99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Diatas Normal


__ADS_3

...Pikiranku tak dapat kumengerti...


...Kaki di kepala, kepala di kaki......


...(Peterpan : Diatas Normal)...


...💟💟💟...


"Malam, Mas Indra ..."


"Danny? Ada apa?"


"Apa Kak Rangga datang kesini?" Danny mendatangi kafe Chocolatte Lover untuk mencari Rangga.


"Mas Rangga? Tidak. Setelah pertunangannya dia tidak pernah lagi datang kesini. Apa ada masalah?"


"Tidak. Semuanya baik-baik saja."


Ponsel Danny berbunyi. "Iya Herman. Bagaimana?"


"Aku berhasil menemukannya, Mas."


"Dimana? Aku akan kesana sekarang."


"La Rosa Bar."


"Oke. Kita bertemu disana."


Danny menutup panggilan telepon.


"Danny, jika kau butuh bantuan, hubungi saja aku."


"Terima kasih, Mas. Aku permisi dulu."


Setelah hari pertunangan antara dirinya dan Nadine, Rangga mulai berubah. Dia sering pergi ke tempat karaoke atau bar di malam hari, bahkan sampai tak sadarkan diri alias mabuk.


Beberapa kali Danny dan Herman harus mencari dan menjemputnya untuk pulang dari bar. Dan kali ini mereka harus berpisah karena Rangga tidak pergi ke tempat bar yang biasa dia kunjungi.


Danny tiba di La Rosa Bar, tempat dimana Herman memberitahunya jika Rangga ada disana.


Dan benar saja, Rangga sudah tak sadarkan diri. Herman dan Danny memapah Rangga untuk berjalan menuju mobil, lalu membawanya pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Danny dan Herman membawa Rangga menuju kamarnya. Menidurkannya di tempat tidur, dan membiarkan Rangga terlelap tak sadarkan diri. Ibu Siti langsung menuju ke kamar Rangga. Dan membelai rambut Rangga dengan penuh cinta.


Danny mengatur nafasnya yang terengah. Begitupun Herman. Danny menatap wajah Rangga yang sudah terlelap dalam mimpinya. Ada kemarahan di raut wajah Danny. Ini pertama kalinya Danny begitu marah pada bosnya itu.


"Aku sudah tidak sanggup lagi, Bu. Seharian aku sudah pusing mengurus pekerjaan di kantor dan sekarang aku juga harus mengurus bosku yang suka mabuk-mabukan? Lebih baik aku pergi saja, Bu." ucap Danny dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan bicara begitu, Mas Danny. Dia tidak punya siapa-siapa selain kita. Jika kita tidak ada, siapa yang akan menemaninya?" Ibu Sitipun berurai air mata melihat kondisi Rangga yang berbau minuman beralkohol.


"Kau sudah menghubungi Bu Nadine?" tanya Danny pada Herman.


"Sudah Mas." jawab Herman singkat.


"Baguslah. Aku akan pergi setelah dia datang."


Tak lama kemudian,


"Rangga!!! Rangga!!!" suara Nadine terdengar di seluruh ruangan rumah.

__ADS_1


Nadine menerobos masuk ke kamar Rangga. Dan melihatnya sudah tergeletak di tempat tidur. Ditemani ibu Siti yang sedang membelai rambut Rangga.


"Bagaimana keadaan Rangga, Bu?"


"Dia sudah tidur."


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Seperti biasa, dia terlalu banyak minum lalu mabuk."


"Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya." Nadine terlihat sedih.


"Iya Mbak Nadine. Mas Rangga tidak pernah begini. Ibu mengenalnya sejak dia masih sangat kecil. Dia adalah anak yang baik. Meskipun dia tidak punya banyak teman, tapi dia anak yang selalu bersikap positif. Disekolahpun dia memiliki prestasi yang bagus."


"Lalu kenapa dia sekarang jadi seperti ini, Bu?"


"Mbak Nadine adalah tunangannya. Jadi pasti Mbak Nadine lebih tahu apa penyebabnya."


Nadine melangkah mundur perlahan. Dia tidak percaya Rangga yang dia kenal akan jadi seperti ini. Nadine terisak kemudian pergi dari kediaman Rangga.


...***...


Keesokan harinya,


"Kak Rangga!! Bangun, Kak!! Sudah jam berapa ini? Hari ini kakak ada meeting pagi dengan klien." seperti biasa Danny menjemput Rangga di rumahnya.


Rangga masih bergeming di tempat tidurnya. Danny menggoyang-goyangkan tubuh Rangga lebih keras.


"Kak Rangga, bangun!!! Ini sudah siang!"


