
...๐๐๐...
-Rangga PoV-
Malam hari saat aku tiba dirumah, Papa memyambut kedatanganku dengan hangat. Papa memelukku dan mengucap jika dia bangga padaku.
Kejadian langka yang jarang sekali terjadi. Tapi aku tetap menerimanya. Karena bagaimanapun juga, Papa adalah ayah kandungku. Dan aku tak bisa merubah itu.
"Bagaimana kantor baru kamu? Semua lancar 'kan?" Tanya Papa.
"Lancar, Pa."
"Baguslah. Kamu memang seperti Papa. Pekerja keras. Dan pantang menyerah. Tetap pertahankan semangatmu, Nak."
"Sudah Pa. Rangga pasti lelah. Biarkan dia membersihkan diri dulu. Setelah itu kita makan malam bersama." Tante Sandra ikut bergabung menyambut kepulanganku dengan masih memakai celemek dapur.
"Iya Tante. Pa, aku ke kamar dulu."
"Iya. Mandilah dulu, biar badanmu segar."
Setelah aku mulai menaiki tangga, aku mendengar Papa dan Tante Sandra saling berbisik.
"Dia baik-baik saja, 'kan?"
"Dia baik-baik saja, Pa."
"Ada kabar apa tadi setelah kamu menemuinya?"
"Tadi Danny bilang jika Rangga jadi agak pendiam. Tapi selebihnya, dia bersikap normal."
"Syukurlah. Semoga dia cepat melupakan segalanya."
Aku tersenyum mendengar perbincangan mereka. Ternyata mereka khawatir jika aku melakukan hal nekat lagi setelah Nadine membatalkan pertunangan kami.
Di kamar mandi aku membuka keran air shower. Kubasahi seluruh tubuhku dengan air.
Pikiranku masih tertuju pada ucapan Radit jika dia sedang mencari Cecil.
Ada sedikit amarah di hatiku saat mendengar nama Cecil. Tapi, aku juga merindukannya.
Apa dia baik-baik saja? Dia tinggal dimana sekarang?
Aku juga ingin mencarinya. Namun aku terlalu lemah. Karena aku juga ingat ucapan Ismail, tentang hubungan kami yang tak akan pernah berhasil.
Cecil ... Apa memang tak ada kesempatan bagi kita untuk bersama?
...***...
Beberapa hari kemudian, Radit mendapat telepon dari detektif swasta yang dipekerjakannya. Sedikit demi sedikit ia mulai menemukan jejak Cecilia.
"Lapor Mas Radit. Mbak Cecilia, dia ada di kota Jogjakarta," ucap sang detektif.
"Jogja? Di daerah mana?"
"Saya belum menemukan posisi tepatnya. Nanti saya kabari lagi, Mas."
"Iya, Pak. Terima kasih atas informasinya."
Telepon ditutup.
Radit mulai tersenyum bahagia. Sebentar lagi dia akan menemukan Cecil. Dan ia ingin agar Cecil kembali ke Jakarta.
"Apa yang kau lakukan disini sambil melamun?" Rangga membuyarkan semua lamunan Radit.
"Apa sih? Kau ganggu saja! Aku tidak melamun, tapi aku sedang bahagia."
"Bahagia? Ada sesuatu yang terjadi?"
"Haruskah kuberitahu padamu? Atau tidak ya? Katakan! Kau ingin tahu atau sangat ingin tahu?" Goda Radit.
"Terserah padamu! Jika tidak mau beritahu juga tak apa." Rangga melangkah pergi.
"Eh tunggu!! Jangan pergi dulu. Oke, aku akan memberitahumu. Tapi sebaiknya kau jangan terkejut."
Rangga berkacak pinggang. "Aku tidak akan terkejut!"
"Aku mulai menemukan jejak Cecilia. Sebentar lagi Cecil pasti ditemukan."
Rangga terhenyak. Antara ia ingin bertanya lebih lanjut, namun urung dilakukannya.
"Ooh ..." hanya itu yang bisa diucapkannya.
"Kenapa aku tak berpikir dari awal jika Cecil pasti pergi ke Jogja?" Radit menggaruk kepalanya.
"Memangnya ada apa dengan Jogja? Apa kota itu penuh kenangan?" Finally, Rangga berani bertanya panjang lebar.
"Tentu saja. Persahabatan kami bertiga dimulai dari sana. Aku, Cecil dan Nadine, pertama kali bertemu saat kami bersekolah di Jogja."
