99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2): Kencan ala Rangga (1)


__ADS_3

-Ismail PoV-


Untuk kesekian kalinya aku melewatkan makan malam bersama Ibu dan Cecilia. Aku merasa bersalah pada Ibu. Kuputuskan untuk membelikan buah kesukaan Ibu.


Aku melangkah menuju rumah ibu dengan senyum yang lebar. Saat akan memasuki rumah, kudengar suara Cecil yang meraung kesakitan. Ibu memukulinya. Aku bingung apakah aku harus menolongnya atau tidak.


Ini bukan urusanku. Cecilia tidak suka orang lain ikut campur urusannya. Suara Ibu terdengar marah. Ibu tidak akan menyakiti Cecilia. Dia hanya marah biasa. Aku yakin itu.


Sayup-sayup kudengar nama Rangga disebut. Rangga?? Tunggu sebentar. Aku pernah mendengar nama itu. Dia adalah direktur AJ Foods kan? Cecilia berpacaran dengannya?!! Tidak mungkin!!!


Kubalikkan badanku dan menuju rumahku. Terduduk selama beberapa waktu di depan layar komputer. Ingin kucari beberapa info di pencarian. Tapi aku ragu. Aku takut hasilnya tak seperti yang kuinginkan.


Pelan-pelan kuketik nama Rangga. Muncul beberapa tautan di layar. AJ Foods, aku mengklik tautan itu. Banyak berita tentang AJ Foods disitu. Salah satunya, ada berita tentang perjodohan pewaris antara Grup AJ dan Grup HD.


"Rangga Adi Putra? Nadine Hadinata?"


Nadine?? Kucoba perdalam pencarianku tentang Nadine. Apakah sama dengan Nadine yang pernah Cecilia ceritakan padaku.


Aku menarik nafas panjang. Kemudian menghembuskannya dengan keras. Kejadian masa lalu terulang kembali. Cecilia dan Nadine... Mereka... Mempermasalahkan hal yang sama. Semuanya terulang... Takdir yang aneh itu... Benar terulang.


...***...


-Kantor AJ Foods-


"Aku minta maaf, atas sikap Ibu kemarin. Aku yakin Ibu tidak bermaksud untuk----"


"Ini masih jam kantor." jawab Rangga santai tanpa menatap ke arah Cecil.


"Eh?" Cecilia bingung.


"Ini masih jam kantor. Sebaiknya tidak membicarakan masalah pribadi disini."


"Eh? I-iya Pak. Saya minta maaf."


"Ini laporan kamu. Sudah saya cek semua. Sejak awal saya suka dengan kinerja kamu. Tolong tingkatkan terus ya!"


"Ah, iya Pak. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."


Cecilia melangkah keluar dengan wajah cemberut.


"Cecilia! Tunggu!"


"Ada apa Pak?"


"Kita lanjutkan pembicaraan yang tadi saat jam makan siang."


Ada secercah senyum di wajah Cecil. "Baik, Pak."


.


.


*Saat Makan Siang,


"Maaf aku bersikap agak kasar padamu. Aku tidak ingin jika ada yang tahu kalau kita membicarakan hal pribadi di kantor."


"Iya aku tahu. Kamu harus bersikap profesional. Begitu kan?"


"He'em. Ayo makan dulu, nanti makanannya dingin."


"Tapi----Kamu tidak marah kan soal Ibu?"


"Tidak. Wajar saja jika orang tua bertanya tentang pria yang sedang dekat dengan anaknya"


"Tapi seharusnya kau tidak menjawab asal didepan ibu. Mengapa kau bilang jika Bu Siti adalah keluargamu? Meskipun kau sudah menganggapnya seperti keluarga."


BRAAAAKKK!!!! Rangga memukul meja.


"Rangga?!" Cecilia terkejut dengan reaksi Rangga.


"Bu Siti bukan seperti keluarga, dia memang keluargaku. Bukankah sudah sering kubilang, jika Bu Siti, Pak Udin, Herman dan Danny adalah keluargaku. Kenapa kau masih tidak mengerti?"


"Rangga? Kamu...?"


"Sudahlah! Tak perlu dibahas. Aku sudah selesai makan. Segera kembali ke kantor saat jam istrirahat selesai." Rangga melenggang pergi meninggalkan Cecil.


Sementara Cecilia hanya tertegun melihat sikap Rangga. "Ada apa dengannya? Kenapa sifat menyebalkannya kembali?!?"


.


.


.


Cecilia merasa bersalah karena sudah membuat acara makan siang berdua dengan Rangga jadi berantakan. Ia ingin meminta maaf pada Rangga. Ia memutuskan menunggu Rangga di tempat parkir kantor.