Rangga mulai membuka matanya. "Apa sih Dan?! Masih pagi tapi kau sudah berisik!!"


"Hoooaaammm, ya sudah ini aku bangun. Kau tunggu saja dibawah. Sebentar lagi aku turun."


Danny keluar dari kamar Rangga dan menuju meja makan. Dia bertemu Ibu Siti yang sedang menyiapkan sarapan.


Danny duduk di meja makan sambil terisak. "Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, Bu. Aku sedih melihat Kak Rangga jadi seperti itu. Dia hanya patah hati karena seorang wanita, tapi kenapa dia harus mematahkan hati semua orang juga?"


"Sabar Nak Danny. Dia pasti bisa melalui ini. Kita harus lebih bersabar saja. Percayalah pada Ibu."


"Entahlah, Bu. Aku pusing. Aku akan makan yang banyak. Supaya lebih kuat menghadapi hari-hari bersama Kak Rangga." Danny langsung melahap semua makanan yang ada di depannya. Ibu Siti hanya tertawa kecil melihat tingkah aneh Danny.


...***...


Malam harinya,


"Oke, Man. Kali ini kita tidak perlu khawatir kehilangan Kak Rangga lagi. Aku sudah pasang alat pelacak di mobil Kak Rangga."


"Kau memang hebat, Mas." Herman terperangah.


"Iya dong! Coba kita cek, dia pergi kemana malam ini."


"Itu sinyalnya masih bergerak, Mas. Berarti Mas Rangga masih didalam mobilnya."


"Yap, kau benar sekali Herman. Kita tunggu sampai sinyalnya berhenti dulu. Jangan sampai dia merasa diikuti atau semacamnya. Kau tahu 'kan akhir-akhir ini dia agak ..."


"Emosional."


"Ya, benar."

__ADS_1


Dan sinyal dari pelacak di mobil Rangga akhirnya berhenti.


"Sudah berhenti! Aku cek lokasinya dulu. La Rosa Bar. Sama seperti kemarin. Oke, ayo jalankan mobilnya, Man."


"Mas ... apa kita tidak menghubungi Bu Nadine dulu?"


"Tidak. Dia adalah penyebab semua ini terjadi. Jadi jangan beritahu dia."


"Oops, sepertinya sudah terlambat, Mas."


Herman menunjuk ke arah luar mobil dan melihat Nadine keluar dari mobilnya.


"Sial!!" Danny mengumpat.


Nadine mengetuk kaca mobil dan Danny membukanya.


"Kau tahu dimana Rangga sekarang?" tanya Nadine.


"Umm, iya, Bu. Kami tahu." jawab Danny ragu.


"Oke. Kalau begitu kalian jalan lebih dulu dan aku akan mengikuti kalian dibelakang."


"I-iya, baiklah."


Herman mengemudikan mobil dengan pelan. Agar Nadine tidak kehilangan mereka.


"Sudah kubilang kita harus menghubungi Bu Nadine. Bagaimanapun juga dia adalah tunangan Mas Rangga." ucap Herman.


"Terserah saja! Ini semua memang salahnya. Dia yang memaksa Pak Presdir agar menjodohkannya dengan Kak Rangga. Cepat injak pegal gas, Man. Kita biarkan saja dia tertinggal. Aku tidak akan memberi tahu posisi Kak Rangga padanya." ucap Danny kesal.


"Jangan bicara begitu. Bagaimana jika dia mendengarnya?"


Danny melirik ke arah Herman sinis. "Kau pikir dia bisa mendengarnya?"


Tiba-tiba saja ponsel Danny berdering. Dan itu dari Nadine.


"Kubilang juga apa. Dia pasti mendengarmu." ejek Herman.


Danny mengarahkan tinjunya pada Herman. "Halo, Bu Nadine."


"Danny, aku harus mampir ke pengisian bahan bakar dulu. Kalian pergi dulu saja. Tolong kirimkan alamat posisi Rangga padaku lewat pesan singkat. Terima kasih."


"Ba-baik, Bu." Danny menutup telepon.


"Mas Danny tidak akan memberitahu alamatnya, 'kan?" ledek Herman lagi.


Beep. (Bunyi pesan terkirim.)


"Sudah kukirim, Man!" Danny terlihat kesal.


"Aku tahu jika Mas Danny tidak akan berani dengannya." lagi Herman meledek Danny.


"Sialan kau!!" dan sekali lagi Danny mengepalkan tinjunya ke arah Herman.


Dan Herman tertawa terbahak melihat Danny yang terlihat amat kesal.


...💟💟💟...


-----------bersambung--------

__ADS_1


__ADS_2