99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2): Because of You(Versi Rangga)


__ADS_3

Pernahkah kau bertanya...


Seperti apa bentuk air tanpa wadah...


Pernahkah kau mengira


Seperti apa bentuk cinta??


Membuatku tersadar


Bentuk cinta itu...


Yaa kamu... 💟


(Eclat: Bentuk Cinta)


...💟💟💟...


Kriiiiiiiiiiinnnnnggggggg


Jam wekerku berbunyi. Aku membuka mataku yang masih terasa berat. Hari sudah berganti. Masih teringat jelas bagaimana aku pergi membawa Cecil dari acara gala dinner semalam. Aku harus menghadapi Papa mulai hari ini.


Harusnya sudah kupikirkan dengan matang, jika ada resiko besar yang akan aku hadapi setelah mengumumkan hubunganku dengan Cecil.


Kriiiiieeeetttttt


Pintu kamarku terbuka. Ya Tuhan semoga bukan Papa.


"Kamu sudah bangun?" Itu suara Tante Sandra.


"Ho'oh. Ada apa pagi-pagi ke kamarku?" Aku malas berbasa-basi dengannya. Dia sudah menjadi ibu tiriku sejak 20 tahun lalu, tapi... Aku tidak pernah menganggapnya begitu. Dia hanya seperti parasit di hidupku.


"Cepat mandi lalu turun untuk sarapan. Sudah lama kita tidak sarapan bersama."


"Iya, aku sudah tahu"


Malas sekali rasanya setelah melihat tante Sandra didepanku. Aku akan menelepon Cecil saja sebelum ke kamar mandi.


"Halo Rangga... Tumben kamu telepon pagi-pagi."


"Iya, aku cuma ingin mendengar suaramu. Kamu sedang apa?"


"Aku sedang di toko roti ibu."


"Tumben pagi-pagi sudah ke toko?"


"Ini kan hari minggu, biasanya toko ramai jika hari libur. Jadi aku ingin membantu ibu disini. Kamu sendiri bagaimana? Apa sudah bertemu dengan Pak Presdir?"


"Belum, aku belum bertemu Papa dari semalam. Sebentar lagi juga bertemu, karena harus sarapan bersama."


"............."


"Cil... Kok diam?"


"Eh? Enggak apa-apa kok."


"Jangan cemas. Semua pasti baik-baik saja."


"He'em. Aku percaya padamu"


"Ya sudah. Aku tutup teleponnya ya."


Tok tok tok


"Mas Rangga..." suara Bu Siti dari luar kamarku.


"Iya Bu."


"Sarapan sudah siap. Mas Rangga ditunggu Tuan sama Nyonya di bawah."


"Iya bu, sebentar lagi aku turun."


...***...


Suasana di meja makan terasa kaku. Aku duduk berhadapan dengan Tante Sandra. Belum ada yang memulai pembicaraan. Kami masih sibuk dengan makanan di depan kami.


Papa menatapku. Tapi aku masih fokus dengan menyantap sarapanku.


"Setelah sarapan, ikut Papa main golf. Kita akan bertemu dengan keluarga Nadine. Kamu harus meminta maaf atas apa yang terjadi semalam."


"Baik, Pah."

__ADS_1


Tidak. Aku tidak hanya akan meminta maaf. Tapi aku akan menjelaskan semua pada mereka. Aku harus melakukannya hari ini.


-Lapangan Golf-


"Wah, permainanmu makin bagus saja Rangga." puji Om Rian, Papa Nadine padaku.


"Terima kasih, Om. Padahal saya sudah jarang bermain golf."


"Kamu pasti sangat sibuk. Mengurus perusahaan."


"Tidak juga, Om. Saya sangat suka bekerja, seperti Papa."


"Hahaha, kamu ini bisa saja. Ayo lanjutkan permainanmu."


Aku melirik ke arah Papa. Dia masih memperhatikanku bermain dengan Om Rian. Sementara Tante Sandra, dia mengobrol dengan Nadine dan Tante Rita di rest area lapangan golf.


Permainanpun sudah berakhir. Kami menghampiri para wanita yang menunggu kami. Nadine tersenyum padaku. Aku tahu ada sesuatu di balik senyumnya.


"Pak Rian, ada hal yang ingin disampaikan oleh Rangga." Papa memulai pembicaraan


"Ah benarkah? Soal apa itu Rangga?"


Sial, kenapa aku jadi gugup sekarang?


"Umm begini, Om dan Tante. Saya ingin meminta maaf atas kejadian tidak terduga tadi malam."


Om Rian tampak memperhatikanku.


"Saya benar-benar minta maaf." Aku membungkukkan badan di depan Om Rian dan keluarganya.


"Hubunganmu dengan wanita itu... Tidak seserius itu kan Rangga?" Nadine mulai membuka suara.


"Tentu saja, Nak Nadine. Mereka tidak mungkin serius. Kamu tidak perlu khawatir." Papa langsung memotong bagianku.


"Benarkah itu Rangga?" sepertinya Nadine hanya ingin mendengar jawaban dariku saja.


"Maaf Nad. Tapi apa yang aku ucapkan semalam adalah serius. Maaf semuanya, aku tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Selama ini aku hanya menganggap Nadine seperti adikku. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf."


"Rangga!! Apa kau sudah tidak waras? Beraninya kamu berkata begitu didepan Nadine!" Papa mulai menaikkan nada suaranya.


"Maafkan aku, Pah. Tapi inilah yang sebenarnya. Aku tidak bisa menikah dengan Nadine. Aku permisi!"


