
..."Sekian lama kita bersama...
...Ternyata kau juga sama saja...
...Kau kira kupercaya semua...
...Segala tipu daya...
...Oh percuma...
...Kau buat sempurna Awalnya...
...berakhir bencana...
...Selamat tinggal, sayang...
...Bila umurku panjang...
...Kelak 'ku 'kan datang 'tuk buktikan...
...Satu balas 'kan kau jelang...
...Jangan menangis, sayang...
...Kuingin kau rasakan...
...Pahitnya terbuang sia-sia...
...Memang kau pantas dapatkan...
...Akhirnya usai sudah semua...
...'Ku dapat tertawa bahagia...
...Selalu tampak indah...
...Awalnya berakhir bencana...
...Selamat tinggal, sayang...
...Bila umurku panjang...
...Kelak 'ku 'kan datang 'tuk buktikan...
...Satu balas 'kan kau jelang...
...Jangan menangis, sayang...
...Kuingin kau rasakan...
...Pahitnya terbuang sia-sia...
...Memang kau pantas dapatkan"...
...(Karma by Cokelat)...
...💟💟💟...
Ketika akan melangkahkan kakinya menuju keluar halaman rumah Cecilia, kaki Arif tertahan oleh beberapa orang yang memasuki gerbang rumah Cecil dan langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
Mereka adalah para pencari berita, yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba sudah berkumpul di depan rumah Cecil.
Arif tetap melangkah maju dengan membawa Sari, namun secara tak terduga Sari melepaskan genggaman tangan Arif dan melangkah mundur.
Arif tak peduli dengan para pencari berita itu dan menarik lengan Alvian agar segera pergi dari tempat itu.
Semua rahasia yang sudah tertutup rapat selama bertahun-tahun akhirnya terkuak dan diketahui oleh banyak orang.
Sari kembali menemui Cecil yang masih bingung dengan keadaan di halaman rumahnya.
Cecil menatap Alvian yang kian menjauh. Alvianpun melempar pandang pada Cecil. Ada rasa iba didalam hati Cecil.
Cecil tahu jika para pencari berita tak akan begitu saja melepas Alvian dan keluarganya. Tatapan Alvian mengisyaratkan jika dia meminta Cecil untuk mempercayainya walau apapun yang terjadi.
Dan tanpa mereka sadari, itulah pertemuan terakhir mereka sebelum akhirnya semua hal benar-benar berakhir.
.
.
.
__ADS_1
-Satu Bulan Kemudian-
"Huh, membosankan!!! Sudah sebulan ini berita di TV hanya menampilkan tentang keluarga Arifin yang penuh tipu muslihat itu," umpat Maria sambil mematikan remote TV.
Cecil yang mendengar kekesalan ibunya hanya bisa diam. Ia tak tahu harus berkomentar apa.
Sejak peristiwa yang terjadi di rumahnya, ia tak pernah bertemu dengan Alvian dan keluarganya lagi. Bahkan mendengarnyapun tidak. Hanya sesekali ia mendengar cerita dari Amel yang pengikut akun gosip lambe-lambe itu.
"Ya ampun!!! Aku tidak menyangka jika keluarga Arifin menyimpan aib yang besar seperti ini. Lihatlah, Cil. Orang-orang sangat membenci mereka sekarang. Bahkan penggemar Alvianpun sudah tak ada. Mereka menghujat Alvian yang menikahi anak haram."
Aku tak bisa mengatakan apapun. Aku hanya mendengarkan.
"Baca komentar ini! Sudah jadi pelakor, eeh malah ternyata dia adalah anak yang lahir diluar pernikahan. Benar-benar memalukan! Oh, ya ampun, mereka sadis sekali. Iya 'kan Cil?"
Sekali lagi aku hanya diam. Jujur, aku juga ingin mengumpati Mas Alvian dan keluarganya. Tapi ... Itu sudah tak berarti lagi untukku. Semua sudah berakhir dan aku tak mau membahasnya lagi.
.
.
.
"Cil..."
"Hai, Ismail. Baru pulang kerja?"
"Iya. Ibu mana?"
"Sudah tertidur."
"Kenapa kamu belum tidur?"
"Masih belum mengantuk."
"Ini kubawakan pizza untukmu."
Cecilia tertawa kecil.
"Nah, begitu dong! Sudah lama aku tak melihat senyummu."
"Terima kasih, ya. Mau kubuatkan teh?"
"Tidak, terima kasih. Cil... Umm, apa para wartawan itu masih sering mencarimu?"
"Syukurlah. Kau sudah baik-baik saja?"
"Iya, tentu saja. Jangan khawatir!"
Cecil menunjukkan senyum terbaiknya pada Ismail.
.
.
.
Esoknya, seperti biasa hari-hari Cecil di isi dengan membantu ibunya di toko roti.
