99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Pertunangan


__ADS_3

"Surat pengunduran diri? Apa maksudnya ini, Han? Bu Cecil mengundurkan diri dari AJ Foods?"


Hana tak bisa menahan air matanya.


"Iya, Mas. Bu Cecil mengirimkan email padaku pagi ini, dan ternyata isinya adalah ... surat pengunduran diri. Ada apa dengan Bu Cecil, Mas? Apa hubungannya dengan Pak Rangga sedang ada masalah?"


"Umm, setahuku mereka baik-baik saja. Mereka justru terlihat selalu mesra."


"Ini aneh. Pasti terjadi sesuatu. Iya 'kan, Mas?" selidik Hana.


"Dimana Bu Amel? Bukankah dia sangat dekat Bu Cecil?"


"Bu Amel?! Sejak tadi aku tidak melihatnya." Hana mengernyitkan dahinya.


.


.


.


Di suatu tempat di gedung AJ Foods, Amel sedang menyendiri. Dia sedang membaca sebuah email dari Cecilia. Isi emailnya cukup panjang.


Cerita tentang Cecilia yang memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dia juga bercerita tentang Nadine. Akhirnya Amel mengetahui kalau Nadine adalah sahabat Cecilia waktu SMA dulu. Begitu pula tentang Radit. Radit tidak berbohong. Dia memang mantan kekasih Cecil. Amel merasa bersalah pada Radit karena meragukannya.


Amel membaca email perpisahan dari Cecilia. Air matanya mengalir deras. Cecil meminta Amel untuk tidak menceritakan kebenaran ini pada siapapun. Kebenaran bahwa kepergiannya adalah untuk melindungi orang-orang yang sudah dianggapnya seperti keluarga.


Amel tak menyangka jika Cecil menyimpan beban yang begitu berat.


"Kenapa kau tidak menceritakannya padaku, Cil? Kenapa kau harus mengorbankan perasaanmu hanya untuk menyelamatkan kami?" Amel menangis terisak.


Amel mencoba menghubungi Cecilia. Namun ponselnya sudah tak aktif. Amel makin frustasi. Dia meminta ijin pada Hana untuk pulang lebih cepat hari ini. Dia ingin menenangkan diri sejenak. Sahabat yang ia sayangi, sudah pergi meninggalkannya.


...💟...


Dua minggu kemudian,


"Baik, Pa. Aku akan melakukan apa yang Papa minta. Aku akan melanjutkan perjodohanku dengan Nadine. Aku akan bertunangan dengannya."


"Rangga?! Apa Papa tidak salah dengar? Kau serius?"


"Iya, Pa. Aku serius!"


"Bagus, Nak. Itu baru anak Papa." Pak Adi memeluk Rangga.


Sandra yang melihat Rangga akhirnya memutuskan untuk bertunangan dengan Nadine, merasa ikut terharu. Dia tahu jika Rangga terpaksa melakukan ini. Ia pun bertanya-tanya apakah kepergian Cecilia ada hubungannya dengan suaminya?


"Semua serba mendadak. Ada yang aneh dengan hal ini. Tidak mungkin Papa ... melakukan ini pada Rangga ..." duga Sandra.


...***...


Di sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota, disinilah Cecilia kini berada. Sebuah tempat yang akan membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik. Akan tetapi ...


"Umi, sudah dua minggu dia disini. Tapi coba lihat. Setiap hari dia hanya menatap langit di pinggir jendela kamarnya. Dan selalu menangis saat malam hari. Aku sudah tidak tahan satu kamar dengannya, Umi. Kenapa Umi mau menerima dia disini?"


Umi Isma, dia adalah orang yang menolong Cecilia. Membawa Cecil ke sebuah pondok pesantren yang ia kelola bersama suaminya, di kota Yogyakarta.

__ADS_1


"Ros ... jangan begitu. Umi harap kau bisa bersabar menghadapi Khumaira. Dia masih bersedih, jadi biarkan saja dulu."


"Khumaira? Dia bahkan tidak suka dengan nama itu. Kenapa Umi menamakan dia begitu?"


"Ros!!! Jangan menaikkan suara pada Umimu." Abah Farid ikut membela Umi Isma.


"Tidak apa, Bah. Wajar jika Ros bersikap begitu. Ros, Umi mohon, kita harus bersabar. Umi yakin sebentar lagi dia akan kembali normal seperti biasa."


Rosida merengut lalu meninggalkan abah dan uminya yang selalu membela Cecilia.


"Maafkan sikap Ros ya, Umi. Dia memang masih suka bersikap kekanak-kanakkan."


"Tidak apa-apa, Bah. Umi paham. Semoga Khumaira akan cepat sembuh luka hatinya. Dia wanita yang baik dan periang. Umi juga rindu melihat senyumnya. Tapi untuk saat ini, kita biarkan dulu dia seperti ini. Biar Allah yang akan membimbingnya nanti."


...***...


Berita tentang pertunangan Rangga sudah menyebar ke seluruh negeri. Diadakan pesta meriah dan mewah untuk pertunangan mereka. Banyak tamu undangan penting yang hadir. Amel dan Hana yang notabene karyawan AJ Foods ikut menyaksikan pesta pertunangan mewah Rangga dan Nadine yang di adakan di salah satu hotel bintang lima, Royale Hotel.


"Harusnya Cecil yang ada disana!" Ucap Amel menunjuk ke arah Nadine yang sedang berbincang dengan tamunya.


"Sudahlah, Bu Amel. Mungkin mereka memang belum berjodoh." balas Hana menenangkan Amel.


"Ini tidak adil! Harusnya dongeng cinderella itu jadi nyata."


