
Pagi itu Cecilia terlambat bangun, dan dia bergegas untuk pergi ke kantor. Keadaan rumahnya sudah sepi karena semua orang sudah berangkat. Cecilia menegur Neneng, asisten rumah tangganya yang tidak membangunkannya. Namun Neneng menjawab kalau Alvian yang menyuruhnya untuk tidak membangunkan Cecil.
Cecilia sangat kesal pada dirinya sendiri. Dan dia juga tidak ingat kenapa dia bisa sampai ke rumah. Yang dia ingat semalam dia masih membuat laporan bersama Rangga.
Cecilia akhirnya tiba di kantor meski agak terlambat dan langsung bergegas ke ruangannya. Betapa terkejutnya ia saat tahu kalau Rangga juga ada disana.
"Selamat pagi, Pak Rangga." Cecilia mencoba menyapa.
"Akhirnya kau datang juga." Rangga menatap Cecil dengan tatapan tajam.
"Maaf Pak. Saya hari ini sedikit terlambat." Cecilia menatap Rangga dengan harap-harap cemas.
"Sebagai peraih predikat karyawan terbaik, apa hanya ini yang bisa kau lakukan?? Bagaimana laporan semalam yang kau buat? Apa sudah selesai?"
Cecilia berpikir keras apa yang harus dia katakan pada Rangga. Sudah sangat jelas jika semalam Cecil belum menyelesaikan laporannya dan malah tertidur.
"Maaf Pak, laporannya masih belum selesai. Saya janji akan menyelesaikannya secepat mungkin. Dan mengenai kejadian semalam? Saya minta maaf Pak, jika saya ketiduran."
Cecilia menunggu jawaban dari Rangga. Namun Rangga masih diam.
"Baiklah, saya beri beberapa hari lagi. Tapi, sebaiknya gunakan waktumu dengan baik."
Kemudian Rangga pun berlalu dari ruangan Cecilia. Cecilia akhirnya bisa bernafas lega. Rangga yang dia kenal, sedikit demi sedikit mulai bisa berubah.
...❤...
Beberapa hari telah berlalu. Cecilia disibukkan dengan membuat laporan dan hampir selalu pulang larut malam. Alvian yang mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan ini akhirnya bicara pada Cecilia.
Malam itu Cecilia baru tiba dirumah. Dan Alvian langsung meminta penjelasan darinya.
"Cil, bisa kita bicara?" Alvian berdiri tepat dihadapan Cecil, namun Cecil sangat lelah dan ingin cepat-cepat menuju kamar.
"Ada apa, Mas? Ini sudah malam. Aku lelah sekali." Jawab Cecil dengan lirih.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?" Alvian mulai naik darah. Dia menarik lengan Cecil yang berjalan melewatinya.
"Lepaskan! Lenganku sakit, Mas!" Cecilia mencoba melepas tangan Alvian yang mencengkeramnya.
__ADS_1
"Jelaskan padaku kenapa kau selalu pulang terlambat?" Mata Alvian menatap marah pada Cecil.
Cecilia menghela nafas. "Mas, bukankah sudah kukatakan, jika aku yang mengerjakan semua laporan yang harusnya di buat oleh Rani. Tapi karena Rani mengundurkan diri, aku yang harus menyelesaikan laporan itu."
"Tapi sampai kapan, Cil? Tasya juga butuh perhatian darimu. Bukan hanya dari Nayla saja!"
"Jadi semua ini tentang Tasya?"
"Tentu saja. Tasya adalah putrimu. Dia masih butuh perhatian dari ibunya. Bukan dari tantenya saja."
Mendengar kalimat itu dari mulut Alvian, Cecilia mulai kesal. Dan pergi menuju kamar.
Alvian mengejarnya. Dan mereka mulai berdebat lagi didalam kamar.
"Apa maksudmu, Mas? Kau mau bilang jika aku tak bisa mengurus anak? Begitu? Jadi sekarang kau mulai membandingkanku dengan Nayla? Aku memang sibuk bekerja. Tapi aku tak pernah lupa menghabiskan waktu bersama Tasya saat hari libur." Cecil mulai mendidih karena beberapa pernyataan Alvian yang menyudutkannya.
