
...Namun bila saatnya aku harus pergi juga...
...Tinggalkan engkau, tinggalkan semua....
...Aku harus meninggalkan semua cinta ini...
...Dan bila nantiΒ bertemu dia, kumohonkan...
...Kembalikanlah kami,...
...Satukanlah lagi di SurgaMu Ya Allah...
...(Rossa : Hijrah Cinta)...
...πππ...
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut
"Ponselnya tidak aktif," ucap Isma dengan lirih.
"Ada apa dengan Rangga? Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya," tambah Farid.
"Umi akan meneleponnya sekali lagi."
Cecilia terduduk termenung. Pikirannya menerawang jauh. Hatinya cemas, namun berusaha ia tutupi.
"Masih tidak aktif. Bagaimana ini, Bah?"
"Sudahlah, Umi. Jangan meneleponnya lagi." Cecilia akhirnya bicara.
"Khumaira...?"
"Dia tidak akan datang. Jadi sebaiknya aku pulang saja." Cecilia bangkit dari duduknya.
"Khumaira... Tunggulah sebentar lagi.Β Siapa tahu Rangga terkena macet." Isma membujuk Cecil.
Cecilia kembali duduk. Menunggu beberapa menit lagi. Namun tetap tak ada yang datang.
"Maaf, Umi, Abah... Sepertinya Rangga memang tidak datang..."
"Tidak, Rangga tidak mungkin mengingkari janjinya," bela Isma.
"Ini bukan janji, Umi. Ini hanya rencana. Dan rencana manusia bisa saja berbeda dari rencana Allah."
"Khumaira..."
"Aku pulang saja Umi, Abah. Maaf kalau sudah merepotkan kalian. Assalamu'alaikum..."
Cecilia pun akhirnya melangkah pergi meninggalkan Isma dan Farid yang masih mematung tak percaya, jika rencana mereka tidak berjalan dengan baik.
Cecilia berjalan cepat menuju mobilnya. Matanya sudah terasa panas. Pelupuk matanya sudah penuh air mata yang sedari tadi dibendungnya.
Di dalam mobil, tangis Cecilia pecah. Hatinya kembali terluka. Cecilia menangis sejadinya. Meluapkan segala emosinya.
Dia pikir takdirnya dan Rangga akan berubah. Tapi nyatanya masih sama. Takdir mereka masih jalan ditempat.
Mungkinkah ia terlalu banyak berharap? Jika tak berharap banyak, pasti tak akan sesakit ini.
...***...
-Rumah Sakit Harapan Kita-
Rangga berlari menghampiri Sandra dan Sheila yang sedang menunggu didepan ruang IGD.
"Shei..."
"Kak Rangga...." Sheila langsung memeluk Rangga.
Rangga menatap Sandra yang terduduk berurai air mata.
"Tante... Papa pasti baik-baik saja. Tante jangan khawatir." Rangga memeluk Sandra.
Tak lama seorang perawat menghampiri mereka bertiga.
"Keluarga Pak Adi Jaya..."
__ADS_1
"Iya, Suster. Kami keluarga Adi Jaya," jawab Rangga.
"Pak Adi Jaya sudah siuman. Dan dia akan dipindahkan ke kamar perawatan. Mari ikut saya..."
Rangga tersenyum lega. Mereka bertiga mengikuti arah sang perawat.
Mereka berhenti di depan kamar VVIP, yang ternyata sudah diisi oleh Adi Jaya. Tak mau berlama-lama, Rangga langsung menemui Papanya. Ia duduk di kursi samping ranjang pasien.
"Papa...." sapa Rangga lirih.
"Rangga... Kamu disini, Nak! Bukankah kamu...."
"Sudahlah, Pa. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Papa. Jangan memikirkan hal lain dulu."
"Maaf, dokter ingin bicara dengan keluarga Pak Adi." Seorang perawat masuk ke kamar Adi Jaya.
"Shei, kakak sama Tante Sandra mau menemui dokter dulu. Kamu disini temani Papa."
"Iya, Kak."
Rangga memapah Sandra untuk berjalan bersamanya menemui sang dokter.
Rangga duduk berhadapan dengan dokter.
"Bagaimana keadaan Papa saya, Dok?" Tanya Rangga tanpa basa basi.
"Sebelumnya saya minta maaf karena harus mengatakan ini. Pak Adi mengalami serangan jantung yang cukup fatal. Ini bisa berbahaya jika tidak segera di tangani. Ditambah lagi, beliau memiliki riwayat penyakit stroke juga." Dokter menjelaskan.
"Apa Dok? Stroke? Tidak mungkin! Selama ini Papa terlihat baik-baik saja, Dok."
"Memang selama ini Pak Adi menyembunyikan penyakitnya."
Rangga melirik ke arah Sandra. "Apa tante tahu soal ini?"
Sandra menggeleng, ia hanya bisa menangis.
"Tidak ada yang mengetahui soal ini, bahkan Bu Sandra sekalipun. Ini pesan dari Pak Adi."
Rangga syok mendengar penjelasan dari dokter.
"Tergantung pada kondisi fisik dan psikis pasien. Sebaiknya Pak Adi tidak melakukan pekerjaan yang menyita waktu dan pikirannya. Dan juga menghindari hal-hal yang bisa memicu penyakitnya kambuh. Seperti hari ini misalnya. Saya bisa menebak pasti telah terjadi sesuatu yang membuatnya syok."