"Ya ampun, Bu Amel. Itu hanya dongeng, bukan di dunia nyata."


Dari kejauhan, seorang pria muda nampak di kawal oleh dua bodyguard berbadan kekar. Sang pria nampak meronta saat dua pengawal mencengkeram erat kedua lengannya.


"Lepas!! Aku tidak akan kabur! Aku janji!!!"


Amel dan Hana terperanjat saat melihat siapa pemuda yang bersama bodyguardnya.


"Han, jadi benar jika Radit itu ... sebenarnya adalah pangeran kaya."


"Iya, Bu. Saya juga baru mengetahuinya. Siapa yang menyangka jika Mas Radit yang urakan itu ternyata putra tunggal Tony Hanggawan, pemilik perusahaan konstruksi terbesar di kota ini. Dan dia akan mewarisi Hang Construction."


"Kau harus bergerak cepat, Han! Kau harus mendekatinya."


"Apa maksud Bu Amel?"


"Dongeng Cinderella tetap harus terwujud, Han. Sayangnya aku sudah menikah. Jika belum, aku pasti akan mengejarnya sampai dapat."


"Astaga! Bu Amel ada-ada saja. Sebaiknya jangan terlalu banyak berharap. Sejak awal kita hanya menganggap Mas Radit sebagai teman. Jadi, sangat tidak mungkin jika tiba-tiba aku mendekatinya. Dia pasti akan berpikir buruk tentangku. Iya 'kan?"


"Kau ini!! Belum berusaha sudah menyerah! Ya sudah, sebaiknya kita makan saja. Itu akan membuat moodku membaik."


...***...


Rangga terkekeh melihat Radit yang selalu di temani oleh para pengawalnya.


"Aku ingin bicara dengan calon mempelai pria, kalian pergilah! Aku tidak akan kemana-mana. Aku janji!!"


"Baik, Tuan Muda. Kalau begitu kami permisi dulu!"


Rangga menggelengkan kepala dan terus terkekeh.

__ADS_1


"Apanya yang lucu? Apa kau senang melihatku menderita?"


"Maaf! Jadi sekarang kau sudah kembali ke posisimu yang seharusnya?"


"Sejak kapan kau tahu jika aku adalah putra Tony Hanggawan?"


"Sejak ... " Ucapan Rangga terhenti. Dia ingat dengan baik kapan dia meminta data pribadi tentang Radit. Yaitu saat dia cemburu akan kedekatan Radit dan Cecilia.


"Hei!!! Kenapa diam? Sejak kapan? Atau kau memang sudah mengetahuinya sejak awal?"


"Ah, iya. Sejak awal aku sudah mengetahuinya. Aku tahu jika kau adalah putra tunggal Om Toni."


"Sialan!! Jadi penyamaranku sudah terbongkar sejak awal?!"


Dan entah sejak kapan, Rangga dan Radit jadi makin dekat sebagai sahabat.


...***...


Nadine selalu melemparkan senyum lebarnya kepada para tamu. Dia nampak bahagia malam ini. Apa yang diinginkannya akhirnya terwujud.


"Selamat atas pertunanganmu." Radit mendekati Nadine dan berbisik padanya.


"Terima kasih. Aku dengar kau sudah kembali jadi putra tunggal Tony Hanggawan. Baguslah! Aku ikut bahagia untukmu!"


"Apa kau sebahagia itu, Nad? Kau senang karena berhasil membuat Cecilia pergi? Dia adalah sahabatmu, Nad!!"


"Berhenti membicarakan tentang Cecilia! Dia bukan sahabatku lagi sejak ... "


"Sejak apa? Sejak kau patah hati karena si brengsek Ricky? Bukan salah Cecil jika Ricky lebih memilihnya dari pada memilihmu. Suatu saat kau akan menyesal karena sudah menyakiti sahabatmu sendiri." Kemudian Raditpun berlalu dari hadapan Nadine.


Nadine mengepalkan tangannya. Dia sangat marah sekarang. Kebahagiannya tiba-tiba hilang karena harus mendengar nama Cecil disebut di depannya. Ternyata tidak semudah itu menyingkirkan Cecil dari kehidupannya.


...***...


Pak Adi Jaya terlihat tertawa lepas bersama para koleganya yang diundang ke pesta ini. Diam-diam Amel memperhatikannya. Ada rasa marah yang ingin dia luapkan pada bosnya itu.


Tapi dia ingat nasihat Cecil yang ditulis dalam emailnya.


"Jangan membenci Pak Presdir. Dia tidak bersalah. Dia hanya melakukan apa yang orang tua lakukan untuk melindungi anaknya. Dan jangan berpikir untuk berhenti dari pekerjaanmu hanya karena aku. Teruslah bekerja keras, bukan untuk Presdir, tapi untuk Rangga. Kau harus tetap mendampingi Rangga, demi aku."


Air mata Amel hampir jatuh, kalau saja Hana tak mengejutkannya. Amel segera mengubah raut wajahnya menjadi kembali ceria.


"Acara intinya akan segera dimulai, Bu. Ayo kita cari tempat duduk."


"Iya, Han."


Amel terlihat sedih menyaksikan pertunangan Rangga dan Nadine. Ia tahu jika Rangga terpaksa menyetujui untuk bertunangan dengan Nadine.


Semua orang bertepuk tangan saat Rangga dan Nadine saling bertukar cincin sebagai tanda bahwa mereka sudah resmi bertunangan.


"Cecil ... kau ada dimana sekarang? Apa kisah cinta kalian benar-benar harus berakhir seperti ini?" Amel membatin dengan mata berkaca-kaca.


...💟💟💟...


----------------bersambung--------------

__ADS_1


__ADS_2