
Sudah pukul tujuh malam, dan Alvian masih memainkan bola basket ditangannya. Keringatnya terkucur deras. Namun tak dihiraukannya. Berkali-kali dia memasukkan bola ke dalam ring. Sesekali dia bersorak sendiri.
Dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikannya. Kemudian dia berjalan perlahan menghampiri Alvian. Alvian mulai menghentikan permainannya. Nafasnya kini terengah.
"k-ka m-mu d-da t-tang j-ju g-ga."
"Minum air dulu dan atur nafasmu dengan baik, baru bicara." Dia adalah Cecilia, yang menyodorkan sebotol air mineral pada Alvian.
"Terima kasih, Cil." Alvian meneguk air didalam botol dan langsung menghabiskannya. "Aku pikir kamu tidak akan datang."
"Kamu minta aku kemari karena ada hal yang ingin dibicarakan, bukan?"
Alvian mengangguk. "Iya, ada yang harus kita bicarakan."
"Ceraikan aku, Mas." ucap Cecil tanpa basa-basi.
"Apa?" Alvian sangat terkejut.
"Sudah sangat jelas kamu dengar apa yang aku bilang tadi. Jangan membuatku mengulangnya lagi."
Alvian tertegun. "Aku tidak akan menceraikanmu."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau menceraikanmu."
"Tidak mau atau belum mau?"
Alvian mulai kesal dengan sikap Cecil. "Apa kakakku menemuimu?"
"Iya, dia memang menemuiku."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia bilang kali ini kamu yang akan menceraikanku"
"Sudah kubilang aku tidak akan menceraikan kamu!"
"Kalau begitu aku yang akan menceraikanmu."
"CECIL !!!!!" Alvian berteriak.
"Jangan berteriak padaku, Mas. "
"Maaf, Cil. Aku minta maaf. Aku emosi karena kamu terus-terusan bicara soal perceraian."
"Bukankah itu yang mau kamu bicarakan denganku?"
Alvian menarik nafas dan menghembuskannya dengan keras.
__ADS_1
"Awalnya memang, aku menyuruhmu kemari untuk membicarakan soal perpisahan. Tapi setelah bertemu dengan Rangga, aku berubah pikiran."
"A-apa? Rangga? Maksudnya Pak Rangga? Sejak kapan kamu kenal dengan Pak Rangga?"
"I-itu---Hanya kebetulan saja, Cil" Alvian menjawab dengan sedikit gugup.
"Apa yang kamu bicarakan dengan pak Rangga?" tanya Cecil sambil menyilangkan tangannya ke depan dada.
"Ti-tidak ada. Bukan hal yang penting."
Cecilia memandang Alvian sambil mengernyitkan dahi. "Apa kamu membicarakan masalah rumah tangga kita pada Pak Rangga?"
"Ti-tidak. Aku tidak---"
"Aah sudahlah. Percuma saja kita bicara, Mas. Dari awal harusnya aku tidak datang kesini." Cecilia kesal dan bersiap pergi dari tempat itu.
Alvian mencegahnya. "Tunggu, Cil. Jangan pergi dulu."
"Apa lagi yang mau kita bicarakan, Mas? Aku sangat tahu, kakak kamu tidak akan pernah berhenti. Jadi sebaiknya kamu turuti saja keinginan kakak kamu itu. Dan cepat ceraikan aku."
Cecilia melenggang pergi meninggalkan Alvian yang berdiri kaku bergeming. Wajahnya pucat pasi. Bayangan demi bayangan menghantui pikirannya. Di satu sisi ada kakak, yang selalu dia hormati. Di sisi lain ada istri yang dia cintai.
Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Batin Alvian seakan menjerit.
...***...
"Kamu dari mana saja, Mas? Berkali-kali Mas Arif menelepon mencari kamu. Ponsel kamu tidak aktif katanya. Kamu dari mana saja?"
Alvian tak mempedulikan Nayla. Dia hanya melewatinya dan berjalan menuju kamarnya.
"Mas... Kamu kenapa, Mas?"
Suara Nayla tak menghentikan langkah kaki Alvian. Jiwanya sedang terguncang sekarang. Dia hanya ingin sendiri. Sendiri memikirkan apa yang harus dia lakukan. Dia berharap kalau orang disekelilingnya mengerti dengan keadaannya sekarang.
"Aku sedang tidak mau diganggu."
Hanya itu yang diucapkan Alvian, sebelum akhirnya dia tenggelam dibalik pintu kamarnya.
