
Selama ini mungkin aku tidak berpikir dengan jernih. Selalu memikirkan semua hal hanya dari sudut pandangku saja. Padahal, banyak hal yang tidak bisa kita lihat hanya dengan melalui mata, tapi harus dengan....
HATI
...💟💟💟...
Malam itu seperti biasa Rangga berkunjung ke kafe chocolatte Lover. Pikirannya sedang galau. Dan secangkir coklat biasanya bisa menjernihkan pikirannya kembali.
Ingatan tentang kebersamaan Cecil dan Alvian selalu memenuhi otaknya. Dan tidak seharusnya dia mempermasalahkan hubungan antara suami istri itu. Tidak seharusnya dia merasa berdebar ketika bersama dengan Cecil.
Apa itu cinta? Aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta. Bertahun-tahun aku menghindar untuk jatuh cinta. Tapi kenapa sekarang aku merasa dadaku sangat sesak? Saat melihatnya dengan orang lain?
Rangga meneguk secangkir coklat yang ada di mejanya.
Tidak bisa! Aku tidak bisa begini terus. Tidak mungkin jika aku jatuh cinta. Yang dibilang Danny benar. Aku harus fokus pada perusahaan. Papa meninggalkan perusahaan ini agar bisa aku kelola dengan baik. Mana bisa aku berubah hanya karena wanita. Yang aku rasakan sekarang, pasti hanya simpati. Simpati karena pernah melihatnya menangis. Benar! Pasti begitu!
Rangga kembali meneguk minumannya. Menatap tajam kedepan, dan meyakinkan dirinya jika semua yang dia lakukan akhir-akhir ini adalah hal konyol. Hal konyol yang tidak akan pernah dilakukan oleh seorang Rangga Adi Putra.
Hubungan laki-laki dan perempuan, adalah hal paling konyol di dunia ini. Pernikahan?? Aku tak percaya dengan semua itu. Bullshit!!!
Mulai besok, semua akan kembali seperti semula. Semua akan kembali normal.
...***...
-Gedung AJ Foods-
Pagi itu Rangga mengadakan pertemuan semua karyawan. Dia mengumumkan jika peraturan yang pernah dia buat, sudah dia ubah kembali dan menambah peraturan baru. Dia juga menargetkan semua karyawan agar berkinerja lebih baik dari sebelumnya.
Beberapa karyawan menggosipkan tentang sikap Rangga yang berubah-ubah. Mereka berpikir jika bosnya itu masih bersikap kekanakkan dan masih labil.
Ada juga yang berpikir jika Rangga tidak cocok menggantikan ayahnya yang sangat tegas dan disiplin.
Rangga mendengar semua gosip tentang dirinya. Namun tak ia hiraukan. Sudah menjadi resiko untuknya karena dia banyak membawa perubahan yang terkesan dipaksakan.
...***...
Usai meeting Rangga menemui Cecil. Tatapannya pada Cecil kembali dingin. Sama seperti pertama kali mereka bertemu di kantor.
"Mana laporan operasional untuk minggu ini? Kenapa belum kamu serahkan ke saya?" ucap Rangga tanpa berbasa-basi.
Cecil terkejut. Dia bingung harus menjawab apa. Ditatap dengan sangat tajam oleh bosnya seakan-akan ada raja singa yang siap menerkamnya.
"Kenapa diam?"
"Maaf, Pak. Bukankah laporannya diserahkan sebulan sekali? Untuk minggu ini belum selesai Pak, saya---"
"Kamu tidak dengar apa kata saya tadi di ruang meeting? Peraturannya sudah saya ganti."
"Iya tapi, Pak. Bukankah baru saja hari ini diganti, tidak mungkin saya---"
"Cukup! Saya tak mau tahu, cepat selesaikan laporan kamu dan bawa ke ruangan saya. Mengerti?!"
Cecil menarik nafas dengan sangat panjang. "Baik, Pak! Akan saya buat sesegera mungkin!" jawab Cecil dengan tetap mengulas senyumnya.
__ADS_1
.
.
-Ruangan Rangga-
"Ini laporan yang bapak minta." Cecil menyerahkan map berwarna biru pada Rangga.
Dan langsung dibaca oleh Rangga.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."
"Eits, tunggu dulu! Kamu duduk dulu disini. Saya belum selesai periksa laporan kamu." Rangga mengarahkan matanya ke arah kursi didepannya.
Cukup lama Rangga memeriksa semua laporan yang dibawa Cecil. Dan Cecil hanya berdiam diri menunggu dengan cemas apakah laporannya sudah sesuai dengan harapan Rangga atau belum. Dia masih mengingat bagaimana Rangga memperlakukan dia dan Rani hanya karena sebuah laporan.
Rangga menyerahkan kembali map berwarna biru tersebut. "Sudah sesuai harapan, paling cuma revisi sedikit karena kamu ada salah ketik."
"Oh, maaf Pak kalau saya kurang teliti. Saya akan segera merevisinya. Kalau begitu saya permisi dulu Pak."
Baru saja Cecil akan beranjak dari tempat duduknya, lagi-lagi Rangga mencegahnya.
"Tunggu sebentar, boleh saya tanya sesuatu?"
"Eh, iya Pak, boleh."
"Apa arti pernikahan buat kamu? Apa kamu bahagia setelah menikah selama bertahun-tahun?"
"Eh?"
"Kenapa Bapak menanyakan soal pernikahan?"
"Saya hanya ingin tahu saja pendapat kamu tentang pernikahan."
"Bukannya bapak sendiri yang melarang karyawan untuk membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi. Kenapa bapak malah menanyakan hal pribadi kepada saya?"
"Kalau kamu tidak mau jawab, ya sudah. Urusan kamu sudah selesai. Silahkan keluar dari ruangan saya!"
