
...πππ...
Beberapa hari kemudian, Cecil mendapat pesan dari Jimmy. Sebuah undangan untuk datang ke butiknya. Cecil ragu apakah harus datang atau tidak. Ia meminta pendapat dari Ismail.
"Aku akan menemanimu. Kita akan datang kesana," jawab Ismail dengan serius.
Cecilia hanya bisa membalas dengan senyuman. Ismail adalah orang yang baik. Teman yang baik. Pikir Cecilia.
Malam itu sungguh mengejutkan bagi Cecil. Karena ternyata butik milik Jimmy sudah berubah menjadi butik milik Ivana.
Tampilan depan butikpun sudah berubah. Tak ada lagi nama Jimmy Choo disitu. Yang tertulis di papan adalah Ivana Lee Boutique.
Cecilia memandang sekeliling saat akan masuk ke dalam butik. Semua pegawai disana masih sama. Bahkan Lollypun ada disana.
Cecil bertemu pandang dengan Ibunya Ivana, Ibu Nia, yang langsung datang menghampiri Cecil.
"Selamat ya, Bu..." Cecil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Terima kasih banyak. Akhirnya keinginan Ivana bisa terwujud." Ibu NiaΒ meneteskan air mata.
"Tidak, Bu. Ini semua memang milik Ivana. Sudah seharusnya dia yang memiliki butik ini."
Kemudian Cecilia berpamitan. Ia tak mau berlama-lama ada disana. Kenangan akan Ivana masih menggelayuti pikirannya.
Saat akan meninggalkan butik, ia mendapat pesan di ponselnya. Dari Jimmy.
"Maafkan aku, Cil. Selama ini aku mengkhianatimu. Sekarang, semua sudah kembali ke tempat yang semestinya. Jadi aku harap, kau juga bisa lebih bahagia. Jangan menyalahkan dirimu lagi. Aku pamit, Cil. Aku akan pergi ke tempat dimana seharusnya aku berada. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus dosaku pada Ivana. Aku akan belajar tentang hidup.Dan bagaimana menghargai hidup. Terima kasih karena sudah membuatku menyadari kesalahanku selama ini. Sampai jumpa di lain kesempatan jika Tuhan masih mempertemukan kita kembali. Jaga dirimu dengan baik. Jimmy Choo."
Air mata Cecilia yang sudah kering kini berurai deras lagi. Tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh. Ismail segera menangkapnya. Dadanya semakin sesak.
Terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Cecilia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menghampirinya.
Itu adalah Alvian. Raut wajahnya sedih. Ada semburat penyesalan di bola matanya yang pekat.
"Jadi kau sudah kembali..." Ucap Alvian pelan.
Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah semua hal terjadi diantara mereka dan juga teman-teman mereka.
"Cil ... Aku minta maaf..." Alvian mendekat. Namun Cecil melangkah mundur.
"Kebohongan apa lagi yang kamu sembunyikan, Mas?" tangis Cecilia makin pecah.
"Maaf jika akhirnya jadi begini ..." Alvian kembali mendekat. Dan Cecil tetap menghindarinya.
Ismail memberi tanda pada Alvian untuk tidak melangkahkan kakinya mendekati Cecilia.
"Ayo kita pulang, Cil..." ajak Ismail. Cecilia mengangguk. Dan Alvian hanya memandangi kepergian Cecil.
Di dalam mobil, Cecil menangis sejadinya. Ia memukul dadanya. Ismail bingung harus berkata apa.
"Apa yang kamu rasakan sekarang, Cil?" tanya Ismail dengan hati-hati.
Cecilia tak menjawab, dan terus menangis.
"Apa kamu kecewa?"
__ADS_1
Cecilia mengangguk.
"Kamu bersedih karena dikecewakan oleh Jimmy, atau oleh Alvian?"
Seketika Cecilia terdiam dan menghentikan tangisnya.
Ismail tak perlu mendapat jawaban. Karena dari tatapan matanya, ia tahu apa yang Cecil rasakan. Cecilia merasa terkhianati oleh Alvian.
"Aku tahu meski kau tak menjawabnya. Di dalam hatimu, ada sekitar beberapa persen tempat untuk Alvian. Lalu beberapa persen lagi adalah milik Rangga. Aku tahu itu dari sorot matamu. Dan aku? Ada berapa persen aku dihatimu?"
Ucap Ismail dalam hati sambil terus melajukan mobil menuju rumah.
...***...
Esoknya, Cecilia berkunjung ke makam Ivana. Dan ternyata ia sudah didahului oleh seseorang.