Nayla menghela nafas. Mencoba mencerna apa yang terjadi pada suaminya.
Sejak Cecilia pergi dari rumah, sikap Alvian berubah. Dia seperti kehilangan nyawa. Kakaknya, Arif terus menghubunginya untuk memastikan kalau Alvian akan berpisah dari Cecilia.
Itu yang membuat batin Alvian meronta. Dia tak ingin berpisah dari Cecil. Namun keluarga yang disayanginya juga tak menyetujui hubungan mereka berlanjut.
Keputusan apa yang akan diambil Alvian?
...***...
Beberapa hari kemudian. Keadaan sudah mulai normal. Alvian beraktifitas seperti biasa. Nayla pun mencoba bersikap seolah tak terjadi apa-apa dirumah mereka. Sulit memang. Karena anggota keluarga makin berkurang.
__ADS_1
Dulu rumah ini ramai dengan suara tawa anak kecil. Tasya anak yang aktif. Tak bisa diam. Dia juga suka bercerita tentang apapun. Sekarang rumah ini hanya dihuni Alvian dan Nayla, serta asisten rumah tangga yang menemani Nayla. Sudah jarang terjadi perbincangan diantara mereka sejak kepergian Cecilia.
Nayla menatap Alvian. Mereka berdua sedang menyantap sarapan. Namun gairah masih belum ditunjukkan Alvian. Nayla tahu saat ini sedang sibuk-sibuknya masa kampanye. Tapi sudah beberapa hari banyak jadwal Alvian yang tertunda.
Dan seperti biasa, pagi itu Arif menelepon ke ponsel Alvian. Alvian yang sudah berulang kali menolak panggilan dari Arif, akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.
Nayla juga membujuknya agar tak bersikap buruk pada kakaknya. Alvian menurut.
"Halo, Mas. Ada apa?" jawab Alvian malas.
"Kamu ini!!! Berkali-kali aku telepon kenapa tak pernah diangkat? Jangan kurang ajar kamu ya!!"
"iya maaf, Mas. Aku sibuk." ucap Alvian santai.
"Sibuk katamu?! Sejak kapan kamu jadi kurang ajar begini pada kakakmu. Ini pasti gara-gara istri kamu Cecilia itu. Sudah Mas bilang, ceraikan saja dia. Dia sudah menginjak-injak martabat keluarga kita. Berani sekali dia pergi dari rumah dan kembali lagi seolah tak terjadi apa-apa. Aku tidak bisa terima itu!! Sebaiknya kamu cepat hubungi pengacara kamu dan urus perceraianmu!!"
"Mas... Tolong jangan ikut campur urusan rumah tangga aku dan Cecilia!! Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Cecilia." Alvian mulai naik pitam.
"Selama ini aku selalu menuruti semua perkataan Mas Arif. Tapi untuk kali ini, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, Mas. Ini hidupku, aku yang akan menentukannya sendiri. Dan tolong, jangan terus-terusan meneleponku seperti ini!!" Alvian mematikan sambungan telepon dengan Arif.
Alvian beranjak dari meja makan. Dia terus memegangi kepalanya yang tak sakit. Mengacak-acak rambutnya kemudian berteriak.
Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali berdering. Dari Arif. Alvian enggan mengangkatnya. Ponselnya terus berdering.
Sampai akhirnya Alvian menyerah lalu mengangkat panggilan telepon dari Arif.
"Ada apa lagi sih, Mas?" tanya Alvian dengan nada tinggi.
Namun bukan suara Arif yang Alvian dengar. Melainkan Sari, kakak iparnya.
"Al.... Masmu, Al... " ada kepanikan di nada suara Sari.
"A-ada apa dengan Mas Arif, Mbak?" Alvian juga ikut panik.
"Masmu kena serangan jantung"
"A-apa??!!"
Alvian tak sanggup menahan berat badannya sendiri. Kakinya lemas. Bibirnya bergetar. Dia merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya pada kakaknya itu. Dia sudah membentak kakaknya. Yang sudah merawatnya dari kecil menggantikan orang tuanya.
Alvian menangis sejadinya. Nayla mendekati Alvian dan memeluknya. Nayla mencoba menenangkan Alvian. Namun yang terjadi tangisan Alvian makin keras.
Dalam hatinya terus berbisik,
"Maafkan aku, Mas... Maafkan aku... Maafkan aku, Cecil... Aku... Akan melepaskanmu... Iya, aku akan melepaskanmu..."
...💟💟💟...
(tobe continued)
__ADS_1