99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : The Guardian Angel (2)


__ADS_3

...💟💟💟...


-Rumah Sakit Ibu dan Anak-


Kedatangan Cecil dan Nayla langsung disambut oleh para perawat yang berjaga di IGD. Cecil menceritakan apa yang terjadi pada Nayla. Dan seorang perawat langsung menghubungi dokter Thania untuk datang.


Cecil ikut panik karena keadaan Nayla sudah tak sadarkan diri.


"Cecil? Kamu yang membawa Nayla?" tanya dokter Thania.


"I-iya, Than. Bagaimana keadaan Nayla?"


"Air ketubannya sudah pecah. Mau tidak mau kita harus segera mengeluarkan bayinya dengan cara operasi caesar. Kamu sudah menghubungi Alvian?"


"Eh? Mas Alvian? Belum, Than. Kalau begitu aku akan meneleponnya."


"Baiklah. Aku akan mempersiapkan semuanya dulu." dokter Thania bergegas pergi.


Cecilia menghubungi nomor Alvian. Teleponnya tersambung, namun Alvian belum mengangkatnya.


Beberapa kali Cecil menghubungi namun belum berhasil bicara dengan Alvian.


Cecilia pikir ia juga harus menghubungi Arif dan Sari. Mereka harus diberitahu.


Cecil menulis sesuatu di selembar kertas.


"Suster... Tolong hubungi nomor ini. Ini adalah keluarga dari pasien Nayla. Saya tidak bisa menghubunginya, karena ... Ada sesuatu. Jadi, saya mohon, tolong bantu saya untuk menghubungi keluarga Nayla."


"Baik, bu."


Cecilia mondar mandir didepan ruang IGD sambil terus menghubungi Alvian.


"Apa dia sedang ada syuting? Atau aku hubungi Shasha saja?" gumam Cecilia sambil mencari nama Shasha di kontak ponselnya.


Tersambung. Tapi tak diangkat juga.


Thania keluar dari ruang IGD. "Bagaimana? Sudah berhasil menghubungi Alvian?"


"Belum, Than."


"Duh, bagaimana ini. Nayla harus segera di operasi. Dan kami membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga pasien. Atau....? Kamu saja yang tanda tangan, Cil."


"Heh? A-aku?!"


"Iya. Hanya kamu yang bisa membantu Nayla saat ini. Kamu harus putuskan."


"B-baiklah. Aku akan mengurusnya."


Dan akhirnya Cecilia menandatangani surat persetujuan pengambilan tindakan pada pasien dengan mengaku sebagai kakak Nayla.


...***...


Beberapa jam kemudian,


Thania keluar dari ruang operasi, dan menemui Cecil.


"Operasinya berhasil. Ibu dan bayinya selamat."


"Alhamdulillah..." Cecil gembira.


"Ini semua berkat kamu. Untung saja kamu cepat membawa Nayla kemari. Terlambat sedikit saja, kita bisa kehilangan Nayla dan bayinya."


"Aku ikut senang karena mereka selamat. Oh ya, bayinya? Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki. Kalau begitu aku tinggal dulu ya. Sebentar lagi Nayla akan di pindah ke kamar perawatan."


"Terima kasih banyak, Thania."

__ADS_1


Dan tak lama kemudian, Alvian datang dengan berlari. Akhirnya ia datang juga setelah membaca pesan yang dikirim Cecilia.


"Maaf, Cil, aku tidak mengangkat teleponmu. Tadi aku sedang meeting."


"Tak apa, Mas. Yang penting Nayla dan bayinya selamat."


Seorang perawat menghampiri mereka berdua. "Pak Alvian?"


"Iya, suster. Bagaimana keadaan istri saya dan bayinya?"


"Mereka baik-baik saja, Pak. Bayinya laki-laki. Namun karena bayi ibu Nayla lahir lebih cepat dari hari perkiraan lahirnya, jadi kami harus mengobservasi bayinya lebih dulu. Sekarang putra bapak ada di ruang intensif khusus bayi, mari ikut saya, bapak harus melantunkan adzan untuk putra bapak."


Cecilia mengangguk dan mempersilahkan Alvian untuk menemui putra kecilnya.


"Anda juga boleh ikut," ucap si perawat pada Cecil.


"Eh? Saya? Boleh ikut?"


Kemudian Alvian dan Cecil menuju ruang yang di tunjukkan oleh si perawat.


Cecilia terharu melihat Alvian yang sedang mengadzani putranya. Ia teringat saat dulu Alvian melakukan hal yang sama pada Tasya.


...***...


"Dia mirip kamu, Mas." ucap Cecil setelah keluar dari ruang bayi.


"Masa sih? Dia 'kan masih bayi, biasanya wajahnya akan berubah setelah bertambah besar."


"Akan dikasih nama siapa?"


"Umm, aku belum memikirkannya. Aku akan berdiskusi dulu dengan Nayla. Oh ya, kamu sudah dari tadi disini. Kamu pasti belum makan. Aku belikan makanan dulu untukmu."


