99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2): Urutan Mengubah Hubungan(2)


__ADS_3

Setelah mendapat restu dari ibu, hidupku berjalan dengan lebih semangat. Ibu bilang aku harus berjuang, jangan mudah menyerah. Ibu benar. Aku akan berjuang. Aku akan membuktikan kalau aku layak untuk jadi pendamping Rangga.


Tak terasa dua minggu lagi sudah memasuki akhir tahun. Aku harus bergerak cepat. Kukerahkan timku di operasional dan juga bergabung dengan tim penjualan untuk menaikkan pendapatan AJ Foods agar melebihi target dari tahun sebelumnya.


Aku dan Rangga membuat gebrakan baru dengan melakukan trik yang tidak biasa. Aku senang bekerja dengannya. Rangga adalah pria yang memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata. Dulu kami bersaing untuk mendapat peringkat terbaik di mata Pak Presdir. Tapi sekarang kami harus bersatu agar Pak Presdir bisa merestui hubungan kami juga.


.


.


.


"Tidak bisa dipercaya!!!" Radit menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" Amel penasaran.


"Lihat ini. Saham AJ Foods meningkat drastis dalam dua minggu terakhir."


"Apa kau serius?"


"Lihat saja sendiri."


"Wah!!! Ini keajaiban!!" mata Amel berbinar.


"Ini semua berkat Cecil. Iya kan?" Radit berseru gembira.


"Hei, bukan hanya Cecil yang berjasa, Rangga juga bekerja keras untuk ini. Lalu aku? Setiap hari aku berada di kantor hingga tengah malam. Badanku sampai jadi kurus begini."


"Apanya yang kurus? Kau selalu makan banyak tidak mungkin jadi kurus."


"Dasar kau!!!"


"Mereka pasangan yang keren!" Hana ikut menyahut.


Radit cemberut. "Semua forum diskusi di kantor ini hanya membahas soal mereka. Apa tidak ada pembahasan yang lain, huh?"


"Mengapa kau marah?"


"Sudahlah. Aku tak mau dengar apapun lagi." Radit melenggang pergi membawa laptopnya.


"Ada apa dengannya?" tanya Amel.


"Tidak tahu. Mungkin dia cemburu."


"Dasar pemimpi!! Sampai kapanpun tidak akan ada yang percaya jika dia pernah punya hubungan dengan Cecil. Ya sudah! Kita biarkan saja dia. Aku mau ke kafe, ingin minum kopi. Hari ini sepertinya akan pulang malam lagi."


...***...


"Cil!!!" Rangga terburu-buru datang ke ruangan Cecil dan langsung memeluknya.


"Rangga? Ada apa?"


Rangga melepas pelukannya. "Kau sudah baca berita hari ini?"


Cecil menggelengkan kepala. "Kuucapkan selamat untukmu. Berkat kerja keras kita, akhirnya kita sudah melebihi dari target tahun kemarin. Dan saham kita meningkat drastis."


"Hah? Benarkah?"


"Iya. Ini semua karenamu."


"Kenapa aku? Kau juga sudah bekerja keras, Rangga. Setiap hari kau pulang terlambat. Dan juga tim penjualan. Mereka juga kuar biasa."


"Terima kasih atas pujiannya, sayangku."


"Terima kasih juga, sayangku. Bagaimana kalau kita adakan makan malam tim hari ini?" usul Cecilia.


"Ide bagus. Mereka pasti senang. Kalau begitu cepat kau umumkan sekarang di forum diskusi kantor."


"Siap, Pak Direktur! "


...***...


-Raditya PoV-


Semua orang sibuk membicarakan tentang keberhasilan Cecil dan Rangga. Mereka mengadakan makan malam tim malam ini. Dan Cecil mengundangku untuk ikut datang.


Sebenarnya aku malas untuk datang. Tapi aku menghormati Cecilia. Aku harus ikut bahagia untuknya.


"Pak Rangga dan Bu Cecil memang pasangan top. Mereka sangat serasi. Berkat mereka kita akan dapat bonus akhir tahun yang lebih besar dari biasanya. Mereka memang luar biasa!"