Muncullah Rangga dan Danny. Mereka langsung memasuki mobil. Cecilia berlari cepat ke arah mereka.


Tok tok tok


Cecilia mengetuk kaca mobil. Rangga membuka kaca, dan menatap Cecil dengan sinis.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Maaf Pak, apa saya bisa bicara sebentar?"


Rangga berpikir sejenak. Kemudian menjawab, "Baiklah."


Rangga turun dari mobil. Dan berpesan pada Danny. "Tutup semua kaca mobil dan nyalakan musik. Jangan mendengar apapun. Mengerti?"


"Iya Kak. Galak amat! Lagi PMS ya?" jawab Danny santai sambil menekan tombol ON untuk menyalakan musik.


Cecilia berdiri dibelakang mobil Rangga.


"Kau mau bicara soal apa?" tanya Rangga dengan wajah dinginnya.


"Aku ingin meminta maaf tentang kejadian tadi siang."


"Sudah kumaafkan."


"Kenapa wajahmu masih cemberut begitu? Tersenyumlah!" rayu Cecilia.


"Aku sudah memaafkanmu, Cil. Apa ada lagi yang mau kau bicarakan?"


"Umm, begini. Untuk menebus kesalahanku, bagaimana kalau kita kencan?"


"Apa? Kencan? Aku tidak salah dengar?"


"Kenapa memangnya? Kau tidak mau?"


"Bukan begitu. Tapi ini adalah akhir tahun. Dan kita sedang sibuk-sibuknya saat akhir tahun. Kau sudah bertahun-tahun bekerja disini, pasti kau lebih paham. Kita harus mengejar target perusahaan yang tertunda."


Wajah Cecilia seketika mirip kepiting rebus. Ada rasa malu campur marah dihatinya. Bisa-bisanya Rangga menolak diajak kencan?


"I-iya, Pak. Kalau begitu saya minta maaf. Sebaiknya kita lebih mementingkan urusan perusahaan. Benar kan? Kalau begitu, saya permisi dulu." Cecil menuju ke mobilnya. Dan melaju kencang meninggalkan Rangga.


"Ah, ada-ada saja!" Rangga merebahkan tubuhnya didalam mobil.


"Kak Rangga sungguh keterlaluan! Bagaimana bisa kakak menolak saat Bu Cecil mengajak kencan? Apalagi hanya karena alasan target perusahaan."


"Apa katamu?! Darimana kau tahu jika Cecil mengajakku kencan? Kau menguping ya? Sudah kubilang nyalakan musiknya!"


"Ckckck! Kakak memang tidak jago dalam urusan begini. Kakak payah!!! Apa kakak serius mencintai Bu Cecil? Tega sekali sampai menolak berkencan dengannya."


"Apanya yang salah? Kita memang sedang sibuk jika menjelang akhir tahun. Aku bicara fakta!"


"Lakukan saja apa yang menurut kakak benar! Jangan hiraukan dia, Man. Memang susah jika pria sudah terlambat puber macam kakak ini!"


"Hermaann!!! Kau jangan membela Danny! Kau harus membelaku! Katakan dimana salahku?!"


Herman hanya tersenyum kikuk melihat tingkah bosnya.


...*****...


Desember,


Bulan terakhir dimana banyak orang menuliskan resolusi hidupnya untuk tahun yang akan datang.


Banyak harapan tertuang untuk menyambut tahun yang baru.


Seperti hari baru bagi sebagian orang


Atau hari-hari biasa untuk sebagian yang lain.


Awal yang baru, aku menyebutnya begitu. Banyak hal terjadi di tahun ini. Banyak pelajaran hidup yang aku petik. Masa lalu hanya akan menjadi masa lalu. Masa dimana kita belajar untuk memahami sesuatu. Dan memulai kembali yang baru karena kita belajar dari masa lalu.


Aku akan menutup lembaran masa laluku, lalu memulainya kembali bersama denganmu.


Jangan pernah takut gagal kalau kau belum mencobanya.


Percayalah, ada setitik kebahagiaan dibalik kesedihanmu di hari lalu...


Tertanda,


Cecilia.


...*****...


"Ayo kita kencan!"


"Eh?"


"Kau bilang ingin berkencan denganku."


"Tapi----"


"Tapi kau harus janji. Tidak boleh protes soal kencan kita. Aku yang akan menentukan semuanya. Deal?"


Aku masih tidak percaya jika akhirnya Rangga mengajakku kencan. Padahal baru beberapa hari lalu dia menolak kencan denganku.