Cecilia meninggalkan ruangan Rangga dengan wajah kesal. "Dasar menyebalkan!!!! Sekali menyebalkan tetap akan menyebalkan!!!" gerutu Cecilia.
...***...
Daripada memikirkan pertanyaan yang diajukan oleh bosnya, Cecil memutuskan untuk mampir ke butik milik Jimmy setelah jam kerja. Sudah lama juga dia tidak berbelanja. Dan jadilah Cecil memilah memilih baju yang akan dia beli. Namun kali ini dia tidak membeli baju untuknya saja, tapi untuk Nayla.
Dia ingin memberikan hadiah kecil untuk Nayla, karena sudah satu tahun ini dia membantu untuk mengurus Tasya selama Cecil bekerja.
Sesampainya di rumah, Nayla sangat senang karena mendapat hadiah dari Cecil.
"Terima kasih banyak, Mbak. Seharusnya Mbak Cecil tidak perlu melakukan ini."
"Tidak apa, Nay. Lagipula aku yang harus berterimakasih padamu. Karena kamu sudah menjaga Tasya selama aku bekerja."
"Aku ikut senang, karena Mbak Cecil dan Mas Alvian akhirnya berbaikan. Dan aku harap, kalian akan tetap bersama, demi Tasya."
__ADS_1
Cecil tersenyum getir.
Sebenarnya bukan berbaikan, Nay. Tapi aku memberikan kesempatan pada Mas Alvian untuk memperbaiki semuanya. Aku sendiri belum bisa menilai, apakah Mas Alvian sudah mulai memperbaiki atau belum. Aku masih menunggu apakah pernikahan kami masih bisa bertahan atau tidak.
Tunggu!! Pernikahan??
Tiba-tiba Cecil ingat dengan pertanyaan Rangga saat dikantor tadi.
Apa arti pernikahan buat kamu? Apa kamu bahagia setelah menikah selama bertahun-tahun?
Sial!! Kenapa malah jadi ingat dengannya? Apa maksudnya bertanya seperti itu? Jangan-jangan dia tahu kalau aku dan Mas Alvian sedang ada masalah? Sebaiknya aku berhati-hati dengan Pak Rangga. Dia orang yang susah ditebak. Sebentar baik, sebentar menyebalkan!
...***...
Esok paginya di kediaman Alvian dan Cecil.
Sebelum Cecilia berangkat ke kantor, Nayla mencegatnya dan bertanya soal makanan kesukaan Alvian. Nayla mengutarakan keinginannya yang ingin berterimakasih pada Cecil dengan memasak makan malam spesial untuk Cecil dan Alvian.
Cecilia menimang-nimang apakah akan menjawab pertanyaan Nayla atau tidak.
Nayla adalah istri Mas Alvian juga, meskipun selama ini dia tidak pernah diperlakukan selayaknya seorang istri oleh Mas Alvian. Karena Mas Alvian menjaga perasaanku. Dan selama ini dia juga sudah menjaga Tasya dengan baik, menjadi ibu baginya saat aku tak ada. Lalu sekarang dia bertanya begini, kenapa aku sulit untuk menjawab? Hanya pertanyaan simpel Cecil, dia hanya tanya apa makanan kesukaan Mas Alvian. Apa kamu tega tidak menjawabnya?
"Mbak Cecil? Kenapa diam, Mbak?" Suara Nayla membuyarkan pikiran Cecil.
Tidak! Aku tidak bisa memberi tahu Nayla. Aku tidak mau jika Mas Alvian berpaling.
Dan akhirnya Cecil berpura-pura jika dia mendapat panggilan telepon dari kantornya. Lalu segera pergi meninggalkan Nayla. Licik memang. Tapi apa boleh buat. Cecil ingin tetap menjadi pemenang di hati Alvian.
Sesaat setelah Cecil berlalu, ternyata Nayla kembali bertanya pada Neneng. Cecil melihat kejadian itu. Lalu memberikan kode pada Neneng untuk tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Nayla.
Ada apa dengan Cecilia? Apa dia cemburu? Cemburu jika ada wanita lain yang mengetahui hal-hal yang disukai suaminya. Sepertinya begitu.
.
.
Sesampainya di kantor, Cecil menghubungi Alvian dan meminta Alvian untuk tidak memberitahu Nayla jika nanti Nayla menghubunginya.
Cecilia seperti sedang bersaing dengan Nayla. Padahal selama ini, ia tenang-tenang saja meski Alvian sudah menikahi Nayla setahun yang lalu.
Apa sekarang Cecil mulai takut kehilangan Alvian?
...***...
Saat makan malam tiba, Cecil berpura-pura meminta maaf pada Nayla karena tidak sempat memberitahu soal kesukaan Alvian. Dia beralasan sangat sibuk dikantor dan tak sempat mengabari lewat pesan singkat juga. Nayla memahami hal itu.
Cecil menganggap dirinya sudah menang. Namun betapa terkejutnya dia saat tudung saji makanan dibuka, terpampang dengan sangat nyata kalau semua makanan yang tersedia di meja makan adalah aneka masakan makanan laut kesukaan Alvian.
Cecil yang mulanya tersenyum jahat, sekarang hanya bisa diam membisu dengan keadaan yang berbalik 180 derajat dari perkiraannya.
Dari mana Nayla tahu soal semua ini? Apa maksud Nayla sebenarnya menanyakan hal ini padaku jika dia ternyata sudah mengetahui semuanya? Dia----tidak seperti yang aku kira. Dia bukanlah Nayla yang kukenal. Sebaiknya aku berhati-hati terhadapnya. Bisa saja ia hanya berpura-pura tidak tahu apa-apa di depanku.
...💟💟💟...
__ADS_1
bersambung--------