Para karyawan wanita terus membicarakan tentang mereka.


"Iya, tahun ini memang penuh berkah untuk kita. Ini karena pasangan kekasih itu."


"Lalu bagaimana dengan nasib Bu Nadine? Gosipnya dia sudah dijodohkan dengan Pak Rangga."

__ADS_1


"Jika Pak Rangga bersama Bu Nadine, belum tentu saham perusahaan bisa meningkat drastis seperti ini. Kalian sadar tidak? Bu Nadine itu tidak bisa bekerja. Dia bekerja disini hanya karena orang tuanya yang berteman baik dengan Pak Presdir."


"Iya benar. Bu Nadine itu hanya boneka orang tuanya, untuk mendapat kontrak kerjasama dengan AJ Foods."


Sial!! Kenapa mereka membicarakan Nadine? Aku harus membubarkan mereka. Sebelum Nadine mendengar semua ini.


"Hei, kalian!!! Kembalilah bekerja!! Ini masih jam kerja!! Jangan bergosip disini!!!"


Saat kubalikkan badan, kulihat Nadine berdiri mematung. "Nadine? Sejak kapan kau ada disini?"


"Kau tidak perlu membelaku! Aku tak butuh bantuanmu!" seperti biasa dia selalu bersikap dingin.


"Nad... Tunggu!! " Aku meraih tangan Nadine. "Jangan bersikap begini! Kau bisa cerita padaku, kau tidak sendiri."


"Lepaskan aku, Dit!! Aku tak butuh perhatianmu! Kau urus saja Cecilia. Dia pasti sangat bahagia sekarang."


Aku membiarkan Nadine berlalu. Kulihat sekilas Nadine sempat menyeka matanya. "Dia menangis...? Huuufffftt, aku tak tahu harus bersikap bagaimana padamu. Kalian berdua sahabatku. Aku tak bisa memilih salah satu diantara kalian. Aku ingin kalian berdua bahagia, dan bisa berbaikan seperti dulu. Kapan semua itu bisa terwujud?"


...***...


-Cecilia PoV-


Makan malam tim berjalan dengan meriah. Aku memesan tempat makan didekat kantor. Para karyawan kantor mendukung hubungan kami. Aku sangat bersyukur. Semoga setelah ini, hubunganku dan Rangga akan berjalan baik.


"Hari ini tidak perlu bekerja lembur. Kalian sudah bekerja keras selama dua minggu ini. Jadi, setelah ini kalian boleh pulang." Ucap Rangga.


"Serius Pak? Terima kasih banyak, Pak."


Aku tersenyum pada Rangga dan mengacungkan jempol padanya. Dia pria yang hebat. Aku bangga menjadi kekasihnya.


.


.


.


.


"Cil!!! Cil, bangun!!! Sudah sampai di rumah."


Aku ketiduran lagi di mobil Rangga. Entah sudah berapa kali aku terlelap disini.


"Duh! Aku ketiduran lagi. Maaf ya."


"Iya. Kau juga harus beristirahat. Tidak perlu singgah ke kafenya Indra."


"He'em." Rangga melepas sabuk pengamannya dan akan membuka pintu.


"Kau mau kemana?"


"Membukakan pintu untukmu."


"Tak perlu. Aku bisa membukanya sendiri. Ada apa dengan wajahmu?" Aku menangkap ada gelagat aneh pada Rangga.


"Ah, tidak! Tidak ada apa-apa."


"Ya sudah. Aku masuk ke rumah dulu ya. Kau hati-hati dijalan."


CUP.


satu kecupan mesra mendarat di pipi Rangga. Membuat wajah Rangga merah merona tersipu malu. Aaah dia memang terlambat puber, hihi. Aku jadi merasa tak enak hati.


"Dah... Hati-hati di jalan..." Kulambaikan tanganku sampai mobil Rangga tak terlihat olehku.


VROOOOOMMMMMM


Suara mobil Ismail memasuki pelataran rumah.


Kuputuskan untuk menyapa Ismail terlebih dahulu sebelum masuk rumah. Sudah lama aku tidak bersenda gurau dengannya. Aku sangat sibuk, begitupun dia.