"Mas Alvian?" Si pemilik nama langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Kali ini Cecil tidak menghindari Alvian.
"Cecil? Kau datang kesini juga?"
Cecilia mengangguk.
"Sekarang dia sudah tenang, Mas. Dia sudah mencapai impiannya. Lalu, Untuk apa kamu datang kesini?"
"Aku hanya ingin mengunjunginya. Selama ini, aku bersalah padanya. Dan aku ingin meminta maaf. Meskipun sudah sangat terlambat..."
Wajah penuh penyesalan itu meletakkan sebuah karangan bunga di makam Ivana.
"Kalian ada disini?"
Sebuah suara mengagetkan Alvian dan Cecil. Itu adalah Ibu Nia.
"Terima kasih. Kalian sudah memenuhi keinginan putriku. Mulai sekarang, Kalian tidak perlu menyalahkan diri kalian lagi. Aku berharap kalian bisa memperbaiki hidup kalian masing-masing. Aku sudah memaafkan kalian..."
Cecilia memeluk Ibu Nia, dan mengucapkan terima kasih.
.
.
.
Cecilia menuju ke toko roti milik ibunya selepas dari makam Ivana. Langkah kakinya terhenti ketika melihat seseorang sedang menunggunya di depan toko.
"Hendi? Apa yang kamu lakukan disini?" Yanya Cecil ketus.
Ia tahu Hendi adalah orang kepercayaan Pak Adi Jaya. Kedatangannya kesini, pasti ada hubungannya dengan Pak Presdir.
"Bisa bicara sebentar, Cil?"
"Baiklah. Tapi aku yang tentukan tempatnya," jawab Cecil tegas.
Cecilia menuju ke sebuah kafe yang agak jauh dari toko ibunya. Ia tidak ingin ibunya khawatir karena ia menemui orang kepercayaan Pak Presdir.
__ADS_1
Mereka duduk saling berhadapan. Sebenarnya Cecil sangat penasaran apakah Hendi datang ke Indonesia bersama Pak Adi atau tidak.
Tapi ia menyimpan sendiri pertanyaan itu dalam hatinya. Cepat atau lambat Pak Adi pasti akan mengetahui tentang kembalinya dirinya ke kota ini.
"Ada perlu apa mencariku?" Tanya Cecil tanpa basa basi.
"Ada yang ingin kusampaikan. Pesan dari Pak Presdir." Jawab Hendi tak kalah dingin.
"Pesan apa?"
"Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan kembali lagi? Kenapa kamu melanggar janji kamu?"
Sudah bisa ditebak. Hendi pasti akan mengatakan tentang itu. Batin Cecilia.
"Aku tidak pernah berjanji jika aku tidak akan kembali kesini. Aku hanya bilang kalau aku akan meninggalkan Rangga. Dan aku sudah menepati janji itu," jawab Cecil dingin.
"Tapi kalian bisa saja bertemu lagi jika kamu masih ada di kota ini."
"Kamu tenang saja. Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan menemui Rangga, ataupun sebaliknya. Meski Rangga mencariku, aku tidak akan menemuinya. Tolong sampaikan pada Pak Presdir, kalau aku sudah menepati janjiku untuk meninggalkan Rangga. Jadi... Aku harap Pak Presdir juga menepati janjinya untuk tidak menyentuh orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak akan tinggal diam kalau Pak Presdir melakukan sesuatu pada orang-orang terdekatku. Apa kau mengerti?!"
Setelah mengumpulkan keberanian yang besar untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan, Cecilia pergi meninggalkan Hendi yang masih tertegun melihat keberaniannya.
"Cih, dari mana dia dapat keberanian besar untuk bicara begitu?" gumam Hendi dengan senyum sinisnya.
Cecilia melangkah keluar dari kafe dengan kaki yang gemetar. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya begitu berani mengatakan hal seperti itu pada Hendi.
"Ya Allah... Apa yang sudah kukatakan? Aku tidak menyangka jika aku akan seberani itu..." gumam Cecil dengan meremas tangannya yang sedingin es menghadapi Hendi.
...πππ...
.......
.......
.......
...Bersambung...
.......
.......
.......
...Geregetaaaannn!!!! Sudah saatnya Cecilia jadi berani, iya kan??...
.......
.......
...Kira-kira ada yg ngeship Cecil sama Ismail gak ya? ππ...
...*Coming UP \=>> 'The Guardian Angel'...
...stay tuned and leave like comment and love π...
__ADS_1
...thank you...