"Aku tidak membandingkanmu dengan Nayla. Aku hanya ingin Tasya dekat denganmu sebagai ibunya, bukan hanya dekat dengan Nayla."
"Apa maksudmu bicara begitu? Tasya adalah putriku, meski dia dekat dengan Nayla, Tasya tetap tahu jika aku adalah ibunya. Dan aku rasa Tasya sudah cukup besar untuk memahami jika ibunya adalah seorang wanita bekerja. Jadi, jangan menyudutkanku dengan membawa nama Tasya."
"Kau berubah sejak kedatangan bosmu yang baru itu. Dan ditambah lagi---mantan kekasihmu juga bekerja di AJ Foods, bukan?"
"Apa perlu kuperjelas? Mantan kekasihmu waktu SMA, sekarang dia juga bekerja di AJ Foods kan?"
Cecilia menatap Alvian dengan tatapan yang aneh. "Kau tahu dari mana soal Radit?"
"Jadi benar? Kau senang karena ada mantan kekasihmu yang bekerja bersamamu?"
"Apa yang kau bicarakan? Aku dan Radit tidak ada hubungan apapun. Dan kau tidak seharusnya memata-mataiku seperti ini. Kau sudah melanggar hak privasi yang kumiliki." Cecilia mulai kesal kembali.
"Apa salah jika aku memata-matai istriku sendiri? Kau masih sah jadi istriku! Mengerti?"
Mereka berdua terus berdebat, hingga akhirnya ada yang mengetuk pintu kamar mereka.
Tok tok tok
Cecilia membukakan pintu, dan melihat Nayla ada disana.
__ADS_1
"Maaf, jika aku mengganggu percakapan kalian berdua. Tapi--- suara kalian terdengar sampai lantai atas."
Cecilia dan Alvian saling pandang.
"Maaf Nay, jika kami mengganggu waktu istirahatmu." ucap Alvian.
Nayla menghela nafas. "Aku tahu kalian sedang ada masalah. Tapi, sebaiknya kalian jangan membawa masalah kalian ke dalam rumah. Disini ada Tasya. Jika dia mendengar pertengkaran kalian, dia pasti akan sangat sedih. Tasya masih kecil. Tidak seharusnya dia mendengar hal buruk tentang kalian. Aku harap kalian bisa mengerti."
Alvian dan Cecil meminta maaf. Lalu Naylapun kembali ke kamarnya. Ada rasa penyelasan di hati mereka berdua.
Dan malampun berlalu dalam keheningan.
.
.
Keesokan harinya, Cecilia mencoba mengkonfirmasi pada Neneng tentang pertengkaran yang terjadi semalam.
"Umm, Neng. Ada yang ingin saya tanyakan." Cecilia ragu untuk melanjutkan pertanyaannya.
"Tanya apa, Bu?" Tanya Neneng dengan menundukkan wajahnya.
"Soal---? Apakah semalam---?" Cecilia bingung harus bagaimana memulai pertanyaannya.
Neneng tahu ada yang aneh dengan gerak-gerik majikannya tersebut. "Jika maksud ibu adalah soal pertengkaran bapak dan ibu---? Iya, Bu. Saya mendengarnya." Dan Neneng justru membeberkan apa yang ingin Cecil tanyakan.
Cecilia sangat terkejut dengan kejujuran Neneng.
Jadi benar apa yang Nayla katakan. Jika pertengkaranku dan Mas Alvian terdengar hingga ke seluruh ruangan di rumah ini. Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika Tasya juga mendengarnya? Dia pasti sedih.
Ini semua adalah salahku. Tidak seharusnya aku selalu pulang larut malam karena mengerjakan laporan dari Pak Rangga. Sekarang aku harus bagaimana menghadapi Tasya? Putriku yang malang. Dia pasti terluka karena keegoisan kami berdua.
Maafkan Mama, Nak. Mama tidak bermaksud membuatmu bersedih.
Dan Ceciliapun mulai menyesali kejadian tadi malam.
...💟💟💟...
__ADS_1
-------tobe continued---------