__ADS_1
Rangga tak bertanya lagi. Kalau benar Cecilia ditemukan, apa yang akan dia lakukan? Ia membenci Cecil yang meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
"Dia tak punya sanak saudara di sana. Lalu selama ini dia tinggal dimana?" Radit bergumam.
...***...
Di suatu tempat di belahan kota Jogjakarta,
"Kamu yakin mau pergi sendiri?"
"Iya Ros. Aku pergi sendiri saja."
"Kamu yakin masih hapal jalanan Jogja? Sudah lama sekali kamu tidak kemari. Bagaimana jika kamu tersesat?"
"Tidak akan tersesat, Ros. Aku masih seidkit hapal jalanan disini. Lagipula aku membawa ponsel, aku akan mengecek lewat aplikasi maps."
"Ya sudah. Tapi kamu sudah ijin dengan Umi 'kan?"
"Iya, aku sudah dapat ijin keluar. Jangan khawatir!"
.
.
.
-Cecilia PoV-
Setelah beberapa bulan aku tak memegang ponsel, mulai hari ini aku akan mengaktifkan kembali ponselku. Nomor ponselnya sudah tak bisa digunakan. Maka dari itu, hari ini aku meminta ijin pada Umi Isma untuk keluar pondok dan pergi ke galeri provider telekomunikasi.
Tak banyak yang aku ingat tentang kota ini. Sudah sekitar tiga belas tahun yang lalu. Suasana dan kondisinyapun pasti sudah berbeda. Aku menelusuri jalanan kota ini dengan taksi online yang dipesan oleh Rosida.
Agak lucu karena sekarang dia jadi sahabatku meski usianya berbeda lima tahun lebih muda dariku. Awal aku datang ke pondok dia tampak tak menyukaiku. Mungkin karena aku datang dalam keadaan kacau. Tapi sekarang ia sudah berubah. Akuย juga sudah berubah. Semua hal harus berubah ...
...***...
"Mas Radit!!! Bangun Mas, ponsel Mas Radit terus berbunyi." Bonny mengguncang tubuh Radit yang masih terlelap.
"Duh siapa yang menelepon pagi-pagi buta begini?"
"Ini sudah siang, Mas. Cepat bangun! Hari ini ada meeting pagi dengan klien baru."
"Iya-iya. Sudah sana kau keluar dari kamarku!" Usir Radit.
"Iya, aku akan keluar. Itu telepon jangan lupa dijawab."
"Halo ..."
"Halo Mas Radit. Maaf pagi-pagi mengganggu."
"Oh Pak detektif. Ada apa Pak?"
"Saya sudah menemukan alamat Mbak Cecilia, Mas."
"Apa? Serius Pak? Dimana?" Rasa kantuk Radit mendadak hilang.
Pak detektif menceritakan secara lengkap kisah ditemukannya Cecilia. Radit sangat senang. Ia berlari ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Tak mau berlama-lama di kamar mandi, ia berganti pakaian namun bukan pakaian kantor, melainkan kaos harian di padukan dengan celana jeans hitam andalannya. Ia mengambil beberapa potong pakaian dan dimasukkannya kedalam tas ransel besar. Ia berlari keluar kamar. Melewati Bonny yang sedari tadi menunggunya.
"Eh eh, mau kemana kamu, Mas?" Bonny mencegat Radit.
"Aku harus pergi sekarang, Bon."
"Kemana?" Tanya Bonny heran.
"Ke Jogja."
"Hari ini Mas Radit ada banyak meeting penting, Mas. Apa Mas mau kehilangan banyak kontrak?"
"Iya aku tahu. Tapi ini juga penting. Umm, begini saja." Radit berpikir sejenak.
"Kau tunda semua meeting sampai aku kembali. Oke?"
"Hah? Ditunda? Maksud Mas?"
"Ya pokoknya begitu. Aku tidak pergi lama. Sudah ya, aku harus pergi sekarang." Radit mengambil kunci mobilnya kemudian melesat pergi.
Radit memang mencari Cecil untuk dirinya sendiri, namun ia juga perlu memberitahu seseorang yang dirasa perlu untuk mengetahuinya. Yaitu Rangga.
"Aku sudah menemukan Cecilia." Ucap Radit saat mendatangi Rangga dirumahnya. Rangga sedang bersiap untuk menuju kantor.
"Kau datang pagi-pagi kemari hanya untuk mengatakan itu?" Tanya Rangga kesal.
"Aku rasa kau perlu tahu. Aku akan pergi menyusul Cecilia. Dan kau harus ikut!"
"Apa? Kau menyuruhku ikut? Tidak! Jika kau ingin menemuinya silahkan saja, tidak perlu mengajakku."
