
Cecilia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang amat pelan. Ia tidak tahu akan kemana ia pergi malam ini.
Pergi ke rumah ibunya pun rasanya tidak mungkin. Ia tidak mau membuat ibunya khawatir dengan kondisi rumah tangganya dengan Rangga.
Di tengah kebingungannya, Cecilia menuju ke sebuah masjid dan memutuskan bermalam disana. Memang tempat itu adalah tempat ibadah dan bukan tempat singgah. Namun hati Cecilia merasa tenang saat berada di sana.
Keesokan harinya usai sholat subuh, Cecilia kembali melajukan mobilnya. Ia menemui Rani di rumah kosnya.
Rani yang melihat Cecil datang sepagi ini ke tempatnya, pun di buat bingung. Namun ia tak tega melihat Cecilia yang sepertinya sedang kesusahan.
"Ran, aku ingin memasrahkan toko dan kafe padamu." ucap Cecil datar.
"Hah?! Maksud ibu?"
"Aku tidak bisa tinggal di kota ini lagi, Ran. Terlalu berat untukku. Aku dan anakku akan pergi dari kota ini."
"Anak?!" Rani mengernyit bingung.
"Aku sedang hamil, Ran. Tapi Mas Rangga tidak percaya denganku dan menuduhku telah berselingkuh darinya." kini air mata Cecil tak bisa lagi ia tahan.
"Astaghfirullah. Kenapa Pak Rangga bersikap begitu, Bu?"
Cecil menggeleng. "Entahlah, Ran. Aku merasa dia sudah banyak berubah. Dia juga mengusirku." tangis Cecil makin pilu.
Rani memeluk Cecil dan mengusap punggungnya lembut.
"Tolong urus semua kebutuhan kafe dan toko. Hanya kamu orang yang kupercaya. Tiap bulan kau laporkan perkembangannya dan kirimkan hasil labanya padaku."
Rani mengangguk. Cecilia berpamitan pada Rani dan kembali melajukan mobilnya.
"Ya Allah, apa memang ini adalah garis takdirku? Aku harus pergi kemana?" gumam Cecil dengan mengelus perutnya yang masih rata.
Entah kenapa ia hanya teringat dengan Alvian, mantan suaminya yang bisa menjadi teman baik untuknya.
"Sudah jam segini. Mungkin Mas Alvian sudah ada di kantornya. Semoga saja."
__ADS_1
Dengan ragu Cecil menekan nomor ponsel Alvian.
Tersambung.
"Halo, Assalamu'alaikum, Mas."
"Wa'alaikumsalam, Cecil. Ada apa kau menelepon sepagi ini?"
"Umm, apa aku bisa meminta tolong padamu, Mas?"
Setelah mengungkapkan maksudnya, Cecil menutup panggilan. Mereka berjanji bertemu di sebuah kafe.
Satu jam kemudian, Alvian dan Cecil kini duduk berhadapan. Alvian tahu jika mantan istrinya ini pasti sedang ada masalah.
Dan akhirnya Cecil menceritakan semuanya pada Alvian dengan berurai air mata.
Alvian mengepalkan tangannya. Sepertinya ia tahu siapa dalang dibalik diusirnya Cecilia dari rumah Rangga.
"Kau tenang saja, Cil. Apa kau mau aku bantu?"
"Aku akan menghubungi Mbak Arini dan meminta bantuan darinya."
"Apa?!"
"Jangan sungkan! Kau biaa tinggal di panti bersama dengan anak-anak panti dan yang lainnya. Bagaimana?"
Cecilia berpikir sejenak. Ia memang ingin menghilang dari kota ini untuk yang kesekian kalinya.
"Baiklah, aku mau Mas."
Alvian tersenyum. Tak lama Alvian nampak menghubungi seseorang. Ia juga memesankan tiket pesawat untuk Cecil menuju ke Kota Solo.
Sedikit senyuman dapat terulas di wajah Cecil. Saat ini ia mungkin belum bisa membalas kebaikan hati Alvian. Namun suatu saat, ia akan membalasnya. Alvian yang sekarang ia kenal, sudah kembali seperti dulu saat pertama kali Cecil mengenalnya.
Disisi lain, Rangga tidak bisa fokus dalam bekerja karena memikirkan istrinya yang telah ia usir. Bagaimana bisa ia setega itu pada Cecil yang tengah hamil?
__ADS_1
Entah setan apa yang merasukinya hingga dirinya kalap dan begitu marah pada Cecil. Lalu ia meminta anak buahnya mencari keberadaan Cecil.
Rangga merasa khawatir jika saja terjadi sesuatu pada Cecil. Anak buah Rangga menemui Rani. Namun tidak membuahkan hasil. Rani mengatakan jika dirinya tidak tahu menahu kemana Cecilia pergi.
Rangga makin frustasi karena sudah satu minggu ia mencari keberadaan Cecil namun masih belum ditemukan. Ini seperti mengulang masa lalu dimana Cecil pergi jauh dari hidupnya dan membuat hidupnya kacau. Rangga baru menyadari jika dirinya membutuhkan Cecil. Sungguh ia menyesali semua perbuatan jahatnya pada Cecil.
Di tempat berbeda, Alvian menyiapkan berkas-berkas gugatan cerainya terhadap Nayla. Benar, Alvian sudah tidak bisa lagi bersama dengan Nayla.
Alvian tahu jika Nayla lah yang sudah memberitahu Rangga perihal dirinya dan Cecil yang pergi ke dokter kandungan, hingga membuat Cecil diusir dari rumah karena kesalahpahaman Rangga.
Namun Alvian sendiri enggan untuk menjelaskan pada Rangga karena tahu sifat Rangga yang emosian. Biarlah Cecilia kini hidup tenang bersama anak yang dikandungnya.
"Lho, Mas? Kau sudah pulang?" tanya Nayla yang baru saja memasuki rumah asramanya.
"Iya. Duduklah! Ada yang harus kita bicarakan." ucap Alvian datar.
"Ada apa, Mas?" Tanya Nayla dengan mengerutkan keningnya.
"Mari kita bercerai, Nayla..."
...***...
#bersambung...
Terimakasih yang masih setia mengikuti cerita ini 🙏
jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣😊😊
Yuk mampir juga di...
__ADS_1