"Tak biasanya jam segini kau sudah pulang." sapaku padanya.


"Iya. Kau sendiri? Apa tidak bekerja lembur lagi?"


"Tidak. Sudah selesai semuanya."


"Tadi aku membaca berita online tentang bisnis. Saham AJ Foods meningkat drastis. Selamat ya!"


"Kau membacanya juga? Terima kasih. Usaha memang tidak mengkhianati hasil, benar kan?"


"Ho'oh!!" Ismail mengacungkan jempolnya.


"Hei kalian!!! Mau sampai kapan bicara di luar? Cepat masuk!!" Suara teriakan Ibu dari teras rumah membuat kami sadar dan saling tertawa.


"Iya, Bu..." sahut kami berbarengan.

__ADS_1


...***...


Sementara itu, Nadine terdiam sendiri di balkon apartemennya. Matanya terasa panas. Namun dia enggan untuk menangis. Sangat menyedihkan menangis sendirian disini, pikirnya.


TING TONG. Ada yang menekan bel pintu apartemennya.


"Siapa yang datang jam segini? Tak ada yang tahu kalau aku pindah kesini." batin Nadine. Namun dia tetap membukakan pintu.


"Radit?? Kau tahu dari mana kalau aku tinggal disini?"


"Persilahkan aku masuk dulu, baru kau bertanya."


"........" Nadine tak bisa berkata apapun lagi karena Radit langsung menerobos masuk ke dalam apartemennya.


"Wow! Apartemenmu bagus juga. Pasti sewanya mahal. Untuk apa kau pindah apartemen?" Radit merebahkan tubuhnya ke atas sofa diruang tamu.


"Kau belum jawab pertanyaanku. Kau tahu dari mana aku tinggal disini?"


"Tenang saja! Aku tidak akan memberitahu siapapun kalau kau pindah kesini. Dan kau tidak perlu tahu, aku tahu dari mana."


"Untuk apa kau datang kesini?"


"Nad, aku ini masih temanmu kan? Apa tidak boleh aku main ke tempat temanku? Omong-omong, aku haus. Kau punya air dingin kan?" Radit menghambur ke arah dapur dan akan membuka lemari es, namun dicegah oleh Nadine.


"Jangan!!! Jangan dibuka!!!"


"Astaga!! Aku hanya minta air, Nad. Apa tidak boleh?"


Nadine bergeming di depan lemari pendingin.


"Minggir!!! Aku mau minum!"


"......." Nadine sama sekali tak mau berpindah dari depan lemari pendingin.


"Ada apa denganmu?"


Pada akhirnya pertahanan Nadinepun goyah, dan Radit berhasil membuka lemari pendingin.


"Hah? Apa ini, Nad? Kau sudah gila?" Radit membelalakkan mata begitu membuka lemari es.


"Bukankah sudah kubilang jangan dibuka."


"Untuk apa kau membeli bir sebanyak ini? Kau ingin mabuk?"


"Iya. Aku ingin mabuk-mabukan. Aku ingin lari dari ini semua. Aku sudah tidak tahan, Dit."


"Memangnya dengan meneguk bir, akan menyelesaikan segala masalahmu?"


"Paling tidak aku akan melupakannya sejenak."


Radit menatap Nadine penuh iba.


"Nad---Lupakan Rangga. Biarkan dia bersama dengan Cecil."


"Tidak! Aku tidak rela jika Cecil merebut Rangga dariku!"


"Dari awal Rangga memang bukan milikmu. Kau harus sadar."


Nadine mengambil sekaleng bir, membuka tutupnya lalu menenggaknya. Radit hanya diam melihat Nadine berusaha memabukkan dirinya. Radit juga ikut mengambil bir, dan minum bersama Nadine, sampai tak sadarkan diri.


Mereka berdua saling meracau tak jelas. Meneriakkan kekesalan mereka. Tentang Rangga, dan juga Cecilia.


Dua orang yang sedang patah hati, bersatu mengobati luka. Akankah suatu saat akan sembuh?


...*****...


...B...


...E...


...R...


...S...


...A...


...M...


...B...


...U...


...N...


...G...

__ADS_1


__ADS_2