__ADS_1
"Oke! Jadi kau tidak bersedia ikut? Baiklah, aku akan kesana sendiri."
Dan Raditpun berlalu dari hadapan Rangga. Ia melajukan mobilnya dengan cukup kencang menuju bandara. Ia harus mengejar tiket pesawat ke Jogja.
Sementara Rangga, terdiam mematung dengan tangan mengepal. Terjadi pergolakan batin dalam dirinya, antara benci dan juga rindu.
...***...
-Sepenggal kisah di Jogjakarta-
Aku kembali menyusuri jalanan kota Jogja yang sudah tampak asing bagiku. Semua sudah berubah. Lalu kuingat sebuah tempat yang penuh kenangan. Apa tempat itu berubah juga? Orang-orangย disana apakah masih mengingatku?
Dan disinilah aku, di tempat penuh kenangan bersama sahabat-sahabatku. Aku berkeliling. Ada yang berubah, tapi tak banyak. Dulu aku belum mengenal cinta, aku hanya mengenal persahabatan. Meski persahabatan itu sekarang hancur, aku ingin suatu saat nanti aku bisa berbaikan dengannya.
"Maaf, cari siapa ya?" Sebuah suara mengagetkanku.
"Ibu Anita! Ini saya Bu, Cecilia. Dulu saya sekolah disini."
"Cecilia?! Ya ampun, Cecilia yang menikah dengan artis itu ya?"
"Eh? I-iya Bu. Tapi ... "
"Duh maaf, ibu lupa, kamu 'kan sudah ... "
"Iya Bu, tidak apa. Ibu masih awet muda ya. Tidak berubah sama sekali."
"Ah masa sih? Kamu juga bertambah cantik. Oh ya, teman kamu juga sepertinya tadi datang."
"Teman saya? Siapa Bu?"
"Umm siapa tadi namanya ... Oh, putrinya Pak Hadinata, Nadine!"
"Apa? Na-Nadine? Dia ada disini? Dimana Bu?"
"Tadi sepertinya dia pergi ke taman belakang sekolah."
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih banyak, Bu."
Aku berlari secepat kubisa. Aku harus menyusul Nadine sebelum dia pergi. Dari jauh kulihat ada sosok seorang wanita berdiri di depan pohon beringin yang ada di belakang sekolah. Benar, itu adalah Nadine.
Ia sedang menatap pohon itu. Bukan pohonnya, tapi sebuah tulisan yang dipahat dipohon itu. Itu adalah nama kami. Seperti sebuah janji yang akan terus diingat. Sahabat untuk selamanya. Cecilia dan Nadine. Kalimat itu masih terukir disana.
Aku berdiri di samping Nadine. Mataku mulai berkaca-kaca. Ternyata Nadine masih mengingat janji kami.
"Cecil?! Kau ... ada disini?" Tanya Nadine heran.
"Iya, aku ada disini. Kamu sendiri? Kenapa ada disini?"
Nadine tertawa kecil. "Kau lupa ya, keluargaku tinggal di kota ini."
Meski ia masih berbicara dengan nada sinis, tapi untunglah kami bisa berbincang.
"Ah, benar juga. Kamu mengambil cuti kerja untuk berlibur?"
"Tidak. Aku tinggal disini mungkin untuk sementara atau bisa jadi selamanya."
"Lalu bagaimana dengan Rangga?"
Nadine mengernyitkan dahi. "Aku sudah membatalkan pertunanganku dengan Rangga. Apa kau tidak tahu?"
"Batal? Kenapa?"
"Jangan berlagak bodoh Cecil! Rangga tidak mencintaiku. Dia hanya mencintaimu."
"Hah? Kenapa kamu meninggalkan Rangga? Aku pergi supaya kamu bisa bersama dengan Rangga."
"Kau pikir dengan kepergianmu, lalu Rangga tiba-tiba bisa jatuh cinta padaku?" Nadine mulai merasa kesal.
"Kembalilah Cecil! Rangga sangat mencintaimu. Sekarang, tidak ada lagi yang menghalangi kalian untuk bisa bersama."
"............"
Aku terdiam. Aku tak bisa berkata apapun. Haruskah aku kembali? Tidak mudah memilih jalan ini. Hatiku ... masih bimbang.
...๐๐๐...
*bersambung,,,,,
*How's your feeling, anyway? ๐
*jangan lupa tinggalkan jejak๐พ๐
See yaa in the next chapter
Thank U ๐
ยฉpinkanmiliar
__ADS_1