Aku meninggalkan mereka yang masih tertegun dengan semua ucapanku. Aku menuju ke parkiran, masuk ke dalam mobil lalu melajukannya. Saat ini hanya ada satu tempat yang bisa membuatku tenang.


"Lho, Rangga? Kau ada disini? Bukankah kamu---" Cecilia menghampiriku dan aku langsung memeluknya.


"Rangga... Ada apa?" tanyanya.


"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu... Biarkan aku memelukmu sebentar."


...***...


Aku meneguk air mineral yang Cecil berikan padaku.


"Huaahh, segar sekali rasanya."


"Kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa kamu ada disini? Bukankah harusnya kamu bermain golf dengan Pak Presdir?"


"Umm, itu... Acaranya udah selesai." Aku meneguk kembali air minumku.


"Aaahhh, lega sekali..."


Cecil menyilangkan kedua tangannya.


"Jangan menatapku begitu. Kamu tidak tahu apa yang baru saja aku lakukan. Kakiku saja rasanya masih lemas. Aku hampir tak kuat berjalan."


"Tunggu sebentar, aku ambilkan kue coklat untukmu. Mungkin akan membuatmu lebih tenang setelah memakannya."


Seumur hidupku, aku tidak pernah membantah Papaku. Aku selalu menuruti keinginannya. Tapi kali ini... Aku membangkang. Itu karena kamu, Cecilia... Entah kenapa aku jadi begini. Dan itu karenamu, hanya karenamu seorang.


"Ini makanlah!"


"Hmm dari aromanya saja kelihatan lezat. Terima kasih Cil."


"Sekarang katakan padaku, kenapa kamu ada disini?"


"Aku kan sudah bilang acaranya sudah selesai."


"Jangan-jangan kamu kabur lagi ya? Seperti semalam."


"Aku... Tidak kabur. Aku cuma sudah menyelesaikan urusanku disana, jadi... Jadi sebaiknya aku pergi."

__ADS_1


"Lalu Pak Presdir?"


"Aku akan bicara dengannya nanti. Tenanglah!" Aku meraih tangan Cecilia. "Yang perlu kamu lakukan adalah bertahan disisiku. Kamu bisa kan?"


"He'em. Aku percaya padamu." Ceciliapun tersenyum padaku.


...***...


Ibu Maria mengundangku untuk makan malam. Dan ternyata bukan hanya aku saja yang ada disana. Tapi juga si tetangga sebelah yang gayanya sok kegantengan.


Dia kelihatan sangat akrab dengan Cecilia dan ibunya. Cih, kenapa aku jadi emosi melihat kedekatan mereka?


Cecilia tertawa lepas saat bicara dengannya. Ibupun juga begitu. Apa-apaan ini? Aku hanya orang asing disini. Mereka tidak menganggapku ada. Menyebalkan sekali.


Makan malampun usai, Cecilia memintaku untuk berbincang-bincang dengan si pria ini di teras depan.


"Kalian berbincang dulu di depan, nanti akan kubuatkan kopi. Aku akan membantu ibu dulu."


Kami duduk berdampingan. Dan rasanya sangat aneh. Aku sungguh tak suka padanya.


"Kamu---Sejak kapan mengenal Cecilia?" tanyaku padanya.


"Eh? Aah itu--- Setelah terjadi kecelakaan putri Cecilia, Tasya. Aku yang menyelidiki kasusnya."


"Ooohhh, lalu kenapa kamu bisa tinggal di sebelah rumah ibunya Cecilia? Apa kau penguntit?"


Dia tertawa sinis. "Penguntit? Apa menurutmu aku seperti itu?"


"Aah sudahlah. Tak penting juga aku bertanya padamu."


Tak lama Ceciliapun datang membawa dua cangkir kopi.


"Ini kopinya! Lho kamu mau kemana Ismail?"


"Maaf, Cil. Aku harus berangkat ke kantor. Ada kasus yang harus kutangani. Kopinya untuk kalian berdua saja. Kalau begitu, aku permisi dulu."


Si pria itupun akhirnya pergi. Aku jadi merasa lega.


"Ada apa dengan wajahmu?"


"Apa pekerjaannya?" tanyaku dengan sinis.


"Ismail? Dia seorang polisi."


"Aku tahu dia seorang polisi. Maksudku bagiannya di kepolisian."


"Oooh itu. Dia seorang penyidik. Kenapa?"


"Tidak. Tidak apa-apa."


"Bohong! Kau cemburu ya?" Cecil mulai menggodaku.


"Tidak! Untuk apa cemburu dengan pria sok ganteng seperti dia!"


"Dia itu memang tampan. Bilang saja kamu cemburu." Cecil mencubit perutku.


"Aaww!!! Sakit Cil! Hentikan!"


"Ayo mengaku! Kau cemburu kan?"


"Hentikan! Iya iya, aku cemburu. Aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan dia."


"Dia itu seperti kakak bagiku. Jadi jangan khawatir. Aku tidak akan jatuh cinta padanya."


"Lalu dia? Sudah sangat jelas jika dia menyukaimu."


"Itu bukan urusanku. Kita tidak bisa mengatur perasaan orang kan? Sudah malam, sebaiknya kau pulang."


"Terima kasih ya. Atas makan malam dan waktunya hari ini."


"Sama-sama. Aku juga senang, kamu tiba-tiba datang."


"Aku akan berpamitan dengan ibu dulu."


"He'em."


Malam ini berakhir dengan indah. Meski awalnya aku sangat takut. Tapi ketakutanku sirna saat melihat Cecilia. Aku akan memperjuangkan kita. Aku yakin aku bisa.


Maaf Pah, kali ini aku tidak bisa menurutimu. Mulai sekarang... Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri.


...***...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2