Rangga melirik ke arah Sandra kembali. Ada rasa penyesalan mendalam dihatinya.
"Maafkan aku, Tante..." Rangga meminta maaf setelah keluar dari ruangan dokter.
"Tidak, Nak. Ini bukan salah kamu."
"Mulai sekarang aku akan menjaga Papa. Semua pekerjaannya juga akan aku tangani."
"Rangga...."
"Aku akan bertanggung jawab penuh atas perusahaan. Tante cukup jaga Papa saja. Serahkan semua padaku..."
Sandra memeluk putra tirinya itu. Beribu ucapan terima kasih tak bisa menggantikan pengorbanan yang dilakukan Rangga untuk keluarganya.
...***...
Malam itu bintang dilangit masih berkelap-kelip diantara gelapnya malam. Cecilia duduk di teras rumahnya sambil memandang ke langit. Pikirannya melayang entah kemana. Air matanya sudah kering kini. Tapi kesedihan di hatinya tergambar dengan jelas.
"Woiii, melamun terus!!!"
"Astaghfirullah!! Ismail!! Apaan sih?! Bikin kaget saja!"
"Lah, justru aku yang kaget melihat kamu melamun sendirian malam-malam begini. Apa yang kamu lamunkan sampai tidak mendengar suara knalpot motorku?"
Cecilia memutar bola matanya.
"Tidak ada. Aku hanya sedang melihat bintang diatas sana. Bagus kelap-kelip."
"Kamu tak pandai berbohong, Cil. Ini makanlah! Kubawakan pizza."
Mata Cecilia langsung berbinar. "Maksud aku tuh ini, aku disini menunggu pizza dari kamu, hahaha." Cecilia memaksakan tawanya.
"Serius? Kamu tidak bohong? kamu merindukanku ya?"
__ADS_1
"Dih, percaya diri amat! Kangen sama pizzanya, haha."
"Kalau begitu habiskan semuanya." Ismail mengambil satu slice pizza dan disuapkannya ke mulut Cecilia.
Mereka berdua pun tertawa bersama sambil membicarakan hal-hal receh yang tidak penting.
"Oh ya, Cil. Besok kamu sama ibu ada waktu tidak? Ada yang mau aku sampaikan."
"Besok? Sepertinya bisa. Ada apa? Sepertinya sesuatu yang serius."
"Iya, hal yang serius. Dua rius malah, hehehe."
"Oke, kalau begitu aku tunggu besok pagi ya, Ndan..."
"Siap, Nona Cecilia..."
"Hahaha." mereka tertawa bersama.
Seketika awan hitam di wajah Cecilia mulai hilang. Ismail selalu bisa memberikan candaan garing yang membuat Cecil tersenyum tanpa beban.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah mereka.
Raga itu ingin rasanya ikut bergabung dalam keriuhan tawa Cecil dan Ismail. Tapi tidak memungkinkan.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, Cil. Maafkan aku kalau belum bisa membuatmu tertawa seperti itu. Mungkin ini yang terbaik bagi kita. Kita akan berjalan di jalan kita masing-masing. Aku harap kamu selalu bahagia. Terima kasih karena sudah mengajariku untuk mencintai. Terima kasih, Cecilia...."
...***...
Setiap hari Ismail selalu berolahraga lari pagi keliling komplek perumahan. Sambil mendengarkan lagu melalui earphone.
Sedang asyiknya menikmati udara pagi yang masih sejuk, tiba-tiba Ismail dikejutkan oleh sosok yang datang mendahuluinya dan menghentikan lari kecilnya.
"Astaga!!! Rangga!! Kau mengagetkan saja!"
"Sorry..."
"Ada apa kamu pagi-pagi ada disini? Mau ajak Cecil kencan pagi?"
"Aku ingin bicara denganmu. Ada waktu?"
"Mau bicara soal apa?"
"Tolong jaga Cecilia. Hanya kamu yang bisa membuat dia bahagia..."
Ismail tertawa.
"Apa maksudmu? Kamu mau menyerahkan Cecil untukku? Begitu?"
Rangga terdiam.
"Tanpa kau suruhpun, aku akan menjaganya."
"Baguslah kalau begitu."
"Tapi... Perasaan itu tidak bisa dipaksakan, Rangga. Asal kamu tahu, aku sudah pernah melamar Cecil dan ditolak."
"Kalau begitu kamu coba sekali lagi saja, siapa tahu dia..."
"Rangga!!! Jangan memaksakan kehendak. Jika kamu memang ingin melihat Cecil bahagia. Biarkan dia sendiri yang memilih kebahagiaannya. Sorry Ga, kali ini aku tidak bisa bantu apa-apa."
Ismail menepuk bahu Rangga kemudian berlari lagi mengikuti ritme musik yang sedang diputar.
...πππ...
Bersambung,,,,,
#duuuhh jalannya sangat berliku ππmembuatku semakin nyesegπ₯
Sabar yaaa semuanyaaahhh,,,,
bukan berarti ingin membelitkan persoalan, tapi memang beginilah alurnyaππ
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ππ
Thank you,
__ADS_1