara.
Cecilia pamit pada Radit untuk mengangkat telepon. Raut wajahnya seketika berubah setelah menerima panggilan dari Bima.
...💗...
Cecilia menemui Bima Antara sepulang dari bekerja. Ada hal penting yang ingin Bima sampaikan pada Cecil.
"Ada apa, Bim? Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Cecilia dengan raut wajah sedikit cemas. Dia sudah bisa menebak apa yang akan Bima katakan padanya.
Bima tidak menjawab pertanyaan Cecilia. Dia hanya memandang Cecil dengan tajam.
Cecil adalah sahabat yang sudah dikenalnya sejak masih sama-sama kuliah di Amerika. Bima menatap masuk ke dalam mata sahabatnya itu. Seakan tak percaya kalau wanita di hadapannya ini akan melakukan hal besar dalam hidupnya.
Bima menyerahkan sebuah amplop coklat besar pada Cecilia.
"Apa ini, Bim?" Tanya Cecilia.
"Bukalah!" Bima menjawab dengan datar.
Cecilia mulai membuka amplop yang memang masih tertutup rapat dengan lem perekat.
"Cil, apa kau yakin dengan keputusanmu?"
Cecilia berhenti sejenak. Kemudian menatap balik wajah sahabatnya itu. Lalu melanjutkan membuka amplop coklat yang dipegangnya. Dengan seksama Cecilia membaca selembar kertas yang ada di tangannya.
"Iya. Itu surat panggilan dari pengadilan. Tentang pengajuan gugatan perceraianmu dan Alvian. Sidang perdananya akan dimulai minggu depan."
Cecilia memasukkan kembali kertas tersebut kedalam amplop.
"Cil, kau yakin mau melakukan ini? Apa kau benar-benar yakin inilah yang kau inginkan?"
Cecilia menatap kosong kedepan. Muncul banyak hal dalam pikirannya. Pikiran tentang gambaran-gambaran bagaimana dia akan hidup nantinya tanpa adanya Alvian. Alvian yang sudah mengisi hari-harinya selama sepuluh tahun terakhir. Apakah dia bisa hidup tanpa Alvian?
"Bukankah ini sudah menjadi tugasmu sebagai pengacara perceraian?" Cecil bertanya dengan penekanan tegas dalam kalimatnya.
"Aku memang pengacara perceraian, tapi aku tidak bisa mengurus perceraian sahabatku sendiri. Kalian berdua adalah temanku. Aku tidak bisa membiarkan kalian berpisah. Aku tahu perjuangan kalian hingga akhirnya kalian bisa menikah. Apakah kau tidak bisa mempertimbangkannya kembali?" Bima menatap Cecil dengan tatapan sedih.
Cecilia menepuk pelan bahu sahabatnya itu. "Aku tahu kau peduli padaku dan Mas Alvian. Tapi ini sudah jadi keputusan kami berdua, jadi tolong hargai itu."
"Tidak!! Alvian tidak pernah setuju untuk bercerai. Kau yang ingin menceraikannya. Apa yang sebenarnya terjadi, Cil? Kau tak pernah memberitahuku soal alasanmu menggugat cerai Alvian. Aku berhak tahu karena aku adalah pengacaramu!"
"Soal itu aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Jika waktunya tiba, aku pasti akan memberitahumu."
Bima menghembuskan nafasnya kasar. Raut wajahnya menyiratkan kekecewaan yang dalam pada keputusan Cecilia.
__ADS_1
Maafkan aku, Bim. . . Maaf kalau sudah membuatmu kecewa. Ini sudah jadi keputusanku. Dan aku tidak bisa mundur lagi.
...💗...
Setibanya di rumah, Cecil tak mendapati sosok Alvian di dalam kamar mereka. Kemudian ia mencari Alvian ke ruang kerjanya di lantai atas.
Dan benar saja, Alvian sedang sibuk di depan komputernya. Pintu ruang kerjanya tidak tertutup rapat, jadi Cecilia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Alvian yang awalnya hanya fokus pada layar komputernya, tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada sebuah amplop yang di bawa Cecilia. Dan seketika itu dia langsung menatap Cecilia yang berdiri disampingnya.
"Apa kau sedang sibuk? Jika iya, lanjutkan saja! Aku hanya ingin menyerahkan ini." Cecil meletakkan amplop coklat itu di meja kerja Alvian.
"Apa ini?" Alvian menghentikkan pekerjaannya sejenak.
"Kau buka saja sendiri."
Alvian mulai membuka amplop, dan bermaksud membaca isi surat didalam amplop itu. Namun tiba-tiba Cecil kembali bicara.
"Itu surat panggilan dari pengadilan."
DEG.
Alvian mengurungkan niatnya untuk membaca surat tersebut.
"Sidang perdana perceraian kita dimulai minggu depan. Aku harap kau bisa datang. Tidak! Kau harus datang!" Cecil berniat untuk pergi dari ruang kerja Alvian, namun dengan cepat Alvian meraih tangan Cecilia.
"Cil, kau yakin akan melakukan ini? Lalu bagaimana dengan Tasya jika kita berpisah? Apa kau tega membuatnya memiliki orang tua yang bercerai?"
Cecilia membalikkan badan. Dia menatap Alvian. Tatapannya terasa hambar. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan sekarang terhadap pria yang ada di depannya ini.
"Mas, kau sudah setuju untuk berpisah. Dan kau juga tahu apa yang membuatku melakukan ini. Soal Tasya, itu akan jadi urusanku. Dia adalah putriku. Dia akan ikut denganku setelah kita resmi berpisah. Lepaskan tanganku, Mas! Aku lelah, ingin beristirahat!"
Alvian melepaskan genggaman tangannya.
"Dan sebaiknya kau jangan coba-coba untuk tidak hadir di sidang perceraian kita." Itulah kalimat terakhir Cecilia sebelum akhirnya ia pergi dari ruang kerja Alvian.
Secara tak sengaja di depan ruang kerja Alvian, Nayla diam-diam mendengar perbincangan antara Alvian dan Cecilia tadi. Nayla mengetuk pintu. Dan Alvian mempersilakannya masuk. Nayla membawakan secangkir kopi untuk Alvian.
"Terima kasih, Nay. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan beristirahat. Ini sudah malam."
Nayla masih bergeming di hadapan Alvian. Ada hal yang ingin dia sampaikan pada Alvian.
"Ada apa, Nay? Ada yang ingin kau sampaikan?"
"Maaf, Mas. Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Apa benar kalian akan bercerai? Tidak bisakah kalian memikirkannya kembali? Bagaimana dengan Tasya jika kalian berpisah? Tolong bujuk Mbak Cecil agar tidak melanjutkan gugatan cerainya padamu. Aku tidak mau melihat kalian berpisah."
Nayla memohon pada Alvian. Dalam hati kecilnya dia menginginkan mereka berdua tetap bersama. Meskipun mungkin, apa yang terjadi sekarang adalah karena kehadirannya di kehidupan pernikahan Alvian dan Cecilia.
__ADS_1
...💗💗💗...
Bersambung-----