"Tidak perlu, Mas. Aku tidak apa-apa."


"Cecil, paling tidak aku harus berterimakasih padamu..." Alvian bergegas pergi.


"Makanlah dulu!"


"Terima kasih."


"Omong-omong, bagaimana kamu bisa bersama dengan Nayla?"


Cecilia menghentikan makannya. Ia terdiam sejenak.


"Itu... Aku... Hanya tidak sengaja bertemu dengannya."


"Oh begitu. Terima kasih karena kamu sudah menolong Nayla. Aku tidak tahu harus membalas dengan apa semua kebaikan kamu..."


"Tidak perlu. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan..."


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang kian mendekat ke arah mereka. Arif dan Sari sudah tiba. Mereka langsung menyambut kedatangan Arif dan Sari.


"Cecilia?" sapa Sari dengan gembira. Sari langsung memeluknya. Sari tersenyum bahagia melihat Cecil yang sudah mengubah penampilannya.


Cecilia menyapa Arif yang masih nampak bingung karena penampilan Cecil yang berhijab.


"Kenapa kamu ada disini?" tanya Arif sinis seperti biasa.


"Dia yang sudah membawa Nayla kemari. Jika tidak ada Cecil, mungkin nyawa Nayla dalam bahaya." Dokter Thania tiba-tiba datang dan menjelaskan semuanya.


"Alvian... Bukankah dari awal aku sudah ingatkan untuk jaga kondisi Nayla dengan baik. Ini akibatnya karena kamu lalai. Keadaan bayi kalian masih lemah. Jadi akan kami periksa lebih lanjut. Dan Nayla sekarang sudah di kamar perawatan, namun kondisinya masih belum sadarkan diri."


"Maafkan aku, Than. Aku memang pantas disalahkan."


"Ya sudah. Semua sudah terjadi. Bersyukur karena ada malaikat yang menolong Nayla. Kalian sudah bisa menemui Nayla. Dia ada di ruang 101." jelas Dokter Thania.


...***...

__ADS_1


Thania membawa Cecil menuju ke suatu tempat untuk bicara empat mata.


"Kenapa kamu hanya diam? Mantan kakak ipar kamu itu masih bersikap buruk padamu. Harusnya mereka sadar diri, kalau kamu sudah menolong Nayla."


"Sudahlah, Than. Aku baik-baik saja."


"Aku tidak suka melihat kamu diperlakukan seperti itu."


"Terima kasih karena kamu peduli padaku. Aku rasa aku harus kembali menemui Mas Alvian dan keluarganya."


"Ini sudah lewat dari empat jam, Nayla harusnya sudah siuman. Aku akan memeriksanya."


Dan benar saja, Nayla sudah mulai membuka matanya. Keadaannya baik. Ia hanya masih lemas karena pengaruh obat bius.


"Bagaimana keadaan Nayla, Than?" tanya Alvian setelah Thania selesai memeriksa Nayla.


"Kondisinya baik. Tidak ada trauma berlebih dari apa yang sudah dialaminya. Tapi ia harus melakukan perawatan sekitar 4-5 hari disini. Untuk melihat perkembangan kesehatannya."


"Baik, Than. Terima kasih banyak."


"Kalau begitu aku permisi dulu."


Setelah dokter Thania pergi, tinggallah Cecil dan Alvian berdua. Sementara Arif dan Sari menemani Nayla di kamarnya.


"Sepertinya aku sudah harus pergi, Mas. Aku lega karena mendengar Nayla sudah siuman. Dan... Selamat ya Mas, atas kelahiran putra pertamanya. Semoga jadi anak yang sholeh, dan berbakti kepada kedua orang tuanya."


"Terima kasih banyak, Cil. Semoga kamu juga bahagia dengan kehidupan kamu sekarang..."


Cecilia menjawab dengan sebuah senyuman.


"Aku harap, setelah ini kamu akan bersikap baik pada Nayla. Dia sangat mencintai kamu, Mas."


"Ceciliaaaaaa!!!"


Sebuah suara membuat Alvian dan Cecil memalingkan wajah kearahnya.


Cecilia terkejut melihat siapa yang memanggil namanya.


"Ismail...?" Gumam Cecilia.


Dilihatnya dengan seksama sosok yang mulai berjalan mendekat kearahnya.


Benarkah yang ada di hadapannya adalah Ismail?


Benar! Itu adalah Ismail. Tapi, Bagaimana bisa dia ada disini?


...💟💟💟...


.......


.......


...Bersambung...


.......


.......


...Uuuuuhhhh, syebaalllll dengan keluarga Alvian 😤😤...


...Semoga mereka cepat sadar kalo Cecil itu bagaikan malaikat, iye kan?...


.......


.......


...Coming UP \=>> "The Guardian Angel" Part 3...

__ADS_1


__ADS_2