Cecil yang hendak melangkah keluar rumah, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan dua orang yang bertamu ke rumahnya.
"Cecil..."
Itu adalah Sari. Dan satu orang wanita yang belum pernah Cecil lihat sebelumnya.
"Boleh kami masuk?" Tanya Sari.
"Ah, iya tentu saja."
Cecil mempersilahkan tamunya masuk dan duduk di ruang tamu. Maria juga ikut bergabung.
"Maaf jika kedatanganku mengagetkanmu," ucap Sari.
"Tidak, Mbak. Bagaimana kabar Mbak Sari?" jawab Cecil dilanjutkan dengan pertanyaan.
Sejak hari itu, Cecil juga tak mendengar kabar dari Sari. Yang jelas, saat itu Sari tak langsung ikut pergi bersama Arif. Namun ia menunggu situasi agak terkendali, kemudian dia meminta keluarganya menjemput di rumah Cecil.
"Aku baik, Cil. Oh ya, kenalkan, ini adalah Mbak Arini. Dia adalah kakaknya Mas Arif."
"Eh?"
"Halo, Cecilia. Selama ini kamu pasti tak pernah mendengar tentangku. Aku tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun." Arini mengulurkan tangannya untuk menyalami Cecil. Cecilpun menyambutnya.
__ADS_1
"Lalu ada apa kalian mencari putriku? Apa kalian akan mencari masalah lagi dengannya, huh?" Seperti biasa, Maria selalu tegas dan keras.
"Tidak, Bu. Kami datang kesini untuk meminta maaf," jawab Arini.
"Kamu pasti sudah mendengar tentang berita menghilangnya Arif dan Alvian selama satu bulan ini. Mereka menghilang karena mereka harus menebus kesalahan mereka."
"Eh?" Cecilia tak mengerti dengan penjelasan Arini.
"Semua sudah berakhir, Cecilia. Kamu harus bisa hidup dengan bahagia mulai dari sekarang."
"Bagaimana kabar Mas Alvian? Dan... Nayla?"
Arini tersenyum. "Kamu sangat baik hati, Cecilia. Disaat mereka sudah menyakiti kamu, tapi kamu masih mempedulikan mereka."
"Lalu Mas Arif? Bagaimana hubunganmu dengan Mas Arif, Mbak?" Kini Cecil bertanya pada Sari.
"Aku sudah berpisah dengan Mas Arif."
"Heh?" Cecil dan Maria terkejut bersama.
"Ini adalah yang terbaik." ujar Sari.
"Lalu dimana mereka sekarang?"
"Mereka ada di tempat dimana mereka seharusnya berada," jawab Arini sembari tersenyum penuh arti.
.
.
.
Sepeninggal Arini dan Sari, Cecilia melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat yang sudah lama tak ia kunjungi.
Disinilah dirinya kini, memandangi rumah megah yang dulu pernah ia tempati bersama Alvian.
Rumah itu kini hanya tinggal kenangan. Sunyi. Hanya itu yang Cecil rasakan ketika berdiri di depan sana.
Rumah itu tak berpenghuni lagi sekarang. Bahkan terdapat tulisan yang amat besar, "DISITA".
Cecilia hanya bisa menghela nafas kasar memandangi rumah itu. Matanya mulai berembun mengingat semua kenangan indah yang pernah terjadi disana. Namun ia juga mengingat betapa menderita hidupnya didalam sana setelah kedatangan madu suaminya.
Mungkin ini yang terbaik. Untukku, untukmu, dan untuknya. Kalian sudah menebus kesalahan kalian. Semoga kalian bisa memulai kehidupan dengan lebih baik.
.
.
Sebuah panggilan masuk di ponselnya, berhasil membawa Cecil kembali ke alam sadarnya.
"Halo..."
"Halo, Cil. Kamu dimana? Bukankah kita ada janji untuk bertemu?"
"Ah iya, sebentar lagi aku kesana, Dit."
"Temui aku di kantorku saja ya."
"Eh?"
"Kamu tahu 'kan kantor baruku? Gedung yang mirip dengan menara kembar di Malaysia."
"Ah, iya, Dit. Aku tahu."
"Kalau begitu, aku tunggu kamu disini. Bye..."
Telepon terputus. Cecilia masih diam mematung dan berpikir.
Tunggu!!! Kantor baru Radit 'kan... Bersebelahan dengan kantor AJ Foods... Itu berarti... Berdekatan dengan kantor Rangga!
Seketika Cecilia merasa gugup dan jantungnya mulai berdetak tak karuan.
Bagaimana ini?!?
...💟💟💟...
Bersambung lagi yaaa,,,,,
*harap bersabar ini ujiaaannn, hehehehe
*jangan lupa klik like, comment and love 😘😘
__ADS_1
Terima kasih 🙏🙏