Agar tidak merusak kencan pertama kami, kuputuskan untuk berkonsultasi dengan Amel. Dia paling tahu tentang Rangga. Meskipun tidak semuanya.


"Jadi, Rangga mengajakmu kencan?"

__ADS_1


"Iya, tapi, aku tidak tahu harus berbuat apa. Maksudku, aku tidak mau menyinggung perasaannya lagi."


"Apa yang membuatnya tersinggung?"


"Itu----beberapa waktu lalu aku mengajaknya ke rumah, dan Ibuku bertanya tentang keluarga Rangga."


"Hmm, sepertinya kau salah langkah. Kemari!!!"


Amel memberi kode agar aku mendekatkan telingaku ke arahnya.


"Begini, akan ku beri tahu, Rangga itu paling tidak suka jika ada yang membahas tentang keluarganya." Amel bicara dengan berbisik.


"Kenapa begitu?"


"Aku tidak paham alasannya. Tapi yang aku tahu, Rangga pernah diundang ke salah satu stasiun TV, dan saat pembawa acaranya bertanya tentang keluarga, raut wajah Rangga langsung berubah, dan dia pergi meninggalkan acara itu tanpa sepatah katapun."


"Benarkah?"


"Iya. Maka dari itu, sebaiknya kau hati-hati dalam memilih topik pembicaraan dengannya. Jangan pernah membahas tentang keluarganya terutama ibunya, kecuali dia sendiri yang mau membicarakannya."


"Ada apa dengan Ibunya Rangga?"


"Apa kau tidak tahu? Ibu kandung Rangga pergi sekitar 20 tahun yang lalu dan tidak ada yang tahu dimana dia sekarang."


"Hah?"


"Aku ingatkan, jangan sampai membahas soal keluarga. Oke?"


.


.


.


Kupikir Rangga akan membawaku ke tempat yang belum pernah kami kunjungi, ternyata Rangga tetap mengajakku ke kafe Chocolatte Lover, langganan kami.


Mungkin Rangga belum tahu banyak tempat disini. Dia kan baru saja kembali. Aku sudah janji tidak akan protes. Jadi... Sebaiknya ku kembangkan saja senyumku yang manis ini selama acara kencan kami.


Aku baru tahu kalau hari ini ternyata ada live music di kafe. Sekelompok anak-anak muda berusia 20 tahunan mungkin, sedang memainkan lagu di iringi drum dan teman-temannya. Dari dulu aku ingin jadi anak band. Tapi hal itu tak pernah terwujud karena aku tidak mahir memainkan alat musik apapun. Jadi vokalis? Suaraku juga tak bagus-bagus amat. Haha, jadilah aku hanya seorang penggemar dari anak-anak band disekolahku dulu.


Dan tiba-tiba saja Rangga melangkah maju kedepan panggung. Oh my God, Rangga akan menyanyi? Serius? Dia bisa menyanyi? Aku tak bisa berkata-kata.


Rangga mengambil gitar dan memainkannya. Dia menyanyikan lagu romantis milik penyanyi Gleen Fredly.


Hey hey hey you're the one


Hey hey hey you're the one


Hey hey hey I cant live without you,


Take me to your place


Where our hearts belong together


I will follow you


You're the reason that I breath


I'll come running to you


Fill me with your love forever


I'll promise you one thing


That I would never let you go


'Cause you are my everything


Lagunya sangat menyentuh hatiku. Aku tersipu malu mendengar liriknya. Apakah itu benar ungkapan dari hatimu, Rangga?


Apakah aku boleh mempercayai ini?


"Bagaimana? Kau suka lagunya?"


"Sangat suka. Terima kasih banyak." Aku terus tersenyum. Bahagia sekali aku malam ini.


"Kencan kita belum berakhir. Ada satu tempat lagi yang harus kita kunjungi."


"Tempat apa? Dimana?"


"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang."


Rangga menggenggam tanganku. Dan mengajakku ke tempat kencan kami selanjutnya.


...💟💟💟...


Bersambung,,,,


*Author's Note*


"Terima kasih untuk yg sudah bersedia memanti UP dari saia. Sedikit cerita kenapa part per bab itu ada yg sampai panjang dan ada yg hanya singkat 😌😂. Karena ide itu tidak selalu muncul di dalam otak, jadi saat tiba2 banyak inspirasi muncul langsung ditulis dan tak terasa ternyata banyak 😬😬😬

__ADS_1


Semoga berapapun banyaknya kata per part di cerita ini, kalian akan tetap menyukainya.


Jangan lupa vote n like. Thank U🙏🙏


__ADS_2